WHIRLING DERVISH Meditasi dan Pendekatan Diri Kepada Allah



Masyarakat umumnya memandang persoalan menari berhubungan dengan seni dan budaya. Berbeda dengan kalangan Sufi, mereka memastikan ada ritual tertentu. Aksi berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan diiringi gerakan berputar-putar secara teratur dengan kecepatan yang kian bertambah kencang, yang dikenal dengan sebutan Whirling Dervish (darwis-darwis yang berputar) atau Tarian Sema (Arab:samâ’). Pada akhirnya, para penari akan mengalami keadaan ekstase (fana’), melebur bersama Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Secara umum, bentuk amalan untuk mengekspresikan ketaatan dan kecintaan agama terbagi menjadi dua. Yaitu yang datang dari Allah, dan yang muncul dari manusia. Yang datang dari Allah adalah seperti sholat, puasa, haji, dll. Sedangkan yang datang dari manusia seperti puji-pujian, membaca maulid, dll sebagai bentuk kecintaan. Diantara yang kedua ini adalah tarian Whirling Dervish (Darwis berputar) sebagai bentuk cinta kepada sang pencipta.
Whirling dervish atau darwis berputar, merupakan salah satu metode meditasi ala sufi yang dipopulerkan oleh maulana Rumi. Meditasi yang digabung dengan dzikr sirr ini sangat popular dikalangan pelaku tasawwuf. Bahkan metode  ini tidak hanya dilakukan oleh kalangan Muslim saja. Banyak dari agama lain yang mempraktekkannya.
Pada perkembangannya metode ini banyak hal-hal yang memperdebatkannya. Tapi lepas dari perdebatan itu, meditasi jenis ini banyak sekali pengagumnya.

MEDITASI WHIRLING DERVISH
Meditasi adalah merenungkan atau meresapkan dan bisa juga bermakna pikiran yang amat dalam yang bertujuan untuk mencapai kesadaran diri dan untuk mencapai obyek spiritual, guna menjadi manusia-manusia yang tercerahkan. Sehingga dalam prakteknya dalam kehidupan bermasyarakat diharapkan bisa menjadi manusia yang penuh kearifan, bijak dan kasih sayang terhadap sesama makhluk dalam segala tindakan dan perbuatannya.
Daya dorong kearah positif dan negatif harus diselaraskan, diharmoniskan dan selalu dijaga keseimbangannya. Jika daya nafsu bisa kita kendalikan dengan baik, itu sama artinya kita telah bergerak untuk menyatukan diri dengan Tuhan. Menyatukan yang dimaksudkan bukanlah dalam pengertian menyatunya dzat manusia dengan Dzat. Yaitu  “ Sifat, Asma dan Af’al “ manusia, agar selaras dengan sifat, dan asma Tuhan.
Untuk bisa menyatukan diri dengan Tuhan, banyak cara yang dilakukaan manusia. Diantaranya adalah dengan cara meditasi, kontemplasi yang dalam hal ini manusia harus bisa menyatukan segenap perasaan dan pikiran dengan nafasnya dalam bermeditasi. Puncak dari adanya penyatuan ini biasanya dalam ukuran minim yang bisa terasa adalah timbulnya “ ketenangan Jiwa “ dan tentramnya hati.
Whirling dervish menyatukan antara meditasi dan mengingat Allah yang bertujuan menyelaraskan jiwa dan mengisinya dengan mengingat Allah. Firman Allah( QS. Ar-Ra’d . 28 ):  
“ (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”

Asal Usul Tarian Whirling Dervish
Wrirling Dervish, tarian sakral yang pertama kali diajarkan oleh Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri (Jalaluddin Rumi) atau sering pula disebut dengan nama Rumi adalah seorang penyair sufi yang lahir di Balkh (sekarang Afganistan) pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 Masehi. Ayahnya masih keturunan Abu Bakar, bernama Bahauddin Walad. Sedang ibunya berasal dari keluarga kerajaan Khwarizm.  Ritual whirling dervish ini disebut juga dengan Sema’. Semâ’ adalah upacara atau ritual yang diadakan sebagai pengantar para penari kepada sublimasi antara makhluk dengan Penciptanya. Upacara ini berisi adab-adab yang masing-masing mengandung makna.[1]
Hal ini berawal ketika Maulana Jalaluddin Rumi di tinggal oleh gurunya Syaikh Syamsuddin Tabriz. Dijelaskan bahwa Rumi merasa sedih karena terpisah dari mataharinya (gurunya). Pada saat inilah dia mulai berubah; dia menjadi seorang penyair, mulai mendengarkan musik,[2] menari berputar-putar selama berjam-jam. Dan dia sendiri tidak tahu apa yang terjadi. Dari sinilah kemudian menjadi ritual yang rutin dilakukan oleh Rumi.
Berdasarkan penjelasan-penjelasan yang diberikan oleh para sufi, pada awal tarian biasanya ada satu gerakan spontan, sifatnya sama dengan ketika datang satu kabar gembira. Kata-kata Nabi yang ditujukan kepada sahabat tertentu yang melahirkan ekspresi fisik karena kegembiraan yang menggelora, lalu ditiru oleh para sahabat yang lain dan diulang-ulang dari generasi ke generasi. Ekspresi ekstatik Abu Bakr r.a melahirkan tarian berputar yang dipraktekkan oleh kelompok-kelompok sufi pertama sebelum menjadi satu ritual yang diutamakan oleh tarekat maulawiyah.[3]

Sema’ (سماع) secara bahasa berarti mendengarkan, seperti mendengarkan musik dan suara. Tetapi kebanyakan penggunaan kata sema’ dalam tasawwuf secara istilah adalah ritual “mendengarkan”, yaitu salah satu sarana untuk mencapai ma’rifat. Atau ajakan untuk bersungguh-sungguh membersihkan jiwa dan mensucikannya dari senda gurau dan bermain-main. Diantara cara Sema’ adalah mengenalnya hamba kepada Tuhannya, mengerjakan apa yang diwajibkan, mendengarkan bacaan alQuran, menghadiri majlis ilmu, dzikir dan apa saja yang didalamnya mengandung ketaatan. Ajaran sufi sangat menekankan latihan sema’, karena itu adalah makanan bagi ruh dan penyembuh dari penyakit-penyakit hati dan kesenangan dunia. Ini dimaksudkan untuk menjaga jiwa dari bahaya perkara dunia.[4]
Berbagai tarekat sufi mempraktikkan beragam tarian yang diiringi oleh musik instrumental,vocal atau sekedar latar belakang ritmis. Dengan kata”tarian” inilah, gerakan-gerakan badan ini dinamai, meskipun para sufi untuk menghindari ketercampuran dengan bentuk-bentuk hiburan yang popular atau kesenangan duniawi, secar umum tidak memakai kata raqsh dalam bahasa arab yang secara tepat merujuk “tarian” dan menggantianya dengan ekspresi konvensioal yang lain. Dalam khazanah-khazanah sufisme klasik tarian secara  umum ditunjukkan dengan istilah sema’ yang tetapi dipahami secara terbatas. Memunculkan kembali  rasa pentingnya tarekat para Darwis tertentu berdasarkan gerakan-gerakan fisik dalam konteks perkumpulan mistik mereka.
Tarian para sufi ini tidak memiliki kesamaan dengan kata “tari” di barat, atau bahkan dengan bentuk-bentuk tarian suci dari timur seperti yang ada di kuil-kuil brahma atau tempat suci Shinto yang pelakunya menirukan dan memainkan peran kekuatan ketuhanan. Tarian ini juga bukan representasi, karena secara prinsipil hanya para pelakunya yang ambil bagian.[5]
            Metode meditasi ini dilakukan diawali dengan langkah-langkah sebagai berikut :[6]
Dimulai dengan mengucapkan mantra (wirid, tawassul)  dengan pengulangan berkali-kali bahkan sampai cepat. Ini adalah teknik induksi mental confusion ( membingungkan pikiran ), tujuannya adalah pikiran sadar tidak sanggup mengatasi banjirnya informasi yang ada. kemudian memulai gerakan berputar berlawanan dari arah jarum jam. itu  adalah teknik induksi mental misdirection ( menyesatkan pikiran ), yaitu menggunakan respon fisik terhadap sesuatu ( respon berputar terhadap arah yang berlawanan dengan arah jarum jam ) . Perlahan-lahan dengan diiringi dzikr sirr gerakan berputar semakin cepat. Yang intinya adalah untuk mengurangi dominasi jasmani dan memfokuskan pada dominasi ruh.
Dua teknik diatas, mental confusion dan mental misdirection dilakukan untuk lebih memudahkan masuk dalam alam trance. Ketika pikiran tidak sanggup mengatasi banjirnya informasi, maka pikiran sadar akan ‘menyerah’ dan mengikuti irama yang ada.
Induksi yang dilakukan dengan dua teknik diatas, intinya bukan pada saat melakukannya, namun pada saat setelahnya. Pada saat melakukannya si pelaku atau si penari mengalami trance. Ada perasaan yang indah, perasaan nikmat, perasaan bahagia, atau perasaan yang melebihi apapun juga. Namun rasa-rasa itu menjadi tidak berguna apabila termination yang dilakukan tidak tepat.
Setelah menari dan setelah mengalami Trance, kondisi setelah berhenti dimana sekat antara pikiran sadar dan bagian dari pikiran sedang terbuka, kondisi ini sangat baik sekali atau tepat sekali untuk diberikan post hypnotic suggestion.
Kemudian Ritual ini diakhiri dengan doa, sebagai post hypnotic suggestion. Membangun, menarik potensi diri dan menjadikan diri sebagai pribadi yang luar biasa, sebagai momen untuk self empowerment.
Seperti dijelaskan diatas, meditasi whirling dervish memadukan antara metode “dhahir” dengan metode”bathin” yang mempunyai efek yang luar biasa jika dilakukan dengan benar.
Meditasi whirling dervish merupakan salah satu cara untuk membersihkan diri dari segala permasalahan kehidupan ini. Ibarat komputer, hidup ini harus diisi dengan program yang lebih baik dan up to date. Program lama diisi dengan Dzikir ( mengingat ) dan program baru harus disikan ,melalui perbuatan “ Amal Shaleh “ berupa segala tindakan dan perbuatan yang bermanfaat, baik bagi diri kita maupun bagi orang lain dan lingkungannya.
Bila semedi, meditasi atau kontemplasi yang dilakukan benar-benar sempurna. Angan-angan, keinginan, pikiran dan ilusi telah lenyap, maka batin sang meditasi akan sentosa. Dia bebas dari segala macam gangguan batin. Kecemasan dan kekhawatiran juga lenyap. Tak ada lagi ketakutan dimana-mana sama saja yang ada hanyalah ketenangan dalam hidup.














Referensi
          Mahfudz, biografi jalaluddin Rumi.:http://islami.pun.bz/biografi-jallaludin-rumi.xhtml. tanggal download; Ahad, 30 Oktober 2011.
          Schimmel Annemaire, Hidup dan Karya Jalaluddin Rumi (Mizan;2008) hlm 27
          Arianto M.Sholihin,dkk,  ensiklopedi tematis SPIRITUALITAS ISLAM;manifestasi. Terj; Islamic Spirituality;manifestation (Mizan;2003) hlm 623.
          Fathimah Fuad, Dra, al-Sima’ ‘inda shufiyah al-Isla, (al-Haiah al-Mishriyyah al-ammah li- al-kitab; 1997) hlm 23.
          Agung Webe, whirling Dervish Dalam persepsi Hypnosis. http://filsafat.kompasiana.com/2011/01/31/whirling-darvish-dalam-persepsi-hypnosis/



[1] . Mahfudz, biografi jalaluddin Rumi. karya ilmiah ini tersedia di:http://islami.pun.bz/biografi-jallaludin-rumi.xhtml. tanggal download; Ahad, 30 Oktober 2011.
[2] .Annemaire Schimmel, Hidup dan Karya Jalaluddin Rumi (Mizan;2008) hlm 27
[3] . M.Sholihin Arianto,dkk,  ensiklopedi tematis SPIRITUALITAS ISLAM;manifestasi. Terj; Islamic Spirituality;manifestation (Mizan;2003) hlm 623.
[4] .Dra.Fathimah Fuad, al-Sima’ ‘inda shufiyah al-Isla, (al-Haiah al-Mishriyyah al-ammah li- al-kitab; 1997) hlm 23.
[5] . M.Sholihin Arianto,dkk,  ensiklopedi tematis SPIRITUALITAS ISLAM;manifestasi. Terj; Islamic Spirituality;manifestation (Mizan;2003) hlm 623.
[6] .Agung Webe, whirling Dervish Dalam persepsi Hypnosis.tulisan ilmiah initersedia di: http://filsafat.kompasiana.com/2011/01/31/whirling-darvish-dalam-persepsi-hypnosis/, tanggal download Ahad 30 Oktober 2011.

.

Tinggalkan Balasan

Next Post

Harlah Nahdlatul Ulama

Ming Jan 29 , 2017
Hari ini 31 Januari 2016 Nahdlatul Ulama berulang tahun ke 91. Nahdlatul Ulama, didirikan pada 31 Januari 1926 M/16 Rajab 1344 H oleh beberapa ulama dalam suatu pertemuan yang diadakan […]

You May Like