Kajian Tafsir Tahlili QS. Ali Imran 195-200

Terkait firman Allah استجاب لهم ربهم dengan ayat-ayat sebelumnya, ada yang berpendapat bahwa doa yang baik adalah dengan mengulangi kata rabb sebanyak lima kali sebagaimana pengulangan kata tersebut yang terjadi sebanyak lima kali dalam ayat-ayat sebelumnya.
“Saya sambut baik orang yang datang kepada saya lantaran ia datang karena saya dan bukan yang lainnya”. Demikianlah kira-kira seharusnya kita dalam berdoa. Agar disambut baik dan dikabulkan hendaknya kita benar-benar mendatangi Allah dan berharap kepada-Nya serta berusaha agar kesungguhan kita dalam mendatangi-Nya benar-benar tampak. Karena ada orang yang berdoa tapi tidak sepenuh hati dan bahkan pakaian, makanan dan badannya penuh dengan kotoran.

Term fa (فــ) dalam kaidah bahasa Arab digunakan untuk menggambarkan betapa singkatnya waktu antara kejadian sebelum (pertama) dan sesudahnya (kedua). Sementara tsumma (ثم) mengandung makna adanya tenggang waktu yang relaif lama antara keduanya. Bahkan rentang waktu yang ada tersebut memberi kesan bahwa kejadian yang kedua hampir saja tidak akan terjadi.

Dalam menjawab doa ulul albab ini, Allah menegaskan dengan ungkapan استجاب لهم dan bukan استجاب دعاءهم. Yakni Dia memperkenankan atau menyambut mereka dan bukan doa mereka. Ini berarti Dia tidak menyia-nyiakan usaha mereka yang termasuk di dalamnya adalah berdoa. Namun demikian, sambutan tersebut bermacam-macam sesuai kehendak-Nya. Ada kalanya doa tersebut disambut-Nya pada saat itu juga, ada kalanya di hari lain yang lebih baik dan tepat, atau menyambutnya dengan memberi sesuatu yang lebih baik dari yang diminta. Ketiga ini merupakan sambutan atau pengabulan Allah ketika di dunia. Dan ada kalanya juga sambutan tersebut diberikan di akhirat kelak, yakni dengan tidak mengabulkan permintaan tersebut sewaktu hidup di dunia. Terkait pengabulan di akhirat, ada sebuah riwayat yang menceritakan bahwa ada orang yang memperoleh pahala amalan yang dia tidak merasa melakukannya. Ia pun heran dari mana asalnya pahala tersebut. Malaikat kemudian memberitahunya bahwa itu merupakan pahala dari doa-doamu yang tidak dikabulkan sewaktu di dunia. Apapun itu, Dia pasti mengabulkan atau menyambut doanya ulul albab.

Jika dalam sebuah ayat Allah menunjuk diri-Nya dengan kata Aku, bisa dipastikan bahwa tidak ada satu makhluk pun yang terlibat di dalam bahasan ayat tersebut. Dan itu hanya terdapat dalam penyembahan (لا إله إلا أنا فاعبدون) dan pertaubatan (وأنا التواب الرحيم). Lain halnya dengan khithab AlQur’an yang ditujukan kepada Nabi secara pribadi. Ia harus dipahami bahwa ayat tersebut ditujukan kepada Beliau selaku pemimpin umat yang kemudian berkewajiban menyampaikannya kepada mereka. Dengan demikian, secara tidak langsung ayat tersebut juga berlaku bagi mereka lantaran sampainya suatu ketentuan dalam ayat – yang khusus – tadi kepada mereka.

Kalimat بعضكم من بعض bermakna:
1. Sebagian laki-laki dari kalian bagi sebagian perempuan dari kalian. Ini bermakna bahwa keduanya saling membutuhkan dan tidak bisa dipisahkan.
2. Hendaknya sebagian kalian membantu yang lain.

Terkait term kaffara pada ayat لأكفرن عنهم سيئاتهم ada beberapa kosa kata yang semakna dan ada baiknya untuk dicermati:
1. ‘Afuwwun (عفو) berarti menghapus dosa sehingga hilang sama sekali tanpa bekas.
2. Ghafûr (غفور) bermakna menutupi dosa kesalahan dengan sesuatu sehingga tidak terlihat meskipun sebenarnya masih ada.
3. Takfîr (كفّر – يكفّر – تكفير) berarti menutupi kesalahan yang kemudian mengilhami pelakunya untuk berbuat kebaikan atau mengganti yang buruk dengan yang baik. Dengan demikian, kaffara lebih bagus dari ghafûr karena ada nilai positif yang dikerjakan.

Ungkapan Wahsyi yang terkenalقتلت خير الناس وشر الناس (aku membunuh manusia terbaik dan terburuk) terucap setelah ia membunuh Musailamah al Kadzdzâb (orang terburuk). Sebagaimana diketahui, sebelum masuk Islam ia membunuh Hamzah (orang terbaik) paman Nabi.

Sebagian ulul albab ada yang terpengaruh oleh orang lain yang hidupnya suka berfoya-foya. Allah melarang dari keterpengaruhan ini karena pada hakikatnya hal itu merupakan kesenangan sementara yang sedikit. Terkait dengan kenikmatan dunia, sebanyak apapun yang kita terima dari hasil menukarkan ayat-ayat Allah, dan ia adalah sesuatu yang tidak Allah restui, maka sesuatu tersebut pada hakikanya bernilai sedikit. Oleh karenanya, hendaknya kita bersabar.

Sabar merupakan kemampuan menahan gejolak nafsu untuk mencapai sesuatu yang baik atau lebih baik. Sementara term shâbara (صابر) adalah bersabar dalam menghadapi orang yang sabar atau upaya untuk mengalahkan kesabaran orang yang sabar. Dan ini lebih berat karena ia tidak berjalan sendiri, ada lawannya yang boleh jadi tidak diketahui seberapa besar kadar kesabaran lawannya tersebut.

Sebagian ulama menerjemahan kata min tahti pada ayat تجري من تحتها الأنهار dengan disamping atau disekeliling dan bukan di bawah sebagaimana biasanya. Hal ini karena – menurut mereka – sungai yang mengalir di sekelilingnya terasa lebih indah dan menyejukkan serta menambahkan keeksotisan rumah tersebut dibanding jika sungai tersebut mengalir di bawahnya. Dalam konteks surga, gambaran keeksotisan ini merupakan nuzulan yakni sambutan yang disajikan kepada pendatang. Kalau di hotel berbintang, nuzulun biasanya berupa minuman yang disajikan dalam rangka penyambutan sekalian menunggu proses pemesanan kamar selesai. Dengan demikian, gambaran rumah yang di sekelilingnya mengalir sungai merupakan nuzulan atau pendahuluan yang tentunya nanti di dalam surga masih ada keindahan lain yang lebih indah.

Orang yahudi dan nasrani atau ahli kitab belum tentu buruk semuanya, sebagaimana pengakuan al Qur’an dalam surat Ali Imran ayat 75 dan 113.

Sarî’ al hisâb bermakna bahwa
1. Allah sangat cepa perhitungannya karena Dia Maha Mengetahui, sehingga Dia tidak perlu menghitung amal perbuatan hamba satu persatu.
2. Allah tidak membutuhkan waktu sehingga akan cepat.
3. Allah tidak perlu menunggu, yang oleh kita biasanya digunakan untuk menyelesaikan hitungan.

Falaha adalah memperoleh apa yang diharapkan. Dari sini petani disebut fallâh karena ia senantiasa memperoleh apa yang diinginkan yakni memanen padi karena telah menanam padi atau yang lainnya. Bentuk hasil panen yang diperolehnya sesuai dengan keinginannya. Dalam konteks ayat ini, ke-falahan-an tersebut berupa diperolehnya kenikmatan surga sebagaimana yang mereka inginkan. Terkait surga Allah menegaskan wa lahum fîhâ mâ tasytahîhi al anfus (di dalam surga, bagi mereka apa saja yang diinginkannya).

wallâhu a’lam …

(Prof. M. Quraish Shihab
Resume Kajian Masjid al Barkah, Rabu 4 Nov 2015)

Syafi’ul Huda
Pesantren Bayt AlQuran, Pusat Studi Quran

.

Tinggalkan Balasan

Next Post

Pidato Kiai Said pada Harlah NU : “BUDAYA SEBAGAI INFRASTRUKTUR PENGUATAN PAHAM KEAGAMAAN”

Rab Feb 1 , 2017
Pada peringatan Harlah ke 91 Nahdlatul Ulama yang diadakan di halaman PB U Jakarta, Kiai Said Aqil Siradj menyampaian pidato kebudayaan. Berikut isi PIdato Ketum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama: “BUDAYA SEBAGAI […]