KH Hasyim Muzadi: Do’a

Hidup adalah untuk mengetahui siapa yang amalnya paling baik. Doa untuk kedua orang tua yang telah meninggal tidak harus dari anak-anaknya. Doa bisa dipanjatkan oleh orang lain. Ada yang berpendapat bahwa hanya doa anaklah yang sampai pada si mayit. Mereka berpegang pada hadis tiga amal yang tidak terputus; anak saleh yang mendoakannya, ilmu manfaat, dan sedekah yang manfaatnya terus mengalir. Hadis tersebut pada hakikatnya berbicara mengenai sumber pahala amal perbuatan mayit yang masih bisa ia nikmati pasca kematiannya. Dan bukan manfaat yang ia peroleh dari usaha orang lain yang masih hidup. Kebaikan anak-anaknya akan diganjar dimana pahala tersebut juga mengalir pada orang tuanya. Sebaliknya, dosa keburukan yang dilakukan putranya juga akan sampai padanya. Terkait usaha orang lain yang bisa bermanfaat bagi mereka yang sudah meninggal bisa disarikan dari solat jenazah. Dalam solat jenazah terkandung doa ampunan yang ditujukan untuk si mayyit. Kendati demikia, doa anak lebih utama dibanding doa orang lain. dari sini, hendaknya ia jangan menyibukkan diri dengan urusan konsumsi yang akan dihidangkan dalam acara tahlilan.
Orang yang sudah meninggal pertama kali hendaknya didoakan agar mendapatkan khusnul khatimah, diterima amal ibadahnya dan diampuni segala dosanya. Diterima atau ditolaknya amal seseorang tergantung pada niat dan cara pelaksanaannya. Boleh jadi ia beramal 10 macam tapi yang diterima cuma 6 saja. Penyelesaian kesalahan adami harus dimulai dari kerelaan orang yang bersangkutan baru didoakn. Penyelesaian ini juga bisa dilakukan di akhirat yakni dengan menebusnya menggunakan pahala amal baikannya atau pelimpahan dosa kepadanya. Jika berupa tanggungan yang berkaitan dengan uang, harus diurus bisa dengan dibebaskan atau dilimpahkan kepada ahli waris. Ia harus segera diselesaikan di dunia. Karena bisa mengganggu kekhusnulkhotimahan si mayyit.
Doa yang dimintakan berikutnya adalah berharap agar ilmu yang ditularkan olehnya menjadi manfaat. Ada tiga macam ilmu:
1.       Ilmu manfaat; menurut as Sakandari dalam hikam-nya, ilmu akan bermanfaat jika digandengkan dengan ketaatan pada Allah. Baik ilmu agama ataupun ilmu umum, sama akan manfaatnya ketika digandengkan dengan ketaatan pada Allah. Rasa taat akan melahirkan tanggung jawab pada diri seseorang. Kejujuran sebagai salah satu bentuk tanggung jawab merupakan bagian dari hidayah. Sementara kepintaran adalah bagian dari ilmu pengetahuan. Ilmu dan tanggung jawab merupakan dua hal berbeda.
2.       Ilmu mubazir; adalah ilmu yang tidak berpijak pada taqwallâh. Ilmu yang berada pada hati yang kosong hanya akan menjadi informasi semata. Ia tidak berbeda dengan pengetahuan. Dengan tidak berpijaknya pada hati, seseorang yang pintar akan mudah goncang. Ketika goncang, ilmu bisa hilang. Ini juga karena rasional masih bergantung pada mental dan moral. Ini biasanya dimiliki oleh mereka yang belajarnya demi memperoleh selembar ijasah. Jika sudah demikian, kebodohannya akan menumpuk setinggi tumpukan ijasah yang dimilikinya.
3.       Ilmu yang membahayakan diri dan masyarakat; ini adalah ilmu yang keliru dalam menggunakannya. Hal ini menunjukkan ketidakadanya pertanggungjawaban dari pemilik ilmu. Ia bukan hanya tidak berpijak pada rasa taqwallâh tapi juga menjadi kendaraan hawa nafsu pemiliknya. Ilmu semacam ini dapat ditemui pada diri jaksa yang dituntut, polisi yang disidik, dan semacamnya. Di sinilah perbedaan antara pesantren dengan sekolahan. Jika sekolahan hanya fokus pada mengajarkan ilmu semata, pesantren lebih mengajarkan tentang kehidupan. Ilmu merupakan bagian daripada kehidupan. Dalam kehidupan ada ilmu, amaliyah, muamalah, dan lainnya. Ilmu tersimpan di otak sementara manusia terdiri dari otak, hati, panca indra, dan hati nurani. Jangankan ilmu, agamapun bisa diselewengkan jika tidak dilandasi taqwallâh.
Orang menjadi benar adalah karena hidayah. Sementara menjadi pintar diantaranya adalah karena belajar. Sebelum menjadi pintar, harus dibenahi terlebih dahulu akhlak yang meliputi ibadah, kepatuhan, dan zikir. Ilmu barokah antara lain adalah karena rido sang guru. Ilmu yang demikianlah yang akan menjadi cahaya nur yang membimbing kehidupan pemiliknya kelak.
Otak seseorang akan goncang karena ruhani gelisah yang dipadu dengan kondisi kehidupan. Jika cara berfikir dan hati sudah rusak hanya Allh saja yang bisa membenahinya. Obatnya adalah mendawamkan solat fardu. Solat fardu yang lima kali sehari merupakan batasan minimal untuk memperkokoh benteng rohani dari rong-rongan musuh. Sehingga untuk mengobati dan mempercepat kesembuhan yang lima kali tersebut harus ditambahi dengan bangun malam. Allah menjanjikan maqâm mahmûd kepada mereka yang bangun malam. Maqâm mahmûd tersebut berupa pangkat yang disandangnya beserta penghormatan yang layak atas pangkat tersebut. pangkat tersebut bisa berupa kekayaan, kedudukan, atau yang lainnya. Tidak jarang orang yang berpangkat tinggi tapi tidak mendapatkan penghormatan yang semestinya.
Proses hukum Allah adalah sesuatu yang haqq. Untuk terjadinya tidak perlu menunggu kita percaya akan kebenaran hal itu atau tidak. Contohnya adalah ungkapan al mawtu haqqun (kematian merupakan sesuatu yang pasti akan terjadi). terkait kematian ini, yang harus dipersiapkan adalah bagaimana cara menghadapinya. Prstiwa kematian akan memperlihatkan pelajarannya hanya kepada mereka yang pikiran dan hatinya jernih. Dalam sebuah hadis, Nabi bersabda kafâ bil mawti wa’izhan (kematian sudah cukup untuk memberi pelajaran). Jika kematian sendiri adalah pelajaran, berarti tausiyah dalam acara kematian adalah mau’izhotun ‘alâ mau’izotin (pelajaran yang dobel).
Doa yang berikutnya bisa dipanjatkan adalah semoga perjuangannya bisa diteruskan oleh generasi berikutnya. Ini jika yang meninggal adalah seorang tokoh masyarakat.  Negara kacau lebih karena pekerjaan orang pinter yang tidak benar. Ciri termudah yang bisa digunakan untuk menilai kebenaran seseorang adalah ketika berbicara ucapannya akan didengarkan. Dan jika ucapan yang didengarkan tadi diikuti atau dituruti, berarti tingkat kebenerannya lebih tinggi lagi. Ittibâ’ hasanah (mengamalkan ucapan yang baik) hanya diperoleh dengan pertolongan Allah. Biasanya berada pada diri ulama dan bukan kiyai atau ustaz. Sebab dewasa ini, masyarakat sangat mudah menyematkan dua jabatan terakhir tersebut kepada mereka yang cara bicaranya enak didengar. Mereka tidak memperhatikan ketaatan orang tersebut sampai mana. Modal utama ulama adalah taat kepada Allah. Sehingga bisa dipastikan kalau ilmunya itu ilmu yang amaliyyah dan amalnya adalah amal yang ilmiyyah.
Imam Syafi’i tidak bersedia mengubah hukum yang telah diucapkannya. Kendati siksaan sebagai tantangannya, Beliau tetap pada pendapatnya. Sebagaimana yang terjadi pada kasus penyiksaan terhadap ulama yang menyatakan bahwa al Qur’an adalah qadîm. Ini karena Beliau merasa itulah yang dikehendaki Allah dan rasul-Nya. Jika hidayah sudah dicabut maka kegelisahan, hati kosong, dan banyak keinginan tapi tidak ada sasaran, akan hinggap pada seseorang. Dan ini berarti keberkahan hidup telah meninggalkannya. Jika hal ini – kegelisahan, hati kosong, dan banyak keinginan – belum membekas dalam artian cukup memberi tahu akan hilangnya keberkahan, ia akan dipimpin oleh orang yang zalim. Jika masih belum juga mempan maka ia akan keluar dari dunia tanpa iman. Begitu pula sebuah negara, akan hilang keberkahan, dipimpin orang yang zalim dan hancur jika hidayah sudah tercerabut darinya. Jika sudah demikian halnya, obatnya adalah solat subuh berjamaah, dilanjutkan dengan berdoa dan baru terjun kerja.
Sistem proses kenegaraan kita lebih banyak melahirkan pemain dari pada pemimpin. Ilmu tidak hanya untuk dipidatokan dan sekedar menyalahkan orang lain tapi juga diamalkan. Sebab jika tidak diamalkan, agama akan semakin menambah ruwet dan tidak bisa mengisi kekosongn serta mengurangi kegelisahan. memintarkan orang yang sudah benar lebih mudah dari pada membenarkan (red. meluruskan) orang yang keburu pintar. Orang pintar cenderung membantah dan tidak memiliki sopan santun. Obat yang jitu bagi orang semacam ini adalah puasa dan solat malam. Sedikit demi sedikit, ia akan mulai sadar meski belum diberi materi pelajaran. Ini karena hati nurani sudah mulai berbicara.
Penyakit Indonsia terletak pada sikap mental warganya. Selama sumber daya manusianya buruk, alam tidak akan membaik. Padahal ikan yang ada di lautan Indonesia sangat cukup untuk menghidupi lima kali lipat warganya. Sampai saat ini, yang menikmati sumber daya alam Indonesua adalah orang luar. Ini tidak lain berawal dari kesalahan orang Indonesia yang menjual perijinan pengolahan alamnya. Orang Indonesia ini lebih mementingkan kehidupan pribadinya. Asal mereka telah menerima sejumlah nominal yang dirasa cukup untuk kehidupannya, mereka tidak akan peduli pada orang lain.
Jika sudah demikian halnya, sangat perlu kita cermati firman Allahويمدهم في طغيانهم يعمهون  . Berdasarkan kemungkinan yang ada dari ayat ini kita harus segera kembali. Status, harta, kesehatan yang kita miliki harus diproses menjadi amal yang akan kita bawa mati kelak. Pada saat berdoa hendaknya kita tidak hanya meminta rahmat Tuhan belaka. Tapi juga proses agar rahmat tersebut berubah menjadi amal perbuatan yang bermanfaat. Karena rahmat yang tidak diproses hanya akan menjadi beban dunia akhirat. Doa susah dikabulkan karena yang diminta tidak sesuai dengan usaha atau bahkan bertentangan dengan yang diminta. Jika ditakdirkan menjadi orang kecil dan bodoh bermohonlah semoga Tuhan berkenan menjadikan putra putri kita sebagai generasi yang pintar dan manfaat bagi umat. Orang kecil banyak melahirkan orang besar karena doa dan usahanya.

wallâhu a’lam bish shawâb…
(Ahad, 9 Oktober 2016)

.

Tinggalkan Balasan

Next Post

Prof. Darwis Hude: Spirit Hijrah dan Review Cara Mendidik Anak

Sab Feb 4 , 2017
 Hijrah merupakan kegiatan yang bisa dipastikan pernah dilakukan setiap utusan. Kegiatan hijrahnya Nabi Muhammad dan para sahabat diabadikan di banyak tempat dalam al Qur’an. Sementara hijrahnya Nabi Ibrahim diabadikan dalam […]