Kajjian Hadits “Mencari Nafkah”

بسم الله الرحمن الرحيم
كتاب الإيمان 
بَاب مَا جَاءَ أَنَّ الأَعْمَالَ بِالنِّيَّةِ وَالْحِسْبَةِ، وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي عَامِرُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فَمِ امْرَأَتِكَ
رواه البخاري

Artinya:
Diceritakan dari Sa’d bin Abu Waqash (w55H.) bahwasanya dia mengabarkan, bahwa Rasulullah Saw. (w11H.) bersabda: “Sesungguhnya, tidaklah kamu menafkahkan suatu nafkah dengan tujuan mengharap keridloan Allah kecuali kamu akan diberi pahala termasuk sesuatu yang kamu suapkan ke mulut istrimu”.
HR. Al-Bukhari (w.256H.)

Istifadah:
Memberi nafkah kepada anak dan istri merupakan kewajiban bagi seorang suami. Apabila hal tersebut ditinggalkan maka mendapatkan ancaman siksa dari Allah Swt.  Ketika seorang suami mencari nafkah dengan mengharap keridhoan dari Allah Swt. maka sekecil apapun usahanya akan diperhitungkan pahala oleh Allah Swt asal dengan cara yg baik dan halal.

[Lembaga Kajian & Riset Rasionalika Darus-Sunnah]
baca juga anjuran silaturahim kepada kerabat orangtua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *