M Fethullah Gulen: Muhammad SAW, Tuan dari semua golongan

Potret Kebanggaan Umat Manusia SAW senantiasa berada di dalam kondisi tersebut. Biarlah nyawaku yang menjadi tebusan baginya SAW! Beliau amat berbeda… Ketika melihatnya, beliau adalah manusia, tetapi tidak seperti manusia. Salah seorang waliyullah berkata:”Sayyidina Muhammad SAW adalah seorang manusia, tetapi dia tidak seperti manusia-manusia lainnya. Beliau adalah batu delima di antara bebatuan biasa.”

Imam Busiri, di dalam Qasidah Burdah-nya berkata:

 مُحَمَّدٌ سَيِّدُ الْكَوْنَيْنِ وَالثَّقَلَيْنِ وَالْفَريِقَيْنِ مِنْ عَرَبٍ وَمِنْ عَجَمِ 

Muhammadun Sayyidul Kaunaini wats tsaqolaini wal fariqoini min urbin wa min ajami

Muhammad SAW adalah pemimpin dua alam yakni dunia dan akhirat, dua ras yakni jin dan manusia, serta dua golongan yakni Arab dan Ajam.

شَفَاعَتُهُ جَى تُرْالَّذِي الْحَبِيبُ هُوَ
مُقْتَحَمِ  الْأَهْوَالِ مِنَ هَوْلٍ لِكُلِّ

Huwal habibulladzi turja syafaatuhu
Likulli haulin minal ahwali muqtahimi.

Dialah sang kekasih yang diharapkan syafaatnya,
Pada setiap kejadian dari kejadian yang mengerikan

Ya, Dia Saw adalah sosok yang demikian ketika menghadapi dunia luar, namun di waktu yang sama beliau adalah figur yang sensitif dalam menghormati hak keluarga.

Ketika menjalankannya, tentu saja dari setiap anggota keluarga akan timbul semacam harapan. Pada akhirnya mereka juga manusia; munculnya harapan adalah hal yang manusiawi. Terlebih lagi, dari segi kehidupan duniawi, mereka hidup dalam kemiskinan yang amat sangat.

🌹Sayyidah Aisyah Radhiyallahu anha, Duhai Ibuku, Biarlah nyawaku menjadi tebusanmu, beliau berkata kepada keponakannya Urwah bin Zubair, putra dari Zubair bin Awwam dan Asma binti Abu Bakar as Siddiq ra:

”Telah berlalu atas kami bulan baru, bulan baru, bulan baru (tiga bulan) sementara tidak pernah menyala api di dapur rumah Nabi dan keluarganya. Maka ditanyakan oleh Urwah: Wahai Bibinda, maka dengan apa kalian makan? Dijawab: Dengan air dan kurma (HR. Bukhari dan Muslim)

Di satu sisi ada beragam perang yang terjadi, di satu sisi lagi ghanimah berdatangan, dan di sisi lainnya ghanimah-ghanimah ini dibagikan kepada semua orang. Kaum Anshar mendapatkan bagiannya tersendiri, kaum muhajirin mendapatkan bagiannya tersendiri juga. Sedangkan bagian Rasulullah Shallallahu alayhi wa sallam adalah khumus (seperlima). Rasulullah Shallallahu alayhi wa sallam membagikan bagiannya tersebut kepada semua yang membutuhkannya. Misalnya kepada para Ahlus Suffah yang jumlahnya lumayan banyak, orang-orang yang di dalamnya terdapat sosok seperti Sayyidina Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Dikatakan bahwa jumlah mereka terkadang lebih dari seratus orang. Sosok-sosok di dalamnya, adalah sosok fakir dan miskin, yang datang dari beragam belahan dunia, lalu ditampung (di Masjid Nabawi), mereka mewakafkan dirinya untuk beribadah, telinganya senantiasa menyimak kata-kata mulia yang keluar dari bibir sucinya Rasulullah Shallallahu alayhi wa sallam, mereka senantiasa berada dalam garis pandangan penuh berkahnya Shallallahu alayhi wa sallam. Mereka menyerap dini mubin, untuk kemudian menyampaikannya kepada berbagai generasi. Hanya itulah yang mereka pikirkan. Oleh karena itulah Rasullah SAW merawat mereka; Rasulullah SAW senantiasa memberi mereka, memberi mereka, memberi dan memberi.

Bukankah ada sebuah peristiwa, dimana ada seseorang yang meminta sesuatu kepadanya Shallallahu alayhi wa sallam. Beliau pun memberinya apa yang ia inginkan. Lalu ada seseorang lagi datang. Beliau kembali memberinya. Ketika ada seseorang lagi yang datang dan meminta sesuatu kepadanya, karena tidak ada lagi yang bisa diberikan, maka beliau berjanji dalam sabdanya:”Demi Allah tidak ada sesuatu lagi yang tersisa. Jika ada, nanti akan kuberikan, insya Allah.”  Yakni, ketika sesuatu yang diinginkan tersebut dimiliki oleh Baginda Nabi, beliau dalam kesempatan pertama akan segera memberikannya.

Sayyidina Umar raaadhiyallahu anhu amat sedih dengan keadaan Baginda Nabi. Dalam kesedihan yang amat mendalam akan keadaan Baginda Nabi tersebut, Sayyidina Umar bersimpuh di depan lutut Baginda Nabi dan berkata:”Ya Rasulullah, mereka meminta dan engkau memberi. Mereka meminta lagi dan engkau memberi lagi. Mereka meminta lagi lalu engkau memberi janji. “Wahai Rasulullah, janganlah engkau memberikan sesuatu yang berada di luar batas kemampuanmu.”

Akan tetapi, kata-kata tersebut tidak menghibur Rasullah Shallallahu alayhi wa sallam. Beliau lalu bersabda: ”Berilah, berilah lagi, berilah lagi, berilah lagi, jika tidak ada sesuatu yang tersisa pada dirimu maka katakan:’kalau ada akan kuberikan…!”

Sayyidina Abdullah bin Huzayfah as Sahmi yang melihat alis mata Rasulullah berkerut, segera berdiri dan berkata:”

أَنْفِقْ يَا رَسُولَ اللهِ، وَلاَ تَخْشَ مِنْ ذِي الْعَرْشِ إِقْلاَلاً

Yang artinya:”Berilah! Senantiasa berinfaklah wahai  Rasul Allah, Jangan pernah sekali-kali mengira Allah Sang Pemilik Arasy akan membiarkanmu jatuh miskin dan memutuskan nikmatNya kepadamu, jangan pernah khawatir dengannya!…”

Demi mendengarnya Rasullah SAW tersenyum, lalu beliau kembali bersabda:” هَكَذَا أُمِرْتُ, “Demikianlah aku diperintahkan.”

Biarlah nyawaku menjadi tebusanmu Ya Rasulullah! Biarlah aku mencium tanah yang kau injak dan mengusapkannya ke wajahku! Duhai Rasulku…!

Dawai  Hati, 28 November 2016
M. Fethullah Gülen

baca juga minum sambil berdiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *