Kajian Hadits: “Parfum Seorang Wanita”

بسم الله الرحمن الرحيم
كتاب الزينة باب الفصل بين طيب الرجال وطيب النساء
أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ – يَعْنِى الْحَفَرِىَّ – عَنْ سُفْيَانَ عَنِ الْجُرَيْرِىِّ عَنْ أَبِى نَضْرَةَ عَنْ رَجُلٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم طِيبُ الرِّجَالِ مَا ظَهَرَ رِيحُهُ وَخَفِىَ لَوْنُهُ وَطِيبُ النِّسَاءِ مَا ظَهَرَ لَوْنُهُ وَخَفِىَ رِيحُهُ
رواه النسائي

Artinya:
Dari Abu Hurairah (w. 59 H) berkata: Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Salam (w. 11 H) bersabda: “Parfum laki-laki itu baunya nampak sementara warnanya tidak, dan parfum wanita itu warnanya nampak sementara baunya tidak.”
HR. An-Nasa’i (w. 303 H)

Istifadah:
Hadits ini menunjukkan akan kebolehan memakai wangi-wangian bagi wanita asalkan dengan wangi yang tidak menyengat. Karena di dalam hadis lain dijelaskan bahwa apabila seorang wanita memakai parfum kemudian lewat di depan sekelompok orang hingga tercium parfumnya, maka ia telah berzina atau memiliki tanda tanda pezina. Karena di zaman Rasulullah saw yg memakai parfum yg menyegat itu biasanya PSK.
Di zaman sekarang parfum yang baunya menyengat bisa memacu kejahatan seksual.
Oleh karena itu kebolehan parfum wanita terbatas pada syarat yang telah disebutkan dalam hadits ini.

[ Lembaga Kajian dan Riset Rasionalika Darus-Sunnah]
baca juga tips menahan amarah

Tinggalkan Balasan