Kajian Al-Hikam; “AMAL MENJADI ANDALAN”

“Sebagian indikator seorang hamba mengandalkan amalnya ialah munculnya sifat pesimis dan putus asa ketika jatuh dalam jurang kemaksiatan”

🔵 Penjelasan:
Seorang hamba tidak boleh mengandalkan amalnya untuk menggapai Surga-Nya. Karena bukanlah amal perbuatan seorang hamba yang menyebabkan dirinya masuk Surga.

Sebagaimana Hadis Riwayat Imam Bukhori )5673, 6463, 6467), Imam Muslim (2816) dan Riwayat Kitab hadis lainnya.
أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الجَنَّةَ» قَالُوا: وَلاَ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: ” لاَ، وَلاَ أَنَا، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ
Abu Ghurairah Ra berkata, Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, “Amal seorang tidak akan memasukannya ke dalam Surga”. Para Sahabat bertanya, “Tidak juga engkau wahai Rasul?” Rasul menjawab, “Tidak juga aku. Kecuali Allah melimpahkan anugrah dan rahmat-Nya” (HR. Bukhari Muslim)

Maka amalan seseorang tidak bisa menjadi andalan dan menjadi suatu kebanggan untuk dapat menggapai Surga-Nya. Karena ketaqwaan maksimal yang harus dilakukan seorang hamba paling minim diniatkan hanya untuk mencari keridhaan Allah Swt sebagai wujud syukur kepada-Nya, tidak lebih.

Bagaimana Rasulullah Saw. Beliau sosok yang sama-sama kita kenal sebagai sosok yang sangat mulia. Dosanya diampuni baik yang sudah lewat maupun yang akan datang. Terjaga dari melakukan dosa. Dijanjikan Surga oleh Allah Swt. Bahkan banyak Riwayat yang menjelaskan pintu Surga tidak akan dibuka kecuali telah dimasuki oleh Rasulullah Saw. Kelas Surganya jelas, yaitu Surga yang sangat tinggi, Surga Firdaus. ِ Sosok yang sudah sangat seperti itu, solat malamnya sampai kakinya bengkak sangkin khusyuk, lama dan menikmati ibdahanya.

Sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukari (1130, 4836, 6471), Shahih Muslim (2819, 2820) dan Kitab Hadis lainnya.
حَدَّثَنَا زِيَادٌ هُوَ ابْنُ عِلاَقَةَ، أَنَّهُ سَمِعَ المُغِيرَةَ، يَقُولُ: قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى تَوَرَّمَتْ قَدَمَاهُ، فَقِيلَ لَهُ: غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ، قَالَ: أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا
“Nabi Saw shalat malam hingga kakinya bengkak. Disampaikan pada beliau, bukankah Allah telah mengampuni dosamu baik yang telah lewat maupun yang akan datang?, Rasul menjawab: “Apakah aku bukan seorang hamba yang pandai bersyukur”

Maka apa yang dilakukan Rasul semata-mata hanya sebagai wujud kebersyukurannya kepada Allah Swt yang telah memberikan  nikmat yang tiada terhitung. Rasul tidak membandingkan amalanaya sebagai penebus mendapatkan Surga.

Maka amalan kita jangan sampai menjadi acuan dan andalan untuk menggapai Surga, atau kemaksiatan seorang kemudian manjadi jalan seseorang menghukumi pelakunya berhak masuk Neraka.

Di dalam kitab HIKAM, Imam Athaillah memberikan satu kaidah sebagai indikator untuk mengetahui bahwa amalan itu dijadikan andalan atau tidak. Yaitu, jika seseorang melakukan suatu kemaksiatan kemudian dia putus asa untuk mengharap ampunan Allah Swt maka itu ciri dan indikator seorang telah mengandalkan amalnya untuk menggapai Surga atau Neraka.

🔵 KESIMPULAN:
Maka hendaknya bagi kita untuk selalu melakukan ketaqwaan secara maksimal. Tentu bertahap dan terus berjuanglah untuk terus maksimal melakukan perintah Allah dan semaksimal mungkin meninggalkan larangan-Nya. Akan tetapi semua itu harus diniatkan untuk menggapai Ridha, Rahmat dan anugrah Allah SWT. Dan semua itu kita lakukan hanya semata-mata sewabagi wujud syukur kita kepada Allah Swt, dan tak lebih. Tidak menuntut kepada Allah gara-gara amalan kita untuk masuk Surga dan Tidak berhak masuk Neraka, Tidak!

H. Syamsudin, Lc                      
RUMAH LENTERA HATI

baca juga: kajian-hadits-larangan-mengancam-muslim.

Tinggalkan Balasan