Kajian al-Hikam: Maqom tajrid dan maqom kasab

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على خاتم النبيين، محمد صلى الله عليه وسلم وعلى آله وصحبه أجمعين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، وبعد:

Imam Atha`illah as-Sakandary (1309 M) berkata:
“إِرَادَتُكَ التَّجْرِيْدَ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِيْ الْاَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ. وَ إِرَادَتُكَ الْاَسْبَابِ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِيْ  التَّجْرِيْدَ إِنْحِطَاطٌ عَنِ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ”
“Keinginanmu untuk Tajrid (melulu beribadah tanpa berusaha mencari dunia), padahal Allah masih menempatkanmu pada Asbab (harus berusaha untuk mendapatkan kebutuhan sehari-hari), termasuk syahwat nafsu yang samar. Sebaliknya, keinginanmu untuk Asbab (berusaha mencari dunia) padahal Allah menempatkanmu pada Tajrid (melulu beribadah tanpa berusaha mencari dunia), maka yang demikian itu merupakan penurunan dari cita-cita dan semangat yang sangat tinggi”

Disini menurut Imam Atha`illah as-Sakandari, hamba itu terbagi menjadi tingkatan (maqom). Ada yang tingkatanya pada level Asbab, ada pula yang level Tajrid.

🔵 Maqom Tajrid artinya seorang hamba sudah ditentukan oleh Allah hanya untuk melulu dan dominan untuk beribadah tanpa disibukan oleh hal-hal duniawi. Kebutuhannya dicukupi oleh Allah dari arah yang tidak disangka-sangka, sehingga tugas bagi hamba ini adalah dengan selalu mendekatkan diri melalui ibadahnya. Rizkinya ditanggung langsung oleh Allah Swt.

🔵 Maqom Asbab artinya seorang hamba ditempatkan oleh Allah untuk beribadah melalui usahanya untuk mencukupi rizki untuk diri dan yang dia tanggung. Bagi hamba yang Allah tempatkan di Maqom Asbab, ia tidak dapat menyambung kesetabilan hidupnya keculai dengan berusaha, berdagang, bekerja, dll.

🔵 Lalu yang terbaik mana (?) Maqom Tajrid apa Asbab (?)

Baik maqom Tajrid maupun Asbab semuanya sama dimata Allah Swt. Keduanya merupakan ketentuan yang Allah gariskan untuk masing-masing hambanya. Hanya saja bagaimana seorang hamba menyikapinya. Apakah ia akan menerima apa yang telah Allah tempatkan baginya, atau sebaliknya.

Jika seorang hamba faham akan hakikat bahwa “semua sudah Allah tentukan”, maka siapapun tidak akan pernah mengharap posisi yang tidak ada pada dirinya. Ia akan fokus untuk mengabdi dan menyembah kepada Allah dengan tugas dan posisi yang Allah berikan.

Seorang Dokter tidak akan melirik dan mengharap posisi seorang Kyai, dan sebaliknya. Dokter akan maksimal untuk berdakwah dan mengabdi kepada Allah melalui profesinya. Begitu pun Sang Kyai, ia akan mengabdi kepada Allah dengan kedudukannya.

🔵 Lalu bagaimana jika tidak menerima posisi dan tugas yang Allah berikan(?)

Disini Imam Atha`illah berkata, jika seorang hamba sudah Allah tempatkan dia pada posisi Tajrid. Artinya, ia ditakdirkan Allah untuk mengabdi kepada Allah melalui ibadahnya, fokus pada aktifitas ibadahnya, kebbutuhan dunianya telah Allah cukupi. Namun ia malah menghendaki posisi Asbab (kebutuhannya tercukupi dengan cara berusaha), maka orang seperti ini termasuk orang yang telah tertipu sehingga terkorbankannya cita-cita yang tinggi, yaitu pertolongan Allah secara langsung padanya. Ia malah memilih untuk ditolong oleh dirinya sendiri, bukan oleh Allah langsung.

Begitupun sebaliknya, hamba yang Allah tempatkan pada posisi Asbab (harus berusaha untuk bisa tercukupinya kebutuhan), namun ia malah menghendaki dan menginginkan posisi Tajrid, maka yang seperti ini termasuk terbujuk oleh nafsu syahwat yang njlimet. Ia ingin dipandang menjadi hamba yang zuhud dimata manusia, akan tetapi sebetulnya hatinya selalu berharap pada apa yang ditangan manusia.

Maka diposisi manapun Allah tempatkan diri kita, maka terimalah. Ridhai takdir Allah pada diri kita, baik di Maqom Tajrid maupun Maqom Asbab. Karena harus difahami, keduanya sama mulianya dimata Allah Swt. Sehingga jangan sampai takdir itu tidak kita terima. Karena jika tidak diterima hakikatnya kita telah maksiat/ membangkang pada kehendak Allah Swt. Naudzu Billah..

📖 Rasulullah Saw bersabda:

عن أبي هريرة، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إن الله لا ينظر إلى صوركم وأموالكم، ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم

“Sungguh Allah tidak melihat pada rupa dan harta-harta kalian, akan tetapi Allah Swt melihat pada hati dan amal-amal kalian” (HR. Imam Muslim. 2564)

Maka dimanapun maqom kita, perhatikanlah hati, selalu bersihkan hati dan terapkan sifat-sifat mulia dan hilangkan sifat yang hina untuk hati. Dan perhatikan juga aktifitas kita, apapun aktifitasnya, maksimalkanlah dan ikhlaskanlah hanya untuk-Nya.

🔵 Lalu apa yang harus kita lakukan?

Yang harus kita fahami adalah apapun posisinya semuanya merupakan takdir Allah. Maka yang harus dilakukan oleh seorang hamba adalah (i) melakukan perintah Allah pada posisi dan profesi yang telah diberikan-Nya. Bagi seorang karyawan, maka lakukanlah perintah Allah melalui tanggung jawab dan amanahnya ketika bekerja. Bagi seorang santri, maka ta’atlah kepada Allah melalui tugasnya, yaitu belajar dan belajar. (ii) Meninggalkan apa yang Allah larang di profesi yang diembannya. Dan seterusnya.

Dan ingat(!) salah satu Rukun Iman yaitu, beriman akan Qodho dan Qodar Allah Swt.

🔵 KESIMPULAN :

✅ Ridho dengan posisi yang Allah tentukan bagi kita.
✅ Beribadahlah melalui profesi yang sedang diemban, ikhlas & maksimalkan.
✅ Hati merupakan tempat Allah memandang hamba-Nya, maka apapun kedudukan kita di dunia ini, selalu lah untuk memperhatikan kebersihan hati.
✅ Jangan berkecil hati, semangatlah berlomba menggapai ridha-Nya.

Pemateri

H. Syamsudin, Lc
RUMAH LENTERA HATI

baca juga: brahim-bin-adham-dengan-pemuda-pendosa.

Tinggalkan Balasan