Kajian Al-Hikam: DOSA BESAR & DOSA KECIL

Pada sebuah majlis hikam al Atho’iyyahnya Syekh Yusri hafidzahullah menjelaskan tentang masalah dosa. Beliau mengatakan, bahwasanya dosa itu ada dua macam,yaitu dosa besar dan dosa kecil.

Sebagaimana disebutkan Al Qur’an, Allah berfirman
“ اَلَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشِ إِلَّا الَّلَمَم “,
artinya “ yaitu mereka orang-orang yang selalu menjauhi dosa besar kecuali dosa kecil “(QS. An Najm : 32 ).

Dosa besar adalah dosa dimana pelakunya diancam dengan siksa, atau ada had (sanksi)  jika melakukannya ataupun laknat dari Allah SWT atau dari Nabi Muhammada SAW. Adapun Dosa Kecil adalah selain dosa yang masuk pada kriteria di atas.

Hal ini adalah jika kita lihat dari segi dzahir syati’atnya. Adapun kalau kita melihat dari maqom Dzat yang dimaksiati yaitu Allah Ta’ala, maka semua dosa itu adalah besar. Karena seorang hamba telah melanggar peraturan yang dibuat oleh Dzat yang telah menciptakannya, Dia adalah Dzat yang amat pedih siksanya, sebagaimana Dia adalah Dzat yang Maha Melihat.
Allah berfirman “  وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ “,
 artinya “ dan barang siapa yang melakukan kejelekan sekecil atompun, maka Allah akan melihatnya “ (QS. Az Zalzalah : 8 ).

Syekh yusri menambahkan, apabila kita melihat rahmat Allah kepada kita, karunia serta nikmat-Nya, maka tidaklah ada yang namanya dosa besar. Salah satu bentuk dari rahmat Allah itu adalah Allah mengampuni segala dosa hamba-Nya, meskipun dosa besar dilakukannya, kecuali dosa menyekutukanNya.
Allah telah berfirman “
 إِنَّ اللهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ “,
artinya “ sesungguhnya Allah tidakla mengampuni dosa syirik kepadaNya, dan mengampuni segala dosa selainnya kepada siapa yang Allah kehendaki “ ( QS. An Nisa : 48).

Maka dari itu, seorang mukmin hendaklah berada diantara dua sayap khauf (rasa takut kepada Allah ) dan roja (rasa harap kepada rahmat Allah). Sebagaimana dirinya mengenal Allah Dzat yang Jamal (Indah ) begitu pula melihat Allah Dzat yang Jalal (Agung ). Sebagaimana para ulama juga mengatakan “ اَلْمُؤْمِنُ كَالطّائِرِ بَيْنَ جَنَاحَيْهَ “,  artinya “ seorang mukmin itu seperti burung diantara dua sayapnya ( yaitu sayap khauf dan sayap roja’ ).

NB. Materi  kutipan Dars Kitab Hikam Guru Mulia Syeikh Yusri Kairo, Mesir.
H. Syamsudin, Lc.
RUMAH LENTERA HATI

baca juga: kajian-al-hikam-menggebunya-semangat.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *