Kajian Al-Hikam: Menggebunya semangat itu tidak dapat menembus pagar (batas)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على خاتم النبيين، محمد صلى الله عليه وسلم وعلى آله وصحبه أجمعين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، وبعد:

Imam Atha`illah as-Sakandary (1309 M) berkata:
“سَوَابِقُ الْهِمَمِ لَا تَحْرِقُ اَسْوَارَ الْاَقْدَارِ”
“Menggebunya semangat itu tidak dapat menembus pagar (batas)

PENJELASAN
Angan-angan seseorang tak pernah terbatas, selalu berangan-angan yang sangat tinggi, besar, luas dan tanpa batas. Sehingga angan-angan itu akan memicunya untuk berbuat lebih. Namun usaha seorang hamba semaksimal atau sesepektakuler apapun, usahanya itu tidak akan pernah melampoi takdir Allah Swt.

Hikam ke-3 ini masih punya hubungan erat dengan Hikam ke-2, yaitu keharusan seorang hamba meridhai akan Qodho dan Qodar Allah Swt, apalagi merupakan bagian dari Rukun Iman. Setelah berusaha maksimal seorang hamba harus kembali kepada Takdir Allah, sehingga ia selalu menyediakan ruang untuk bertawakal di dalam setiap usahanya.

Pun Hikam ke-3 ini berhubungan dekat dengan Hikam ke-1. Seorang hamba setelah berusaha secara maksimal sebagai wajud ubudiyahnya (penghambaan), akan tetapi ia harus sadar sesadar-sadarnya, bahwa apapun yang ia lakukan tidak berefek kecuali disertai kehendak Allah Swt. Dan sadar bahwa amal perbuatan secara Dzatiahnya tidak punya dampak efek terhadap sesuatu, yang menciptakan dampak efek hanya Allah Swt. Sehingga seorang hamba tidak akan mengandalkan apa yang ia lakukan, pasti selalu ia kembalikan kepada Sang Pencipta, yaitu Allah Swt.

Lalu Apakah Ini Berarti “Kita Berpangku Tangan Aja”(?)

Karena semuanya tidak akan melampoi batas takdir yang Allah berikan, lalu “ngapain berusaha mati-matian? Ngapain? Kan, hasilnya tidak akan sesuai angan-angan dan harapan manusia?” ungkapan ini merupakan peluru jitu yang terdengar sangat logis, pertanyaan ini sangat disukai oleh musuh bebuyutan keturunan Adam, yaitu Iblis Alaihi La’natullah, untuk mengombang-ambingkan keyakinan manusia. Sehingga manusia tergelincir dan menjadi teman Iblis dihari kemudian.

Bagi seorang hamba, dia harus melakukan sifat Ubuduiyahnya (penghambaan kepada Allah Swt). Jadi apa yang terlihat maksimal, itu hanya pandangan mata manusia belaka. Namun jika dipandang dari Rububiyahnya Allah Swt, maka usaha hamba tidak ada yang totalitas dimata-Nya. Maka, seorang hamba harus sadar untuk melakukan penghambaan kepada Allah secara totalitas dan  maksimal (ditinjau dari pandangan manusia).

Penghambaan setiap orang itu punya wahananya masing-masing. Ada yang menghamba kepada Allah secara totalitas melalui profesinya masing-masing. Tenaga medis ibadahnya dengan totalitas melayani dan membantu orang lain dibidang kesehatan; Pengajar ibadahnya dengan totalitas mendidik para santri dan pelajar; Pun, pedagang ibadahnya  dengan cara totalitas amanah pada apa yang ia jual, dan seterusnya. Akan tetapi, setotalitas apapun perbuatan dan usaha manusia sebetulnya tidak akan pernah maksimal di mata Allah Swt.

Prinsip dasar dari semua itu terpusat pada satu  kaidah ini, yaitu kata:
لَا حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَطِيْمِ
Tiada daya upaya dan kekuatan kecuali dari Allah Swt  yang Maha Tinggi, Maha Agung.

Maka kembalikan ke Allah Swt. Semuanya yang ada pada seorang hamba itu dari Allah dan hanya untuk Allah Swt. Manusia hanya pelayan yang diberi mandat sebagai bentuk ujian. Ujian yang tampak seperti anugrah. Lalu, apakah kita sebagai seorang hamba akan lulus dalam ujian ini atau gagal, atau malah pusing muter-muter di soal tanpa memberikan jawaban, walau ini hakiatnya Gagal.

MEMAHAMI QODHO & QODAR
Qodho ialah pengetahuan Allah Swt yang Azaly tentang segala apa yang akan terjadi di masa akan datang. Adapun, Qodar merupakan terjadi dan berjalannya sesuatu sesuai Ilmu (pengetahuan) Allah Swt yang Azaly.

Gambaran dekatnya seperti, penulis misalkan pada makhluk (walau Allah disucikan dari keserupaan dengan makhluk), untuk memudahkan pemahaman Qodho dan Qoddar. Seorang yang akan membuat rumah, dia gambarkan desain dan detailnya berdasarkan pengetahuannya. Nah penggambaran desain dan detailnya ini merupakan Qodho. Setelah itu kemudia dia membangun sesuai desain dan detail yang telah ia tentukan, nah wujud nyata ini merupakan Takdir. Jadi Takdir itu pasti selalu sama dengan Qodhonya, ketentuannya.

KESIMPULAN
✅ Maksimal dalam berbuat sebagai wujud penghambaan kepada Allah.
✅ Sertai Tawakkal disetiap penghambaan kita.
✅ Yakini bahwa yang memberikan efek hanya Allah, hakikatnya.
✅ Menggebu-gebu untuk bernilai maksimal, itu hanya pandangan manusia.
✅ Jika di sisi Allah usaha seorag hamba semaksimal apapun tidak akan pernah sempurna. Karena yang Maha Maksimal/ Sempurna hanya Allah Swt.

Pemateri
H. Syamsudin, Lc.
RUMAH LENTERA HATI

baca juga: kajian-al-hikam-maqom-tajrid-dan-maqom.kasab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *