Kajian Al-Hikam: Seseorang ada dalam maqom tajrid atau kasab, adalah Kehendak Allah.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على خاتم النبيين، محمد صلى الله عليه وسلم وعلى آله وصحبه أجمعين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، وبعد:
Imam Atha`illah as-Sakandary (1309 M) berkata:
 وَ إِرَادَتُكَ الْاَسْبَابِ مَعَ إِقَامَةِ اللهِ إِيَّاكَ فِيْ  التَّجْرِيْدَ إِنْحِطَاطٌ عَنِ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ………………..
Engkau menghendaki Asbab (kasab) sedang Allah menempatkanmu dalam Tajrid, yang seperti itu merupakan penurunan dari cita-cita luhur”
Kata “Iqomatillahi Iyyaka” yang berasal dari kata “Aqooma Yuqiimu” diterjemahkan “Allah menempatkanmu”. Ditempatkan disini parameternya adalah Syara’ atau Agama. 
Sebagaimana diriwayatkan oleh Guru Mulia (i’ilaman), Syeikh Prof. Dr. M. Romdhon al-Buthy rahimahullah, pensyarah Kitab Hikam Athaiyyah as-Sakandari, beliau mencontohkan Maqom Tajrid yang terjadi pada diri beliau.
Saat kecil beliau disuruh oleh ayahnya untuk menuntut Ilmu Agama. “Saya melihat untuk sampai kepada Allah Swt harus dengan mempelajari Agama-Nya dan Hukum Syari’at-Nya”, kata ayah Syeikh Buthy. “Sehingga engkau harus fokus untuk belajar Agama. Semua kebutuhanmu aku tanggung”, Syeikh Buthy menirukan ucapan Ayahnya. Bahkan tidak hanya sampai disitu, kata pensyarah Hikam ini, beliau bahkan di janji oleh ayahnya supaya dalam proses belajarnya untuk tidak diniatkan untuk memperoleh Ijazah dan kelak untuk mendapat pekerjaan. Akan tetapi, beliau dijanji oleh ayah beliau supaya niat belajarnya hanya untuk mencari ridha Allah Swt.
Maka saat itu Syeikh Buthy menurut parameter Agama ia sedang ditempatkan di Maqom Tajrid. Karena segala urusan dunianya sudah ditanggung oleh Allah melalui perantaraan ayah beliau. “Jika saja dulu saya melanggar janji dengan ayah saya, sungguh saya termasuk apa yang dikatakan oleh Imam Athaillah, yaitu telah jatuh dan gagal dari suatu cita-cita luhur, bahkan berdosa karena melanggar perintah orangtua”, Kata Prof Buthy.
Parameter Agama Syeikh Buthy kenapa saat itu berada di Maqom Tajrid adalah:
1. Beliau diperintah oleh orangtua beliau. Sedangkan perintah orangtua merupakan kewajiban yang harus dilakukan jika dalam hal kebaikan.
2. Hadis “Barang siapa dikehendaki baik oleh Allah maka ia difahamkan dalam Agama”
🔵Parameter posisi seorang hamba apakah dia berada di Maqom Tajrid atau Maqom Sabab adalah Agama.
Sebaik-baiknya contoh dan teladan adalah Rasulullah Saw. Beliau dalam suatu waktu berada di Tajrid, dan di waktu lain di Sabab. 
Rasulullah Saw, saat akan melakukan hijrah ke Madinah. Rasulullah mengajak teman setianya, Abu Bakar as-Sidiq, untuk menemani perjalanan beliau. Sahabat Ali ra kw disuruh untuk menggantikan beliau di ranjang dimana Rasul tidur. Kemudian, pembantu Abu Bakar disuruh untuk membawa kambingdan mengikuti dari belakang, dengan tugas untuk menghapus jejak tepak perjalanan Rasul. Tidak hanya sampai disitu, Rasul bahkan menyewa Abdullah bin Ariqoth, seorang non Islam yang berprofesi sebagai Guide handal yang mengetahui seluk beluk jalan di lereng gunung dan padang pasir. Dari semua ini Rasul memberikan contoh dimana saat itu Rasul berada di Maqom Sabab.
Lalu setelah sampai di gua Tsur, Rasul dan Abu Bakar kemudian bersembunyi di dalamnya. Sesaat bersembunyi, segerombolan orang-orang kafir Mekah mendekati gua bahkan berada di bibir gua. Saat itu juga Allah tempatkan Rasul di Maqom Tajrid, yaitu semuanya diserahkan dan ditanggungkan kepada Allah Swt. 
Setelah selamat di gua Tsur, Rasul dan Abu Bakar  melanjutkan perjalanan. Ketika sedang berjalan, ternyata pembunuh bayaran, Suraqah,  sudah berada dibelakang dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Rasul pun ditempatkan Allah di Maqam Tajrid, sehingga Rasul tidak menoleh ke kanan dan ke kiri. 
Dari kisah Rasul di atas, seorang hamba dalam satu waktu Allah tempatkan di Maqom Sabab dan di waktu lain bisa jadi Allah tempatkan di Maqom Sebab.
Contoh lain; Seorang pedagang, di pagi hari dia berada di Maqom Sabab. Setelah datang malam bisa jadi Allah tempatkan dia pada Maqom Sebab. Sehingga ketika malam jangan sampai tersibukan untuk berniaga terus, akan tetapi pada malam harinya mungkin digunakan untuk ikut ngaji dan belajar Agama, fokus ibadah dan seterusnya. 
Contoh lagi; Seorang pedagang ketika hari Jum’at di pagi hari berada di Maqom Sabab. Akan tetapi ketika sudah datang Shalat Jum’at, peniaga ini harus berhenti niaganya dan harus melakukan Shalat Jum’at. Maka di saat itu peniaga tersebut berada di Maqom Tajrid.
Contoh lain, saat seorang disuruh menghafal Qur’an dan kebutuhannya telah dicukupi maka ia pun berada di Maqom Tajrid. Para pendakwah yang sudah terbebas dari urusan dirinya juga demikian. Wallahu a’alam.
Jadi parameternya adalah Agama. Apakah Agama menuntut seorang hamba untuk Tajrid atau untuk Kasab.
Kembali lagi, baik Maqom Tajrid maupun Sabab, keduanya perantara untuk mengabdi kepada Allah Swt. Seorang hamba harus faham tentang posisinya, dan parameternya adalah Agama.
Pemateri
H. Syamsudin, Lc.
RUMAH LENTERA HATI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *