Kajian Al-Hikam: Indikator matinya mata hati

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على خاتم النبيين، محمد صلى الله عليه وسلم وعلى آله وصحبه أجمعين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، وبعد:
Imam Atha`illah as-Sakandary (1309 M) berkata:
“اِجْتِهَادُكَ فِيْمَا ضُمِنَ لَكَ وَتَقْصِيْرُكَ فِيْمَا طُلِبَ لَكَ  دَلِيْلٌ عَلَى انْطِمَاسِ الْبَصِيْرَةِ مِنْكَ”
“Kesungguhanmu terhadap sesuatu yang telah ditanggungkan untukmu, serta keteledoranmu dalam melakukan suatu kewajiban adalah tanda bukti atas matinya mata hatimu”
PENJELASAN
Setiap makhluk memliki kewajiban yang harus dilakukannya. Tentu kewajiban itu ada yang berupa perintah dan ada yang berupa larangan. Kewajiban ini yang dikenal dalam terminologi agama sebagai ibadah. Allah Swt. Berfirman:
وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ (٥٦) مَآ أُرِيدُ مِنۡہُم مِّن رِّزۡقٍ۬ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ (٥٧) إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ (٥٨)
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (56) Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. (57) Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh. (58) (QS. Al-Dzariyat: 56-58)
Maka sebagai hamba kita harus bersungguh-sungguh dalam beribadah, baik ibadah secara luas maupun secara sempit. Ibadah secara luas adalah setiap aktifitas yang bertujuan hanya untuk Allah Swt, atau secara lahiriyahnya bersesuaian dengan aturan agama.
Kewajiban seorang kepala rumah tangga dalam keluarganya, misalnya, adalah mengarahkan istri dan anak-anaknya untuk melakukan perintah Allah dan meningalkan larangan-Nya. Salah satu kewajiban seorang hamba yang menjadi kepala rumah tangga adalah memerintahkan keluarganya untuk melaksanakan shalat dan bersabar dalam menghadapi setiap ujian dan kenikmatan yang menimpanya.
Allah Swt berfirman:
وَأۡمُرۡ أَهۡلَكَ بِٱلصَّلَوٰةِ وَٱصۡطَبِرۡ عَلَيۡہَا‌ۖ لَا نَسۡـَٔلُكَ رِزۡقً۬ا‌ۖ نَّحۡنُ نَرۡزُقُكَ‌ۗ وَٱلۡعَـٰقِبَةُ لِلتَّقۡوَىٰ (١٣٢)
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat [yang baik] itu adalah bagi orang yang bertakwa. (132) (QS. Thaha: 132)
Sehingga jangan sampai gara-gara alasan mencari rejeki dan nafakah untuk anak istri, akan tetapi anak istrinya terbengkalai, tidak diperhatikan dan tak diurus. Sehingga anak istrinya melakukan solat atau tidak melakukan seorang kepala rumah tangga tidak tahu bahkan acuh tak acuh. Ini salah. 
Seorang kepala rumah tangga wajib mencari nafkah namun juga wajib baginya untuk memperhatikan dan mendidik istri dan anaknya. rejeki Allah yang tanggung tanggung, dalam artian setelah melakukan kewajiban untuk mencari rejeki sesuai tuntutan agama, seorang kepala keluarga tidak usah menyibukan diri untuk hasilnya, karena hasil adalah tanggungan Allah Swt.
Jika dilihat, Allah Swt menciptakan seluruh makhluk-Nya, semuanya tunduk akan perintahnya kecuali sebagian Jin dan Manusia. 
Allah berfirman:
أَلَمۡ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يَسۡجُدُ لَهُ ۥ مَن فِى ٱلسَّمَـٰوَٲتِ وَمَن فِى ٱلۡأَرۡضِ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ وَٱلنُّجُومُ وَٱلۡجِبَالُ وَٱلشَّجَرُ وَٱلدَّوَآبُّ وَڪَثِيرٌ۬ مِّنَ ٱلنَّاسِ‌ۖ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيۡهِ ٱلۡعَذَابُ‌ۗ وَمَن يُہِنِ ٱللَّهُ فَمَا لَهُ ۥ مِن مُّكۡرِمٍ‌ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يَشَآءُ  (١٨)
Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki. (18) (QS. Al-Hajji: 18)
Maka dari itu seorang hamba harus tahu kewajibannya sebagai seorang hamba di dunia ini. Sehingga tugasnya di dunia ini adalah memaksimalkan kewajiban yang telah Allah pikulkan pada dirinya. 
Salah satu tanggungjawab seorang hamba adalah melestarikan bumi, sebagaimana ia telah dijadikan Allah dimuka bumi ini sebagai Khalifah.
Allah Swt berfirman:
هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ وَٱسۡتَعۡمَرَكُمۡ فِيہَا فَٱسۡتَغۡفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِ‌ۚ إِنَّ رَبِّى قَرِيبٌ۬ مُّجِيبٌ۬ (٦١)
Dia telah menciptakan kamu dari bumi [tanah] dan menjadikan kamu pemakmurnya[4], karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat [rahmat-Nya] lagi memperkenankan [do’a hamba-Nya].” (61) (QS: Hud: 61)
Maka seorang hamba harus berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan kewajibannya sesuai aturan Syariat. Jika ia ingin mendapat kehidupan yang bahagia dan sejahtera, syariat memberikan arahan agar dia beriman dan melakukan amal kebaikan. Bukannya sebaliknya, ingin bahagia dunia dengan segala cara yang dilarang oleh Allah Swt. Maka yang demikian ini berarti dia bersungguh-sungguh pada apa yang Allah tanggungkan untuknya akan tetapi bukan dengan cara yang dikehendaki-Nya, atau dengan kata lain tidak melakukan kewajibannya.
Maka kembali lagi kita harus tahu tanggung jawab kita sebagai seorang hamba. Harus tahu kewajiban kita sebagai seorang hamba. Tentu jalan untuk bisa tahu adalah dengan cara kita terus dan terus mencari ilmu. Ilmu yang disampaikan oleh seorang guru yang bertanggungjawab dan dapat dipertanggungjawabkan tentunya.
عَنْ أَبِي الْمُخَارِقِ، قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ فَطَلَقَتْ نَاقَتُهُ فَأَقَامَ عَلَيْهَا سَبْعًا، فَمَرَّ بِنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ وَهُمْ يَتَحَدَّثُونَ، فَقَالُوا: مَا رَأَيْنَا كَالْيَوْمِ رَجُلًا أَجْلَدَ وَلَا أَقْوَى لَوْ كَانَ هَذَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ، فَسَمِعَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى صِبْيَةٍ لَهُ صِغَارٍ لِيُغْنِيَهُمْ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى وَالِدَيْهِ لِيُغْنِيَهُمَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى نَفْسِهِ لِيُغْنِيَهَا وَيُكَافِئَ النَّاسَ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَإِنْ كَانَ يَسْعَى سُمْعَةً وَرِيَاءً فَهُوَ لِلشَّيْطَانِ.
“…………. Sahabat berkata: “Kami tidak sekali-kali melihat seorang lelaki seperti hari ini yang kuat dan tanggung , jika saja lelaki ini berjuang di jalan Allah”. Rasul Saw mendengar pembicaraan tersebut, kemudian Rasul bersabda:” Jika seseorang mencari nafkah untuk mencukupi putri kecilnya, maka yang demikian itu berjuang di jalan Allah. Jika seseorang mencari nafkah untuk mencukupi kedua orangtuanya, maka yang demikian itu berjuang di jalan Allah.  Jika seseorang mencari nafkah untuk mencukupi dirinya agar tidak meminta-minta kepada orang lain, maka yang demikian itu berjuang di jalan Allah. Jika seseorang mencari nafkah terkenal dan pamer, maka yang lelaki ituberada di jalan Syaitan.” (HR. Saad bin Mansur :2618)
Maka kewajiban seorang hamba adalah meksimal dalam beribadah. Ingat ibadah itu bukan hanya solat, puasa, haji belaka. Akan tetapi ibadah atau pengabdian adalah segala hal yang ditunjukan karena Allah Swt atau sesuai dengan aturah agama.
Jika kita bersungguh-sungguh dalam menggapai hasil akan tetapi tidak sesuai dengan aturan agama atau karena mencari hasil yang diharapkan akan tetapi kewajiban yang dilakukan tidak maksimal, maka yang demikian itu indikator mata hati seorang hamba telah mati. Semoga Allah jauhkan ini dari kita semua. Amin.
Misal, mengharap rejeki yang melimpah akan tetapi dengan cara mencuri. Atau ingin keluarga yang saleh saleha akan tetapi tidak dikasih perbekalan dan arahan agama. Yang demikian adalah keteledoran yang disebabkan matinya hati.
Pemateri
H. Syamsudin, Lc.
RUMAH LENTERA HATI

Tinggalkan Balasan