Kajian Al-Hikam; DO’A TAK KUNJUNG DIKABULKAN

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على خاتم النبيين، محمد صلى الله عليه وسلم وعلى آله وصحبه أجمعين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، وبعد:

Imam Atha`illah as-Sakandary (1309 M) berkata:

“لَا يَكُنْ اَمَدَ تَاَخُرِ الْعَطَــاءِ مَعَ الْاِلْحَاحِ فِيْ الدُّعَاءِ مُوْجِبًا لِيَأْسِكَ، فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْاِسْتِجَابَةِ فِيْمَا يَخْتَارُهُ لَكَ، لَا فِيْمَا تَخْتَارُهُ لِنَفْسِكَ، وَفِي الْوَقْتِ الَّذِيْ يُرِيْدُ لَا فِي الْوَقْتِ الَّذِيْ تُرِيْدُ”

“Tertundanya pemberian atas do’a yang dipanjatkan jangan sampai menyebabkanmu putus asa. Dia menjanjikan pengabulan (doa) dengan pilihan-Nya untukmu, bukan dengan apa yang kamu pilih untuk dirimu, dan pada waktu yang Ia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau kehendaki”

PENJELASAN

Terkadang seorang hamba telah meminta sesuatu kepada Allah Swt, akan tetapi apa yang diminta tak kunjung datang. Apakah seperti itu adanya? Atau bagaimana?

Permintaan atau permohonan dalam bahasa Arab ada dua kata yang digunakan. Yang pertama, Thalab dan yang kedua “Do’a*. Thalab merupakan sifat  atas laradz yang diucapkan. Misal kata, “Saya mohon dibantumu atas hal ini”. Maka lafazh tersebut disebut thalab (bagian dai Kalam Insya’ yang merupakan salah satu bahasan Ilmu Balaghah). Adapun Do’a merupakan kondisi batiniyah atau hati ketika menghayati apa yang diucapka. Misal, seorang hamba sedang memohon, “Saya minta dibantumu atas hal ini”, dan kedaan hatinya merasa butuh, hina, dan mengiba. Yang demikian itu disebut dengan do’a.

Maka supaya permohonan itu menjadi Do’a,bukan sekedar Tholab, harus terpenhi dua syarat berikut:
1. KESADARAN HATI & PENGHAYATAN

Hati seorang hamba yang berdoa tidak boleh lalai. Harus sadar dan menghayati apa yang diucapkan atas permohonanya. Jadi jangan sampai do’a yang disampaikan hanya sekedar seperti hafalan belaka. Mulut berucap,  akan tetapi hati dan fikirannya berlari liar memikirkan hal lain, bukan apa yang menjadi do’a.

Seorang hamba yang berdo’a harus menunjukan substansi dari do’a. Substansi do’a adalah perasaan rendah dan hina di sisi Allah Swt, sehingga seorang hamba yang berdo’a dengan kondisi memelas, merasa hina dan merasa rendah hati di sisi Allah Swt. Jangan sampai mulut berucap permohonan akan tetapi perasaanya bukan sebagai hamba yang hina.

Coba kita analogikakan dengan yang mudah difahami, ada seorang pembantu meminta sesuatu kepada majikannya. akan tetapi sang pembantu dengan nada sombong dan memperlihatkan kearoganannya ketika meminta pada majikannya. Apakah pembantu ini akan dituruti permintaanya oleh sang majikan? Tentu tidak! Jika pun dituruti, maka pemberian majikan pasti disertai rasa jengkel, marah dan kurang rela, ridha.

Begitupun ketika seorang hamba memohon kepada Rabb-nya, tentu sikap batiniyahnya harus ditampakan bahwa dirinya sedang butuh dan merasa sebagai seorang hamba. Jika sudah merasa dirinya seorang hamba didepan rajanya, tentu ia akan memposisikan dirinya sebagai orang yang hina dan tiada artinya didepannya.

2. BERTAUBAT ATAS DOSA

Mengakui kesalahan diri dan memohon ampun kepada Allah Swt. Jika ada hak adami tentu harus diselesaikan dulu hak tersebut.

Berdoa setelah dengan hati yang sadar dan dihayati juga harus diiringi dengan pertaubatan terlebih dahulu kepada-Nya.

Maka do’a yang akan diterima adalah do’a yang disertai dengan bertambah baiknya sang pendoa. Bukan malah sebaliknya, do’anya terus akan tetapi maksiatnya juga terus. Maka yang demikian walau telah dengan hati yang sadar, maka belum  memenuhi kriteria do’a yang akan dikabulkan.
Apa yang masuk ke dalam perutnya diperhatikan, sehingga tidak makan kecuali yang halal.

Rasul bersabda:

ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

Rasul bersabda: “………………………….. Rasul kemudian bercerita tentang lelaki yang lama bepergian; rambutnya kusut, berdebu, dan menengadahkan kedua tangannya ke langit, ‘Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku,’ sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi kecukupan dengan yang haram, bagaimana doanya akan dikabulkan?” (HR. Muslim: 1015)

Maka bertaubat dengan cara meninggalkan apa yangdilarang Allah Swt adalah salah satu syarat diterimanya doa dan dikabulkannya do’a.

Sebagaimana Firman Allah Swt:

وَقَالَ رَبُّڪُمُ ٱدۡعُونِىٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِى سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ (٦٠)
Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku [1] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Ghafir: 60)

Mengapa Do’a Tidak Dikabulkan?

Jika permohonana dan permintaan itu sudah memenuhi syarat di atas, sehingga sudah masuk kategori do’a, maka barang tentu akan dikabulkan. Akan tetapi dikabulkannya do’a tersebut terkadang tidak sesuai dengan waktu dan apa yang dimohonkan oleh seorang hamba. Kenapa?

Ada beberapa sebab kenapa do’a (bukan sekedar thalab) itu dikabulkannya tidak sama persis yang diminta, diantaranya:

1. Do’a itu sendiri adalah ibadah

Perlu difahami, do’a merupakan perintah Allah Swt. Sehingga do’a itu sendiri sebelum dikabulkannya merupakan ibadah tersendiri. Sehingga jika do’a itu dikabulkan itu merupakan bonus anugrah dan sayang Allah kepada seorang hamba.

Doa merupakan ibadah seperti ibadah-ibadah yang lainya. Seperti sedekah, shalat, puasa, dan lain-lain. Maka do’a harus diniatkan karena Allah Swt. Sehingga seorang hamba sadar bahwa dalam do’a pun harus terpeniuhinya syarat-syarat do’a, minimal dua hal yang di atas, karena do’a merupakan ibadah.

2. Supaya seorang hamba sadar, bahwa dikabulkannya do’a tersebut bukan disebabkan oleh dirinya, akan tetapi karena anugrah dan sayang Allah kepadanya.

Allah mengabulkan do’a hambanya terkadang tidak sesuai yang dimintakan atau tidak pada waktu yang dimintakan. Semua ini supaya seorang hamba merasa bahwa pengkabulan itu karena dirinya. Sehingga hamba tersebut secara tidak sadar telah mengandalkan amalnya. Bukan mengandalkan pada Dzat yang dimintai, yaitu Allah Swt. Untuk hal tersebut maka Allah memberikan sesuai yang dikehendaki-Nya, bukan sesuai kehendak peminta.

Do’a yang merupakan ibadah tersebut agar tetap menjadi sarana penghambaannya kepada Allah Swt. Bukan malah menjadi bomerang, karena dikabulkan kemudian menjadikan seorang hamba keluar dari sifat kehambaanya kepada Allah. Wali ‘iyyadzu billah.

3. Allah Maha Tahu yang dibutuhkan seorang hamba.
Seroang harus yakin bahwa salah satu sifat wajib bagi Allah adalah Maha Tahu. Jika seorang hamba telah sadar bahwa Allah Maha Tahu, maka ia akan yakin akan apa yang diberikan-Nya kepada hamba-Nya adalah hal yang terbaik.

Maka Allah Maha Tahu akan waktu yang terbaik untuk hambanya untuk memberi apa yang diminta. Dan Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya, sehingga Dia akan memberikan apa yang dikehendaki_nya, bukan apa yang dikehendaki oleh peminta.

4. Dikonversikan

Terkadanng do’a yang kita mintakan sudah dikabulkan oleh-Nya, namun kita tidak menyadarinya. Allah kabulkan bukan dengan yang diminta, akan tetapi Allah ganti dengan hal lain yang lebih baik. Semisal seorang hamba meminta kekayaan, ternyata dia tak kunjung kaya secara meteri, akan tetapi ternyata anak-anaknya soleh-soleh, sehingga dia kaya dibidang amal perbuatan. Namun seorang hamba terkadang tidak menyadarinya.

Dan terkadang do’a itu tidak dikabulkan di dunia, baik dengan yang diminta atau dikonversikan, akan tetapi Allah simpan di akherat. Karena hakikat do’a adalah penghambaan. Yang mana penghambaan merupakan ibadah. Maka seperti halnya solat, puasa, dll, yang akan diganjar dengan pahala, begitupun dengan do’a.

Jika seorang hamba telah sadar hal ini, maka diharapkan seoarang hamba tidak akan putus asa untuk berdo’a ketika do’a itu tidak kunjung dikabulkan. Ingat, doa itu ibadah. Jadi Allah menghendaki agar seorang hamba tidak berhenti untuk beribadah.

Dan lagi, Allah akan memberi dengan apa dan pada waktu yang tepat dan dengan hal yang dibutuhkan hamba bukan yang diingini seorang hamba. Seorang hamba harus yakin bahwa Allah Maha Tahu, jika sudah yakin pasti akan menerima dan yakin bahwa apa yang diberikan Allah atas permohonan hamaba-Nya adalah yang terbaik menurut-Nya.
Pemateri

H. Syamsudin, Lc.
RUMAH LENTERA HATI
baca juga: kajian-al-hikam-indikator-matinya-mata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *