Pesan KH Mustofa Bisri (Gus Mus)

Sebagaimana judul acara ini “Muhassabah”, maka saya akan lebih banyak mengkritik NU, bukan memuji-mujinya.

Seperti disampaikan pembicara-pembicara sebelumnya, NU selalu bergerak paling depan untuk membela keutuhan bangsa. Saat ini bangsa sedang diancam oleh kelompok-kelompok yang berusaha memecah belah kerukunan bangsa, lalu dimana NU? Sedang tidurkah?

Beliau menceritakan bahwa sehabis ini para kiai sepuh akan berkumpul di Rembang untuk membahas masalah mutakhir bangsa ini. Terpaksa kiai sepuh akan turun gunung, karena yang muda-muda banyak yang malah tertarik ikutan euphoria. Kenapa? Apa gentar sama takbir-takbirnya?

Lalu Gus Mus melanjutkan dengan menjelaskan makna dari takbir dengan memberikan begitu kecilnya kita dibanding seluruh ciptaan Allah yang Maha Luas. Apa yang mau kita sombongkan? Allah yang Maha Besar itu kok diajak ikut kampanye, diajak ikut ke TPS urusan lima tahunan. Apa ndak kebangeten banget itu?

Beliau cerita pengalamannya bicara berdua dengan Gus Dur sambil tiduran di lantai. Beliau bilang ke Gus Dur, kalau NU dari dulu itu tidak naik-naik pangkatnya, jadi satpam terus. Kalau ada sesuatu yang bahaya, maka NU maju ke depan (seperti sewaktu resolusi jihad, sewaktu DI/TII, PKI, dll).

Tapi begitu bahayanya hilang, NU kembali duduk di pojokan sambil rokokan. Begitu terus, ini gimana Gus? Jawaban Gusdur seperti biasa langsung membuat diskusi berhenti. Allah yarham Gus Dur menjawab: “Apa masih kurang mulia kalau kita bisa jadi satpam nya bangsa ini?” Dan Gus Mus pun terdiam tidak bisa melanjutkan omongannya.

Beliau juga berpesan untuk berhati-hati terhadap yang disebutnya ulama. Ulama memang pewaris para nabi, tapi ulama yang mana? Harus diteliti track record dari yang mengaku ulama tersebut. Umat ini dibingungkan dengan ulama yang ngeluarkan fatwa sembarangan tanpa ilmu dan tanpa mempertimbangkan dampaknya pada masyarakat luas.

Perbedaan pendapat itu biasa, sejak dulu ada. Beliau cerita kalau dulu para kiai ketika berdebat, seberapapun tajamnya sebisa mungkin berusaha agar santri-santrinya tidak tahu. Sehingga sering kalau saling serang itu dengan menggunakan syair-syair berbahasa Arab dengan harapan santri masing-masing tidak ikutan panas.

Lha sekarang ini, pimpinannya ribut, ngajak jamaahnya. Menyedihkan. Lalu saling sebut kubu yang berbeda dengan sebutan munafik, kafir dan lain-lain. Sampai-sampai belakangan ada yang melarang jenazahnya disholatkan. Apa ndak menjijikkan sekali itu?

Lha kalau yang sudah meninggal ndak urusan. Itu kan kewajiban yang hidup, yang dosa ya yang hidup bukan yang sudah meninggal. Lalu Gus Mus juga menceritakan kemarahan besar Nabi Saw terhadap salah seorang sahabat yang membunuh seseorang yang mengucapkan La ilaha illa Allah karena mengatakannya munafik.

Yang dibilang ulama jaman sekarang ini mau ikut-ikutan berpolitik, padahal sebenarnya tidak ngerti politik. Dan terus bawa-bawa agama, padahal ya nggak terlalu ngerti agama. Ya apa ndak kacau balau jadinya.

Gusmus berpesan kepada jamaah untuk tidak mengungkapkan sesuatu, menulis sesuatu, atau menshare sesuatu yang dapat dipersepsikan mendukung kelompok pemecah belah itu.

Kalau tidak mampu berhujjah melawan, lebih baik diam. Kalau mau tulis, ungkapkan yang baik-baik, hal-hal yang positif, tulis sendiri saja, tidak cuman share tulisan orang lain.

Gus Mus menyampaikan bahwa apa yang terjadi sekarang ini adalah hanya pengulangan sejarah yang lampau sambil mencontohkan kejadian sewaktu zaman khalifah Utsman bin Affan, dimana fitnah-fitnah bertebaran, informasi hoax disampaikan dari mulut ke mulut yang akhirnya memuncak pemberontakan (makar) rakyat terhadap khalifah Utsman yang menyebabkan terbunuhnya beliau.

Ingat beliau dulu juga dilarang oleh umat waktu itu untuk dishalatkan di Masjid Nabawi, sehingga akhirnya dishalatkan di rumah beliau sendiri. Karena itu, pelajarilah sejarah, karena seringkali sejarah itu berulang.

Gus Mus juga berpesan bahwa pada setiap shalawatan, sebaiknya didahului dengan kisah Syama’il ar-Rasul Saw, dijelaskan tentang kepribadian beliau SAW. Jadi umat itu tahu bagaimana akhlaq Nabi saw. sehingga bisa jadi dasar untuk menilai apakah yang mengaku-ngaku ulama itu memang pantas disebut para pewaris Nabi atau tidak.

Allah SWT dalam Al-Quran dari awal sampai akhir tidak pernah memuji fisik Rasulullah (walaupun fisik dan ketampanannya sempurna), tidak pernah memuji ilmu Rasul Saw (walaupun ilmunya tak ada yang menandingi). Allah hanya memuji keluhuran akhlaq beliau SAW (wa innaka la ‘alaa khuluqin adziem).

Oleh karena itu jadikan akhlaq sebagai dasar utama penilaian. Karena itulah tujuan diutusnya Nabi kita shallahu alaihi wa sallam kepada kita semua
___________
Disampaikan dalam acara Gema Sholawat dan Muhasabah bersama KH Mustofa Bisri (Gus Mus) yang diadakan oleh LDNU Jawa Barat di Masjid Raya Bandung

baca juga: risalah-sarang-hasil-pertemuan-kiai-dan.html

Tinggalkan Balasan