Kajian Al-Hikam: AHWAL MENENTUKAN AMAL (2)

1⃣ Suasana/ Status Hati

Sudah dibahas bahwa suasana hati menentukan amal seorang hamba. Karena segala aktifitas dinahkodai oleh hati. Apa yang lahir menjadi amal merupakan perwujudan batiniah hati. Maka jenis amal yang muncul ke permukaan sesuai dengan kondisi hati.

Kondisi hati seseorang akan menentukan tindakanya. Semisal orang sedang mabuk cinta dengan istrinya, tentu dia akan selalu membual dan merayu dengan kata-kata indah, pujian. Orang yang kondisi hatinya sedang marah, tentu akan berbuat apa saja, bisa mengumpat, memukul yang difikirnya sebagai jalan obat sakit hatinya.

Maka, hati adalah penentu amal. Jika amal yang muncul tidak sesuai hati, maka ada kesalahan di dalamnya, yang dalam syariat kita kenal dengan munafik.

Jika  kondisinya takut akan sifat adil Allah, maka seorang hamba akan disibukan dengan selalu memohon ampun-Nya. Jika kondisi hatinya sedang berbunga-bunga melihat kebesaran Allah, maka amal yang muncul dengan memuji dan beribadah sebagai jalan kebersyukuran kepada-Nya. Jika kondisi hatinya dalam keadaan harap-harap cemas, maka bisa jadi amal ibadah yang muncul adalah selalu berdoa, bermunajat bersimpuh didepan pintu ridha-Nya.

Seorang hamba  (salik) yang ingin kenal (Makrifat) kepada Allah Swt. Setelah melakukan kewajiban dasarnya -rukun Islam-, dia akan beribadah sesuai dengan kondisi dan suasana hatinya. Tentu suasana satu salik dengan yang lainnya berbeda. Maka jika seorang salik sadar hal ini, dia tidak akan meniru cara ibadah orang lain sebagai jembatan menuju Allah Swt, karena susana hatinya juga tidak akan pernah sama. Maka seorang salik tidak akan pernah taklid (mengikuti) dalam masalah amal yang muncul dari ahwal. Bisa jadi Fulan amalnya dengan selalu beristighfar, bersedekah, derma sosial atas dibawah atap kemanusiaan, dll, sesuai kondisi hatinya.

Ahwal pada seorang salik ada yang hanya sekedar lewat akan tetapi efeknya berkelanjutan. Ada pula yang ahwalnya kekal, maka salik yang memiliki ahwal yang kekal ini telah wushul (sampai pada gerbang makrifat).

Ahwal ini muncul karena dzauq, atau perasaan dalam hatinya. Salik merasakan dalam hatinya ada rasa yang tidak dapat diungkap dengan ungkapan. Dzauq ini ada yang efek ibadah ada yang langsung diberi oleh Allah Swt.

Maka salik terbagi menjadi 5:
1⃣Abid (Ahli Ibadah)
2⃣ Asyiq (Perindu)
3⃣ Mutakholliq
4⃣ Muwahhid
5⃣ Muhaqqiq

(Jika penulis ada kesempatan dan tidak lupa, kapan2 hal ini akan dibahas)

2⃣ Suasana/ Status Sosial

Ahwal yang kedua adalah ahwal ijtimaiyyah, status sosial. Status sosial juga penentu dari amal setiap salik. Salik harus sadar keberadaannya dimuka bumi ini dicipta untuk beribadah, mengabdi dan melayani-Nya. Maka, setelah kewajiban dasarnya -rukun Islam- sudah dilakukan maksimal, seorang salik beribadah dan mengabdi sesuai dengan status sosialnya masing-masing.

Salik yang berstatus menjadi pengajar, maka pengembaraan, melayani dan mengabdi kepada Allah baginya adalah dengan mendidik anak muridnya dengan penuh tanggung jawab. Tidak boleh sembrono dan sembarangan dalam mengajar. Jam mengajar harus ditepati, tidak boleh karena urusan dia harus puasa akhirnya terbengkalai. Maka ketika berpuasa menyebabkan tanggungjawabnya ternodai ketika mengajar, jika sadar, salik ini telah bermaksiat kepada Allah.

Salik yang berstatus menjadi dokter. Setelah kewajiban dasar Islamnya dia lakukan, maka jalan ibadah yang harus dia tempuh adalah dengan melayani masyarakat, pasien, semaksimal mungkin. Ketika jam tugas dia harus bertugas dengan maksimal. Maka ketika di jam tugas dia misal pergi ngaji (yang dia anggap sebagai ibadah), maka sebenarnya dia telah bermaksiat, bukan beribadah dengan mengaji. Karena jalan ibadahnya adalah dengan bertugas medis.

Saling yang berprofesi menjadi buruh atau karyawan. Setelah kewajiban dasarnya -rukun Islam-dituanaikan, maka fasilitas ibadah menuju Allah yang dia punya adalah dengan cara bekerja profesional sesuai aturan. Maka di jam kerja tidak diperkenankan melakukan aktifitas yang dilarang oleh pemilik perusahaan, semisal ngaji. Dengan dalih ibadah seorang karyawan tidak boleh menciderai kewajibannya ditempat kerja (jika sekiranya tidak diizini). Maka ketika kewajibannya diciderai oleh yang lain walau berbentuk ibadah, seperti puasa sunah, dll, maka hakikatnya bagi dia merupakan maksiat.

Saling yang status sosialnya menjadi Ibu rumah tangga. Setelah kewajiban dasarnya dilakukan, yaitu melakukan rukun Islam, jalan menuju Allah atau jalan ibadahnya adalah dengan maksimal menjadi pengurus rumah dan keluarga. Mengurus anak dan rumah. Memperiapkan keperluan suami dan melayani suami baik lahir maupun batin. Kewajibannya dalam urusan rumah merupakan jalan ibadah baginya. Sehingga jika semisal, seorang ibu sibuk ngaji terus akan tetapi suami bahkan anaknya tidak terurus, maka dia hakikatnya telah bermaksiat.

Maka setelah kewajiban Solat, Puasa Ramadhan, Zakat, Haji bagi yang mampu telah ditunaikan secara maksimal, setiap profesi yang diemban oleh setiap salik merupakan jalan dan mobilitas ibadah menuju Allah (Wusul) untuk makrifat hingga fana dan kekal bersama-Nya.

✅KESIMPULAN✅

1⃣ setiap salik tidak boleh berburuk sangka kepada orang lain. Karena jalan ibadah mereka masing-masing.
2⃣ salik harus profesional akan tanggungjawabnya sebagai jalan menuju Allah
3⃣ Salik tidak bisa taklid dengan ibadah yang timbul karena ahwal nafsiyah (suasana hati)
4⃣ Ibadah bukan tujuan, melainkan wasilah atau pengantar menuju Allah
5⃣ Jangan bangga dengan ibadah, karena Allah lah tujuan seorang Salik

Pemateri
H. SYAMSUDIN, LC

baca juga: kajian-al-hkam-ahwal-menentukan-amal-

Tinggalkan Balasan