kajian Al-Hikam: Amal ibadah merupakan kerangka jasad, ikhlas adalah ruhnya

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على خاتم النبيين، محمد صلى الله عليه وسلم وعلى آله وصحبه أجمعين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، وبعد:

Imam Atha`illah as-Sakandary (1309 M) berkata:

” اَلْاَعْمَالُ صُوَرٌ قَائِمَةٌ ،وَاَرْوَاحُهَا وُجُوْدُ سِرِّ الْاِخْلاّصِ فِيْهَا”

“Amal ibadah merupakan kerangka jasad, adapun ikhlas yang bersamayam di dalamnya merupakan ruhnya”

PENJELASAN

Hikam ke sepuluh ini masih berhubungan erat dengan Hikam sebelumnya, terlebih dengan Hikam ke sembilan . Jika Hikam sebelumnya menjelaskan akan amal ibadah itu dipengaruhi dan ditentukan oleh ahwal. Maka pada bab ini menjelaskan bagaimana amal tersebut itu berguna dan tidak sia-sia.

Amal ibadah seorang salik digambarkan sebagai sesosok manusia. Tentu manusia terbentuk dari dua komponen besar, yaitu : Jasad dan Ruh. Jasad tanpa ruh maka tidak akan punya arti, mati. Begitupun amal perbuatan seorang salik. amal ibadahnya terbentuk dari jasad dan ruh. Jasadnya adalah perbuatan (baik yang dilakukan hati, lisan maupun anggota tubuh), dan ruhnya adalah keikhlasan. Amal perbuatan seorang salik tidak akan ada artinya jika tanpa ada ikhlas di dalamnya, sama persis seperti jasad tanpa ruh.
Maka amal ibadah yang tanpa disertai keikhlasan akan kembali kepada asalnya. Karena amal perbuatan itu digambarkan dengan jasad, dan jasad akan kembali ke asalnya yaitu tanah, maka amal yang tanpa ikhlas akan sia-sia, hampa, tiada guna dan berterbangan bak debu. Allah Swt berfirman:

وَقَدِمۡنَآ إِلَىٰ مَا عَمِلُواْ مِنۡ عَمَلٍ۬ فَجَعَلۡنَـٰهُ هَبَآءً۬ مَّنثُورًا

“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan , lalu Kami jadikan amal itu [bagaikan] debu yang berterbangan” (QS. 25:23)
Allah Swt tidak sekali-kali memerintahkan kepada hamba-Nya melainkan untuk ikhlas. Allah Swt berfirman:
فَٱدۡعُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَـٰفِرُونَ
Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai [nya]. (QS. 40:14)

وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ‌ۚ وَذَٲلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam [menjalankan] agama dengan lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS.98:5)

PENGERTIAN IKHLAS
Ikhlas merupakan masdar dari kata akhlasha, yang secara bahasa artinya memurnikan. Adapun Ikhlas secara istilah adalah memurnikan segala aktifitas ibadah (baik melakukan ataupun meninggalkan) semata-mata karena Allah Swt.
Tempat bersemayamnya ikhlas adalah di hati, karena hati pula lah tempatnya niat. Orang  yang berusaha membersihkan hati dengan terus istiqomah dan mengharap pada Allah, maka ikhlas akan mudah berlabuh.
Ikhlas memiliki beberapa tingkatan. Tingkatan paling bawah dari ikhlas adalah melakukan sesuatu dengan tujuan mendapatkan fahala (Surga) dan terjauhkan dari dosa (Neraka). Dibawah itu bukan disebut ikhlas lagi.
Adapun tingkatan ikhlas tertinggi adalah melakukan seuatu tiada lain dan tiada bukan hanya untuk Allah, karena Allah, bersama dan dengan Allah Swt. Seorang salik yang sudah pada tingkatan ikhlas ini dia tidak akan melihat amal yang diperbuatnya itu muncul dari dirinya, akan tetapi semua yang dia lakukan adalah muncul atas kehendak dan bantuan Allah Swt. maka dia tidak lagi bergantung selain kepada Allah Swt.

Tentu ikhlas bukanlah hal mudah, akan tetapi juga bukan hal yang mustahil. Seorang salik harus selalu riyadhah (berusaha dan berlatih) untuk mengasah dan meningkatkan kwalitas keikhlasannya. Seorang salik harus sadar bahwa Allah tidak akan menerima amal kecuali yang murni, tidak tercampur dengan niatan lainnya. Allah Swt berfirman:

ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلۡمَوۡتَ وَٱلۡحَيَوٰةَ لِيَبۡلُوَكُمۡ أَيُّكُمۡ أَحۡسَنُ عَمَلاً۬‌ۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”(QS. 67:2)

Maka cara untuk menuju ikhlas adalah memahami esensi dari terciptanya manusia. Kemudian selalu berusaha supaya hati selalu menghadirkan Allah Swt. dan memahami akan peristiwa yang ada pada dirinya ataupun orang lain akan kehidupan ini yang ternyata muaranya Allah ingin ilhamkan kepada hamba-Nya untuk mengikhlaskan apa yang diperbuatnya, jangan ada rasa semuanya adalah sebab pekerjaanya sendiri.

Lawan dari ikhlas adalah isyrak (syirik). Syirik adalah menyekutukan Allah Swt. Syirik ini ada yang besar dan ada pula yang kecil. Syirik yang kecil adalah melakukan sesuatu dengan disertai riya (ingin dilihat orang lain).

Jika teliti pada apa yang menimpa diri kita. Terkadang kita sudah mati-matian mengusahakan sesuatu yang kita inginkan. sudah berdo’a mati-matian pula. Akan tetapi apa yang diinginkan tidak kunjung datang hingga kita kemudian sudah tidak berharap lagi akan sesuatu tersebut. Namun, ketika kita sudah tidak berharap dan sudah tidak mengusahakannya lagi, ternyata Allah Swt memberikan apa yang kita inginkan. Pada hakikatnya sebenarnya Allah Swt sedang memberikan pelajaran kepada hamba-Nya agar ikhlas dan tidak menggantungkan hasilnya pada amalnya, akan tetapi digantungkan pada anugrah Allah Swt. namun, kadang jarang dari salik yang faham hal ini.

LANJUTAN PENJELASAN*
Ahwal merupakan nur (cahaya) ilahi yang akan mempengaruhi dan menentukan amal seorang salik. Namun amal yang akan memperoleh nur ilahi atau ahwal adalah amal yang hidup. Amal yang hidup adalah amal yang didalamnya tersimpan keikhlasan.

Amal perbuatan yang tanpa ikhlas maka akan sia-sia belaka. Dia bak bangkai yang tidak ada gunanya. Maka sadarlah, wahai salik.
Ikhlas dalam melakukan perintah ataupun dalam meninggalkan larangan artinya semuanya ditujukan dan dikembalikan hanya untuk, karena, dengan dan bersama Allah Swt semata. Tidak boleh ada keikut sertaan dalam tujuan itu, sehingga amalnya menjadi kotor dan tidak lagi murni.

Maka Hikam ke sepuluh ini mengajarkan kepada kita, sang salik, untuk memurnikan amal ibadah kita. Jika amal ibadah yang dilakukan sudah ikhlas Allah akan mendatangkan ahwal atau cahaya ilahi yang kemudian salik ini akan menduduki satu maqom (kedudukan) sesuai ahwalnya.

KESIMPULAN
1⃣Amal ditentukan ahwal
2⃣Ahwal akan datang jika sudah ikhlas
3⃣Ikhlas merupakan ruh amal ibadah
4⃣Lawanya ikhlas adalah isyrak (syirik)
5⃣Tingkatan terendah dari ikhlas adalah melakukan amal dengan harapan mendapat bayaran
6⃣Ikhlas merupakan pintu masuknya cahaya ilahi
7⃣Ikhlaskan apa yang diperbuat. Karena semua apa yang diperbuat oleh seorang hamba semuanya berasal dari-Nya bukan berasal dari dirinya.

Pemateri:
H. Syamsudin, Lc.
RUMAH LENTERA HATI

baca juga: kajian-al-hikam-ahwal-menentukan-amal-2.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *