Kajian Al-Hikam: Dengan uzlah mampu menuju tafakur

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على خاتم النبيين، محمد صلى الله عليه وسلم وعلى آله وصحبه أجمعين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، وبعد:

Imam Atha`illah as-Sakandary (1309 M) berkata:
مَا نَفَعَ الْقَلْبَ شَيْئٌ مِثْلُ الْعُزْلَةِ يَدْخُلُ بِهَا مِيْدَانَ فِكْرَةٍ

“Tiada sesuatu yang lebih bermanfaat untuk hati dibandingkan uzlah. Dengan uzlah mampu menuju tafakur”

PENJELASAN
Pada Hikam ke-11 yang telah lalu, menjelaskan tentang khumul. Perbedaan khumul dengan uzlah, jika uzlah itu lebih spesifik lagi. Sedang khumul itu lebih luas cakupannya, karena khumul masih bisa berinteraksi dengan yang lainnya dengan tanpa mengharap ketenaran.

Uzlah adalah mengasingkan diri dan menjauh dari halayak masyarakat. Uzlah merupakan salah satu pintu untuk dapat tafakkur.

Seorang murid setelah memenuhi kewajiban syariahnya untuk belajar segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menunjang pelaksanaan rukun Islam secara sempurna, kemudian dia menggunakan akalnya untuk sampai pada tingkatan yang lebih tinggi dalam bersuluk. Namun, terkadang seorang murid menemui kebuntuan ketika telah bernadzhar (menganalisa) menggunakan akal. Maka uzlah merupakan salah satu solusi agar seorang murid mampu bertafakur.

Tafakur untuk menjawab semua problema kegundahan yang ada dalam dirinya. Menyendiri ke tempat yang jauh dari halayak masyarakat untuk kemudian menenagkan hati dan melatih hati agar terjauh dari sifat-sifat yang menggerogoti hatinya.
Salah satu contoh terbaik tentang uzlah ini adalah baginda Rasulullah SAW. Bagaimana beliau kemudian tahannuts (uzlah) ke gua hira ketika beliau menemui kebuntuan untuk menemukan jawaban atas problematika yang terjadi disekitar lingkunganya. Beliau di Gua Hira bertahun-tahun lamanya. Dan ternyata tradisi uzlah ini sudah dilakukan turun temurun dan sudah menjadi tradisi dari nenek moyang beliau SAW.

Syeikh Abu Hasan as-Sadzuli yang dimakamkan di tengan padang pasir negara Mesir. Beliau beruzlah dari keramaian menuju Humaitsara. Beliau adalah satu mursyid (guru pembimbing) thariqah Syadzuliyah. Disana beliau kemudian menempa diri untuk membersihkan hati dan bertafakur. Sebagian kita sudah tidak asing lagi dengan sejarah beliau. Beliau kemudian setelah beruzlah mendapatkan jawaban dan obat atas hatinya. Setelah dianggap cukup, kemudian beliau berdakwah mengajak orang ke jalan-Nya (suluk). Sudah banyak sekali murid yang kemudian dilahirkan dari tangan bimbingan beliau. Diantaranya ulama besar: Syekh ‘Izzuddin bin Abdus Salam (makam di Kairo), Syekh al Muhadditsiin Hafidh Taqiyyuddin bin Daqiiqil ‘led (makam di Kairo berdekatan dengan makam pengarang Hikam, Imam Athaillah as-Sakandari),Syekh al Muhadditsiin al Hafidh Abdul ‘Adhim al Mundziri, Syekh Ibnush Sholah, Syekh Ibnul Haajib, Syekh Jamaluddin Ushfur, Syekh Nabihuddin bin’Auf, Syekh Muhyiddin bin Suroqoh, dan Ibnu Yasin (salah satu murid Syekh Muhyiddin Ibnul Arabi -w. 1240 M).

Syeikh Abdul Qadir al-Jilany. Beliau merupakan pendiri dan mursyid thariqah Qodiriyah. Sebelum beliau berkiprah di masyarakat, beliau belajar segala disiplin ilmu agama untuk menunjang syariatnya. Setelah itu keumdian beliau melakukan uzlah. Setelah merasa cukup atas suluk hati yang dilewatinya melalui uzlah, beliau kemudian kembali ke tengah-tengah masyarakat. Dan benar saja, keberhasilan beliau gapai. Dari orang awam hingga pejabat semuanya takut dan menaruh wibawa kepada beliau. Kemudian beliau habiskan sisa hidupnya untuk berdakwah dan mengajak menuju jalan Allah, menjadi mursyid ruhani bagi semua orang.

Dari tiga contoh di atas, sekiranya bisa menjadi gambaran bagi seorang murid dan memotivasinya untuk menempuh jalan uzlah. Uzlah tidak harus dalam kurun waktu lama. Tergantung status kita ditengah-tengah masyarakat. Jika seorang karyawan, tentu uzlahnya ketika sedang libur. Tidak boleh tanggung jawabnya terbengkalai hanya karena akan beruzlah.
Dan ketika beruzlah yang dilakukan seorang murid adalah berusaha secara maksimal utuk melawan nafsu syahwatnya. Melakukan riyadhah lahir dan bathin. Berpuasa, memperbanyak baca Qur’an, dan meminimalisir tidur. Yang akhirnya kemudian terbawa dalam proses tafakur yang akan memberikan efek positif terhadap hati.
Dengan tafakur seorang murid akan menemukan jati dirinya. Akan sadar  bahwa dirinya adalah seorang hamba. Seorang pelayan. Yang harus tunduk dan pasrah akan perintah dan patuh untuk meninggalkan semua larangan majikanya. Maka nur ilahi (cahaya ilahi) akan merasuki hatinya. Dengan uzlah seorang salik akan punya kesempatan besar untuk memperoleh ahwal dari-Nya. Sehingga akan jelas jenis amal apa yang akan diposisikan Allah kepadanya untuk mengarungi rumah ujian ini, dunia.

KESIMPULAN
🔵 Uzalah merupakan jalan menuju tafakur.
🔵 Cahaya hati akan timbul jika sering bertafakur.
🔵 Uzlah tidak seumur hidup.

Pemateri
H. Syamsudin, Lc.
RUMAH LENTERA HATI

baca juga: ahwal-menentukan-amal-2.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *