Kajian AL-Hikam: KHUMUL, KUNCI SUKSES WUSHUL KEPADA-NYA (1)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على خاتم النبيين، محمد صلى الله عليه وسلم وعلى آله وصحبه أجمعين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، وبعد:

Imam Atha`illah as-Sakandary (1309 M) berkata:

اِدْفَنْ وُجُوْدَكَ فِيْ اَرْضِ الْخُمُوْلِ،
 فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يُدْفَنْ لَمْ يَتِمَّ نَتَاجُهُ

“Semayamkan wujudmu didalam bumi kehinaan. Biji yang belum ditanam maka hasilnya tidak akan sempurna jika tumbuh”

PENJELASAN

Khumul yang dikehendaki Imam Athaillah bukanlah sekedar kesederhanaan penampilan, atau kekumelan. Yang dikehendaki khumul oleh beliau adalah khumul dalam bathin, hati. Sehingga memenangkan ruh atas nafsu. Sehingga nafsu ammarahnya terbelenggu dan nafsu muthmainnahnya terbebas merdeka menguasai seorang salik.
Jika seorang telah memakaikan baju khumul dalam jiwanya, maka hasil pengembaraannya sebagai salik akan tercapai (wushul ila Allah). Sehingga salik ini akan selalu bersama dengan Allah, karena-Nya, untuk-Nya. Dan dia adalah Dia.

🔵Dari Hikam ini bisa dipetik beberapa pemahaman. Diantaranya:

1⃣. SEGALA YANG NAMPAK DARI ALLAH SWT

Salik yang berharap wushul kepada tujuannya, Allah Swt, hendaknya memahami hakikat dirinya. Hakikat manusia hanya sebatas seperti wayang bagi dalangnya. Dia akan bergerak jika digerakan oleh dalangnya. Dia akan berbicara apa yang diucapkan oleh sang dalang.

Salik yang telah sadar keberadaanya di dunia ini sebagai penampakan (madzhar) illahiy, maka dia tidak akan pernah menyandarkan apa yang diperbuat (dari kebaikan) kepada dirinya sendiri. Dia selalu memandang bahwa apa yang diperbuatnya tak terlepas hanya atas-Nya, dan tak lebih.

Salik yang istiqomah dalam beribadahnya, dia akan mengembalikan hasil keistiqomahanya itu kepada Allah. Dia sadar jika dia tidak akan pernah istiqomah dalam ketaatan jika tidak mendapatkan taufik-Nya.

Salik harus sadar jika semuanya tidak akan terwujud tanpa daya dan upaya-Nya Swt. dia sadar sesadar-sadarnya dengan sebuah perinsip “tiada daya dan upaya kecuali dari Allah yang Maha Agung”

لا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم  📚

salik yang menyandarkan dan mengembalikan segala hal yang muncul darinya, baik besitan dalam hati, ucapan yang keluar dari lisanya, ataupun perbuatannya, kepada pemiliknya, Allah Swt, maka dia akan memperoleh hasil maksimal atas pengembarraanya menuju Allah. Karena dia telah memendam dan menyemayamkan wujud yang timbul darinya kepada Allah Swt.

2⃣. IKHLAS KUNCI SUKSES

Sebagaimana telah di bahas di Hikam ke-10, bahwa ikhlas merupakan ruhnya amal. Hikam ini juga memiliki pemahaman bahwa ikhlas merupakan jalan keberhasilan menuju tujuan.

Ikhlas merupakan perbuatan hati. Ikhlas adalah memurnikan amal perbuatan dari selain-Nya. Tidak meng-isyrakkan-Nya dalam setiap amal perbuatan seorang salik. mengembalikan apa yang dilakukanya hanya menuju dan mengharap kepada-Nya. Tak ada harapan selain-Nya.

Maka salik yang ikhlas , dia akan berhasil sampai tujuan. Dia tidak akan tergoda oleh nafsyu ammarahnya dan iblis pun enggan menggoda untuk menyesatkannya. Allah Swt berfirman:

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ  إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ   📖

“Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya. kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka” (QS. 32:82-83)

Hanya orang yang ikhlas yang akan sampai pada-Nya. Karena dalam hatinya tidak ada selain-Nya. Dia bercinta hanya dengan-Nya. Sehingga apapun yang ada di dunia ini akan mengingatkannya kepada-Nya. Dia selalu merindu kepada-Nya, sehingga apapun ciptaan-Nya akanmenjadi pengobat kerinduannya. Dia akan selalu bersama-Nya. Dia akanmerasakan Surga sebelum berada di Surga sana. Hidupnya dengan ruh, bukan dengan nafsunya. Maka dia wushul kepada-Nya.

Pemateri
H. Syamsudin, Lc.
RUMAH LENTERA HATI

baca juga: kajian-al-hikam-amal-ibadah-merupakan.jasad…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *