KAJIAN AL-HIKAM: KHUMUL, KUNCI SUKSES WUSHUL KEPADA-NYA (2)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على خاتم النبيين، محمد صلى الله عليه وسلم وعلى آله وصحبه أجمعين، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمداً عبده ورسوله، وبعد:

Imam Atha`illah as-Sakandary (1309 M) berkata:

اِدْفَنْ وُجُوْدَكَ فِيْ اَرْضِ الْخُمُوْلِ، فَمَا نَبَتَ مِمَّا لَمْ يُدْفَنْ لَمْ يَتِمَّ نَتَاجُهُ

“Semayamkan wujudmu didalam bumi kehinaan. Biji yang belum ditanam maka hasilnya tidak akan sempurna jika tumbuh”

PENJELASAN

Khumul yang dikehendaki Imam Athaillah bukanlah sekedar kesederhanaan penampilan, atau kekumelan. Yang dikehendaki khumul oleh beliau adalah khumul dalam bathin, hati. Sehingga memenangkan ruh atas nafsu. Sehingga nafsu ammarahnya terbelenggu dan nafsu muthmainnahnya terbebas merdeka menguasai seorang salik.
Jika seorang telah memakaikan baju khumul dalam jiwanya, maka hasil pengembaraannya sebagai salik akan tercapai (wushul ila Allah). Sehingga salik ini akan selalu bersama dengan Allah, karena-Nya, untuk-Nya. Dan dia adalah Dia.

Dari Hikam ini bisa dipetik beberapa pemahaman. Diantaranya:
3⃣   TAWADHUK

Tawadhuk atau rendah hati adalah satu sikap yang timbul dari hati yang kemudian terealisasi dalam bentuk nyata dengan tidak menganggap yang lain dibawahnya. Tidak menganggap dirinya lebih dari yang lain.

من تواضع لله رفعه الله فهو فى نفسه ضعيف وفى أنفس الناس عظيم ومن تكبر وضعه الله فهو فى أعين الناس صغير وفى نفسه كبير حتى لهو أهون عليهم من كلب أو خنزير (أبو نعيم عن ابن عمر)

Siapa yang tawadhuk karena Allah, maka Allah angkat dia. Dia dimata dirinya rendah, akan tetapi dihadapan yang lainnya mulia. Siapa yang sombong, Allah akan hinakan dia. Dia dimata orang lain hina akan tetapi menurut dirinya ia mulia dan terhormat. Dimata orang lain orang yang sombong itu lebih hina dan lebih rendah dibanding anjing dan babi. (HR. Abu Nu’ain dari Ibnu Umar)

Lawan dari tawadhuk adalah takabbur, sombong. Dalam hadis yang lain, Rasulullah mendefinisikan sombong dengan “menolak kebaikan dan merendahkan manusia lain”

Seorang hamba yang tawadhuk kepada hamba-Nya merupakan refleksi atas ketawadhukannya kepada Allah Swt. jika seorang sudah memiliki sifat ini, dia akan diangkat oleh Allah Swt.

Seorang murid yang kemudian melakukan suluk (salik), yang telah melekat pada dirinya sifat tawadhuk, maka dia akan diangkat Allah dari alam Muluk (fisik) ke alam Malakut (metafisik).

Alam muluk tempat interaksinya jasad. Sedang alam malakut merupakan tempat interaksinya ruh. Sehingga seorang salik yang sudah sampai pada tingkatan ini, kehidupannya akan didominasi dengan nafsu mutmainnah. Sehingga salik yang telah tawahduk dia akan wushul kepada Allah Swt.

Sebaliknya, jika seorang salik yang tidak memakai pakaian tawadhuk pada dirinya, dia akan semakin menjauh dan tidak akan wushul kepada Allah. Bagaimana dia bisa wushul kepada-Nya, sedangkan dia memakai pakaian yang tidak berhak disandangnya, yaitu takabbur, sombong. Bagaimana Iblis yang ahli ibadah kemudian diajuahkan dari-Nya gara-gara kesombongannya untuk menerima kebenaran berupa menghormati sosok yang Allah beri kelebihan ilmu, yaitu nabi Adam as(?). maka salik yang tidak memakai baju tawadhuk maka mustahil untuk sukses menuju tujuan akhir pengembaraannya menuju Allah Swt.

4⃣   JAUHI RIYA DALAM SULUK

Riya merupakan perbuatan yang timbul dari hati. Riya adalah syirik kecil menurut syariat. Namun, riya di dalam suluk merupakan dosa besar.

Riya dalam syariat adalah beramal karena mengharap pujian dan sanjungan dari orang lain. Sedangkan riya di dalam bab suluk adalah beramal dengan disertakan tujuan selain-Nya. Semisal orang wirid untuk kemudian mengharap keberkahan hidup, ini menurut ilmu hati/ suluk merupakan riya.

Maka seorang murid yang ingin wushul kepada Allah Swt harus berusaha menghilangkan sifat riya pada dirinya. Menyadari apa yang dilakukan berasal dari-Nya. Tidak ada upaya yang bisa dia lakukan tanpa-Nya. Dan hasil yang diperoleh merupakan anugrah dan pemberian-Nya. Usaha yang dilakukannya hanya sebatas melakukan titah dan menjalankan skenario dari-Nya sebagai bentuk ketaatan dan kepatuhan kepada-Nya.

Jika seorang murid sudah ikhlas, dan tanpa riya pada dirinya, maka pintu wushul kepada-Nya sudah semakin dekat terbuka. Karena Allah memiliki sifat cemburu. Allah tidak suka untuk diduakan.

Maka apapun yang murid lakukan hendaknya mengharap kepada-Nya dan jangan campuri dengan riya. Riya atau pamer hanya akan menghambat penghambaannya kepada-Nya. Sehingga semakin tebal riya yang menyelimuti diri murid, dia akan semakin terhijab untuk melihat-Nya. Tidak akan pernah wushul kepada-Nya.

5⃣   MEMBERI APA YANG DIPUNYA

Seorang murid yang ingin berhasil hendaknya harus melalui proses panjang untuk wushul kepada-Nya (jika bukan jalan Jazab/ wahbi). Seorang murid dalam suluknya harus membersihkan dirinya terlebih dahulu lahir batin.

Hatinya dibersihkan, karena hati merupakan rumah bersemayamnya ruh. Seorang murid hendak dibimbing oleh seorang guru atau mursyid yang memperoleh izin dari Allah Swt untuk menuntun hamba-Nya ke jalan-Nya.

Murid yang telah melakukan proses suluk melalui bimbingan mursyid maka berpotensi besar sampai pada kesuksesan. Wushul kepada-Nya. Karena dia melakukan apa yang dia perbuat berdasar apa yang telah ia miliki.

Murid hendaknya memenuhi kewajiban syariahnya terlebih dahulu. Belajar ilmu syariah sebelum beramal. Sehingga amalnya muncul dari ilmu. Setelah syariah dipenuhi kemudian dia melakukan suluk atas bimbingan musrsyid yang ma’dzun (terlisence). Maka salik yang telah membekali diri dengan syariat dalam bersuluk akan punya potensi sukses wushul kepada-Nya.

Pemateri
H. Syamsudin, Lc.
RUMAH LENTERA HATI

baca juga:khumul-kunci-sukses.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *