Kajian Al-Hikam; “Hijab Allah dengan sesuatu yang tidak ada”

Segala puja puji hanya bagi Allah Swt. Shalawat serta salam tak hentinya dipanjatkan ke sosok pilihanNya, nabi Muahammad SAW. Sosok teladan dalam mengarungi kehidupan menuju Allah dengan, karena, bersamaNya.

Imam Athaillah as-Sakandary berkata:

 مما دلك على وجود قهره سبحانه وتعالى ان حجبك عنه بما ليس بموجود معه

” Diantara bukti yang menunjukan keperkasaan Allah SWT adalah Allah menghijabmu untuk menyaksikanNya dengan sesuatu yang tidak ada”

PENJELASAN

Sebagaimana Hikam sebelumnya, bahwa alam semesta ini mendapat sinar Allah SWT. Bahkan di dalam alam semesta ini (tiap partikelnya) bersemayam di dalamnya nur ilahi.

Karena alam semesta ini disinari oleh nur ilahi, secara otomatis seharusnya alam semsta ini akan tampak oleh mata, akal dan mata hati manusia. Akan tetapi pada hikam sebelumnya ada penutup hati yang menyebabkan cahaya yang terdapat pada alam semesta tak terlihat, sehingga yang melihat alam semesta hanya mampu melihat bendanya, tidak sampai menyaksikan kehadiranNya SWT.

Diumpamakan seorang yang melihat lukisan indah dan menawan. Dengan melihat lukisan yang sangat luar biasa itu, ada orang yang kemudian akalnya berfikir: jika lukisannya saja sudah sangat luar biasa, lalu bagaimana otak pelukisnya (?). Orang tersebut melihat lukisan bukan hanya sekedar goresan cat pada kanvas. Akan tetapi lebih dari itu, membawanya mengagumi pelukisnya.

Begitupun orang yang tak terhijab mata hatinya oleh dunia, ia akan melihat alam semesta ini dengan detail. Sehingga penglihatannya sampai pada penyaksian atas pembuat dan pencipta alam semesta yang ia lihat.

Namun pada hikam ke-14 ini, Imam athaillah menjelaskan bahwa salah satu tanda keperkasaan Allah SWT adalah dengan menghijab sesorang untuk menyaksikannya dengan tanpa hijab, seperti hatinya diliputi oleh cinta dunia, dll.

Sesorang melihat alam semesta ini hanya sebatas benda biasa, sama seperti dirinya. Ia melihat alam semsta ini tidak menjadi sebab menyaksikan penciptanya. Dia dihijab oleh Allah SWT.

Ia terhijab karena kesombongan dan keingkaran yang ada dalam hatinya tentang Allah Yang Haq. Kesombongan akan menjadi sebab Allah menghijab seorang hamba untuk menyaksikan-Nya. Karena sifat sombong telah melanggar fitrah seorang hamba. Seorang hamba fitrahnya adalah merasa hina dan rendah di sisi-Nya, bukan malah sombong. Sifat sombong hanya pantas dimiliki oleh Allah SWT. Sehingga orang yang sombong secara tidak langsung telah menjadi sekutu atas-Nya. Maka yang menjadi sekutunatas-Nya tak pantas bersama-Nya.

Maka Allah hijab hamba yang sombong tersebut dengan tanpa hijab. Mata hatinya tidak dapat menerima nur ilahi. Sehingga buta lah mata hatinya. Mata ada akan tapi tidak dapat melihat. Hati ada tapi tidak dapat menyaksikan. Telinga ada akan tetapi tidak dapat mendengar. Semua itu tanda bukti keperkasaan Allah SWT. Maka, fikir dan renungkanlah wahai murid dan salikin ilallah.

Pemateri
H. Syamsudin, Lc

baca juga: hati-yang-tersinari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *