Bagaimana hukum pemandu khutbah membaca shalawat dengan keras diantara dua khutbah?

Di beberapa daerah di dunia muslim banyak pemandu khutbah yang membaca shalawat dengan keras saat khatib duduk di antara dua khutbah. Bahkan sebagian mereka membaca shalawat yang cukup panjang. Lalu bagaimanakah hukumnya?
Membaca shalawat antara dua khutbah dengan keras itu adalah bid’ah hasanah, dan dapat pula memutuskan muwalat (kesinambungan dua khutbah) apabila shalawat itu dianggap panjang menurut kebiasaan yang dikirakan waktunya cukup untuk melakukan sholat dua rakaat.
Beberapa dalil salah satunya  diambil dari pendapat Syaikh Muhammad Sulaiman al-Kurdi.  Dalam kitabnya alhawasyi al-madaniyyah dia menyatakan bahwa bacaan bilal (pemandu khutbah) antara dua khutbah adalah termasuk bid’ah hasanah. Disisi lain al-Kurdi juga menegaskan akan ketidakbolehannya jika panjangnya waktu membaca shalawat tersebut melebihi waktu untuk melaksanakan dua rakaat. Dan dianggap merusak muwalahdua khutbah.

Syaikh Zainuddin al-Malibari dalam dalam Fath al-mu’in juga menegaskan hal yang sama akan keharusan adanya kesinambungan antara dua khutbah dengan tidak dipisah oleh suatu perbuatan yang rentang waktunya bisa untuk melakukan dua rakaat shalat. 
Disarikan dari Ahkam al-fuqaha, Solusi problematika aktual Hukum Islam.

Tinggalkan Balasan