Ringkasan Acara Seminar Nasional dalam rangka Haul Sunan Ampel ke 568

Dalam rangka haul Sunan Ampel ke 568, Mahasiswa Ahlit Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdhiyyah (MATAN) mengadakan Seminar Nasional dengan tema: “METODE DAN DAKWAH SUNAN AMPEL SEBAGAI PONDASI ISLAM DI INDONESIA” pada hari Ahad 30 April 2017. Berikut ringkasan dari beberapa pembicara yang hadir:

Sambutan dari PWNU Jatim :
Para walisongo sebagai penangkal petir Islam Nusantara, karena meski mengalami banyak tantangan dalam berda’wah,  namun mereka tetap kukuh atau tidak gentar untuk menda’wahkan Islam di Indonesia

KH.  NG.  AGUS SUNYOTO (Ketua Lesbumi NU)
Pada awal berdakwah,  Sunan Ampel memiliki keinginan untuk mengIslamkan golongan brahmana (rohaniawan-keagamaan). Karena golongan ini memiliki status sosial yang tinggi di masyarakat pada saat itu.
Perjuangan dakwah Sunan Ampel dilakukan dengan berbagai macam cara,  diantaranya : sosial,  budaya,  politik,  ekonomi, mistik, kultus, ritual, tradisi keagamaan,  maupun konsep sufi yang khas,  yang merefleksikan keragaman tradisi muslim secara keseluruhan.

DR.  KH.  ABDUL GHOFUR MAIMOEN ( PP.  Al-Anwar,  Sarang,  Rembang)
Sebagian kalangan menganggap bahwa Sunan Ampel membawa thariqot Naqsabandiyah.
Serta di duga kuat bahwa Sunan Ampel memiliki kitab yang pernah dikarang.  Hal ini terbukti dengan banyaknya murid beliau yang mampu menciptakan wayang,  sastra,  serta tembang.

DR.  ZAINUL MILAL BIZAWIE (Penulis “Masterpiece Islam Nusantara”)
Prnsip  dakwah Sunan Ampel dilakukan dengan cara :
1. Melalui lembaga pendidikan yg diformat sesuai ajaran Islam sehingga menjadi lembaga pendidikan pesantren
2. Membangun ikatan kekerabatan lewat jalan pernikahan dengan keluarga para tokoh
3. Membangun harmoni sosial politik

Kesimpulan :
Dakwah yang dilakukan oleh Sunan Ampel dan para walisongo dilakukan dengan cara 3 macam,  yakni :
1. Al-Hikmah (kebijaksanaan) yaitu teknik dakwah mereka disesuaikan dengan objek dakwah
2. Al-Mau’izha Al-Hasanah (nasihat yang baik) karena kelemah lembutan dalam menasehati seringkali dapat meluluhkan hati yg keras
3. Al-Mujadallah Billati Hiya Ahsan (berbantah-bantahan dengan cara yang baik) yaitu saling menghargai dan menghormati pendapat orang lain serta mengakui dan ikhlas menerima kebenaran pihak lain.

Panitia Seminar Nasional Sunan Ampel

baca juga: PotensiKekuatanNahdlatulUlama.html                     

Tinggalkan Balasan