KH. Mahmad Baidhowi (Keluarga Pesantren Tebuireng) Meninggal Dunia

⁠⁠⁠

Keluarga Besar Pesantren Tebuireng berduka. Salah satu kiai sepuhnya, KH. Mahmad Baidhawi meninggal dunia pagi tadi (22/05/2017) pukul 05.30 WIB di Kediaman beliau di Pondok Pesantren Madrasatul Quran Tebuireng. Mbah Mad, panggilan akrab beliau, dikenal sebagai Kiai yang istiqamah mengimami shalat Maghrib berjamaah di Masjid Pesantren Tebuireng.

Menurut keterangan petugas keamanan Pesantren Madrasatul Quran Tebuireng penyebab wafatnya Mbah Mad tidak diketahui, karena sebelumnya beliau sehat-sehat saja. “Tidak apa-apa. Abis shalat shubuh, gelendangan (tidur-tiduran) terus meninggal,” ungkap salah satu petugas keamanan MQ.

Jenazah Mbah Mad akan dimakamkan di komplek Maqbarah Masyayikh Pesantren Tebuireng pukul 14.00 WIB siang nanti. Sampai berita duka ini dilansir, jenazah masih di rumah duka dan dishalati oleh para keluarga dan dzurriyah Tebuireng dengan di imami langsung oleh KH. Salahuddin Wahid.

Turut bertakziyah ke rumah duka, Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Salahuddin Wahid beserta Ibu Nyai Faridah Salahuddin, Pengasuh Pesantren MQ, KH. Abdul Hadi Yusuf, Pengasuh Pesantren Walisongo, KH. Jamiluddin, dan beberapa dzuriyah Pesantren Tebuireng, seperti KH. Abdul Hakam Kholiq, KH Agus M. Zaki Hadziq, KH. Agus Fahmi Amrullah Hadziq, dan lain lain.

Menurut penuturan sepupu Almarhum, KH. Agus M. Zaki Hadzik atau yang biasa dipanggil Gus Zaki mengatakan bahwa usia Almarhum mencapai sekitar 77 tahunan. Gus Zaki juga memberikan kesaksian bahwa Mbah Mad adalah sosok yang baik dan memegang teguh aturan dan prinsip.

KH. Mahmad Baidhowi adalah putra KH. Ahmad Baidhawi Asro, Pengasuh Pesantren Tebuireng ke-4 pada tahun 1951-1952, dan Bu Nyai Aisyah binti KH. M. Hasyim Asy’ari. Beliau adalah anak ke-5 dari 6 bersaudara, adik dari KH. Muhammad Baidhowi, KH. A. Hamid Baidhowi, Nyai Hj. Ruqoiyyah Baidhowi (istri KH. M. Yusuf Masyhar, Pendiri PP. Madrasatul Quran), dan KH. Mahmud Baidhawi. Beliau mempunyai satu adik, yaitu KH. Kholid Baidhowi.

►   Ketua GP Ansor Harap Konfercab NU sebagai Penguatan Khitah NU 1926
Mbah Mad dikenal sebagai sosok yang istikamah. Terbukti salah satu dewan pengawas Pesantren Tebuireng itu, jarang sekali absen sebagai imam Shalat Maghrib di Masjid Tebuireng. Salah satu warisan amalan beliau di Masjid Tebuireng adalah tradisi pembacaan Shalawat Burdah setelah wirid berjamaah shalat lima waktu untuk menjaga Tebuireng dan mendoakan keamanan dan kedamaian Indonesia.

Pewarta:      M. Abror Rosyidin

Tinggalkan Balasan