Mata Nabi Tertidur, tapi hatinya tidak

Terdapat Hadits yg berbunyi :

كَانَ تنام عَيناهُ وَلَا ينَام قلبه (ك عن أنس)
“Kedua mata Nabi saw tidur, tetapi hatinya tidak tidur”

Namun dalam Hadits yg lain beliau dikisahkan tertidur sampai waktu Shubuh habis, sehingga sholatnya qodlo’. Seakan kisah ini memberi kefahaman bahwa saat tidur beliau sama sekali tidak sadar, sebab jika masih ada kesadaran, pasti beliau bangun untuk sholat pd waktunya.

Dua Hadits di atas tidak bertentangan, sebab meleknya mata hati beliau lebih berfungsi diantaranya untuk menerima wahyu, karena diantara jalan menerima wahyu ialah dgn mimpi saat tidur. Meleknya mata hati beliau menjadikan beliau tidak hanya mampu bermimpi untuk menerima wahyu, tetapi juga bisa mengetahui hal-hal yg terjadi di sekeliling beliau saat tidur.

Dalam kisah beliau tertidur di atas, memang oleh Allah fisik beliau dikehendaki untuk tidur, sehingga tidak kewajiban melakukan sholat pada waktunya. Memang, termasuk udzur sholat ialah tidur, meskipun setelah bangun wajib diqodlo’. Hal ini tidak menafikan bahwa mata hati beliau tetap melek dan mengetahui keadaan sekitar.

Dalam kisah tertidurnya beliau sampai akhirnya sholatnya diqodlo’ tidak terlepas dari hikmah disyari’atkannya qodlo’ sholat, sekaligus menjadikan tidur termasuk udzur sholat. Dalam setiap sisi sifat manusiawi beliau pasti mengandung alasan dan hikmah tasyri’ (pengsyari’atan).

Oleh karena itu, sisi manusiawi Nabi saw jangan sampai menjadikan kita mengurangi rasa cinta pada beliau. Beliau memang manusia, karena beliau diutus untuk berdakwah pada manusia. Namun, beliau bukan manusia biasa, tetapi manusia yg luar biasa.

Dalam mengkaji sejarah Nabi saw, harus berpegang pd sifat-sifat wajib, mustahil dan ja’iznya para Nabi. Dan termasuk sifat ja’iznya ialah a’rodlul basyariyyah (sifat manusiawi) yg tidak mengurangi derajat luhur para Nabi. Mempunyai sifat manusiawi adalah wajar bg para Nabi, namun pasti di dalamnya ada hikmah pensyari’atan untuk umat.

MIMPI BERTEMU NABI SAW

Ada Hadits yg berbunyi :

وَمَنْ رَآنِي فِي المَنَامِ فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لاَ يَتَمَثَّلُ فِي صُورَتِي
“Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka sungguh dia melihatku, karena sesungguhnya setan tidak bisa meniru bentukku” (HR. Bukhori)

Mimpi bertemu Nabi Muhammad saw juga bisa terjadi saat seseorang junub. Keadaan junub tidak menghalangi seseorang untuk berjumpa Nabi saw dalam mimpi, karena bersihnya ruhaniyah seseorang tidak terpengaruh kondisi junubnya, sebab junub terkait dengan kondisi fisik, bukan ruhaniyah.
(Teman kami, seorang alumni Lirboyo pernah bercerita bahwa ia pernah mimpi bertemu Nabi saw justru saat ia junub).

SHOLAWAT ‘ALIL QODRI

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكَ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الْحَبِيبِ الْعَالِي الْقَدْرِ الْعَظِيمِ الْجَاهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ.
Dibaca tiap malam 10 x, dan khusus malam jum’at 100 x.
Insya’allah saat sakarotul maut dan saat jenazahnya akan dimasukkan liang lahat, ruhaniyah kanjeng Nabi saw akan menghadirinya. Sholawat tersebut ada dalam rangkaian bacaan dalam Rotib Kubro.

Habib Luthfi bin Yahya (bil ma’na was syarh), malam Rabo, 5 Romadlon 1438 H./ 30 Mei 2017 M.
(TintaSantri)

baca: keutamaan-menjalankan-sholat-tarawih
  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *