Beberapa Permasalahan Puasa


orang sakit dan musafir

Orang sakit dan orang yang bepergian jauh melebihi batas Qashar Salat (sekitar radius 90 KM), boleh tidak berpuasa namun wajib mengganti puasa di luar bulan Ramadhan, seperti dalam ayat:   فمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَريضًا أوْ عَلَى سَفَرٍ فعِدةٌ مِنْ أيام أُخَرَ
Artinya “Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain” (al-Baqarah: 185)
Sementara bagi orang yang sangat tua dan orang sakit yang tidak ada harapan sembuh, maka membayar fidyah dan tidak mengganti puasa (qadha’):
قالَ ابنُ عَبهاسٍ: رخِصَ للشيْخِ الكَبيِْْر أنْ ي فْطِرَ وَيطعِمُ عَنْ كلِ يَوْم مِسْكِيْنا وَلاَ قضَاءَ
عَليْهِ {رواه الدارقطني والْاكم وصححاه}
Ibnu Abbas: “Orang yang sangat tua boleh tidak puasa, namun membayar fidyah setiap hari untuk orang miskin, tanpa qadha”
(Daruquthni dan al-Hakim)
وَفِي الْْحدِيثِ: ” إن اللهَ وَضَعَ عَنِ المُسَافِرِ الصوْمَ وَشَطرَ الصلاَ ةِ، وَعَنِ الْْحبْلى
وَالمُرْضِعِ ” {رواه احْمد}
Dalam sebuah hadits: “Sesungguhnya Allah l memberi keringanan bagi musafir dalam puasa dan salat Qashar, serta bagi wanita hamil dan menyusui (untuk tidak) puasa” (HR Ahmad)
 Wanita hamil dan menyusui

 وَقَالَ  الشافِعِيةُ   وَالَْْحنَا بِلَةُ :عَلَيْهِمَا الْقَضَاءُ وَالْفِدْ يَةُ إذَا خَافَتَا عَلَى الْوََلدِ  لِأَنه فِطْرٌ  انْ تَفَعَ  بِهِ شَخْصَانِ  وَِإنْ خَافتَا عَلَى  أَنْفُسِهِمَا فَقَطْ  فَعَلَيْهِمَا الْقَضَاءُ  فَقَطْ  )مسند الشافعي
ترتيب السندي – ص 782(
Madzhab Syafiiyah dan Hanbali mengatakan bahwa wanita hamil dan menyusui hukumnya diperinci: “Keduanya wajib qadha’ dan membayar fidyah, jika keduanya tidak berpuasa karena mengkhawatirkan pada kondisi anaknya. Sebab ini bentuk meninggalkan puasa yang dinikmati oleh ibu dan anaknya. Jika ibu hamil dan menyusui hanya mengkhawatirkan pada kondisi mereka saja (tidak khawatir pada kandungan atau anaknya), maka mereka hanya wajib qadha’ saja tanpa membayar fidyah” (Musnad Asy-Syafii 782)
Menelan air saat kumur

وََلوْ سَبقَ مَاءَ المَضْمَضَةِ أوِ اْلِاسْتنْشَاقِ إلَِى جَوْفهِ نظِرَ إنْ بَِلغَ أفطرَ وَإلاه فلاَ  )الْقناع
للشربيني – 1 / 237(
“Jika kemasukan air kemur ke dalam perutnya, maka diperinci; jika dengan cara tidak lazim maka batal, dan jika dengan cara wajar maka tidak batal” (al-Iqna’ 1/237)
Suntik di siang Ramadhan 
وَلوْ أوْصَلَ الدوَاءَ لِْراحَةٍ عَلى الساقِ إلَِى دَاخِلِ اللحْمِ ، أوْ غرَزَ فِيهِ سِ كِينا وَصَلتْ مُخهُ لََْم يُفْطِرْ لِأنه ليْسَ بَِجوْفٍ 
“Jika seseorang memasukkan obat buat luka di betis sampai kedalam daging, atau menancapkan pisau di betis tersebut sampai ke sumsum, maka hal itu tidak membatalkan puasanya, karena daging itu bukan rongga tubuh” (Syarah Mahalli ‘ala Minhaaj / Qalyubi juz IX halaman 291, maktabah syamilah)
 Memasukkan obat mata
وَلاَ يضُرُّ اْلاكْتحَالُ وَانْ وجِدَ طعْمُهُ اىِ الكُحْلِ بِلقِهِ لانهُ لاَ يَنْفُذُ مِنَ العَيِْْن الَِى الْْحلقِ وَالوَاصِلُ اليْهِ مِنَ المَسَا م )المحلى ج 2 ص 56 (  
“Boleh memakai celak mata, sekalipun ditemukan rasa pada tenggorokan, karena celak tidak dapat tembus dari mata sampai tenggorokan, dan sesuatu yang sampai ke tenggorokan itu hanya melalui jalan pori-pori [sedang pori-pori bukan termasuk lobang badan yang dapat membatalkan puasa]” (al-Mahally juz 2 hal 56)
Mencicipi Makanan
قضِيةُ اقتصَارهِ عَلى ذلكَ كَراهَةُ ذَوْقِ الطعَام لغرَضِ إصْلَاحِهِ لمُتَعَاطِيهِ ، وَيَنْبغِي عَدَمُ  كَراهَتهِ للْحَاجَةِ  {حاشية الشبراملسي نهاية المحتاج 7 / 20}
“Mencicipi makanan adalah makruh bagi orang yang berpuasa, kacuali kalau ada hajat” (Hasyiyah an-Nihayah 7/20)

Puasa bagi pekerja berat
وََيلْزَمُ اهْلَ العَمَلِ المُشَاقِ فِى رمَضَانَ كَالَْْحصادِينَ وَنََْحوهِمْ تَبْييْتُ النيةِ ثُم انْ لَِْحقَهُمْ
مَشَقة شَدِيدَة أفطرَ وَالاه فلاَ {بشرى الكريم ص 72}
“Wajib atas para pekerja berat di bulan Ramadhan seperti para petani dan lainnya, niat (puasa) di malam hari, kemudian apabila mereka mendapati masyaqat yang berat, maka boleh berbuka (menghentikan puasa) dan apabila tidak mendapati masyaqat yang berat, maka ia tetap harus puasa” (al-Busyra al-Karim hal 72 )

Darah yang ada di gusi
يُعْفَى عَنْ دَم اللثةِ الذِى يََْجرى دَائمًا اَوْ غالبا وَلايُكَلفُ غسْلَ فَمِهِ للْمَشَقةِ  {بغية
المستُشدين ص : 111 }
“Dimaafkan darah gusi yang terus menerus atau hampir selalu keluar, dan seseorang tidak dipaksa membasuh mulutnya karena hal itu memberatkan” (Bughyah al-Mustarsyidin hal 111)

Kapas Mengandung obat diletakkan di telingan
فَائدَة: ابْتلِىَ بوَجْعٍ فِى أذنهِ لاَ يََْحتمِلُ مَعَهُ السُّكُوْنُ إلا بوَضْعِ دَوَاءٍ يسْتَعْمَلُ فِى دُهْنٍ  أوْ قطنٍ وَتََحققَ التخْفِيْفُ أوْ زوَالُ الألََِم بهِ، بِِأنْ عَرَفَ مِنْ نَفْسِهِ أوْ أَخْبَرهُ طبيْب جَازَ ذَلكَ وَصَح صَوْمُهُ للضرُوْرةِ، اه  فَتاوَي بَِاحُوَيرثٍ {بغية المستُشدين ص :111 }
“Seseorang ditimpa sakit pada telinganya yang ia tak bisa tenang bersamanya kecuali dengan menggunakan obat dalam minyak atau kapas, sedang obat tersebut telah teruji dapat meringankan atau bahkan rasa sakit menjadi hilang dengan sekira dia memang memahaminya atau diberitahu oleh dokter, maka hal itu diperbolehkan dan puasanya sah karena dharurat” (Bughyah alMustarsyidin hal 111)
sumber: buku saku sukses ibadah romadhon

baca doa memasuki bulan baru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *