Masa Awal Pembentukan Tasawwuf

Pada masa ini, tasawuf masih bersifat ekspresi yang alami dari sebuah pengalaman keagamaan individu. Pengalaman tersebut disarikan dari ajaran-ajaran al-Qur’an dan Sunnah. Pengalaman spiritual yang bertujuan untuk mendapatkan hubungan dengan sumber utama dari keberadaan realitas, yakni Allah. Ajaran-ajaran yang berkembang antara lain adalah zikir, zuhud, dan nusuk (J. Spencer Trimingham, 1973: 2). Namun dalam perkembangannya, ajaran zuhud mempunyai dampak yang signifikan dalam mewarnai pola tasawuf pada masa ini.

Al-Taftazani (1985: 54) menyatakan bahwa zuhud merupakan fase yang mendahului tasawuf. Zuhud dalam Islam bukanlah berarti kependetaan (rahbaniyah) atau terputusnya kehidupan duniawi, melainkan ia adalah hikmah pemahaman yang membuat para penganutnya mempunyai pandangan khusus terhadap kehidupan duniawi, dimana kehidupan duniawi itu tidak mengusai kalbu mereka serta tidak membuat mereka ingkar kepada Allah.[1]

Adalah al-Salaf al-Saleh dari Basrah, Hasan al-Bashri (w. 110 H/728 M)[2] yang merupakan tokoh yang menonjol pada generasi ini. Ia adalah seorang zahid pertama dan termasyhur dalam sejarah tasawuf. Ia tampil pertama dengan membawa ajaran khauf wa raja` (mempertebal takut dan harap kepada Allah), di samping ajaran zuhud, tawakkal dan wara’ (M. Amin Syukur, 1999: 30). Yasid ibn Husyab berkata: “saya tidak pernah melihat orang yang lebih takut daripada al-Hasan al-Bashri dan Umar ibn Abd. Aziz, seakan-akan neraka diciptakan untuk mereka berdua” (As’ad al-Sahmarani, 1987: 106).[3]

Selain fenomena kezuhudan, pada masa ini pula muncul beberapa istilah-istilah tasawuf tertentu yang dinisbatkan kepada para sufi. Istilah-istilah tersebut di antaranya adalah:

  1. Al-Nussak/al-’Ubbad; adalah mereka yang menekuni ibadah saja, baik ibadah wajib ataupun sunnah dalam proses penyucian jiwa dan olah spiritual mereka (Musthofa Golus, 37).
  2. Al-Bakka`; adalah mereka yang senantiasa menangis, karena keadaan dunia yang menyedihkan serta renungan tentang kekurangan diri sendiri. Mereka menangis dengan harapan akan mendapatkan pertolongan dan ampunan Ilahi (Annemarie Schimmel, 2000: 37).
  3. Al-Hafi; artinya si telanjang kaki. Adalah mereka yang beranggapan bahwa bahkan sepatu atau sandalpun merupakan sekat/penghalang jalan menuju Allah. Seorang sufi yang terkenal dengan sebutan ini adalah Bishr, murid dari Fudayl (Annemarie Schimmel, 2000: 45).
  4. Al-Sa`ihun; adalah mereka yang senantiasa melakukan puasa hanya karena mengaharap ridla Allah, terkadang mereka juga disebut dengan al-Ju’iyyah (orang yang suka lapar) (Musthofa Golus, 37 dan al-Kalabadzi, 1993: 11).
  5. Al-Sayyahin; adalah mereka yang senantiasa melakukan banyak perjalanan panjang ke berbagai daerah atau kota, terkadang mereka juga terkenal dengan sebutan al-Guraba` (sang pengelana) (al-Kalabadzi, 1993: 11).
  6. Al-Syakfatiyyah; adalah mereka yang yang senantiasa berdiam diri atau bertapa di dalam sebuah gua atau terowongan (al-Kalabadzi, 1993: 11).
  7. Dan masih banyak istilah yang lainnya.

Selanjutnya, pada akhir abad ke-II H. muncul Rabi’ah al-Adawiyah (w. 185 H),[4] seorang sufi wanita yang terkenal dengan ajaran cintanya (hubb al-ilah). Meskipun Rabi’ah mengenalkan ajaran tentang cinta, namun hal itu berangkat dari sikap zuhud juga. Zuhud yang semula bersifat Khauf dan Raja` di naikkan oleh Rabi’ah ketingkat zuhud yang bersifat hubb (cinta) (al-Taftazani, 1985: 85).

Cinta murni kepada Allah merupakan puncak tasawuf bagi Rabi’ah al-Adawiyah. Ekspresi cinta yang bersifat murni yang tidak mengharapkan apa-apa kecuali mengharapkan pertemuan antara pecinta dan yang dicinta. Hal ini tercermin dalam beberapa syairnya tentang cinta. Antara lain:

“aku mencintai dengan dua cinta;

cinta karena kebahagiaanku dan cinta sempurna karena diri-Mu,

cinta karena diriku adalah keadaanku senantiasa mengingat-Mu

cinta karena diri-Mu adalah keadaan-Mu mengungkapkan tabir hingga Engkau kulihat…….” (Fazlur Rahman, 1979: 130)

Pada generasi ini, selain kedua tokoh di atas, masih banyak tokoh-tokoh lain yang juga memiliki peranan yang signifikan dalam mewarnai pola tasawuf pada masanya. Semisal yang dari Bashrah adalah: Malik ibn Dinar (w. 131 H), Shahih al-Murri, dan Abdul Wahid ibn Zaid (w. 177 H). Dari Kufah, semisal al-Rabi’ ibn Khatsim (w. 67 H), Sa’id ibn Jubair (w. 95 H), dan Sufyan ibn Uyainah (w. 198 H), serta masih banyak yang lainnya dari berbagai penjuru Arabia (al-Taftazani, 1985: 69-80).

Walhasil, pada Abad ke-I H hingga ke-II H corak pemikiran tasawuf masih didominasi dengan pengalama-pengalaman kezuhudan, meskipun dengan beragam cara yang berbeda-beda. Menurut sejarah, Pada masa ini, orang yang pertama kali memakai kata “sufi” adalah Abu Hasyim al Kufi seorang zahid dari kufah. Dia hidup pada masa khalifah al-Manshur sekitar tahun 145 H. (M. Jalal Syaraf, 1984: 81). Akan tetapi ajaran pokok yang selanjutnya merupakan inti tasawuf itu baru muncul secara lengkap pada abad ke 3 Hijriyah. Pada abad ke 2 Hijriyah itu belum diketahui adanya orang-orang yang disebut sufi; yang terlihat adalah aliran Zuhud (penganutnya disebut zahid).

[1] Abu al-‘Ala al-Afifi, sebagaimana dikutip oleh al-Taftazani (1985: 57-58), menyatakan bahwa setidaknya ada empat factor yang mengembangkan paham zuhud dalam Islam, yakni: pertama, ajaran-ajaran Islam itu sendiri yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Sunnah. Kedua, revolusi rohaniah kaum muslim terhadap system sosio-politik yang berlaku pada masa itu, hal ini senada dengan pendapatnya Fazlur Rahman (1979: 129). Ketiga, dampak dari asketisme Nasrani. Dan keempat, penentangan terhadap fiqh dan kalam.

[2] Nama lengkapnya adalah al-Hasan ibn Abi al-Hasan Abu Sa’id al-Bashri, salah seorang tabi’in yang lahir pada masa kekhalifahan Umar ibn Khattab (As’ad al-Sahmarani, 1987: 105)

[3] Setelah al-Hasan al-Bashri, muncul secara bertahap dua aliran dalam tasawuf yang berkembang, yakni: aliran “kesadaran” dan aliran “mabuk” (S. Hossein Nasr, 2003: 98)

[4] Al-Taftazani (1985: 82) mengatakan bahwa menurut Ibn Khalikan, nama lengkap Rabi’ah al-Adawiyah adalah Ummul Khair Rabi’ah bint Isma’il al-Adawiyah al-Qisiyah.

Tinggalkan Balasan