Masa Kemunculan Tasawuf Falsafi

Dalam perkembangan berikutnya, yakni pada abad keenam Hijriah, muncul sekelompok tokoh sufi yang mensintesakan tasawuf dengan falsafah, seperti Suhrawardi al-Maqtul (550-587 H.) yang di antaranya mengarang kitab Hikmat Isyraq (Tasawuf falsafi atau Iluminatif), Syekh Akbar Muhyiddin Ibn Arabi (560-638 H.) yang di antaranya mengarang kitab tasawuf terkenal, Futuhat al-Makiyyah dan Fusus al-Hikam. Sufi ini memformulasikan tasawuf falsafi “wahdat al-wujud, haqiqat muhammadiyyah, dan wahdat al-adyan”, Ibn Sab’in dengan Ittihad-nya, serta Ibn Faridl dengan teori hubb, fana`, dan wahdat al-syuhud-nya (M. Amin Syukur, 1999: 40).

Dengan munculnya para sufi yang bercorak falsafi, maka sufisme oleh sebahagian ahli dikategorikan menjadi tasawuf sunni dan tasawuf falsafi. Tasawuf falsafi berupaya memadukan tasawuf dan falsafah. Sufisme ini ditandai dengan ungkapan mereka yang banyak mengandung isyarat dan simbol yang sukar dipahami. Selain itu, mereka memakai term-term filsafat dalam penyampaiannya, namun secara epistimologis mereka memakai intuisi (dzauq) dalam pengalaman spiritualnya. Para sufi yang juga filosof ini banyak mendapat kecaman, serangan, hujatan, dan debat dari para ulama (terutama kaum teolog dan fuqaha), yang justru semakin keras, kerana pernyataan mereka dalam bentuk “syathahat”.

Ibn Khaldun dalam al-Muqaddimah-nya, sebagaimana dikutip oleh al-Taftazani (1985: 188-189) dan M. Amin Syukur (1999: 40), menyimpulkan bahwa ada empat karakter utama dari tasawuf falsafi, yaitu; pertama, latihan ruhaniah dengan rasa, intuisi, serta introspeksi diri yang timbul darinya. Kedua, Illuminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam ghaib. Ketiga, peristiwa-peristiwa dalam alam maupun kosmos berpengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan atau keluar biasaan. Keempat, penciptaan syathahiyat.

Tinggalkan Balasan