Masa Konsolidasi Para Tokoh Tasawwuf

Amin Syukur (1999: 36) menyatakan bahwa tasawuf pada masa ini mengadakan konsolidasi. Pada masa ini ditandai dengan kompetisi dan pertarungan antara tasawuf semi-falsafi dengan tasawuf sunni. Tasawuf sunni mendapat kemenangan dan berkembang pesat. Sedangkan tasawuf semi-falsafi tenggelam dan nantinya akan muncul kembali pada sekitar abad VI H. Jadi pada masa ini, tasawuf masuk pada periode pemurnian dari tasawuf semi-falsafi yang ditandai dengan pemantapan dan pengembalian tasawuf ke landasannya, yakni al-Qur’an dan al-Sunnah.

Tokoh yang menonjol pada generasi ini adalah al-Qusyairi dan al-Harawi. Keduanya membawa ajaran tasawuf ke arah aliran sunni, dan metode keduanya dalam hal pembaharuan tersebut akan diikuti oleh Abu Hamid al-Ghazali pada penggal kedua abad itu. Dengan demikian, pada abad ke-V H ini tasawuf  sunni berada dalam posisi yang menentukan, yang memungkinkannya tersebar luas dikalangan dunia Islam (al-Taftazani, 1985: 140-141).

Al-Qusyairi dengan karyanya yang terkenal “al-Risalah al-Qusyairiyah” memperkenalkan secara teoritis maupun praktis tentang ajaran-ajaran tasawuf sunni. Ia mampu mengompromikan syari’ah dan haqiqat. Ia merupakan pembela theology ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, Ia juga berusaha mengembalikan tasawuf pada landasannya, al-Qur’an dan al-Sunnah. Di sisi lain, ia juga mengkritik tentang ungkapan syathahiyat dari para sufi semi-falsafi, semisal: al-Bushthami dan al-Hallaj, serta mengkritik cara berpakaian para sufi yang terlihat seperti orang miskin, sementara pada saat yang sama tindakan mereke bertentangan dengan pakaiannya (M. Amin Syukur, 1999: 37).

Sedangkan al-Harawi dengan karyanya “Manazil al-Sairin ila Rabb al-‘Alamin” menentang keras dan tegas terhadap tasawuf semi-falsafi. Dia adalah penentang para sufi yang terkenal dengan syathahiyat-nya. Dia menganggap bahwa orang yang suka mengungkapkan syathahat adalah orang yang hatinya tidak bisa tentram dan tidak tenang. Karena ketentraman yang datang dari ridla Allah yang tertanam dalam kalbu akan menghindarkan seseorang dari ungkapan-ungkapan ganjil (al-Taftazani, 1985: 147; M. Amin Syukur, 1999: 38). Di samping itu, al-Harawi juga memiliki konsep tentang fana` yang berbeda dengan konsep fana` yang datang dari tasawuf semi-falsafi. Menurutnya, fana` bukanlah wujud sesuatu selain Allah, tetapi dari penyaksian dan perasaan mereka sendiri. Sebagai gambarannya; ia sirna dengan yang disembahnya lewat penyembahan kepada-Nya serta ia sirna dengan yang dicintanya lewat cinta kepada-Nya (M. Amin Syukur, 1999: 37).

Tokoh lainnya adalah al-Ghazali (w. 505 H/1111 M), seorang sufi yang memiliki peringkat yang lebih tinggi dari kedua tokoh di atas. Dia memiliki karya-karya dalam bidang tasawuf yang sangat terkenal, seperti; ihya` ulumuddin, Bidayat al-Hidayah, dan sebagainya. Melalui al-Ihya`, dia dipandang sebagai tokoh yang sukses dalam memadukan ajaran-ajaran kalam/aqidah, fiqh/syari’ah, dan tasawuf/haqiqat. Al-Ghazali menilai negative terhadap ungkapan syathahiyat, meskipun ia mau memaafkan para sufi yang sering mengungkapkannya. Ia menawarkan konsep ma’rifat dalam batas pendekatan diri kepada Allah. Ma’rifat adalah paduan antara ilmu dan amal, sementara buahnya adalah moralitas (M. Amin Syukur, 1999: 38-39).

Tinggalkan Balasan