Masa Perkembangan Tasawwuf

Tasawuf pada masa ini sudah memiliki corak yang berbeda dengan tasawuf abad sebelumnya. Pada abad ini, tasawuf sudah bercorak ke-fana`-an (ekstase) yang menjurus ke persatuan hamba dengan Tuhannya. Para sufi sudah ramai membahas tentang “lenyap dalam kecintaan” (fana` fi al-mahbub), “bersatu dengan kecintaan” (ittihad bi al-mahbub), “kekal dengan Tuhan” (baqa’ bi al-mahbub), menyaksikan Tuhan (musyahadat), bertemu dengan-Nya (liqa` bil’Lah), dan menjadi satu dengan-Nya (‘ain al-jama’) (M. Amin Syukur, 1999: 32-33).

Adalah Abu Yazid al-Bushthami (w. 261 H) seorang sufi dari Persia yang pertama kali mempergunakan istilah fana`. Sehingga ia dianggap sebagai peletak batu pertama dalam aliran ini. Fana` dalam pandangan al-Bushthami adalah sirnanya segala sesuatu yang selain Allah dari pandangannya, di mana seorang sufi tidak lagi menyaksikan kecuali hakekat yang satu, yaitu Allah. Bahkan dia tidak lagi melihat dirinya sendiri, karena dirinya terlebur dalam Dia yang disaksikannya (al-Taftazani, 1985: 116). Mengenai hal ini, ada sebuah ungkapan yang terkenal dari al-Bushthami sendiri yang disampaikan oleh Farid al-Din al-Ththar, yaitu ketika ia ditanya, kapan seorang bisa mencapai hakekat ma’rifat? Ia menjawab: “ketika dia fana` di bawah pantauan-Nya dan tetap di atas hamparan Yang Haq, tanpa jiwa dan tanpa penciptaan”, kemuadian ia (al-Bushthami) berkata: “saya adalah Allah, tiada Tuhan kecuali Aku, maka sembahlah Aku, Maha Suci Aku, alangkah besarnya keadaan-Ku” (M. Amin Syukur, 1999: 33).

Sufi yang tidak kalah kontroversialnya dengan Abu Yazid adalah Manshur al-Hallaj (w. 309 H/922 M). Dia merupakan salah satu murid Junaid al-Baghdadi yang kemudian keluar dari ajaran gurunya dan menyebarkan ajarannya sendiri, seperti hulul.[1] Dia divonis hukuman mati sebagai akibat dari intrik politik, namun lebih spesifik atas dasar tuduhan menyebarkan ajaran heterodoksi religious karena telah mengucapkan perkataan-perkataan (syathahat)[2] secara public, “Akulah Kebenaran (ana al-Haqq)” (S. Hossein Nasr, 2003: 98). Al-Hallaj memiliki beberapa karya, dan yang paling terkenal ialah “al-Thawwasin”.

Selain kedua tokoh di atas, pada masa ini juga muncul beberapa tokoh tasawuf yang masyhur dan memiliki beberapa ajaran mengenai tasawuf. Di antaranya adalah al-Harits al-Muhasibi (w. 243 H), Junaid al-Baghdadi (w. 297 H), Dzun Nun al-Mishri (w. 245 H), Ma’ruf al-Karkhi (w. 200 H), Abu Sulaiman Al-Darani (w. 254 H), dan yang lain.

Walhasil, pada abad ke-III H. dan ke-IV H, wacana tentang zuhud mulai digantikan oleh tasawuf. Ajaran para sufi ini pun tidak lagi terbatas pada aspek praktis (amali) saja, melainkan mulai masuk ke aspek teoretis (nazhari) dengan jalan memperkenalkan konsep-konsep dan terminology baru yang sebelumnya tidak dikenal seperti; maqam, hal, ma’rifah, tauhid (dalam maknanya yang khas tasawuf), fana, hulul, dan lain-lain. Mengenai hal ini, Abu al-Ala al-Afifi (1962: 92) menyatakan: “sejak itupun tasawuf memasuki periode baru, yaitu periode intuisi dan kasyaf, periode ini terjadi pada abad ke III-IV H yang merupakan zaman keemasan tasawuf dalam pencapaiannya yang paling luhur ataupun jernih”.

[1] Hulul adalah sifat ketuhanan (lahut) menjelma kedalam diri insan (nasut), manusia memiliki sifat ketuhanan dalam dirinya, demikian pula sebaliknya Tuhan memiliki sifat kemanusian dalam diri-Nya. Agar dapat bersatu (hulul) maka sifat-sifat kemanusian yang ada dalam tubuh harus dilenyapkan melalui fana`  (Harun Nasution, 1978: 80). Di samping hulul, al-Hallaj juga memiliki ajaran tasawuf yang lain, yaitu: Nur Muhammad dan Wahdat al-Adyan (M. Amin Syukur, 1999: 34)

[2] Syathahat kata tunggalnya syath, berarti ungkapan yang ganjil (tidak rasional) yang dapat membingungkan bahkan menyesatkan para pendengarnya. Ungkapan-ungkapan seperti ini biasanya dinisbatkan kepada para sufi tertentu ketika dalam keadaan tak sadarkan diri (trance/jadzb) (Totok Jumantoro, ed, 2005: 220-221)

Tinggalkan Balasan