Tasawwuf dalam Islam

Tasawuf merupakan salah satu aspek (esoteris) Islam, sebagai perwujudan dari ihsan yang berarti kesadaran adanya komunikasi dan dialog langsung seorang hamba dengan tuhan-Nya. Secara bahasa , tasawuf diartikan sebagai Sufisme. Yakni ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun lahir dan batin untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf telah menjadi falsafah hidup bagi jiwa manusia dalam upaya mewujudkan kesempurnaan moral serta kebahagiaan rohani melalui olah rasa dan latihan-latihan spiritual. Oleh karena itu, tasawuf pada dasarnya merupakan pengalaman para sufi/mistikus Islam. Adapun perbedaan yang terjadi di antara kaum sufi, bukanlah dalam hal pengalaman mistisnya, namun hanya dalam bentuk bagaimana mereka menvisualkan atau menginterpretasikan pengalaman mereka sendiri.

Ada dua bentuk tasawuf atau mistisisme. Yang satu bercorak religius, yang lain bersifat  filosofis. Tasawuf atau mistisisme religius adalah semacam gejala yang sama dalam semua agama, baik di dalam agama-agama langit ataupun agama-agama purba. Begitu juga dengan tasawuf atau mistisisme filosofis, sejak lama telah lama pula dikenal di dunia Timuur sebagai  warisan tradisi fisafat  Yunan, maupun di Eropa abad pertengahan ataupun modern, dalam kalangan filosof Eropa modern yang mempunyai kecenderungan mistis ialah Bradley di Inggris dan Bergson di  Perancis.

Tasawuf atau mistisisme religious adakalanya terpadu dengan filsafat. Hal ini dapat dilihat dalam beberapa sufi muslim atau banyak mistikus Kristen. Oleh karenanya, dalam diri seorang filosfof terjadinya perpaduan antara  kecenderungan intelektual dan kecenderungan mistis merupakan hal  yang wajar. Bertrand Russel mengatakan bahwa dari para filosof ada yang mampu mengkompromikan kedua  kecenderungan akal dan mistis. Dalam pandangannya, orang yang mampu melakukan pengkompromian tersebut dipandang sebagai filosof yang sebenar-benarnya.

Banyak ragam definisi yang berusaha memberikan karakteristik dasar dari tasawuf atau mistisisme ini. William James, misalnya, mengatakan bahwa kondisi-kondisi mistisisme selalu ditandai oleh hal-hal berikut:

  1. Mistisisme merupakan suatu kondisi pemahaman (noetic)
  2. Mistisisme merupakan suatu kondisi yang mustahil dapat dideskripsikan secara jelas. Karena ia berangkat dari semacam kondisi perasaan (states of feeling)
  3. Mistisisme merupakan suatu kondisi yang mudah sirna (transiency)
  4. Mistisisme merupakan suatu kondisi pasif (passivity).

Sedangkan menurut R.M. Bucke, setidaknya terdapat tujuh karakteristik dalam mistisisme, yaitu:

  1. Pancaran subjektif (subjective light)
  2. Peningkatan moral (moral elevation)
  3. Cahaya intelektual (intellectual illumination)
  4. Perasaan hidup abadi (sense of immortality)
  5. Hilanngnya perasaan takut mati (loss of fear of death)
  6. Hilangnya perasaan dosa (loss of sense of sin)
  7. Ketiba-tibaan (suddenness).

Sementara itu, Bertrand Russell juga memberikan beberapa analisa menganai kondisi mistis dan tasawuf atau mistisisme. Kondisi tersebut adalah:

  1. Keyakinan atas intuisi (intuition) dan pemahaman batin (insight) sebagai metode pengetahuan
  2. Keyakinan atas ketunggalan (wujud), serta pengingkaran atas diferensiasi dalam bentuk apapun
  3. Pengingkaran atas realitas zaman
  4. Keyakinan atas kejahatan sebagai sesuatu yang hanya sekedar lahiriah dan ilusi saja yang dikenakan pada diferensiasi yang dikontrol oleh rasio analitis.

Lebih lanjut, penulis (al-Taftazani) juga memberikan analisanya terhadap karakteristik tasawuf yang kesemuanya bersifat psikis, moral, dan epistemologis. Karakteristik tersebut ada lima, yaitu: peningkatan moral, pemenuhan fana’ dalam realitas mutlak, pengetahuan intuitif langsung, menggapai ketenteraman dan kebahagiaan, serta penggunaan simbol atau tanda-tand tertentu dalam ungkapan-ungkapan (syathohiyat).

Selain itu, inti tasawuf adalah tekun beribadah, memutuskan hubungan dari selain Allah, menjauhi kemewahan dan kegemerlapan duniawi, meninggalkan kelezatan harta dan tahta yang sering dikejar kebanyakan manusia dan mengasingkan diri dari manusia untuk beribadah. Praktek ini populer di kalangan para sahabat dan ulama terdahulu. Ketika tren mengejar dunia menyebar di abad kedua dan setelahnya, manusia mulai tenggelam dalam kenikmatan duniawi, orang-orang yang menghususkan diri mereka kepada ibadah disebut sufi.

Satu asas yang tasawuf tidak dapat diperselisihkan yakni bahwa tasawuf adalah moralitas-moralitas yang berdasarkan Islam. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu al Qayyim yang menyatakan “para pembahas ilmu telah sepakat bahwa tasawuf adlah moral”. Demikian juga al Kattani berkata bahwa “tasawuf adalah moral. Barangsiapa yang di antaramu semakin bermoral, tentu jiwanya pun semakin bening”. Dengan pengertian ini , maka tasawuf juga berarti semangat Islam, sebab semua hokum Islam berdasarkan landasan moral.

Mengenai aspek moral, al Qur’an mengandung banyak ayat yang mendorong pada keluhuran moral. Misalnya dorongan—dorongan asketisme, kesabaran, berserah diri pada Allah, rela, cinta, yakin, hidup sederhana dan segala hal yang diniscayakan pada setiap Muslim  sebagai kesempurnaan iman.

Keimanan kepada Allah dan keesaanNya jelas bertentangan dengan moral buruk, tamak, takut, waswas,  gila harta, menindas sesame bahkan sangat bertentangan dengan tindakan berserah diri pada makhluk yang bukan Khalik, menelantarkan anak  yatim atau orang lemah, tidak belaskasih dan khianat. Barangsiapa yang belum dapat lepas  dari moral buruk ini, imannya belum lagi sempurna. Keimanan yang juga diindikasikan dengan adanya pelaksanaan moral secara baik juga disabdakan oleh Nabi Muhammad saw: “seorang Mukin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik moralnya”.

Islam juga menunjukkan bagaimana cara merealisasikan keluhuran moral yang telah diserukan. Perintah untuk melaksanakan jihad terhadap diri sendiri, menjauhkan diri dari moral yang buruk dan menghias diri dengan moral terpuji adalah sebagian di antaranya. Dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa jihad terhadap diri sendiri adalah jihad akbar.

Terkait dengan relasi ilmu tasawuf dan agama Islam, Ibnu Khaldun berpendapat bahwa: “ilmu tasawuf merupakan salah satu ilmu agama yang baru dalam agama Islam. Cikal bakalnya, bermula dari generasi pertama umat (Islam), baik dari kalangan sahabat, tabi’in  dan generasi setelahnya. Ia adalah jalan kebenaran dan petunjuk. Sementara asal usulnya addalah pemusatan diri dalam ibadah, penghadapan diri sepenuhnya kepada Allah, penghindaran diri dari kelezatan, harta dan pangkat yang dikejar-kejar orang banyak, dan pemisahan diri dari orang lain untuk bersendiri dan beribadah……”.

Ada sebagian orang bertanya, adakah istilah tasawuf pada zaman Rasulullah saw? Tentu jawabannya tidak ada. Al-Qusyairi dalam kitabnya “al-Risalah al-Qusyairiyah” mengatakan bahwa para generasi pertama/sahabat dan sesudahnya lebih menyukai dan merasakannya sebagai penghormatan apabila mereka disebut sebagai sahabat. Dengan demikian, istilah-istilah dalam tasawuf awal seperti ’abid, nasik, zahid, dan kemudian sufi baru dikenal setelah generasi sahabat dan tabi’in awal ini, yakni pada sekitar abad ke-2 Hijriyah.

Ada beberapa sumber perihal etimologi dari kata “Sufi”. Kata ini berasal dari bahasa Arab, Tasawwafa. Namun para ulama berbeda pendapat dari mana asal usulnya (akar katanya). Ada yang mengatakan dari kata “Shuf’ (bulu domba), merujuk kepada jubah sederhana yang dikenakan oleh para asketik Muslim. Namun tidak semua Sufi mengenakan jubah atau pakaian dari wol.

Teori etimologis yang lain menyatakan bahwa akar kata dari Sufi adalah Safa, yang berarti kemurnian. Hal ini menaruh penekanan pada Sufisme pada kemurnian hati dan jiwa. Teori lain mengatakan bahwa tasawuf berasal dari kata Yunani theosofie artinya ilmu ketuhanan. “Shaf’, yang berarti barisan, “Shuffah” (emper Masjid Nabawi yang ditempati oleh sebagian shahabat Rasulullah SAW). Pemikiran masing-masing pihak itu dilatarbelakangi obsesinya dan fenomena yang ada pada diri para sufi.

(Dahrul M)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *