Tasawwuf Pada Masa Rasulullah dan Sahabat

Annemarie Schimmel (2000: 31) mengatakan bahwa Nabi Muhammad saw merupakan mata rantai pertama dalam rangkaian rohani tasawuf. Serta mi’rajnya lewat berlapis-lapis langit kehadapan ilahi merupakan prototip kenaikan rohani para mistikus ke hadapan Allah. Oleh karena itu, bahwa suri-teladan kehidupan sufi adalah dari kehidupan Nabi SAW. Kehidupan yang penuh dengan nilai-nilai luhur yang dinukilkan melalui para sahabatnya. Kehidupan Nabi yang diupayakan oleh para sufi untuk dijadikan hiasan jiwa bagi mereka tidak hanya pada masa Nabi diangkat menjadi Nabi dan Rasul. Namun, kehidupan Nabi sebelum bi’tsah pun menjadi bagian dari upaya mengolah pengalaman spiritual (tajribat/riyadlat) oleh para sufi.

Kita tahu bahwa bahwa kehidupan Nabi sebelum bi’tsah penuh dengan kejadian-kejadian yang memiliki nilai spiritual luhur. Semisal beliau ber-tahannuts dan ber-khalwat di gua Hira` dengan tujuan untuk mencari ketenangan jiwa dan kebersihan hati dalam upaya memahami realitas masyarakat pada waktu itu. Dan dalam ber-tahannuts inilah pula Nabi menerima wahyu pertama dari Allah melalui Jibril (M. Jalal Syaraf, 1984: 35). Sehingga tahannuts Nabi ini menjadi semacam tajribah bagi para sufi dalam menggapai pengalaman-pengalaman ruhaniyah.

Di samping itu, pola kehidupan Nabi yang sederhana dan selalu ber-mujahadah juga menjadi tamtsil (teladan) bagi kehidupan para zahid dan sufi. Teladan yang mengantarkan pada fase-fase intuitif dan maqamat serta ahwal yang pada akhirnya akan mengantarkan si salik kepada terbukanya hakikat serta sampai pada jalan menuju Allah dengan pengetahuan yang hakiki (ma’rifat ilhamiyah-laduniyah) (M. Jalal Syaraf, 1984: 37-38).

Fazlur Rahman (1979: 128) mengatakan bahwa dalam al-Qur’an ada beberapa ayat yang menggambarkan pengalaman mistik Nabi, seperti dalam Q.S. al-Isra`: 1, Q.S. al-Najm: 1-12 dan 13-18, Q.S. al-Takwir: 19-25. Di sisi lain, dalam sebuah riwayat dari Aisyah yang menyatakan bahwa Akhlak Rasulullah SAW adalah akhlak al-Qur’an itu sendiri (kana khuluquhu al-Qur’an). Oleh karena itu, banyak amalan-amalan Nabi yang menjadi dasar dan unsur tasawuf yang diamalkan oleh para sufi. Semisal hidup dengan sederhana (zuhud), selalu beristighfar, berpuasa, dan bermujahadah (As’ad al-Sahmarani, 1987: 74-75).

Lebih lanjut, Nabi SAW sendiri telah memberikan suatu petunjuk bagaimana kaum muslim bisa mendekatkan diri kepada Allah, yakni dengan mengamalkan iman, islam, dan ihsan (Annemarie Schimmel, 2000: 34).[1] Iman sebagai bentuk pengejawantahan akan tauhid/aqidah. Islam sebagai bentuk manifestasi dari ibadah/syari’at. Sedangkan ihsan adalah laku spiritual dalam melakukan ibadah guna bertaqarrub kepada Allah dan hal ini selanjutnya mewujud sebagai manifestasi dari tasawuf.

Itulah sekelumit dari pola kehidupan Rasulullah yang banyak mengandung pengalaman spiritual yang baik dan indah, yang mana oleh para sufi dijadikan uswah hasanah dalam melaksanakan tajribat/riyadlat dalam keseharian hidup mereka.

Adapun pola kehidupan para sahabat Nabi tidaklah jauh dari apa yang diamalkan oleh Rasulullah. Karena sahabat selalu berusaha meneladani apa saja yang Nabi amalkan. Sehingga pola kerohanian para sahabat selalu berusaha disesuaikan dengan tuntunan Rasulullah. Selalu bersikap sederhana, wara’, zuhud, dan selalu berbuat kebaikan guna mendapat ridla Allah SWT.

Seyyed Hossein Nasr (2003: 97-98) menyatakan bahwa Nabi SAW juga memberikan ajaran-ajaran esoterik kepada lingkaran khusus para Sahabat. Di antara yang paling terkemuka adalah Ali ibn Abi Thalib, yang menjadi garis penghubung antara Nabi dan hampir semua kelompok Tarekat Sufi melalui pengajaran secara rahasia (silsilah barzakhi) dari tiap-tiap generasi sufi sampai Nabi SAW. Selain Ali, ada pula Abu Bakar dan Salman al-Farisi yang kedua-duanya mempunyai peran penting dalam sejarah awal perkembangan ajaran tasawuf dan tarekat.

Di samping nama-nama sahabat di atas, masih banyak lagi para sahabat yang mengamalkan ajaran-ajaran tentang kesederhanaan, tawadlu’, dan amalan kerohanian yang lain. Semisal Umar ibn Khattab, Utsman ibn Affan, Khudaifah ibn al-Yaman, dan al-Barra` ibn Malik.[2] Selain itu, ada seseorang yang secara mistik dihubungkan dengan Nabi saw, namun ia tidak pernah bertemu Nabi saw secara langsung. Ia adalah Uways al-Qarani. Menurut cerita, Muhammad saw mengetahui kesalehan Uways dan mengucapkan kata-kata yang terkenal ini, Nafas al-Rahman datang kepadaku dari Yaman. Uways bagi para sufi dianggap sebagai prototip seorang sufi yang menerima ilham, yang semata-mata dibimbing oleh kemurahan Ilahi, serta yang mengenal Nabi saw tanpa mengadakan hubungan kontak luar secara langsung (Annemarie Schimmel, 2000: 34).

Walhasil, pada masa Nabi SAW dan sahabat, ajaran-ajaran tasawuf masih sangat alami dan sederhana. Ajaran-ajaran tasawuf terbingkai dalam term-term moral/akhlak. Semisal kesederhanaan, tawadhu’, wara’, sabar, amal saleh, dan lain sebagainya. Sedangkan manifestasi ajaran tasawuf dapat dilihat dari amaliyah Rasul dan para sahabatnya yang terdapat dalam al-sirah al-

[1] Hadis tentang iman, islam, dan ihsan merupakan hadis yang berupa dialog antara Jibril dan Rasulullah yang disaksikan oleh para sahabat. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Umar ibn al-Khattab.

[2] Penjelasan lebih lengkapnya bisa dibaca di As’ad al-Sahmarani, al-Tashawwuf; Mansya`uhu wa Mushtholahatuhu, Beirut: Dar al-Nafa`is, 1987, h. 82-104 atau di kitab manaqib para sahabat yang lain.

Tinggalkan Balasan