Falsafah ibadah haji

Pada umumnya orang yang sudah mengerjakan ibadah haji merasa sudah menjalankan kewajiban dan akan terbebas dari siksa. Namun menurut AlGhazali tidaklah demikian. Seseorang yang melaksanakan ibadah haji seharusnya merasa khawatir apabila ia tidak mendapatkan kedekatan dengan Allah yang membuat masuknya ia ke Tanah Haram menjadi sia-sia dan mendapatkan murka. Dan perasaan seperti itu hendaknya dijaga seterusnya sampai kembali lagi kerumah. Karena inilah salah satu hal yang akan menjadi pengait yang akan selalu menuntun kepada Allah.

Masing-masing syarat dan rukun haji mempunyai filosofi yang dalam. Niat, menurut Ali Syariati sebagai permulaan ibadah dilakukan sambil mengenakan pakaian ihram. Niat menuju rumah Allah, meninggalkan kesombongan untuk berserah diri kepada Allah. Meninggalkan penghambaan untuk memperoleh kemedekaan; meninggalkan diskriminasi rasial untk mencapai persamaan, ketulusan, dan kebenaran; meninggalkan pakaian untuk bertelanjang; dan meninggalkan hidup sehari-hari untuk memperoleh kehidupan yang abadi.

Titik awal memakai ihram atau miqat adalah awal sebuah perubahan. Dengan berganti pakaian ihram yang seragam dengan semua jamaah haji. Pakaian yang menjadi penutup watak seseorang yang melambangkan status dan perbedaan-perbedaan tertentu. Dari pakaian-pakaian yang dilepas itu umat manusia terpecah menjadi berbagai kelas. Memakai pakian ihram berarti menjadi manusia sesungguhnya, tanpa batasan kelas yang menutupinya.

Mengelilingi Ka’bah tujuh kali bersamaan dengan lautan manusia yang berada di dalam perasaan penuh haru. Ka’bah seperti matahari yang merupakan pusat dari sistem tata surya, dan manusia-manusia yang mengellinginya itu bak bintang-bintang yang beredar didalam orbitnya. Thawaf, mengelilingi Kabah tujuh kali, melambangkan jumlah hari dalam satu minggu, atau suatu upaya yang tiada kenal henti untuk berjuang. Namun perjuangan itu harus tetap berpusat pada prinsip sebagai pedoman putaran, dan Allah adalah segala pusat prinsip yang harus selalu dipegang.

Thawaf menggambarkan larut dan meleburnya manusia dalam hadirat illahi, atau dalam istilah kaum sufi al-fana’ fillah. Ketika melakukann thawaf seseorang tidak melakukannya hanya semata-mata mengelilingi Ka`bah dengan tubuh, melainkan hati juga ikut hadir dalam gerakan mengelilingi Kabah itu dengan selalu mengingatNya. Dan ketika mencium Hajar Aswad, seseorang membayangkan bahwa dia sedang menjalin sumpah kesetiaan kepada Allah dan akan mematuhiNya.

Berlari-lari kecil 7 kali (Sa’i) adalah sebuah proses mencari. Jadi ia adalah gerakan yang memiliki tujuan dan di gambarkan dengan gerakan berlari-lari serta bergegas-gegas. Sebuah harapan kepada pertolongan Allah. Mengharapkan bantuan serta rahmat dan kasih sayang-Nya. Sa’i melambangkan ketetapan hati dan uhaha tanpa kenal lelah untuk mencari pertolongan. Sebuah kewajiban manusia untuk berusaha tanpa putus asa. Lalu Allah yang akan memberikan keberkahan rezeki dan keselamatan.

Seperti yang dikatakan oleh Quraish Shihab sa’i menggambarkan usaha manusia mencari hidup, yang dilakukan begitu selesai thawaf, agar melambangkan bahwa kehidupan dunia dan akhirat merupakan satu kesatuan dan keterpaduan. Terkait amalan ini AlGhazali menggambarkannya sebagai sebuah pencarian ridho Allah dalam setiap langkah sa’i. Diibaratkan sebagai bolak baiknya seorang hamba dipelataran istana rajanya berharap perhatian dan kasih sang raja tanpa tahu apakah harapannya itu terkabul atau tidak. Berharap dikabulkan pada langkah yang selanjutnya.

Wukuf di padang Arafah, tempat seseorang menemukan ma’rifah atau pengetahuan sejati tentang jati diri dan menemukan kesadaran betapa besar dan agung Tuhan yang kepada-Nya bersimbah seluruh makhluk. Dari sini seseorang akan mampu menjadi orang yang bijaksana dan menyaksikan kehadiranNya dengan hati. Dan ketika seseorang bisa menemukan hakikat wukuf berarti dia menemukan makna haji sebenarnya, karena wukuf adalah inti dari ibadah haji itu sendiri sebagaimana yang disabdakan oleh baginda Nabi.

Sedangkan melempar jumrah dimaksudkan sebagai bentuk kepatuhan terhadap perintah dan menunjukkan penghambaan semata-mata karenaNya dan mengikuti Nabi Ibrahim dalam mengusir setan dengan melemparinya dengan batu saat setan tersebut menggodanya untuk meninggalkan perintahNya. Secara lahir seseorang melontar batu ke Aqabah, padahal pada hakikatnya dia melontar dengan batu-batuan itu wajah setan dan menghancurkannya. Semuanya dilakukan dengan niat hanya mengikuti perintahNya. Dan dari sinilah timbul pengagungan kepadaNya tanpa memikirkan diri sendiri dan akal.

Saat singgah di Mina, yang berarti tempat menumpahkan darah, jamaah haji menyembelih binatang dan melempar jumrah. Menyebelih nafsu hewani yang ada pada setiap manusia yang selalu menipu manusia untuk menuruti nafsu kehewanan dan melempar batu sebagai simbol perlawanan terhadap setan. Dan di sini dianjurkan untuk banyak mengucapkan kalimat takbir “Allahu Akbar”. Dan sebagai ritual terakhir dari ibadah haji adalah tahallul. Yaitu memotong sebagian rambut atau sebagiannya. Sebuah simbol membersihkan dosa-dosa yang menempel pada diri manusia.  Menanggalkan segala dosa-dosa lahir maupun batin dan bertekad untuk tidak lagi mengulanginya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *