Ibadah haji sebagai sarana pendekatan diri

Dalam ajaran tasawwuf, tujuan akhir manusia adalah untuk mengetahui dan memahami eksistensi Allah dengan sebaik-baiknya. Kemudian berusaha selalu menghadirkanNya dalam setiap perbuatan bahkan nafas. Sehingga semua bentuk ibadah yang diperintahkanNya (sholat, zakat, puasa, haji, dll) adalah sarana yang diciptakanNya kepada manusia untuk bisa lebih mendekat.

Ibadah sholat adalah ibadah vertikal antara hamba dan Tuhannya yang bertujuan untuk memberikan manusia kesempatan untuk lebih mendekat, agar manusia bisa merasakan betapa butuhnya dia di depanNya. Zakat yang merupakan ibadah sosial juga merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepadaNya. Seseorang yang menunaikan zakat dengan sadar akan pemberian rizki yang hanya dariNya. Kemudian dia mau menyisihkan sebagian rizki tersebut untuk diberikan kepada yang berhak atas perintah sang pemberi rizki itu. Karena pada hakikatnya semua miliknya adalah titipan sementara yang tidak boleh digunakan dengan sekehendak hati belaka.

Begitu juga dengan ibadah haji. Ibadah ini adalah rangkaian ritual yang mempunyai makna yang sangat dalam. Ali Syariati memaknai ibadah haji bukanlah sekedar mengerjakan ritual-ritual yang disyaratkan saja seperti thawaf, sa’i, melempar jumrah dan wukuf.  Lebih dari itu ia memaknai ibadah haji adalah media untuk menjadi manusia yang lebih sempurna.

Dalam bukunya, makna haji, Ali Syariati menjelaskan bahwa hal terpenting yang harus dilakukan oleh umat muslim adalah melepaskan hasrat duniawi dan menggantinya dengan dengan semangat ridha Allah. Hal ini digunakan untuk menggali makna tasawwuf dari ibadah haji tersebut. Dengan berbekal pakaian ihram, seorang muslim pergi mencari ridhoNya dan melepaskan diri dari segala hal yang berhubungan dengan keduniaan. Dengan pakaian yang sederhana itu, seseorang dapat menyadari akan segala keterbasannya di hadapanNya. Sesaat seseorang berada di padang Arafah, mereka merasakan terik matahari yang menyengat yang mengingatkan kepada panasnya ancaman padang mahsyar bagi orang-orang yang tidak beriman. Sebuah “ruang tunggu” dimana seseorang akan diadili berdasarkan kualitas iman dan amalnya sewaktu di dunia. Dan jumrah Aqabah sebagai simbol perlawanan terhadap setan yang menjadi musuh abadi anak cucu Adam as. Sebuah refleksi yang harus direnungi oleh setiap orang yang melaksankan ibadah haji, agar hajinya menjadi haji yang mampu mengantarkan pada perbaikan kualitas iman dan hubungannya dengan Allah.

Seorang tokoh tasawwuf terkenal, Imam AlGhazali, melakukan revolusi di dunia Islam dalam hal kelimuan. Dia berhasil memadukan antara ajaran lahiriyah sebuah Ibadan dan sisi batinnya. Tidak seperti para tokoh Islam sebelumnya yang memisahkan antara ajaran tasawwuf dan fikih, dia berhasil memberi sentuhan tasawwuf pada keilmuan fikih. Sehingga apa yang ada di dalam ajaran Islam tidak terasa kering dari siraman kesejukan cahaya keimanan yang dalam.

AlGhazali menjabarkan makna dan hakikat ibadah haji dalam ihya ulumiddin. Mengomentari niat ibadah haji, dia mengatakan bahwa jika seseorang ingin diterima hajinya, pertama-tama harus laksanakan perintah-perintah-Nya, mengembalikan apa-apa yang diperoleh dengan zhalim, bertaubat kepada-Nya dari semua maksiat, dan memutuskan keterkaitan hati dengan selain Dia, agar saat menghadap kepada-Nya dengan hati yang bersih sebagaimana menghadap kepada rumah-Nya dengan tubuh yang bersih.

Ibadah haji hanya diwajibkan bagi yang mampu. Ada dua kriteria mampu; yaitu kemampuan melaksanakan sendiri, dan kemampuan menyewa orang lain untuk melaksanakn haji. Terminologi mampu sekali dalam hidup menurut al-Ghazali dinamakan hajjah al-Islam. Sementara haji yang dilakukan lebih dari sekali disebut haji sunah.

Haji baik kriteria yang pertama atau yang kedua  semua dianggap sah jika memenuhi syarat-syarat dan rukunnya. Namun perbuatan memenuhi melaksanakn syarat dan rukun haji tersebut hanya perbuatan lahiriah saja. Sedangkan yang bersifat batiniah terkandung dalam lahiriahnya.

Makna esoterik haji tersimpan dalam simbol yang dikandungnya, ritual haji sarat dengan makna simbolik. Haji bermakna perjalanan dari rumah menuju Mekah merupakan lawatan dari dunia menuju akhirat.  Sementara perjalanan ke baitullah dimaknai sebagi perjalanan hijrah untuk meninggalkan prilaku yang memperturutkan hawa nafsu. Sedangkan makna larangan melakukan hal yang mengotori kesucian haramain seperti membunuh binatang dan menebang pepohonan adalah penyucian tangan dari perbuatan zalim sembari menumbuhkan cinta kasih. Pakaian ihram yang tidak dijahit adalah simbol melepaskan ego. Tawaf tidak sekedar badan, naum pikiran dan hati juga melakukannya. Ka’bah adalah representasi kehadiran tuhan yang tidak dapat ditangkap pancaindera. Dan mencium hajar aswad merupakan ikrar ketaatan kepadaNya.

Tanda-tanda haji mabrur menurut sebagian ulama adalah ketika dalam pelaksanaannnya tidak tercampur oleh perbuatan tercela. Namun menurut al-Ghazali ciri haji mabrur adalah saat seseorang selesai melaksanakan haji dia menjadi zuhud terhadap urusan dunia, gemar pada amalan akhirat dan menyiapkan diri menyongsong perjumpaan dengan Allah. Mabrurnya ibadah haji juga tidak ditentukan oleh perbuatan selama ibadah saja, namun sejak sebelum keberangkatan. Di tandai dengan kehalalan harta yang digunakan, menjaga diri dari perbuatan tercela selama mengerjakan, dan menjadi individu yang zuhud saat semua ritual haji selesai dilaksanakan.

AlGhazali membagi ibadah haji kedalam dua kategori, amalan haji yang bersifat zhahir dan hakikat atau rahasianya. Diantara amalan zahir adalah pertama, memulai maksud menunaikan haji dengan bertaubat, membayar utang-utang, mengembalikan barang-barang yang didapat dengan berbuat zhalim kepada pemiliknya, mengembalikan titipan-titipan dan amanah-amanah kepada yang berhak, dan menyiapkan nafkah bagi orang-orang yang wajib ia nafkahi selama ia melakukan perjalanan. Semuanya dilakukan untuk memenuhi kewajiban dan urusan dengan sesama manusia.

Kemudian menjadikan teman yang baik sebagi teman perjalanan agar perjalanannya menjadi lebih baik dan saling mengingatkan kepada kebaikan. Dan ketika akan berangkat dari rumahnya, hendaknya ia melafalkan doa safar (bepergian) kepada Allah dengan ikhlas. Dan ketika sudah sampai di miqat hendaknya berniat ihram dan memulai talbiyah dengan mengucapkan kalimat talbiyah (Labbaik, Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik. Innal-hamda wan-ni`mata laka wal-mulk, la syarika lak).

Mengenai talbiyah ini AlGhazali berpendapat artinya adalah memenuhi panggilan Allah. Maka dari itu, hendaknya seseorang berharap agar ia diterima hajinya dan merasa khawatir akan tertolaknya ibadah. Karena talbiyah merupakan awal dari ibadah ini dan tempat talbiyah itu merupakan tempat yang penting.

AlGhazali menyarankan akan pentingnya adab saat perjalanan haji. Yaitu dengan mengkhususkan diri untuk melakukan haji dan memutuskan segala hubungannya dengan dunia. Itu dilakukan dengan melakukan taubat yang murni semata-mata karena Allah dari semua kesalahan kepada sesama manusia dan hubungan dengan Allah. Hal itu harus dilakukan karena kesalahan seperti pengait yang akan menarik siapa saja yang akan pergi menuju Allah seolah mengingatkan bahwa dia tidak akan diterima ibadahnya selagi pengait itu masih menempel di tubuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *