Pengertian dan makna haji mabrur

Haji yang mabrur jauh berbeda dengan apa yang dinamakan dengan haji yang sah pelaksanaannya menurut fikih. Mabrur berarti ibadah haji yang diterima Allah, dan sah mempunyai makna bahwa seseorang telah menunaikan kewajiban haji, terlepas dari apakah hajinya diterima atau tidak. Kemungkinan haji seseorang sah, sehingga kewajiban berhaji baginya telah gugur. Tetapi tidak ada jaminan bahwa ibadah haji yang sah pasti juga diterima oleh Allah.

Terkait hal ini Ibnu Rajab mengatakan “Yang hajinya mabrur sedikit, tapi mungkin Allah memberikan karunia kepada jamaah haji yang tidak baik lantaran jamaah haji yang baik.” Ini menunjukkan bahwa tidak semua haji yang sah adalah diterima disisi Allah sebagai haji yang bisa memberi manfaat lebih pada pelakunya.

Salah satu hadis Nabi yang sangat populer berikut dapat menjadi pijakan mengapa seseorang yang melakukan ibadah haji akan mengejar haji mabrur

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Haji yang mabrur tidak lain pahalanya adalah surga” (HR Bukhari dan Muslim)

Bahwa tidak ada balasan bagi haji mabrur selain surga. Sebuah ganjaran yang paling dinantikan setiap orang. Sedangkan kenikmatan paling indah adalah bukan surga itu sendiri, namun melihat “wajah” Allah sesuai dengan ukuran keimanan dan ketakwaan masing-masing.

Haji mabrur sering diterjemahkan sebagai haji yang diterima oleh Allah SWT, dengan kata lain haji mabrur ialah haji yang mendapat kebaikan atau haji yang pelakunya menjadi baik. Haji mabrur adalah haji yang menjadikan orang setelah melakukan atau sepulang ke kampung halamannya memiliki komitmen sosial yang lebih kuat.

Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa dari segi diterima atau tidaknya, ibadah haji terbagi menjadi dua yaitu haji maqbul (haji yang diterima) dan haji mardud (haji yang tertolak). Haji yang diterima ini diberi batasan sebagai ibadah haji yang tidak dicampuri dengan dosa dan terbebas dari riya’. Adapun haji mardud dibatasi oleh ciri-ciri bercampur dosa dan keharaman. Haji maqbul akan mengantarkan kepada perbaikan diri, sedangkan haji mardud tidak mempengaruhi apapun terhadap kualitas hidup pelakunya.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Quraish Shihab, Ibadah haji yang diterima dan menghantarkan pada kualitas hidup yang lebih baik sering disebut dengan haji mabrur. Yaitu sebuah ibadah haji yang ditandai dengan berbekasnya makna simbol-simbol amalan yang dilaksanakan di tanah suci, sehingga makna-makna tersebut terwujud dalam bentuk sikap dan tingkah laku sehari-hari. Dan ibadah haji yang diterima berarti hajinya adalah mabrur.

Paling tidak, dari sisi lahiriyah kemabruran haji dapat diukur dari peningkatan kualitas ibadah. Kualitas sholatnya lebih baik, dengan menjaga waktunya, dilaksanakan dengan ikhlas, khusyu’, rendah diri dan menjauhkan diri dari perbuatan maksiat dan kemungkaran. Puasa dilakukan dengan sepenuh hatu dan membayarkan zakat sesuai dengan takaran yang ditentukan. Semua ibadah lahiriyah dilakukan dengan baik dan semakin meningkat.

Di sisi lain, haji mabrur dapat dideteksi dari beberapa hal berikut:

  1. Harta yang dipakai untuk haji adalah harta yang halal.

Uang yang dipakai untuk mengurus semua yang terkait ibadah haji berasal dari uang yang halal. Hal ini sangat rasional karena Allah pasti tidak akan menerima segala bentuk ibadah yang dilakukan dari hasil yang tidak halal. Artinya, jika seseorang memakai uang hasil dari cara-cara yang haram sudah pasti hajinya tidak mabrur dan ditolak.

  1. Segala amaliyah ibadah haji dilakukan dengan ikhlas dan baik.

Seseorang melaksanakan syarat dan rukun haji dengan baik dan ikhlas dapat menjadi salah satu tolok ukur apakah hajinya mabrur dan diterima atau tidak.

  1. Selama berhaji tidak melanggar aturan Allah

Sudah barang tentu jika seseorang melanggar aturanNya saat berhaji, dia tidak akan diterima hajinya. Seperti semua bentuk kekejian dan perkara yang tidak

berguna. Termasuk di dalamnya bersenggama, bercumbu atau

membicarakannya, meskipun dengan pasangan sendiri. Karena hal tersebut dilarang saat haji.

  1. Menjadi pribadi yang lebih baik setelah pulang ke negeri masing-masing

Ibadah haji seperti tempat menempa diri. Dimana seseorang akan mendapatkan hasil yang baik bagi dirinya sendiri jika serius melakukannya. Begitu juga sebaliknya jika tidak dilakukan dengan baik maka tidak akan berpengaruh apapun terhadap dirinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *