Dialog Antar Agama Dalam Konsep Dunia Modern

Dialog antar agama di masa modern dimulai sekitar abad ke 20. Guna mengakomodasi hubungan antara agama-agama pada level internasional, maka pada tahun 1958, di Tokyo, diadakan kongres internasional oleh The International Association for The History of Religion. Dalam Kongres itu Friedrich Heiler dari Marburg menerangkan bahwa memberi penerangan tentang kesatuan semua agama merupakan salah satu dari tugas-tugas yang amat penting dari ilmu agama.[1]

Friedrich Heiler (w.1967) mengatakan bahwa orang yang mengakui kesatuan agama, harus memegangnya dengan serius dengan toleransi dalam kata-kata dan perbuatan. Di sini Heiler melihat betapa dekatnya agama-agama itu satu sama lainnya; dengan membandingkan strukturnya, keyakinan dan amalan-amalannya, ia dibawa kepada suatu yang transenden yang melampaui semua namun tetap imanen dalam hati manusia. Oleh karena itu, studi ilmu perbandingan agama merupakan pencegah paling baik untuk melawan eksklusivisme, karena ia mengajarkan cinta; di mana ada cinta tentu di situ ada kesatuan dalam jiwa.[2]

Di akhir pidatonya dalam kongres tersebut , Heiler menganalogikan pentingnya ilmu perbandingan agama dengan apa yang dilakukan oleh Helmholtz, penemu kaca mata, yang telah membantu jutaan orang yang sakit mata. Hal demikian juga berlaku bagi studi ilmiah tentang agama, usahanya untuk mencari kebenaran membawa akibat-akibat yang penting bagi hubungan yang praktis antara agama satu dengan lainnya.[3]

Dalam kasus dialog antara Islam dan Kristen, menurut Hassan Hanafi[4] keduanya mempunyai dua karakteristik ideal (ideal types) yang kaya untuk dikomparasikan dan selanjutnya bisa mengantarakan kepada suatu commonplatform. Dialog perlu dilakukan dengan mengedepankan prinsip humanisme, karena antara Islam dan Kristen mempunyai pandangan yang kosmopolit mengenai manusia yang lebih memudahkan untuk melakukan komparasi antara dua dimensi: antropologis dan teologis. Tuhan dan manusia, menurut Hanafi, merupakan kata kunci bagi timbulnya persatuan dan perpecahan antara kultur modernitas dan kultur tradisional atau antara Kristen dan Muslim di Timur.

Ada beberapa alasan keraguan sementara orang-orang muslim menanggapi dialog agama ini. Gerakan dialog ini adalah murni inisiatif Kristen Barat dan orang-orang Islam merasa diri mereka sebagai tamu yang diundang, tidak memiliki agenda dan merasa hasil yang bisa dicapai dari dialog ini sedikit. Keyakinan mereka bahwa misi Kristen merupakan agenda tambahan atas kolonialisme yang sering dilakukan orang-orang Kristen menambah ketidakpercayaan terhadap agenda Kristen dan dialog tersebut ditakutkan oleh orang-orang muslim sebagai agenda tersembunyi dari agenda evangelism. Ketidakpercayaan ini ditambah dengan ketidakadilan global Barat, khususnya dalam konflik Israel-Palestina.[5]

Sayyed Hossein Nasr menawarkan kajian agama dengan philosophia perennis,[6] karena dia melihat bahwa banyaknya kajian keagamaan di Barat kurang memahami bahwa realitas agama sebagai agama dan bentuk-bentuk yang sakral sebagai realitas ilahi. Sesuatu yang hilang di Barat dalam kajian agama adalah suatu pengetahuan yang bisa memandang agama secara adil, yaitu dengan menggunakan perennial wisdom yang berada dalam -hati- semua tradisi-tradisi keagamaan. Philosophia perennis merupakan pengetahuan yang berada pada dalam -hati- agama yang bisa menerangkan makna ritus-ritus keagamaan, doktrin-doktrin dan simbol-simbol. Philosophia perennis juga menyediakan kunci untuk memahami pentingnya pluralitas agama dan metode untuk masuk kepada dunia agama lain tanpa mereduksi signifikansi atau menghilangkan komitmen kita kepada dunia agama yang menjadi kajian kita. Philosophia perennis akan mengkaji agama dari segala aspeknya; Tuhan dan manusia, wahyu dan seni yang sakral, simbol-simbol dan images, ritus-ritus dan hukum-hukum agama, mistisisme dan etika sosial, metafisika, kosmologi dan teologi.[7]

Dialog antar umat beragama yang benar dapat menimbulkan pemahaman dan pencerahan kepada umat dalam wadah kerukunan hidup antar umat beragama. Dalam dialog ini diperlukan sikap saling terbuka antar pemeluk agama yang berdialog. Sebenarnya menganggap bahwa agama yang dipeluk itu adalah agama yang paling benar bukanlah anggapan yang salah, bahkan yakin bahwa agama yang ia peluk adalah agama yang paling benar, dan orang lainpun dipersilahkan untuk meyakini bahwa agama yang ia peluk adalah agama yang paling benar. Malapetaka akan timbul apabila orang yang yakin bahwa agama yang ia peluk adalah agama yang paling benar, lalu beranggapan bahwa karena itu orang lain harus ikut ia untuk memeluk agama yang ia peluk.[8]

Pada pihak Kristen, menurut Kate Zebiri[9] sikap keterbukaan terhadap agama lain telah melahirkan gerakan antar iman yang pada dekade terakhir terekspresikan dalam dialog yang terorganisir. Vatikan telah mendirikan sekretariat bagi agama non-Kristen (Pasific Council for Interreligious Dialogue-PCID) pada tahun 1964 yang mempunyai misi mempromosikan kajian tradisi-tradisi agama lain dan mensponsori dialog antar iman (interfaith dialogue). Vatican II (1962-1965) juga telah mengeluarkan dokumen yang berisi tentang penghormatannya terhadap orang-orang muslim, karena mereka menyembah Satu Tuhan Yang Maha Hidup, Abadi, Pengasih dan Perkasa. Mereka juga tunduk sepenuh hatinya kepada takdir Tuhan, sebagaimana yang dilakukan Ibrahim yang merupakan sandaran keimanan Islam. Walaupun mereka tidak mengakui bahwa Yesus sebagai Tuhan tetapi mereka mengakuinya sebagai Nabi. Mereka juga menghormati Maryam, Ibu Yesus yang suci. Mereka juga menantikan Hari Perhitungan.

Sementara Charless A. Kimball mengemukakan model dialog yang berbeda, Pertama, dialog  parlementer (parliamentary dialogue).[10] Dialog ini dilakukan dengan melibatkan tokoh-tokoh umat beragama di dunia. Tujuannya adalah mengembangkan kerjasama dan perdamaian antarumat beragama di dunia. Kedua, dialog kelembagaan (institutional dialogue). Dialog ini melibatkan organisasi-organisasi keagamaan. Tujuannya adalah untuk mendiskusikan dan memecahkan persoalan keumatan dan mengembangkan komunikasi di antara organisasi keagamaan. Ketiga, dialog teologi (theological dialogue). Tujuannya adalah membahas persoalan teologis filosofis agar pemahaman tentang agamanya tidak subjektif tetapi objektif. Keempat dialog dalam masyarakat (dialogue in society). Dialog jenis ini adalah dialog masyarakat dalam kehidupan sehari-hari dalam menyelesaikan masah mereka. Kelima dialog kerohanian (spiritual dialogue). Dialog ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas spirituall penganut agama-agama dengan melakukan kegiatan dialog antar pemeluk agama.

Hans Kung agak berbeda pendapat dalam kategorisasi dialog. Dia membuat tiga kriteria dialog dari sisi sistem berdialog menajdi tiga. Pertama menurut kriteria etika umum, sebuah agama benar dan baik jika dan sejauh ia manusiawi, tidak menindas dan menghancurkan umat manusia, tetapi melindungi dan bahkan lebih dari itu. Kedua,  menurut kriteria keagamaan umum, sebuah agama benar dan baik jika dan sejauh ia tetap benar pada sumber atau dalil-dalil aslinya, pada ‘sifat’ otentiknya, kitab suci dan tokohnya, dan secara terus Public Lecture Hans Küng menerus merujuk pada hal tersebut. Ketiga, menurut kriteria Kristen, khususnya, sebuah agama benar dan baik jika dan sejauh ia menunjukkan spirit Yesus Kristus dalam teori dan praksisnya.

Leonard Swidler, merumuskan prinsip-prinsip yang harus ada dalam dialog.[11] Yang pertama adalah adanya keinginanan untuk belajar dengan cara banyak mendapatkan pengetahuan yang luas tentang bermacam agama-agama yang ada. Yang bertujuan agar dapat memahami serta mengetahui keberagaman agama-agama lain agar terciptanya pemahaman agama lain yang kemudian bisa dijadikan sebagai sebuah pemahaman bahwa agama-agama lain mempunyai tata cara peribadatan yang memiliki dasar dan prinsip masing-masing.

Kedua, melakukan pendekatan dialog dua arah. Hal ini dilakukan agar tidak ada keberpihakan satu paradigma dan satu pemahaaman agama yang dianut saja. Dan dialog ini dilakukan bertujuan agar didapat pemahaman yang baru dari dua sudut pandang agama yang berbeda.

Ketiga, adanya sikap jujur . Hal ini sangat menjadi lantasan penting  untuk mengarahkan pembicaraan menjadi lebih mendalam. Setiap pemeluk agama diharapkan memiliki sifat jujur terhadap urusan internal agamanya. Hal ini dilakukan untuk menjaga transparansi atau keterbukaan dan menghindari situasi menjadi tidak saling percaya atas apa yang disampaikan karena saling menutupi dalam proses dialog.

Keempat, adanya perbandingan yang adil. Dalam proses dialog tentu akan tercipta roses perbandingan antara afiliasi sikap umat beragama dengan doktrin keagamaan. Penulis sendiri meyakini bahwa setiap agama mengajarkan hal-hal yang mengarah pada kebaikan bersama. Namun kerap kali umat beragama seakan lupa akan doktrin kebaikan yang diajarkan agamanya itu. Perbandingan tersebut harus disertai juga dengan prinsip keadilan, sehingga dalam proses dialog tidak terjadi perdebatan yang mengarah pada keberpihakan terhadap satu agama yang dianut.

Kelima, adanya identitas yang otentik. Setiap peserta dialog diharuskan menggambarkan realitas yang sesungguhnya terjadi pada diri serta agamanya. Hal ini penting dalam menjaga keotentikan suatu cara pandang. Misalnya dalam dialog antara umat Islam dan Kristen, umat Islam harus menjelaskan realitas yang terjadi di agamanya sendiri secara jernih. Begitupun dengan umat Kristiani. Dalam hal ini tidak diperkenankan umat islam menjelaskan hal-hal yang terjadi dalam agama kristiani, begitupun sebaliknya.

Keenam, menghilangkan prasangka buruk. Ini sangat penting dalam upaya menjaga keharmonisan antar pemeluk agama. Biasanya, setiap pemeluk agama yang diajak untuk berdialog, terutama mengenai hal-hal yang bersifat teologis, selalu berada dibawah bayang-bayang kekhawatiran akan adanya hal buruk yang memungkinkan terjadi setelah proses dialog. Misalnya, seringkali ada yang beranggapan bahwa proses dialog tersebut adalah salah satu cara berdakwah demi mempromosikan ajaran-ajaran agama yang bersangkutan. Padahal, alangkah lebih baik bila setiap pemeluk agama tidak berprasangka buruk seperti demikian. Karena, sebagaimana berulangkali ditegaskan, visi dari adanya dialog agama-agama bukan untuk berdakwah melainkan untuk saling mengenal dan menjalin komunikasi antar pemeluk agama.

Ketujuh, ketujuh adalah adanya kesetaraan. Hal ini memberikan stimulus bahwa tiap agama memiliki kebaikannya masing-masing. Prinsip kesetaraan di sini digambarkan bahwa tiap pemeluk agama tidak berhak untuk merasa paling benar dari agama lain. Prinsip kesetaraan harus dibangun dalam kerangka menjaga keharmonisan antarsesama pemeluk agama.

Kedelapan, adalah adanya rasa saling percaya. Masing-masing pemeluk agama diharuskan memiliki sikap saling percaya demi meruntuhkan segala macam prasangka buruk dalam mengkonsolidasikan dialog agama-agama ini. Sikap saling percaya juga perlu ditumbuhkan supaya bisa memperkuat tingkat keharmonisan dalam proses bermasyarakat.

Kesembilan, dibutuhkan sikap kritis terhadap tradisi sendiri.Setiap agama tentu memiliki tradisinya masing-masing. Demi menciptakan proses dialog yang sehat, diperlukan pula sikap kritis terhadap tradisinya sendiri. Dengan demikian, sikap kritis ini diharapkan mampu menumbuhkan dorongan saling mengisi antara tradisi pada suatu agama dengan tradisi di dalam agama lainnya. Karena salah satu tujuan adanya dialog agama ini adalah untuk belajar, maka mustahil apabila tradisi setiap agama mampu menjawab berbagai persoalan di dunia.

Kesepuluh, adalah merasakan dari dalam. Poin terakhir inilah yang menjadi pokok dalam mewujudkan sikap keharmonisan yang erat di antara para pemeluk agama. Memang, poin terakhir ini secara pandangan umum dianggap melewati batas otoritas. Namun poin ini teramat perlu  demi menangkal tindakan anarkis dan kaku dalam memahami agama. Prinsip yang terakhir ini populer dengan sebutan “passing over”, sebuah upaya demi merasakan kesejukan dari agama lain di luar agama yang kita anut. Prinsip Passing Over ini bisa dikatakan sebagai tingkatan paling tinggi di antara tahapan-tahapan dialog antar iman. Konsep yang diperkenalkan oleh Prof. Leonard Swidler ini menjadi sebuah upaya penting dalam mewujudkan dialog agama-agama yang lebih erat dan harmonis.

Dialog pada era modern dapat disimpulkan sebagai dialog yang mengedepankan keterbukaan dan saling memahami antar kelompok. Dialog pada era ini mempunyai karakteristik pemecahan permasalahan sosial yang ada disemua kelompok didunia dari berbagai latar belakang suku, agama, dan negara.

Yusuf Altuntas dalam KONTRIBUSI GERAKAN FETHULLAH GÜLEN DALAM MEMBANGUN DIALOG LINTAS AGAMA DI TURKI

[1]Najiyah Martiam (ed), Jalan Dialog Hans Kung dan Perspektif Muslim (Yogyakarta: Penerbit Mizan, 2011), 15.

[2]M. Zainuddin, “Pluralisme dan dialog antar umat beragama,” Jurnal Al-Risalah 12, No. 2 (November 2012): 282.

[3]Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia (Bandung: Mizan, 1998), 84-86.

[4]H{assan H{anafi, Religious Dialogue and Revolution, Essay on Judaism, Christianity and Islam (Cairo: The Anglo Egyptian Bookshop, 1977), 13.

[5]M.Zainuddin, “Pluralisme dan Dialog Antar umat Beragama,” Jurnal Al-Risalah 12, No. 2 (November 2012): 283.

[6]Hans Kung, “Sabuah Model Dialog Kristen-Islam,” Jurnal Pemikiran Islam Paramadina 1, no.1 (Juli-Desember, 1998): 32. Filsafat perennial adalah satu perspektif yang memandang adanya “kesatuan transenden” pada setiap agama dan tradisi otentik

[7]M. Zainuddin,“Pluralisme dan Dialog antar Umat Beragama,” Jurnal Al-Risalah 12\, no. 2 (November 2012), 283.

[8]Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama, (Bandung: Mizan, 1998), 67-68.

[9]Kate Zebiri, Muslims and Christians, Face to Face (Oxford: Oneworld, 1997), 34-36.

[10]Charles A. Kimball, Muslim-Christian Dialogue, http://www.oxfordislamicstudies.com/article/opr/t236/e0567 (diakses pada tanggal 19 November 2014).

[11]http://academic.regis.edu/palexand/Dialogue%20in%20the%20interreligious%20swidler.pdf (diakses pada tanggal 21 November 2014).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *