Dialog Antar Agama Sebagai Solusi

Perkembangan konsep dialog sudah mencapai titik temu antara berbagai kelompok agama. Beberapa kelompok agama sudah mendukung gerakan dialog antar agama yang mulai banyak membuahkan hasil. Hal ini merupakan kabar gembira bagi perkembangan perdamaian. Berbagai kelompok agama sudah menyadari akan pentingnya dialog demi sebuah masa depan yang lebih baik.

Beberapa kelompok tertentu yang menolak gagasan dialog tidak dapat memberikan kontribusi nyata dalam usaha mereka menciptakan perdamaian dunia. Oleh karenanya hal ini menjadi tidak relevan lagi untuk dipertahankan sebagai sebuah sikap, sementara disisi lain ada beberapa kelompok yang bergerak dengan bergandengan tangan antar pemeluk agama untuk mencapai tujuan yang lebih luas.

Dalam agama Budha konsep dialog sudah dipublikasikan.[1] Masao Abe, dalam buku tersebut memberi penjelasan bahwa bagaimana mungkin manusia menemukan dasar-dasar spiritual umum dalam dunia yang plural tanpa mempertemukan beberapa karakteristik yang unik dari setiap budaya dan tradisi spiritual yang berbeda. Dalam hal ini Masao Abe menekankan bagaimana kedua golongan yang berbeda tersebut bisa bertemu dan bersama-sama menemukan dasar spiritual antar keduanya.

Dalam masyarakat Jepang sudah banyak muncul kesadaran dialog. Paling tidak dalam agama besar di negara itu, yaitu Budha dan kristen.[2] Mereka sudah memperhatikan misi dialog dalam perdamaian. Sebuah usaha untuk mempertemukan dua kelompok yang berbeda dalam satu kesadaran perdamaian dimana mereka akan selalu berinteraksi satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari. Dan dengan adanya dialog yang berulang-ulang, dalam beberapa kasus Tuhan seakan berkata kepada mereka akan kebenaran abadi yang masih tersembunyi.

Dalam kalimat lain Suwanda H. J. Sugunasiri menyebutnya dengan Spiritual Interaction[3] dalam artikelnya Suwanda menyebut ada perbedaan antara interaksi spiritual dan dialog antar agama. Namun pada dasarnya adalah mempertemukan dua pandangan atau lebih yang berbeda agar terwujud satu pengertian yang sama dalam memahami masing-masing kelompok. Dengan mengedepankan saling pengertian terhadap agama lain.

Dari beberapa sumber dan penjelasan tentang dialog, penulis berpendapat bahwa dialog adalah satu-satunya jalan lebar yang paling mudah dilewati untuk mempertemukan dua atau lebih beberapa golongan yang berbeda menuju kehidupan harmonis yang didamba-dambakan. Dan dalam hal ini adalah dialog antar agama. Paling tidak beberapa langkah dialog berhasil menjadi jalan masing-masing agama untuk saling mengerti dan memahami.

Inilah alasan pengambilan penulis terhadap konsep dialog sebagai alat dalam menghadapi konflik masyarakat di Turki. Dimana dialog merupakan cara yang paling mudah dan dapat diterima karena mengedepankan hati. Berbicara untuk saling memahami perbedaan satu sama  lain. Dan penulis memilih konsep dialog yang di gagas Fethullah Gülen di Turki, karena konsepnyalah yang paling menonjol dan paling cocok untuk diterapkan dalam masyarakat modern saat ini.

Fethullah Gülen, sosok yang menginspirasi warga Turki dalam menyebarkan konsep dialog. Sebagaimana ditulis oleh Ahmet Koru[4] bahwa gerakan dilaog Gulen menginpirasi gerakan sosial di Turki. Dimana sebab Gülenlah banyak orsng yang akhirnya mendirikan lembaga-lembaga pendidikan lebih dari 1000 lembaga di Turki yang pada akhirmya menyebar ke hampir 165 negara. Konsep dialog tasawwuf yang diterapkan Gülen sangat populer di dunia. Ini terjadi karena sementara waktu spiritual dalam dialog mengindikasikan bahwa kesadaran ini telah menyebar.[5] Paling tidak, masyarakat lebih siap dengan konsep yang ditawarkan oleh Gülen itu sendiri.

Dalam mengatasi konflik, dialog sangat bermanfaat untuk membantu mencari titik temu persamaan demi menemukan perdamaian. Praktis dialog agama yang sebagaimana diungkap oleh Ahmad Gaus adalah, dialog yang meleburkan diri pada realitas dan tatanan sosial yang tidak adil dengan sikap kritis. Karena setiap agama memiliki nilai-nilai kebaikan dan misi penegakan moralitas. Dengan tegas dikatakan oleh Mudji Sutrisno, bahwa tidak cukup membangun dialog antaragama hanya dengan dialog-dialog logika rasional, namun  perlu pula logika psikis. Maka ikhtiar dialog teologi kerukunan juga harus dibarengi dengan pencairan-pencairan psikologis, seperti rasa saling curiga yang selama ini selalu muncul. Memang, seperti juga yang diungkap oleh Kautsar Azhari, bahwa kendala dialog antar umat beragama adalah persoalan eksklusivisme. Seorang eksklusivis akan terus berusaha agar orang lain mengikuti agamanya dengan menganggap agama orang lain keliru dan tidak selamat.[6]

Dialog untuk mengatasi permasalahan konflik sudah teruji dan merupakan jalan tercepat untuk mencapai rekonsiliasi menuju perdamaian. Sebut saja konflik Gerakan Aceh Merdeka dan pemerintah Indonesia selama 24 hari pada tahun 2009 yang menghasilkan perdamaian Aceh dan dialog konflik Poso yang menelan banyak korban. Dengan demikian, dialog mempunyai arti penting sebagai solusi tercepat untuk mengatasi konflik. Dan lebih luas lagi, dialog tidak hanya dapat diaplikasikan peda masalah konflik saja. Dialog dapat digunakan untuk megatasi persoalan sosial seperti kemiskinan, kelaparan, isu perubahan sosial dan lain sebagainya.

Yusuf Altuntas dalam KONTRIBUSI GERAKAN FETHULLAH GÜLEN DALAM MEMBANGUN DIALOG LINTAS AGAMA DI TURKI

[1]Masao Abe, Budhism and Interfaith Dialogue, (Honolulu: University of Hawaii Press, 1995), 24.

[2]Masatoshi Doi, “On Interfaith Dialogue: Some Important Aspects, Buddist-Crhistian Studies, vol. 4 (University of Hawaii Press, 1994): 22.

[3]Suwanda H. J. Sugunasiri, “Spiritual Interaction, not Interfaith Dialogue; A Buddhistic Contribution,” Buddhist-Cristian Studies, vol. 16 (1996):143-165.

[4]Ahmet T. Koru, “Contemporary Islamic Conversation, The Middle East Journal 62, no. 3 (Summer, 2008): 529-530.

[5]Bonnie Thurston, “Spirituality and Interfaith Dialogue,Buddist-Crhistian Studies, vol. 14 (University of Hawaii press): 302-304.

[6]Andito (ed.), Atas Nama Agama: Wacana Agama dalam Dialog “Bebas” Konflik (Bandung: Pustaka Hidayah, 1998),  161-162, 335.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *