DISKURSUS DIALOG ANTAR AGAMA

Sebelum menjelaskan kata dialog secara filologi terlebih dahulu perlu dianalisis kata dasarnya. Kata dialog dalam bahasa Yunani berarti “berbicara atau percakapan”[1]adalah klausa yang terdiri dari kata logus atau logo dengan imbuhan depan “di atau dia”.[2] Dia adalah imbuhan depan yang berarti dua, dua lapis, double atau ganda, saling, melalui dari antara atau dari dalam[3] sedangkan kata logo atau logus adalah kata serapan dari bahasa Yunani ke bahasa Inggris dari kata log atau logo yang berarti “berbicara, ucapan, kata dan akal”. Secara Etimologi kata dialog yang berasal dari bahasa Yunani, diserap ke bahasa Latin menjadi dialogus dan diserap dari bahasa Latin ke bahasa barat yang lain seperti bahasa Prancis dan Inggris menjadi dialogue. Kata dialog yang berarti berbicara atau bercakap dalam bahasa Yunani dan Latin,[4] ketika diserap ke bahasa lain masih menjaga artinya pada prosesnya dan mempunyai arti yang lebih luas dalam bahasa yang telah diserap.[5] Salah satu faktor penting untuk perluasan arti dialog menjadi tema adalah merujuk pada beberapa bidang seperti sastra, seni, politik, agama, dan musik.

Konsep dialog pertama kali dibahas dan diteliti terutama oleh ahli sastra dan falsafah pada awal kurun abad ke-20.[6] Konsep dialog yang mempunyai sejarah cukup lama dari Yunani lama mempunyai arti berbicara, percakapan antara dua orang atau lebih, pertukaran pemikiran dalam beberapa topik khusus dan tertentu pada satu musyawarah, pertemuan yang bertujuan mencapai kesepakatan antara orang-orang politik, kelompok, dan pengikut ideologi yang berbeda, percakapan antara karakter-karakter pada karya teater, komposisi yang ditulis dalam bentuk yang saling berbicara pada satu karya sastra, tulisan yang terdapat peran paling sedikit dua orang tentang beberapa topik, tulisan yang ditulis untuk percakapan antara artis-artis yang bermain dalam satu skenario film, lirik lagu, dua atau lebih dalam satu lagu, sebagai bentuk sastra, salah satu metode penjelasan yang dibuat secara hati-hati melalui percakapan hasil dari imajinasi penulis yang berasal dari akal dan filsafat, dan masih banyak lai penafsiran dari kata dialog itu sendiri.[7]

Secara etimologi kata dialog dalam literatur lama maupun baru, memiliki banyak pengertian. Namun pengertian yang paling terkenal dan jelas adalah “saling berbicara”, atau  percakapan antara dua orang dalam satu topik yang sama guna mencapai tujuan tertentu.[8] Selain penjelasan di atas kata dialog juga sering di gunakan untuk arti yang lain. Misalnyan kata dialog dalam bahasa Turki mencakup juga makna perjanjian, adaptasi, berdamai, atau berusaha menempuh jalan yang sama dan berdiskusi.[9] Jika kita mendefinisikan makna kata dialog secara global dengan mengacu pada semua penjelasan di atas, maka dapat di simpulkan bahwa, dialog adalah sebuah proses mencari jalan untuk hidup bersama dengan damai, kemudian masuk ke proses saling kenal dan mengerti dengan berbicara dan berkomunikasi dalam batas-batas kesopanan.[10] Orang tersebut berasal dari bangsa, budaya, kepercayaan, pendapat, dan pahamanam politik yang berbeda dan berada pada posisi saling menerima dan hidup saling berdampingan.[11]

Berdasarkan data-data yang didapat dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kata dialog terfokus pada makna “saling berbicara”, “berkumpul”, “berdamai”, “musyawarah”, dan “saling tukar menukar pemikiran”.[12] Khususnya pada akhir tahun 1950’an konsep dialog yang digunakan oleh teolog Kristen dalam literatur agama , dengan masa baru ini mulai menjelaskan hubungan antara orang-orang yang berbeda agama dan hidup bersama.[13]

Jika di lihat dari sudut pandang  agama, definisi dialog adalah tidak memaksakan keyakinan yang ia yakini kepada pemeluk agama lain ataupun golongan lain yang berbeda faham walau dalam satu agama yang sama, sehingga mereka bisa hidup bersama, dalam damai dan kejujuran, serta saling menghormati dan  menyayangi, bersikap sopan dan manusyawi untuk mengarahkan hidup pada kedamaian dan ke kesejahteraan, dan bukan hanya sekedar hubungan sosial serta ekonomi semata, namun juga berkumpul san bekerjasama untuk memecahkan masalah-masalah umum dengan suasana bebasa dan terbuka dan juga berkumpul untuk saling berdiskusi sehingga dapat  hidup bersama dalam perbedaan dengan tujuan mengetahui, mengenal, mendengar dan memahami  satu sama lain.[14]

Dari penjelasan dialog antar agama di atas dapat disimpulkan bahwa konsep dialog adalah menjelaskan pertemuan dan percakapan antara penganut agama berbeda. Tetapi tidak mungkin pertemuan ini ada tanpa adanya topik atau tujuan. Oleh karena itu memberikan pengertian yang benar tentang konsep dialog antar agama dan menjalankannya dengan baik adalah dengan menentukan para pelaku dialog, topik-topik yang akan dibicarakan serta tujuan dari dialog.[15]

Secara epistemologi dialog adalah suatu hal yang asasi dalam mengubah sikap negatif kita terhadap orang-orang beragama lain, sikap yang membuat kesaksian kita tidak berdaya dan tidak bermakna. Suatu sikap negatif yang mengundang reaksi penolakan. Jika kita tidak bersedia menerima orang lain dengan kasih, maka merekapun akan menolak kita. Agama Kristen sering ditolak karena ia sendiri menolak agama-agama lain. Jika kita tidak bersedia mendengarkan orang lain maka mereka juga tidak mau mendengarkan kita. Dalam keadaan sedemikian, pemberitaan Injil yang hakiki tidak mungkin terjadi. Oleh karena itu, dialog adalah suatu hal asasi dalam menghilangkan salah paham dan prasangka yang pernah timbul di masa lalu, atau yang disebabkan oleh sikap penolakan terhadap agama-agama dan aliran-aliran kepercayaan lain. Dialog seharusnya menciptakan suatu suasana sehat yang di dalamnya kita dapat saling member dan menerima, mendengar dan memberitakan.

Dialog adalah suatu percakapan antara dua orang atau lebih yang memiliki pandangan yang berbeda tentang sebuah masalah. Tujuan utamanya adalah agar setiap pihak dapat memahami pihak lain sehingga masing-masing dapat memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas dan berkembang. Dalam dialog setiap pihak harus bersedia mendengarkan pihak lain secara terbuka dan penuh perhatian, karena dialog menuntut setiap pihak untuk memahami posisi pihak lain setepat mungkin, dan tidak mustahil jika mau jujur, satu pihak akan menemukan posisi pihak lain begitu meyakinkan, lalu menerimanya. Jadi dialog bukan hanya sekedar debat yang tujuannya semata-mata untuk mengalahkan pihak lain.[16]

Dialog yang dilakukan oleh umat beragama didefinisikan olehnya adalah sebuah proses yang dimana masing-masing anggota dari dua (atau lebih) komunitas agama yang berbeda saling berusaha untuk membangun hubungan  dan menjembatani perbedaan yang dimiliki oleh masing-masing pihak terkait dengan keyakinan, ritual, dan pola perilaku. Dialog yang terjalin ini dapat memungkinkan tertampungnya semua aspirasi, ide, dan gagasan dari semua pihak yang terlibat di dalam dialog ini.[17] Mukti Ali menambahkan bahwa dialog berarti juga concourse, yaitu berlari atau bergerak bersama-sama, bukan hanya berbicara satu dengan yang lainnya saja.[18] Jadi yang dimaksud dialog antaragama adalah suatu tema wicara antara dua atau lebih pemeluk agama yang berbeda, di mana diadakan pertukaran nilai dan informasi keagamaan pihak masing-masing untuk mencapai bentuk kerja sama dalam semangat kerukunan.[19]

Dialog adalah suatu hal yang asasi dalam mengubah sikap negatif kita terhadap orang-orang yang beragama  lain, sikap yang membuat kesaksian kita tidak berdaya dan tidak bermakna. Suatu sikap negatif yang mengundang reaksi penolakan. Jika kita tidak bersedia menerima orang lain dengan kasih, maka merekapun akan menolak kita. Hal ini berkesesuaian dengan hukum kausalitas sosial, hasil yang kita dapat berdamping lurus dengan usaha yang kita berikan.

Agama Kristen sering ditolak karena ia sendiri menolak agama-agama lain. Jika kita tidak bersedia mendengarkan orang lain maka mereka juga tidak mau mendengarkan kita. Dalam keadaan sedemikian, pemberitaan Injil yang hakiki tidak mungkin terjadi. Oleh karena itu, dialog adalah suatu hal asasi dalam menghilangkan salah paham dan prasangka yang pernah timbul di masa lalu, atau yang disebabkan oleh sikap penolakan terhadap agama-agama dan aliran-aliran kepercayaan lain. Dialog seharusnya menciptakan suatu suasana sehat yang di dalamnya kita dapat saling member dan menerima, mendengar dan memberitakan.

Menurut Azyumardi Azra,[20] ada beberapa model dialog antar umat beragama (tripologi), yaitu: Pertama, dialog parlementer (parliamentary dialogue), yakni dialog yang melibatkan ratusan peserta, seperti dialog World’s Parliament of Religions pada tahun 1873 di Chicago, dan dialog-dialog yang pernah diselenggarakan oleh World Conference on Religionand Peace (WCRP) pada dekade 1980-an dan 1990-an. Kedua, dialog kelembagaan (Institutional Dialogue), yakni dialog diantara wakil–wakil institusional berbagai organisasi agama. Dialog kelembagaan ini sering dilakukan untuk membicarakan masalah-masalah mendesak yang dihadapi umat beragama yang berbeda. Dialog seperti ini biasanya melibatkan majelis-majelis agama yang diakui pemerintahs seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Persatuan Gereja Indonesia (PGI), Konferensi Wali gereja Indonesia (KWI), Parisada Hindu Darma dan Perwalian Umat Budha Indonesia (WALUBI). Ketiga, dialog teologi (theological dialogue). Dialog ini mencakup pertemuan-pertemuan regule rmaupun tidak, untuk membahas persoalan-persoalan teologis dan filosofis. Dialog teologi pada umumnya diselenggarakan kalangan intelektual atau organisasi-organisasi yang dibentuk untuk mengembangkan dialog antar agama, seperti interfidei, paramadina, LKiS, LP3M, MADIA, dan lain-lain. Keempat, dialog dalam masyarakat (dialogue in community), dialog kehidupan (dialogue of live), dialog seperti ini pada umumnya berkonsentrasi pada penyelesaian “hal-hal  praktis dan aktual” dalam kehidupan yang menjadi perhatian bersama dan berbangsa dan bernegara. Dialog dalam kategori ini biasanya diselenggarakan kelompok-kelompok kajian dan LSM atau NGO. Kelima, dialog kerohanian (spritualdialogue), yaitu dialog yang bertujuan untuk menyuburkan dan memperdalam kehidupan spritual di antara berbagai agama.

Sedangkan menurut Fethullah Gülen dialog adalah suatu percakapan antara dua orang atau lebih yang memiliki pandangan yang berbeda tentang sebuah masalah. Tujuan utamanya adalah agar setiap pihak dapat memahami pihak lain sehingga masing-masing dapat memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas dan berkembang. Dalam dialog setiap pihak harus bersedia mendengarkan pihak lain secara terbuka dan penuh perhatian, karena dialog menuntut setiap pihak untuk memahami posisi pihak lain setepat mungkin, dan tidak mustahil jika mau jujur, satu pihak akan menemukan posisi pihak lain begitu meyakinkan, lalu menerimanya. Jadi dialog bukan hanya sekedar debat yang tujuannya semata-mata untuk mengalahkan pihak lain. Lebih dari itu, fungsi dialog justru lebih merekatkan kesenjangan dan meluruskan segala kesalah fahaman, namun tidak juga kemudian di artikan berdialog berarti bertukar fikiran secara frontal dan menyeluruh.

Gülen mempercayai bahwa dialog adalah sarana yang baik untuk menciptakan perdamaian. Gülen selalu berbicara tentang dialog dalam kaitannya dengan toleransi, pengampunan, cinta, dan membuka hati seseorang untuk orang lain. Dalam persfektif Gülen, dialog tidak memerlukan logika dan wawasan yang tinggi, dialog adalah tempat di mana kebenaran akan muncul dengan lebih jelas, berdialog bukanlah tempat untuk mencari siapa yang terbaik, bukan juga untuk memuaskan ego seseorang, melainkan untuk memunculkan kebenaran dari setiap permasalahan. Dalam sebuah dialog seseorang tidak boleh mengabaikan nilai-nilai kebaikan universal dan mengabaikan poin-poin penting seperti dedikasi terhadap keadilan dan menghormati mitra dialog.[21] Rambu-rambu dan etika berdialog seperti inilah yang sudah mulai banyak di tinggalkan oleh para pelaku dialog, sehingga banyak dari para pelaku dialog yang kemudian menemui kebuntuan, sehingga mereka kehilangan esensi dari dialog tersebut.

Mendefinisikan agama sangatlah sulit. Sering muncul beberapa gagasan yang sangat berbeda dalam satu topik yang sama. Pemahamannya senderi tergantu pada subyek yang mengutarakan gagasan tersebut. Istilah “agama” merupakan terma problematis yang telah diperdebatkan secara kritis oleh para sarjana agama dan teolog. Tidak tepat di sini untuk terlibat dalam perdebatan tersebut. Meskipun tidak selamanya benar, cukuplah kita memahami “agama” melalui analogi, karena agama memiliki kesamaan dan ketidaksamaan.

Asumsi yang diajukan adalah tidak ada konsep agama normatif. Hal ini niscaya dilakukan karena dari seluruh perbedaan, sebagian persamaan masih dapat diamati.[22] Untuk tujuan dialog, “agama” dapat dimaknai sebagai hubungan sosial dan individu yang disadari secara vital dalam tradisi dan komunitas (melalui doktrin, etos, dan ritual), dengan sesuatu yang transenden dan meliputi manusia dan dunianya, dengan sesuatu yang selalu dipahami sebagai realitas yang benar dan telah final (Sang Absolut, Tuhan, Nirvana). Berbeda dengan filsafat, agama secara langsung dihubungkan dengan sebuah pesan keselamatan dan jalan keselamatan.[23]

Agama merupakan sebuah lived life atau kehidupan yang dijalani, tergurat dalam hati laki-laki dan perempuan, sehingga bagi seluruh orang-orang religius, agama merupakan sesuatu yang kontemporer, berdenyut melalui setiap nadi eksistensi mereka sehari-hari. Agama dapat pula dimaknai secara tradisional, superfisial dan pasif, atau sebaliknya dinamis. Agama adalah cara percaya, pendekatan terhadap kehidupan, dan sebuah cara hidup. Oleh karena itu, agama merupakan suatu pola dasar yang merangkul individu dan masyarakat atau manusia dan dunia sekaligus. Melalui pola dasar inilah, setiap individu (meskipun tidak seutuhnya sadar) melihat dan mengalami, berpikir dan merasakan, bertindak dan menderita, segala sesuatu. Agama adalah sebuah sistem koordinat yang tertanam kuat secara transenden dan bekerja secara imanen. Dengan inilah manusia memaknai dirinya secara intelektual, emosional dan eksistensial. Agama dengan demikian menyediakan sebuah makna menyeluruh terhadap kehidupan, menjamin nilai-nilai mulia dan norma-norma tanpa syarat, menciptakan sebuah komunitas dan pesanggrahan spiritual.[24]

Ichsan Habibi dalam tesisnya merumuskan tujuh macam bentuk dialog.[25] Pertama, dialog kehidupan. Dimana bentuk dialog ini sering terjadi pada kelompok masyarakat komunitas kecil yang mempunyai semangat kebersamaan dalam menciptakan kerukunan serta sikap saling menjaga dan menciptakan rasa keamanan antara satu dengan yang lainnya. Kedua, analisis sosial dan refleksi etis kontekstual. Pada bentuk dialog ini beberapa anggota dari komunitas-komunitas agama yang saling berbeda melakukan dialog yang mereka semua mencoba melakukan beberapa pertimbangan yang dianggap etis dan sesuai dalam mengambil suatu keputusan yang didasarkan iman para anggota komunitas yang kemudian membuahkan suatu keputusan yang disepakati bersama.

Ketiga, studi tradisi-tradisi agama. Bentuk dialog ini merupakan bentuk dialog penting, dimana setiap anggota kelompok agama menggali tradisi iman masing-masing yang akan dieksplor dalam bentuk dialog kebersamaan. Keempat, dialog antar umat beragama; dialog ini bertujuan untuk berbagi pengalaman iman keagamaaan baik secara bentuk pengetahuan ataupun bentuk kekayaan spiritual yang dimana dialog ini dilakukan bertujuan untuk memperkaya pengalaman ilmu serta pengalaman spiritual.[26] Kelima, dialog antar umat agama; berteologi lintas agama. Bentuk dialog ini melibatkan para spesialis ilmu teologi dari kelompok agama serta keimanan masing-masing yang bertujuan untuk berbagi pengalaman serta pemahaman keimanan keagaaman dalam level ilmiah. Seperti mengkomunikasikan pemahaman-pemahaman yang lebih mendalam mengenai warisan-warisan religius masing-masing serta saling menghargai dan saling menggali pengalaman tradisi keilmuan dari masing-masing pemeluk agama.

Keenam, dialog aksi. Dialog ini berbentuk mengkaji masalah-masalah sosial dan mengarah pada keterlibatan masyarakat karena masyarakat dianggap sebagai suatu kesatuan dari bagian agama yang tidak dapat dipisahkan. Bentuk dialog ini dilakukan agar adanya keikutsertaan kelompok masyarakat dalam melayani kepentingan umum bagi kehidupan serta kerukunan antar pemeluk agama satu dengan yang lainnya.

Ketujuh, dialog intra agama. Setelah dilakukannya beberapa bentuk dialog antar keimanan, lintas iman para pemeluk masing-masing agama, serta pengalaman spiritual masing-masing antar para pemeluk agama, setiap orang kembali kepada iman mereka masing-masing. Pada bentuk dialog yang terakhir ini selayaknya terjadi otokritik, sehingga umat beragama menjadi orang-orang beriman yang lebih baik secara personal dan komunal. Dengan demikian diharapakn orang Islam bisa dan mapu menjadi muslim yang baik, orang kristen menjadi kistiani yang lebih baik, dan begitu juga terhadap penganut agama yang lainnya. Dari tujuh bentuk dialog ini, dapat dipahami bahwa semakin mendalamnya perjumpaan lintas iman dan lintas agama, maka semakin mendalam perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam menghidupi keimanan dan keagamaan diri mereka masing-masing.[27]

(Yusuf Antuntas, dalam KONTRIBUSI GERAKAN FETHULLAH GÜLEN DALAM MEMBANGUN DIALOG LINTAS AGAMA DI TURKI)

 

[1]Ali Can, Kur’an’da Ehl-i Kitap’la Diyalog (Istanbul: Yeni Akademi Yayınları, 2011), 24; Publishers Guild, Webster’s Twentieth-Century Dictionary Of The English Language With A Comprehensive Addendum Of Newest Words Compiled by Joseph Devlin (New York: 1940), 466.

[2]Mustafa Nihat Özön, Türkçe-Yabancı Kelimeler Sözlüğü (İstanbul: Inkilap Kitapevi, 1962), 46.

[3]Azmi Aksoy, Yunanca-Türkçe Türkçe-Yunanca Sözlük (İstanbul: Alfa Yayıcılık, 2003), 74.

[4]Sina Kabaağaç-Erdal Alova, Latince-Türkçe Sözlük, (Istanbul: Sosyal Yayıcılık,1995), 173.

[5]Mustafa Alıcı, Müslüman Hıristiyan Diyaloğu Tarihçesi Çeşitleri Hedefleri Problemleri (İstanbul: İz Yayıncılık, 2005), 19.

[6]Mustafa Alıcı, “Dinlerarası Diyaloğun Ana Konuları ve Hedefleri,” EKEV Akademi Dergisi  7, 16 (April 2003): 2.

[7]Houghton Mifflin Company, The American Heritage Dictionary of the English Language, Third Edition (Boston-New York-London: 1992), 515.

[8]Mustafa Nihat Özön, Türkçe-Yabancı Kelimeler Sözlüğü (İstanbul: 1962), 49; Şükrü Haluk Akalın, Türkçe Sözlük (Ankara: Türk Dil Kurumu 2005), 543.

[9]Şükrü Haluk Akalın, Türkçe Sözlük (Ankara: Türk Dil Kurumu, 2005), 543. Lihat juga Yaşar Çağbayır, Ötüken Türkçe Sözlük (İstanbul: Ötüken Yayıncılık, 2007), 1249.

[10]Günay Tümer dan Abdurrahman Küçük, Dinler Tarihi (Ankara: Ocak Yayıncılık, 1993), 396.

[11]Ali Bulaç, Medine Vesikası’nda Dinler ve Topluluklar Arası Diyalog; Diyaloğun Dinî ve Tarihî Temelleri (İstanbul: Işık Yayınları, 2006), 87.

[12]Ali Bulaç, Din, Kent ve Cemaat; Fethullah Gülen Örneği (Istanbul: Ufuk Kitap, 2008), 227.

[13]Mustafa Alıcı, “Dinlerarası Diyaloğun Ana Konuları ve Hedefleri,EKEV Akademi Dergisi 7, 16 (2003): 2.

[14]Günay Tümer dan Abdurrahman Küçük, Dinler Tarihi, (Ankara: Ocak Yayınları, 1993), 396; Fikret Karaman, Dinlerarası Diyalog, Dinî Kavramlar Sözlüğü, (Ankara: D.İ.B., 2006), 125; Müslüman Hıristiyan Diyaloğu Tarihçesi Çeşitleri Hedefleri Problemleri (İstanbul: İz Yayınları, 2005), 20; Ahmet Kahraman, Mukayeseli Dinler Tarihi (Istanbul: Marifet Yayınları, 1999), 293; Ali Seyyar, İnsan ve Toplum Bilimleri Terimleri (Istanbul: Değişim Yayınları, 2007), 24; Günay Tümer dan Abdurrahman Küçük, Dinler Tarihi (Ankara: Ocak Yayınları, 1993), 396.

[15]Mustafa Alıcı, “Dinlerarası Diyaloğun Ana Konuları ve Hedefleri,” EKEV Akademi Dergisi 16 (April 2003), 2.

[16]Leonard Swidler, ‘The Dialogue Decalogue; Ground Rulers for Interreligious, Interideological Dialogue,” Jurnal Al-Ja>mi’ah, 57 (1994): 141.

[17]Liyakatali Takim, “From Conversion to Conversation: Interfaith Dialogue in Post 9-11 America,” The Muslim World  94, (2004), 345.

[18]Mukti Ali, Agama, Moralitas dan Perkembangan Kontemporer dalam Mukti Ali, dkk., Agama Dalam Pergumulan Masyarakat Kontemporer (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1998), 8.

[19]D. Hendropuspito, Sosiologi Agama (Yogyakarta: Kanisius, 1990), 175.

[20]Azyumardi Azra, Konteks Berteologi di Indonesia: Pengalaman Islam (Jakarta: Paramadina, 1999), 63-64.

[21]Richard Penaskovic, “M.F. Gülen: Bridge Between Islam and The West,” dalam Peaceful Coexistence: Fethullah Gülen’s Initiatives in the Contemporary World (New Jersey: Tughrah Books, 2009), 169.

[22]Najiyah Martiam (ed), Jalan Dialog Hans Kung dan Perspektif Muslim (Yogyakarta: Penerbit Mizan, 2011), 13.

[23]Najiyah Martiam (ed), Jalan Dialog Hans Kung dan Perspektif Muslim …, 13.

[24]Najiyah Martiam (ed), Jalan Dialog Hans Kung dan Perspektif Muslim …, 14.

[25]Ichsan Habibi, Konsep Dakwah Muhammad Fathullah Gulen, tesis mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah, Program Magister Sekolah Pasca Sarjana, Bidang Dakwah dan Komunikasi (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2014), 109-110.

[26]B. Barnawiratma, Zainal Abidin Bagir, etc, Dialog Antarumat Beragama Gagasan dan Praktik di Indonesia (Jakarta: Mizan Publika, 2010), 8-11.

[27]B. Barnawiratma dan Zainal Abidin Bagir, etc, Dialog Antarumat Beragama Gagasan dan Praktik di Indonesia …, 11-13.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *