Konsep Dialog Antar Agama dalam Agama Islam

Ibn al-‘Arabi (w.1240) dalam hal ini sangat senang mengutip sufi besar aba ke-9 dari Baghdad, Abu al-Qasim Muhammad al-Junayd (w. 910) yang sekali waktu menggunakan kiasan air yang diwarnai oleh bejana penampungnya untuk menggambarkan kesatuan dalam keragaman: “Warna air adalah warna bejananya”.[1]

Meskipun demikian, kesukaan Ibn al-‘Arabi pada kiasan ini sama sekali tak berarti dia menganggap semua agama sama bernilainya, tapi semata-mata bahwa seperti setiap unsur pembentuk keteraturan yang ada, semua agama memiliki asalnya pada Tuhan. Ibn al-‘Arabi selalu menunjukkan akar gagasan ini dalam Qur’an. Ia secara khusus mengacu pada Qur’an surat Hud ayat 118-119: “Jika saja Tuhan menginginkannya, Ia akan menjadikan semua manusia menjadi satu umat, namun mereka akan tetap berbeda, kecuali mereka yang dikasihi oleh-Nya”[2]

Kita juga dapat melihat bahwa, dari sudut yang sedikit berbeda,ajaran Ibn al-‘Arabi mengenai keragaman agama dapat disimpulkan dari apa yang dikatakannya mengenai penciptaan yang berkelanjutan. Ia menekankan bahwa “Sang Haqq tidak mengungkapkan dirinya duakali dalam satu rupa, tidak juga mengungkapkan dirinya dalam satu rupa pada dua individu” Dengan begitu, baginya, iman orang yang beriman adalah bentuk kognitif dimana pengungkapan diri dari sang Haqq dipahami dan disalahpahami, dimengerti atau disalahmengerti secara kognitif. Serupa dengan itu, Jalal al-Din Rumi (w. 1273), yang tampaknya amat dipengaruhi oleh Ibn al-‘Arabi, bertanya: “Jika kau tuangkan lautan ke bejana, berapa banyak yang bisa ditampungnya?”

Dengan demikian, setiap orang yang beriman menyembah Tuhan Yang Haqq sesuai dengan “rabb” partikular yang dikenalinya dalam dirinya sendiri “Karena ada banyak cangkir sebanyak peminum di kolam yang ada di dunia akhir,” Ibn al-‘Arabi sendiri menulis, “dan karena air di cangkir mengikuti cangkir dalam bentuk maupun warnanya, kita tahu dengan pasti bahwa ilmu mengenai Tuhan (diperoleh) sesuai dengan ukuran pandanganmu, kesiapanmu, dan siapa kau dalam dirimu.[3]

Barangkali ayat Qur’an yang paling sering dikutip Ibn al-‘Arabi untuk mendukung argumennya bahwa semua agama adalah manifestasi sang Haqq adalah: “Kemana pun kau berpaling, ada wajah Tuhan di sana” (2: 115). Mengutip ayat Qur’an “Kepadanya semua urusan dikembalikan” (Q 11: 123), Ibn al-‘Arabi menulis, “jelas, seluruh jalan adalah menuju Allah, karena Ia adalah tujuan semua

jalan.” Maka semua orang yang beriman mengabdi pada Tuhan di atas dasar pengungkapan Diri Tuhan dan kesiapan mereka, sehingga semua kepercayaan berakar pada Tuhan Yang Tak Terbatas. Ini tidak berarti bahwa semua kepercayaan adalah serupa dan memiliki dampak yang sama pada kesadaran manusia akan Tuhan.[4]

Menurut penafsiran Quraish Shihab ketika absolutisitas diantar ke luar (ke dunia nyata), Nabi tidak diperintahkan untuk menyatakan apa yang ada di dalam (keyakinan tentang absolutisitas agama tersebut), tetapi justru sebaliknya.[5] Itulah sebabnya menurut Quraish Shihab, bahwa salah satu kelemahan manusia adalah semangatnya yang menggebu-gebu, sehingga ada di antara mereka yang bersikap melebihi Tuhan, misalnya menginginkan agar seluruh manusia satu pendapat, menjadi satu aliran dan satu agama. Semangat yang menggebu-gebu ini pulalah yang mengantarkan mereka memaksakan pandangan absolutnya untuk dianut orang lain.

Sekurang-kurangnya menurut Bambang Sugiharto,[6] tantangan yang dihadapi setiap agama saat ini ada tiga: pertama, soal disintegrasi dan degradasi moral; kedua, soal pluralisme dan eksklusivisme; ketiga, soal ketidakadilan. Ketiga persoalan tersebut sulit diatasi karena beberapa faktor, di antaranya adalah: karena adanya sikap agresif yang berlebihan terhadap pemeluk agama lain; adanya konsep kemutlakan Tuhan yang disalahmengertikan; dan adanya kepentingan luar agama (politik, ekonomi) yang turut mengintervensi agama. Tetapi jika faktor di atas dapat diselesaikan, maka tantangan-tantangan tersebut juga dapat dijawab.

Menurut Armahedi Azhar, terdapat lima penyakit yang menghinggapi para aktivis gerakan keagamaan, yaitu: absolutisme, ekslusivisme, fanatisme, ekstremisme dan agresivisme. Absolutisme adalah kesombongan intelektual, ekslusivisme adalah kesombongan sosial, fanatisme adalah kesombongan emosional, ekstremisme adalah sikap yang berlebihan dan agresivisme adalah tindakan fisik yang berlebihan.

Jika dibuat rumusan, maka dialog dalam kacamata dunia Islam lebih didasarkan pada ajaran normatif yang terdapat dalam teks-teks suci agama Islam yang sudah dipraktekkan oleh Nabi Muhammad sejak pertama kali Islam muncul. Dan ini menjadi ciri atau karakteristik dialog Islam.

Yusuf Altuntas dalam KONTRIBUSI GERAKAN FETHULLAH GÜLEN DALAM MEMBANGUN DIALOG LINTAS AGAMA DI TURKI

 

[1]Ibn al-‘Arabi, Fushush al-Hikam, diedit oleh Abu al-‘Ali’ Afifi, 2 bagian (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1980), 1:225-226.

[2]Ibn al-‘Arabi, al-Futu>hat al-Makkiyah, 4 vol. (Beirut: Daral-Fikr, t.th.), 4:446.

[3]Najiyah Martiam (ed), Jalan Dialog Hans Kung dan Perspektif Muslim…, 56.

[4]Najiyah Martiam (ed), Jalan Dialog Hans Kung dan Perspektif Muslim…, 56.

[5]Quraish Shihab, Membumikan al-Quran (Bandung: Mizan, 1992), 222.

[6]Andito (ed.), Atas Nama Agama: Wacana Agama dalam Dialog “Bebas” Konflik (Bandung: Pustaka Hidayah, 1998), 29-32.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *