Konsep Dialog Antar Agama dalam Agama Kristen

Dialog memiliki karakter sejarah (historisitas). Tetapi bukan sejarah kronologis yang liniear runtut, melainkan merupakan bagian dari pergumulan peziarahan Gereja katolik. Konsili Vatikan II dapat dikatakan merupakan titik tolak hidup gereja yang dialogal. Tetapi dengan titik tolak, tidak dimaksudkan pengertian seakan-akan hidup gereja yang dialogikal ini tidak pernah ada sebelumnya.[1] Dialog sebagaimana dicetuskan Vatikan II mempunyai akar pada tradisi hidup gereja secara menyeluruh.

Sikap dialogikal gereja sebelum Vatikan II tampak dari penyaksian para Bapa gereja juga para misionaris dan ajaran para paus masa lampau yang menunjukkan sikap positif gereja terhadap agama-agama lain. Memang segera harus ditambahkan bahwa penyaksian ajaran yang menunjukkan sikap positif terhadap agama-agam lain itu, bersifat sporadis, tersebar dan kurang menjadi sikap dasar yang menonjol. Sikap yang menonjol seringkali kebalikannya.[2] Akibatnya gereja sebelum Vatikan II tampak tertutup jika dibaca dalam kacamata perspektif sekarang ini.

Teolog Kristen seharusnya mencoba membangun argumen-argumen, daripada hanya bercerita dan bertutur secara sederhana. Dia harus menguraikan dengan teliti wilayah-wilayah dimana Kekristenan secara jelas setuju atau tidak setuju dengan agama lain. Di sini kesalahpahaman secara praktik sulit dihindari. Sebagai contoh, jika anda (sebagai teolog Kristen) menunjukkan keistimewaan Muhammad dan kenabiannya, anda pasti akan ditanya apakah anda sebenarnya ingin menjadi seorang Muslim. Jika anda mencoba mengelaborasi pemahaman anda tentang Trinititas dalam Perjanjian Baru, dan sejak awal tidak menyerang Yahudi atau Muslim sebagai agama yang tidak masuk akal, anda pasti akan dicaci karena menyimpang dari ajaran umum Trinitas. Sebaliknya, jika anda berbicara secara kritis sebagai teolog Kristen (yang selalu siapdengan oto-kritik), sebagai contoh, dalam persoalan hukum Islam atau mitologi Hindu atau kehidupan biara Buddha, anda pasti dengan mudah didakwa menyiratkan apologetik teologis, propaganda Kristen, bahkan pernyataan arogan.[3] Dalam permasalahan tersebut Kung memberi beberapa respon, kritik diri kekristenan dalam terang firman agama-agama lain dan kritik kristen atas agama-agama lain dalam terang sabda Gospel, yang secara umum berarti membandingkan hal-hal yang sama.

Dengan demikian, Kung telah menjembatani dua titik ekstrim. Disatu sisi Kung ingin menghindari pandangan yang sempit, absolutisme yang angkuh (dari Kristen atau asal mula Islam), yang melihat kebenaran miliknya sendiri sebagai “absolute,” yakni terpisah dari kebenaran yang lain. Di sisi lain, Kung tidak bertujuan mempertahankan pendirian eksklusif, yang memberikan pernyataan tertutup terhadap agama-agama non-Kristen dan kebenaran mereka, tidak pula mempertahankan pendirian superior yang menggolongkan agama kitasendiri sebagai yang lebih baik secara apriori (dalam doktrin, etika,atau sistem). Pendirian semacam ini hanya menuntun pada apologetik murahan, pikiran yang tertutup dan keras kepala, pendeknya menuntun pada dogmatisme bahwa ia telah memiliki seluruh kebenaran namun sebenarnya dia gagal menemukannya.[4]

Konsep dialog dalam dunia barat atau kristen adalah sebagai berikut: Pertama, tidak ada perdamaian dunia tanpa perdamaian agama. Jika para pemimpin semua agama, yang besar dan bahkan yang kecil, hari ini memutuskan untuk memberikan ekspresi tegas atas tanggung jawab mereka terhadap perdamaian, cinta sesama, dan non kekerasan demi rekonsiliasi dan kesediaan untuk memaafkan, lantas apa arti agama bagi dunia esok? Jika dari Washington ke Moskow,dari Yerussalem ke Mekkah, dari Belfast ke Teheran, dari Amritsar ke Kuala Lumpur, tidak mempercepat timbulnya konflik, apakah mereka mempercepat penyelesaian konflik? Seluruh agama dunia saat ini harus menyadari andil mereka untuk perdamaian dunia. Dan oleh karena itu, seseorang tidak perlu sering-sering mengulang alasan tersebut karena Kung telah menemukan bertambahnya penerimaan di seluruh dunia tentang: tidak ada perdamaian antar bangsa tanpa perdamaian antar agama. Singkatnya, tidak ada perdamaian dunia tanpa perdamaian agama.[5]

Keterlibatan konstruktif dengan agama lain di dunia ini demi perdamaian di dunia sangat penting untuk bertahan hidup. Dalam milenium ketiga—mengikuti contoh dari Eropa, seseorang seharusnya memiliki ‘ekumeni’ damai yang sangat berbeda atau tidak memiliki ‘ekumeni’, sama sekali tidak ada ‘dunia yang berpenghuni’. Pandangan ini memaksa kita untuk menyadari tanggung jawab satu sama lain dan untuk supaya meninggalkan sifat keras kepala ketika berhubungan dengan yang lain. Dan hal ini berlaku secara sentral pada pertanyaan yang mungkin paling diperselisihkan dalam agama: pertanyaan tentang kebenaran.[6]

Kedua, tidak ada dialog tanpa pengkajian hingga ke dasar-dasarnya.[7] Poin ini mengandung beberapa hal yang menjadi dasar dialog diantaranya sikap teolog terhadap agama-agama lain yang menyangkut kepantasan dan simpati dan pengkajian ekumenis tentang situasi masa keagamaan.[8]  Kemudian bahwa resiko sintesis tidak dapat dihindari. Dari sini harus melihat beragam hal secara keseluruhan.

Untuk memperbaharui metode dialog mereka berupaya membuka era baru bahwa gereja-gereja Kristen kehilangan kredibilitas ketika dalam paradigma modernitas, pada periode iman dalam sains dan teknologi, periode kolonialisme dan imperialisme, di mana terdapat pertemuan intensif pertama dengan agama-agama dunia. Dalam zaman baru kita, post-kolonial, era polysentris dan post-modernitas adalah saatnya untuk terlibat dalam dialog antara Kristen dan agama-agama dunia dengan basis pijakan yang lebih luas.[9]

Kapasitas berdialog utamanya berdasar pada kapasitas untuk perdamaian. Tepatnya, kapasitas ini benar-benar manusiawi, karena menyadari sejarah kegagalannya sendiri. Di mana pun dialog terhenti, di sana pula perang berkobar, dalam wilayah pribadi maupun publik. Di mana dialog gagal, pengekangan pun dimulai: hukum rimba, hukum siapa yang lebih berkuasa, superior, pintar, dan berlaku. Orang-orang yang mengadakan dialog tidak muncul. Dan dengan analogi yang menggunakan agama dan gereja: mereka yang terlibat dialog tidak akan berlindung pada pendisiplinan gereja atau agama milik mereka sendiri, dan akan sangat membenci diskriminasi terhadap orang yang berpikir sebaliknya, bahkan memburu penyimpangnya. Pada dasarnya, munculnya ide dialog antar agama didunia Kristen muncul karena desakan kondisi yang memaksa sejumlah tokoh gereja untuk merumuskan konsep dialog yang kemudian terwujud dalam konsil Vatikan. Ciri utama dari dialog di dunia Kristen adalah bahwa mereka yang terlibat dalam dialog harus memiliki kekuasaan dan kekuatan untuk mempertahankan dialog dan perlu sikap menghargai pendirian orang lain. Karena satu hal pasti: bahwa ketidaksabaran terhadap perselisihan yang berkobar secara terus menerus di seluruh dunia, dalam seluruh agama, adalah karena tidak memiliki pemahaman tentang kebajikan terhadap kapasitas berdialog. Dan kemudian: seluruh pertahanan spiritual dan fisikal, secara pasti, akan bergantung pada hal ini. Karena[10] tidak ada perdamaian antar bangsa tanpa dialog antar agama, tidak ada perdamaian antar agama tanpa dialog antar agama dan tidak ada dialog antar agama tanpa penelitian terhadap fondasi teologis.

Yusuf Altuntas dalam KONTRIBUSI GERAKAN FETHULLAH GÜLEN DALAM MEMBANGUN DIALOG LINTAS AGAMA DI TURKI

[1]E. Armada Riyanto CM, Dialog Interreligius: Historisitas, Tesis, Pergumulan, Wajah (Yogyakarta: Kanisius 2010), 13.

[2]E. Armada Riyanto CM, Dialog Interreligius: Historisitas, Tesis, Pergumulan, Wajah…, 13.

[3]Najiyah Martiam (ed), Jalan Dialog Hans Kung dan Perspektif Muslim (Yogyakarta: Penerbit Mizan, 2011), 15.

[4]Najiyah Martiam (ed), Jalan Dialog Hans Kung dan Perspektif Muslim…, 16.

[5]Najiyah Martiam (ed), Jalan Dialog Hans Kung dan Perspektif Muslim…, 25.

[6]Najiyah Martiam (ed), Jalan Dialog Hans Kung dan Perspektif Muslim…, 25.

[7]Najiyah Martiam (ed), Jalan Dialog Hans Kung dan Perspektif Muslim…, 26.

[8]Pandangan yang bersikap mewakili seluruh dunia kristen.

[9]Najiyah Martiam (ed), Jalan Dialog Hans Kung dan Perspektif Muslim…, 46.

[10]Najiyah Martiam (ed), Jalan Dialog Hans Kung dan Perspektif Muslim…, 47.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *