Sejarah Dialog antar agama

Agama, adalah suatu lembaga yang sejak permulaan kemanusiaan telah bertempat dan berada dalam semua masyarakat.[1] Oleh karena itu keadaan agama-agama didasarkan pada sejarah adalah setua sejarah manusia. Dalam proses sejarah cukup panjang selama  berabad-abad, agama- agama pertama kali berhubungan secara nilai-nilai dan tradisi yang muncul pada lingkungan sosial-budaya dan kemudian berhubungan dengan agama-agama lain di berbagai tempat yang sudah tersebar. Meskipun terjadinya hubungan ini biasanya praktek saling mengkiritisi antar agama atau konflik antara pengikut agama  yang bersinggungan dalam satu tempat yang sama, kadang-kadang terjadi. Proses persinggungan itu bisa terjadi baik secara mufakat maupun tidak.[2]

Adanya konflik dan perang antar pemeluk agama yang berbeda  pada periode yang berbeda dalam sejarah, pada dasarnya bukan hanya karena perbedaan antara keyakinan, atau adanya agama yang mendominasi agama lain, tetapi konflik tersebut bisa juga muncul  karena adanya pengaruh kepentingan lain, seperti militer, politik dan ekonomi. Demi menerangkan akan pentingnya kegiatan dialog antar lintas agama, penulis menemukan data bahwa jumlah penduduk dunia pada tahun 2013 adalah 7. 021.836.029. sedangkan dalam data jumlah peneyebaran agama di dunia adalah sebagai berikut; Islam 22.43%, Kristen Katolik 16.83%, Kristen Protestan 6.08%, Orthodok 4.03%, Anglikan 1.26%, Hindu 13.78%, Buddhist 7.13%, Sikh 0.36%, Jewish 0.21%, Baha’i 0.11%, Lainnya 11.17%, Non Agama 9.42%, dan Atheists 2.04%.[3]

Idiologi bukanlah satu-satunya faktor penyebab munculnya konflik, namun ada faktor lain yang mendominasi penyebab konflik diantaranya adalah tujuan ekonomi dan kekuasaan atau politik.[4] Hal ini tentunya bertentangan dengan misi ilahi menciptakan agama, tidak terpikirkan bahwa agama-agama yang bertujuan kepada kedamaian dan kebahagiaan yang bersumber dari ilahi menjadi sumber konflik dan perang.[5] Kemunculan hubungan positif dan konstruktif antar agama selama proses perdamaian tersebut tidak disebut sebagai dialog antar agama sampai paruh kedua pada abad yang telah kita lewati.[6] Bahkan meskipun ada banyak percakapan alami dan spontan antara kelompok agama yang berbeda, ini tidak disebut dengan sebutan dialog.[7]

Meneliti penyebab dan proses munculnya konsep dialog dari perspektif sejarah akan memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang konsep dialog. Karena jika kita kembali kepada makna dialog secara global, maka kita akan sulit menentukan mana yang di maksud dialog dalam perspektif perhubungan antar agama.

Pertama perlu dicatat bahwa sejak awal abad ke-20 ada beberapa alasan dalam dunia Kristen yang berbasis gereja memutuskan untuk mengumpulkan Dewan untuk menyelesaikan sengketa dan permusuhan yang ada di antara denominasi Kristen dan gereja–gereja dan kemudian untuk dapat kerja sama dengan orang lain di beberapa bidang, di antara alasannya, masalah yang ditimbulkan oleh dua perang dunia, pengaruh ateisme pada bagian penting di dunia, kerusakan moral dan runtuhnya spiritual, penghentian penjajahan yang mengakibatkan munculnya negara-negara baru di panggung politik dan perubahan terkait dengan perkembangan ilmu pengetahuan.[8]

Salah satu hasil dari rapat dunia Kristen, memutuskan bahwa satu Dewan akan berkumpul di Vatikan selam 3 tahun.[9] Sebelum pertemuan Dewan, Gereja telah membentuk komisi dan sekretariat untuk proses persiapan dengan tujuan menyiapkan dunia kristen untuk dialog.[10] Dengan demikian prioritas atas dasar ide dialog yang dipimpin oleh dunia kristen adalah usaha dialog antara gereja–gereja yang terpisah. Sambutan Paus Jean pada pembukaan Dewan Vatikan ke–2, dia menginginkan agar gereja-gereja keluar dari lingkaranya dan kemudian membuka diri ke dunia luar, ia juga menekankan betapa pentingnya berdialog dengan semua orang untuk tujuan membangun hubungan dengan dunia luar.[11] Dengan demikian hal ini merupakan pertama kali dalam sejarah Gereja diadakan deklarasi tentang hubungan penganut agama-agama non-Kristen. Dan Dewan ini mengajak untuk melupakan permusuhan dan konflik di masa lalu antara orang-orang Kristen dan Islam. Ajakan gereja tidak hanya terbatas untuk melupakan masa lalu yang gelap, tetapi ajakan ini juga berisi pesan akan pentingannya kerjasama yang bermanfaat untuk semua manusia, kebebasan, perdamaian, keadilansosial, dan bekerjasama dengan orang-orang Islam demi kebaikan bersama.[12]

Sejarah dialog antara Islam dan Kristen, telah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad Saw, ditandai dengan adanya hubungan baik antara Muslim dan umat Kristen Ethiopia pada tahun 615 M. Kemudian perselisihan di antara keduanya di tandai dengan pecahnya Perang Salib dan dilanjutkan dengan kegiatan misionaris berusaha dihentikan oleh Gereja dengan diadakannya pertemuan Konsil Vatikan II.[13] Sampai Konsil Vatikan II pada tahun 1962-1965 M pendekatan negatif dunia Kristen dari sisi aspek teologis dan doktrin dogmatis, telah memperoleh arah baru dengan adanya Konsil dan Gereja  telah memutuskan dialog dengan agama-agama non-kristen yang berbeda dengan pendekatan sebelumnya.

Gereja Katolik dengan adanya perkembangan di dunia memahami dialog adalah jalan untuk memperoleh dorongan baru pada pengertian misi klasik yang sudah terjatuh dalam krisis dan menyampaikan pesan barunya pada dunia. Dalam hal ini dialog dengan misi tertentu tidak dianggap sebagai satu alternatif atau sesuatu yang menentang atau satu sama lain. Melainkan saling terkait satu sama lain dan bagian yang tidak bisa terpisah. Oleh karena itu dialog dalam pengertian baru gereja merupakan sarana yang mempunyai kedudukan sangat penting dan menjadi aspek penting untuk membangun hubungan antara pemeluk agama lain. Dengan demikian dialog yang termasuk kedalam literatür resmi Gereja Katolik dengan Konsil Vatikan II adalah nama era baru yang meninggalkan kebijakan-kebijakan yang ketat selama berabad-abad dan merupakan permulaan kerjasama antar pemeluk agama-agama lain dengan berbagai alasan. Meskipun konsep dialog menjelaskan hubungan antar anggota agama dan kerjasamanya, tapi jika dokumen-dokumen Konsil dan keputusan kepausan itu diteliti, konsep ini pada khususnya merupakan bagian dari misi kontemporer gereja yang tidak terpisah dari pengertiannya.[14]

Selain itu tujuan utama di antara tujuan konsil, pencarian kembali Kristenisasi orang-orang yang cukup jauh dari agama Kristen pada akhir abad ke-20.[15] Dan pada khususnya mengajak dialog secara lebih luas dengan membangun atas dasar sayang dan cinta lebih daripada sikap keras di antara Gereja dan dunia.[16] Demikian juga gereja yang mempunyai pemahaman dialog yang berbeda, berdiam atas pengertian hubungan antara pemeluk agama lain pada Konsili Vatikan II dan membangun “Sekretariat Non Kristen” sesuai dengan keputusan Dewan pada tahun 1964.[17] Sejak berdirinya sekretariat tersebut mereka mencari jalan dialog dengan negara-negara Islam dan telah melaksanakan beberapa kegiatan atas dasar dialog.[18]

Di sisi lain ada banyak faktor yang mendasari pada keinginan dialog gereja dengan pemeluk agama lain, khususnya dengan agama Islam.[19] Di antara faktor paling utama adalah untuk membuka diri pada dunia untuk mempertahankan keberadaanya. Karena menutup diri artinya menghapus diri sendiri dari dunia. Selain itu bisa disebut juga alasan yang membawa gereja untuk berdialog adalah keinginan membuat blok iman bersama dengan agama-agama samawi untuk melawan terhadap sikap negatif positivisme, sekularisme dan materialisme terhadap agama-agama. Karena gereja sudah siap bekerjasama dengan semua pengikut agama untuk melawan ateisme yang telah menyerang nilai-nilai samawi dan kepercayaan untuk menghancurkan semua kepercayaan.

Alasan lain adalah keinginan beberapa kaum agamis yang ikhlas bekerja sama dengan pengikut agama lain untuk memecahkan permasalahan kemanusiaan yang telah terjadi.Salah satu faktor yang penting untuk mendorong Kristen mengubah sikapnya dengan adalah dengan menyebarkan toleransi dan perdamian kepada masyarakat yang lebih luas adalah agar meminimalisasi konflik antar agama. Alasan ini adalah untuk meningkatkan efektivitas agama dalam kehidupan manusia yang telah mengalami krisis. Dan perang dunia ke-2 yang telah membawa kekhawatiran dan keprihatinan banyak orang dalam proses sejarah. Tetapi di antara semua faktor ini faktor yang paling penting yang membawa dunia kristen pada dialog adalah menyebarkan pemikiran kristen dengan metode baru.[20]

YUsuf Altuntas (dalam KONTRIBUSI GERAKAN FETHULLAH GÜLEN DALAM MEMBANGUN DIALOG LINTAS AGAMA DI TURKI)

 

[1]Sulhi Dönmezer, Sosyoloji (Ankara: SavaşYayınları, 1982), 215.

[2]Ali Ihsan Yitik, Dinlerarası Diyalog ve Dünya Barışı; Dinin Dünya Barışına Katkısı (Ankara,Türkiye Diyanet Vakfı Yayınları, 2006), 60-66.

[3]Becka A. Alper and Daniel V. A. Olson, Sociology of Religion; Religious Population Share and Religious Identity Salience: Is Jewish Identity More Important to Jews in Less Jewish Areas?, Vol. 74, No. 1 (SPRING 2013) (pp. 82-106); M. Masri.“Hari Ini, Islam Jadi Agama Terbesar di Dunia”. Republika, 13 Januari 2014, http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/14/01/13/mzbetu-hari-ini-islam-jadi-agama-terbesar-di-dunia

[4]Niyazi Öktem, Diyalog Yazıları (İstanbul: Timaş Yayınları, 2001), 99.

[5]Ramazan Altıntaş, “Diyalogda Yeni Konsept Değişikliği: Medeniyetler Ittifakı,” Kelam Araştırmaları 6, 2 (2008): 1.

[6]Ali Ihsan Yitik, Dinlerarası Diyalog ve Dünya Barışı, Dinin Dünya Barışına Katkısı (Ankara: Türkiye Diyanet Vakfı Yayınları, 2006), 60-66.

[7]Eric j. Sharpe, Encyclopedia of Religion, 2th edition, (the United States of America, 2005), 2342.

[8]Francis Dvornik, Konsiller Tarihi: İznikten II. Vatikana, diterjemahkan oleh Mehmet S. Aydın, (Ankara: Türk Tarih Kurumu, 1990), 83-84.

[9]Günay Tümer dan Abdurrahman Küçük, Dinler Tarihi (Ankara: Ocak Yayınları, 1993), 396.

[10]Francis Dvornik, Konsiller Tarihi: İznikten II. Vatikana, diterjemahkan oleh Mehmet Aydın, (Ankara: Türk Tarih Kurumu, 1990), 83-84.

[11]Günay Tümer dan Abdurrahman Küçük, Dinler Tarihi…, 396.

[12]Francesco Gioia, Interreligious Dialogue: The Official Teaching of The Catholic Church, (Boston: Pauline Books and Media, 2006), 39; Mehmet Aydın, Hıristiyan Genel Konsilleri ve II. Vatikan Konsili (Konya: Selçuk Üniversitesi Basımevi, 1991), 84.

[13]Günay Tümer dan Abdurrahman Küçük, Dinler Tarihi, 396.

[14]Lihat lebih lanjut dalam buku Mehmet Ali Kirman, Din Sosyolojisi Terimleri Sözlüğü (İstanbul: Rağbet Yayınları, 2004), 122-188.

[15]Suat Yıldırım, Kiliseyi İslâm İle Diyalog İstemeye Sevk Eden Sebepler, Asrımızda Hıristiyan Müslüman Münasebetleri (İstanbul: Ensar Yayınları, 2005), 18.

[16]Francis Dvornik, Konsiller Tarihi: İznikten II. Vatikana, diterjemahkan oleh Mehmet Aydın (Ankara: Türk Tarih Kurumu, 1990), 85.

[17]Maurice Borremans, II.Vatikan Konsili Sonrası Katolik Kilisesi ve Bizden Olmayanlar”, İslâm ve Hıristiyanlıkta Kurtuluş, Uluslararası Müslüman-Hıristiyan Diyalog Sempozyumu (İstanbul, 2007), 139-140.

[18]Baca juga Maurice Borremans, II. Vatikan Konsili Sonrası Katolik Kilisesi ve Bizden Olmayanlar, Islam ve Hristiyanlikta Kurtulus, Uluslararası Müslüman-Hıristiyan Diyalog Sempozyumu (İstanbul: 2007), 140-145.

[19]Suat Yıldırım, Kiliseyi İslâm İle Diyalog İstemeye Sevk Eden Sebepler, 18-47; Ali Ihsan Yitik, Dinlerarası Diyalog ve Dünya Barışı, Dinin Dünya Barışına Katkısı, (Ankara: Türkiye Diyanet Vakfı Yayınları, 2006), 60-62.

[20]Ali Can, Kur’an’da Ehl-i Kitap’la Diyalog (Istanbul: Yeni Akademi Yayınları, 2011), 32-33.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *