AQIDAH ANTARA PEMIKIRAN DAN KEIMANAN

Oleh: Khoirul Arifin

Persoalan aqidah di antara umat umat Islam merupakan permasalahan yang bisa dikatakan paling pokok dalam ajaran Islam. Menilik kepada penjelasan Gutierrez (1996) bahwa teologi adalah sesuatu yang di dalamnya mengandung nilai-nilai, etos-etos dan ajaran yang dapat digunakan sebagai paradigm bagi seseorang dalam berfikir dan berperilaku. Teologi mengandung ethical force bagi manusia. Di samping mengandung nilai teoritis, teologi juga mengandung dimensi praksis teologi merupakan wahana strategis di dalalm kita memberikan dan menanamkan nilai-nilai dalam diri manusia.[1]

Manusia dalam perilakunya sangat diipengaruhi oleh dimensi terdalam yang ada dalam dirinya, yang disebut internal cognition. Internal cognition dalam diri manusia ini sangat dipengaruhi oleh inputan-inputan baik yang berasal dari capaian ideologis, teologis, maupun kepercayaan dan faham lainnya. Internal cognition ini dapat bertambah seiring dengan kematangan , kebijaksanaan manusia akibat adanya inputan-inputan. Ia dapat dipengaruhi dan berubah.[2]

Aspek teologis memiliki kedudukan yang sangat fundamental. Hal ini tidak lain karena teologi dipandang sebagai hal yang sangat lekat dengan dimensi keyakinan yang merupakan dimensi terdlam dalam diri manusia. Menurut Syari’ati, teologi-yang lekat dengan keimanan-merupakan satu dari sekian pengetahuan manusia yang sangat fundamental dalam mempengaruhi pola perilaku manusia.[3] Lebih lanjut al-Faruqi juga menegaskan bahwa pandangan teologislah yang akan menjadi penentu terhadap world view (pandangan dunia) indvidu dan masyarakat.[4]

Banyak ulama menjelaskan bahwasanya mempelajari ilmu aqidah adalah kewajiban yang paling utama bagi stiap muslim. Menurut DR. Muhammad Sayyid Ahmad al-masir, titik tolak pertama dalam sebuah kebudayaan adalah berangkat dari aqidah. Dari sana ditetapkan arah dan tujuan umat. Setidaknya ada beberapa hal yang diharapkan dari mempelajari ilmu aqidah ini. Di antaranya: Menaikkan seseorang dari tingkatan taqlid kepada tingkat keyakinan; memberi petunjuk bagibagi orang yang ingin tahu dengan menjelaskan dalil-dalilnya, dan sekaligus membantah orang orang yang menolak hujjah petunjuk tersebut; dan tercapainya niat dan aqidah yang benar. Karena dari sana diharapkan amal ibadah seseorang dapat diterima. Dan semua itu adalah demi tercapainya kebahagiaan dunia dan akhirat.[5] Imam al-Ghazali, di dalam pembukaan kitab al-Mustashfa menerangkan bahwa ilmu kalam adalah ilmu yang kedudukannya paling tinggi di antara ilmu-ilmu agama yang lain. Karena ilmu kalam adalah ilmu kulli.[6] Tujuan utama dari ilmu Kalam, sebagaimana diungkapkan oleh Imam al-Ghazali, adalah untuk membentengi doktrin-doktrin pokok dalam Islam.[7]

Namun persoalannya adalah bahwa realitas sejarah menunjukkan bahwa terdapat banyak sekali faham-faham aqidah, sehingga hal tersebut seakan menimbulkan kebingungan di tengah-tengah masyarakat. di tengah maraknya faham-faham tersebut, seseorang harus memutuskan untuk memilih salah satu di antaranya. Meski sebagian, dan mungkin kebanyakan masyarakat muslim terutama di Indonesia tidak tahu-menahu tentang faham aqidah, namun sebagian di antaranya bersikap sangat fanatic terhadap salah satu aliran atau faham, yang sampai pada sikap menyalahkan bahkan meng-kafir-kan sebagian yang lain. Maka dari itu, penulis mencobaa untuk memahami fenomena tersebut dengan kemampuan yang mungkin masih terbatas untuk memahami kembali persoalan aqidah.

 

  1. Pemicu Perbedaan Dalam Aqidah

Sebelum penulis mengulas tentang aqidah itu sendiri, ada baknya ditinjau terlebih dahulu permasalahan-permasalahan apa saja yang menyebabkan perbedaan pendapat atau penafsiran dalam aqidah. Dalam hal ini penulis mengambil keterangan dari Abu Zahroh tentang penyebab perbedaan pendapat di kalangan umat Islam.

Muhammad Abu zahroh, dalam Tarikh al-Madzahib al-Islamiah, menerangkan bahwa terkait hal perbedaan umat Islam, ada dua hal yang pelu digaris-bawahi: Pertama, bahwasanya perbedaan yang terjadi di kalangan umat Islam  tidaklah sampai pada ajaran Islam yang paling urgen. Umat Islam tidak berbeda pendapat tentang keesaan Allah; kesaksian bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah; dan bahwa al-Qur’an adalah wahyu dari Allah yang merupakan mu’jizat Nabi yang paling agung, dan bahwa al-Qur’an diriwayatkan secara mutawatir dari generasi ke generasi; dan tidak berbeda dalam kewajiban-kewajiban pokok agama seperti sholat lima waktu, zakat, haji, puasa. Dan sekaligus tidak memperselisihkan tata-cara menjalankan perintah-perintah tersebut. Dengan kata lain, perbedaan umat tidak sampai pada rukun-rukun Islam, tidak pula dalamajaran-ajaran yang maklum dikalangan semua umat seperti haramnya minum arak, makan daging babi, makan bangaki. Dan mereka tidak berbeda dalam kaidah-kaidah umum tentang hokum warisan. Adapun perbesaan hanya menyentuh pada hal-hal yang tidak sampai menyinggung rukun-rukun dan pokok-pokok umum. Kedua, bahwasanya perbedaan di kalangan umat Islam yang terkait dengan sebgian aqidah dan politik, tidak diragukan lagi adalah tidak baik, lain halnya ddengan perbedaan dalam masalah fiqih.[8]

Selanjutnya, Abu Zahrah menjelaskan bahwa perbedaan ada dua, yaitu: pebedaan yang tidak menyebabkan perpecahan umat; dan perbedaan yang yang menyebabkan perpecahan. Adapun sebab-sebab perbedaan, lebih lanjut, menyebutkan di antaranya:

  1. Fanatisme kebabangsaan Arab

Menurut Abu Zahroh, fanatisme inilah sebab utama dalam perselisihan umat Islam. Pada masa nabi fanatisme tersebut sudah mulai menyurut dikarenakan ajaran-ajaran Islam yang menyeru untuk kesatuan umat. Bahkan hal ini berlanjut hingga masa Kholifah Utsman ibn Affan. Namun perselisihan mulai muncul kembali di akhir-akhir kepemimpinannya. Perselisihan ini pada mulanya merupakan pemicu antara golongan bani Umayah dan Hasyimiyah. Kemudian muncul kaum khowarij dan lain-lainnya.[9]

  1. Persengketaan ke-khalifah-an

Di antara sebab utama perpecahan adalah perbedaan politik yang diawali dari permasalahan “siapa yang paling berhak untuk menggantikan Nabi dalam memimpin umat. Permasalahan ini muncul seketika pasca wafatnya nabi Muhamad. Golongan Anshor dan Muhajirun sama-sama merasa berhak dengan argument masing-masing. Namun keteguhan Iman kaum Anshor bisa meredakan konflik tersebut sehingga tidak mempunyai pengaruh yang signifikan dalam perpecahan umat.  Namun permasalahan muncul kembali ketika mempermasalahkan apakah yang lebih berhak adalah khusus dari keturunan Ali ataukah untuk seluruh umat muslim. Demmikian perselisihan hingga memunculkan golongan Syi’ah dan Khawarij.[10]

  1. Kedekatan kaum Muslim dengan pemeluk-pemeluk agama-agama terdahulu, dan pindahnya sebagian dari mereka ke dalam agama Islam

Ada para pemeluk agama-agama sebelunya yang kemudian masuk Islam, yaitu yang sebelumnya beragama Yahudi, Nasraani, dan Majusi. Sedangkan pemikiran-pemikiran keagamaan mereka yang lama masih terbawa ketika sudah masuk Islam. Dan itu masih menguasai perasaan dan sensasi beragama mereka. Kemudian mereka memahami ajaran-ajaran Islam menggunakan aqidah-aqidah terdahulu mereka tersebut. Maka hal itu menjadi pengaruh di antara umat Islam.

Memang, meskipun tidak ada keraguan tentang ketulusan mereka dalam memeluk agama Islam, namun pemikiran-pemikiran mereka tetap terpengaruh dari agama-agama sebelumnya, apalagi orang-orang yang memang dengan sengaja masuk Islam untuk tujuan merusaknya dari dalam.[11]

  1. Penerjemahan buku-buku filsafat ke dalam bahasa Arab

Menurut Abu Zahroh, gerakan penerjemahan buku-buku filsafat ini mempunyai pengaruh yang sangat jelas dalam timbulnya perselisihan. Karena pemikiran Islam banyak yang menentang tema-tema filsafat, seperti pembahasan-pembahasan tentang hal-hal di luar jangkauan indra manusia. Namun demikian dalam perkembangannya banyak umat Islam yang bahkan mengadopsi pemikiran-pemikiran filsafat tersebut.[12]

  1. Pembahasan tentang permasalahan-permasalahan yang rancu

Seseungguhnya penyebaran pemikiran filsafat di kalangan ulama umat Islam dalam memutuskan permasalahan aqidah telah menyeret mereka ke dalam pembahasan-pembahasan yang sesungguhnya di luar jangkauan akal manusia, seperti pembahasan tentang penetapan dan peniadaan sifat-sifat Allah. Hal ini membuka pintu bagi timbulnya perpecahan karena perbedaan pandangan dan teori.[13]

  1. Para Pendongeng

Dalam tarikh al-Madzahib al-Islamiyah”, Abu Zahroh mengatakan bahwa timbul maraknya para pendongeng ini adalah pada masa khalifah Utsman ibn Affan. Sedemikian tidak senangnya terhadap para pendongeng, sampai sahabat Ali mengusir mereka dari masjid-masjid. Karena para pendongeng tersebut dianggap menceritakan mitos-mitos kepada umat, yang mana mitos tersebut adalah bersumber dari agama-agama terdahulu yang telah mengandung banyak pengrubahan. Para pendongeng ini banyak pula dijumpai pada masa Umayah. Sebagian di antaranya ada yang memang baik, namun kebanyakan adalah buruk atau menyimpang. Disinyalir bahwasanya dari mereka-lah munculnya penafsiran-penafsiran isra’iliyat dalam kitab-kitab tafsir, sejarah Islam. bagaimanapun juga cerita-cerita tersebut dipandang dari segala sisi pada waktu itu tetaplah hanya pemikiran-pemikiran yang tidak matang yang disampaikan di dalam berbagai majlis yang berbeda. Maklum saja jika dari sini timbul potensi-potensi perbedaan, apalagi jika si pendongeng sudah condong terhadap salah satu madzhab tertentu.[14]

  1. Adanya ayat-ayat mutasyabihat dalam al-Qur’an

Ayat-ayat mutasyabihat di dalam al-Qur’an, kendati pun adalah sebuah ujian untuk keteguhan iman umat islam, adanya ayat-ayat mutashaihat tersebut menjadi sumber pertikaian dikalangan ulama dalam mengartikan ayat-ayat tersebut.[15]

  1. Pemutusan hukum syara

Perbedaan dalam penetapan hukum syara’ memang salah satu penyebab perbedaan umat, terutama dalam hukum permasalahan-permasalahan yang beum ada ketetapannya di dalam al-Qur’an maupun sunnah nabi. Namun Abu Zahroh menjelaskan bahwa perbedaan yang semacam ini tidak perlu dikhawatirkan, bahkan perbedaan ini justru adalah sesuatu yang baik.[16]

 

  1. Asal Aqidah

Di zaman Nabi Muhammad umat Islam dapat kompak dalam lapangan agama, termasuk di bidang aqidah. Kalau ada hal-hal yang tidak jelas atau hal-hal yang diperselisihkan di antara para sahabat, mereka mengembalikan persoalannya kepada nabi. Maka penjelasan beliau itulah yang menjadi peganga dan ditaatinya. Keadaan umat zaman khalifah-khalifah Abu Bakar dan Umar itu cukup mengerti akan isyarat-isyarat Al-Qur’an dna nash-nashnya. Terhadap ayat-ayat mutasabihat mereka serahkan kepada Allah, dan sama sekali tidak mau mentakwilkannya. Ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang samar pengertiannya. Pendirian para sahabat tentang ayat-ayat mutasyabihat itulah yang kemudian diikuti oleh kaum salaf, yang mengambil pengertian tentang sifat-sifat Allah dengan makna-makna lafad menurut logat, serta mensucikan Allah daripada menyerupainya dengan sesuatu diantara makhluknya.[17]

Pada mulanya, istilah aqidah dan iman adalah dalam esensi yang sama, yakni aqidah adalah iman itu sendiri. Muhammad Abduh menerangkan bahwa pengertian tauhid pada asalnya berarti percaya bahwa Allah adalah satu, tiada sekutu bagiNya.[18] Sebagaimana dijelaskan oleh al-Sayyid Sabiq dalam “al-Aqa’id al-islamiyah”, bahwasanya iman adalah aqidah yang diturunkan Allah di dalam kitab-kitab sucinya, dan diwahyukan kepada seluruh Nabi-nabinya, dan diwasiatkan kepada seluruh generasi umat dari awal hingga yang paling akhir. Aqidah dalam pengertian Iman ini memuat enam hal: pertama, mengenal Allah beserta nama-nama-Nya yang Indah dan sifat-sifat-Nya yang luhur, sekaligus mengetahui dalil-dalil keberadaan (wujud) dan penampakan keagungan-Nya di Alam semesta ini.

Kedua, mengetahui alam atau ciptaan-ciptaan Allah yang di luar jangkauan indera manusia, yang mana di dalamnya meliputi kekuatan kebaikan yang diwakili oleh malaikat, dan kekuatan keburukan yang diwakili oleh Iblis dan tentaranya, yaitu syaithan. Kemudian termasuk juga tuntutan untuk mengenal jinn dan arwah.

Ketiga, mengetahui kitab-kitab Allah kepada manusia untuk menyampaikan batas-batas kebenaran dan kebathilan, kebaikan dan keburukan, halal dan haram, serta baik-dan buruk; keempat adalah mengetahui para Nabi dan Rasul Allah yang dipilih untuk menjadi tonggak-tonggak petunjuk dan pemimpin bagi manusia menuju kebenaran; kelima, mengetahui akan datangnya hari akhir, dan hal-hal yang terkait dengannya seperti pembangkitan kembali manusia dan pembalasan terhadap amal perbuatan, pahala dan siksa, serta adanya surge dan neraka; keenam adalah mengetahui kekuasaan (qadar) Allah yang dituangkan dalam hokum-hukum alam bagi semua ciptaan-Nya, sekaligus pemeliharaan alam semesta.[19] Demikian itu-lah-menurut Sayyid Sabiq adalah kesatuan dalam aqidah yang tidak tergantikan karena pergantian zaman maupun lingkungan, dan tidak akan berubah karena perubahan individu dan golongan.

Kemudian penguasaan politik yang berinteraksi dengan madzhab-madzhab pemikiran dan golongan-golongan agama lain, serta menjadikan akal sebagai tolak ukur untuk kebenaran yang sebenarnya diluar jangkauannya, itulah yang menjadi sebab pergeseran dari metoda-metoda yang diwariskan oleh para Nabi. Kemudian di dalam perkembangannya, aqidah mengalami perubahan makna dengan berbagai penamaan.[20] Imam Abu Ja’far Ath-Thohawil-lah yang pertama kali menggunakan istilah aqidah, ketika ia menulis satu kitab yang secara khusus membahas masalah yang berhubungan dengan masalah-masalah keimanan.[21] Beliau hidup antara tahun 239 s\d 321 H,[22] salah satu gurunya adalah Imam An-Nasa’i.[23]

Dan pada waktu itu, terjadi perbedaan diantara para ulama tentang definisi aqidah dan dalil yang digunakan untuk membangun masalah aqidah. Lalu Para Ulama mulai memberi beragam definisi atas aqidah, diantaranya :

  1. Sampainya perasaan pada sesuatu, sehingga menggerakkan hati kita serta mengarahkan gerak kita.[24]
  2. Pembenaran yang sempurna, yang tidak berkurang, dan menerima semua rukun iman dengan penuh keyakinan.[25]
  3. Aqidah Adalah Iman. Iman adalah pembenaran (keyakinan) yang bulat (jazm), sesuai dengan realitas, dan bersumber dari dalil yang qath’I.[26]
  1. Imam al-Ghazali. Di dalam pembukaan kitab al-Mustashfa menerangkan bahwa ilmu kalam adalah ilmu yang kedudukannya paling tinggi di antara ilmu-ilmu agama yang lain. Karena ilmu kalam adalah ilmu kulli.[27] Tujuan utama dari ilmu Kalam, sebagaimana diungkapkan oleh Imam al-Ghazali, adalah untuk membentengi doktrin-doktrin pokok dalam Islam.[28]

 

Walhasil, pembahasan tentang definisi masalah aqidah dan dalil yang ’layak’ digunakan untuk membangun masalah aqidah telah melibatkan para ulama dari berbagai cabang disiplin ilmu dien seperti ulama ahli ushul, ulama ahlut tafsir, ulama ahul lughah, ulama ahlul hadis dll. Oleh karena itu, pembahasan masalah ini tidak boleh dibatasi hanya dari sudut pandang ulama dalam disiplin ilmu tertentu, seperti sudut pandang ulama ahlul hadis saja atau yang semisalnya. Tapi harus pula memperhatikan pendapat dari para ulama lain yang memberi perhatian ‘khusus’ tentang kajian yang berkaitan dengan masalah ini. Walaupun itu harus melibatkan ulama dari berbagai disiplin ilmu dengan perspektif yang mereka miliki. Baru setelah itu diambil satu kesimpulan tentang aqidah dan dalil yang digunakan untuk membangun masalah aqidah menurut pendapat dengan argumentasi yang terkuat.[29]

Di antara sebutan bagi ilmu aqidah adalah sebagai berikut: Ilm at-Tauhid, disebutddemikian karena di dalamnya banyak membahas tentang peng-esaan (tauhid) Allah; Ilm al-Kalam, disebut demikian salah satu alasannya karena dihadapkan dengan ilmu mantiq dalam filsafat, atau karena biasanya didahului dengan kalimat “perkataan (kalam) tentang hal ini..”, atau karena perselisihan yang paling terkemuka di dalamnya adalah tentang “kalam”; Ilm Ushul ad-Diin, disebut demikian karena dianggap sebagai pokok dalam ajaran agama, karena tidak ada amal tanpa iman, dan tidak ada akhlak tanpa aqidah; Ilm al-Fiqh al-Akbar, al-fiqh artinya adalah kefahaman, dan kefahaman yang paling utama dan mendalam adalah kefahaman yang dihadapkan dengan Dzat yang paling agung dan paling suci, serta dihadapkan dengan wahyu ilahi yang paling tertinggi; Ilm al-Aqidah, yaitu hal-hal yang dipercayai (tu’taqadu) dan dibenarkan dalam hati, sehingga hati menjadi tenang.[30]

 

  1. Muara Aqidah

Sebagaimana dijelaskan di atas, asal aqidah adalah tauhid itu sendiri dengan seluruh aspeknya, dalam arti aqidah umat Islam masih utuh dalam keseragaman. Bahkan para Sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in tidak pernah menggunakan istilah aqidah ketika membahas masalah-masalah keimanan, mereka cukup menyebutnya dengan istilah al-Iman atau at-Tauhid. Pun demikian, para Ahli hadis ‘Senior’ seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam at-Tirmidzi, Imam Ibn Khuzaimah cukup dengan menggunakan istilah Al-Iman dan At-Tauhid ketika membahas hal-hal yang berkaitan dengan masalah keimanan sebagaimana yang terdapat dalam kitab-kitab hadis yang mereka tulis, tidak menggunakan istilah aqidah.[31] Namun kebanyakan adalah lahir dari golongan-golongan dalam politik.

Abu Zahroh menegaskan bahwa semua aliran-aliran politik adalah berkisar antara khilafah, yaitu permasalahan siapa Imam tertinggi itu? Adapun dinamakan khilafah karena seorang yang menjadi penguasa berarti juga menjadi hakim tertinggi bagi umat Islam. disebut Imamah karena seorang khalifah juga sekaligus menjadi Imam, yang notabenenya adalah wajib ditaati, dan semua orang mengikutinya sebagaimana mereka mengikuti imam dalam hal sholat. Dari latar belakang inilah Abu Zahrah mengelompokkan Syi’ah dan Khowarij kedalam kelompok madzhab politik, karena memang kedua madzhab ini bermula dari permasalahan politik. Kemudian baru mengelompokkan sekte-sekte lain seperti Jabariyah, Qadariyah, Murji’ah, dan Mu’tazilah kedalam aliran-aliran aqidah.

Pada masa abad pertengahan, terjadi peristiwa yang cukup memprihatinkan di kalangan umat Islam, yang disebabkan oleh perbedaan penafsiran dalam pemahaman aqidah. Ahli hadits mengagungkan kata-kata tersurat (nash) dari naskah sebagai sakral, dan di atas itu adalah al-Qur’an. Kesalihan ahli hadits menyatakan keutamaanya dalam ajaran (yang dinyatakan dalam hadits) bahwa al-Qur’an yang mereka baca, sebagai firman Tuhan bukanlah semata ciptaan. Orang-orang ini tidak boleh menggambarkan apapun yang bisa membaurkan dari mereka wajah Tuhan. Tetapi mereka ingin Tuhan menjadi gamblang- mereka ingin melihat Tuhan ketika mereka meninggal, dan ingin melihatNya secara langsung. Imajinasi mereka terbakar oleh kehadiran Tuhan sendiri, yang firmanNya, yang tidak lain daripada ia sendiri, berada di mulut merreka sendiri ketika membaca al-Qur’an yang berada di tangan mereka sendiri, ketika mereka menggenggamnya dengan penuh hormat.[32]

Ajaran-ajaran seperti itu adalah sama asingnya bagi kesalihan Madinah yang awal dengan pemujaan pahlawan Syi’ah. Kaum Mu’tazilah yang merasa terkejut menuduh  ahli hadits telah menghinakan tauhid (keesaan) Tuhan dan keagungan transendenNya melalui sikap mereka yang terlalu akrab (over-familiar). Kaum Mu’tazilah merasa bahwa menjadikam al-Qur’an sebagai firman atau kalam Tuhan, “bukan pencipta dan juga bukan dicipta,” (memakai ungkapan ahli hadits) sama dengan mendudukkannya untuk disembah selain Dia. Ini tentu saja bertentangan dengan seluruh semangat al-Qur’an, yang tengah betul-betul dipertahankan oleh kaum Mu’tazilah. Dengan dukungan weweenang khaliifah sejak masa al-Ma’mun ddan seterusnya, mereka menguji ortodoksi untuk membolehkan bahwa al-Qur’an  seperti yang lainnya, hanyalah ciptaan Tuhan. Ahli hadits tidak bisa meluluskan permintaan ini: membolehkan hal seperti itu akan mengenai jantung dari rasa kehadiran langsung, dalam al-Qur’an, dari Tuhan sendiri sambil menantang jiwa manusia. Sebaliknya ahli hadits menuduh Mu’tazilah sebagai tidak menghormati Tuhan, karena dalam upaya mereka untuk merasionalisasi kepercayaan mereka, menyatakan kebebasan kehendak manusia yang harus diganjar oleh kekuasaan Tuhan. Ahli hadits merasakan hal tersebut sama artinya dengan menghina kekuasaan Than secara berlipat ganda, yakni dengan beranggapan bahwa Tuhan tidak berkuasa menjadi pencipta bagi tindakan-tindakan yang kita sebut kejahatan, nahwa Ia harus kita paksa untuk menjadi apa yang manusia sebut adil; dan dengan mengasalkan kepada manusia semata tindakan-tindakan jahat mereka, seakan-akan makhluk (yang disebut) manusia, seperti Tuhan, bisa meenciptakan tindakan-tindakan dan yang lainnya.[33]

Selain diawali oleh latar belakang politik yang terjadi pasca terbunuhnya Khalifah Utsman ibn Affan, permasalahan kalam juga dipicu oleh perkembangan filsafat di kalangan umat Islam. sebagaimana disinggung dalam “The Venture of Islam” disebutkan bahwasanya kejayaan filosof adalah kosmologi merka, yaknipenjelasan mereka yang serba rasionalistik tentang alam semesta sebagai keseluruhan dan tempat jiwa manusia di dalamnya. Namun tradisi para filosof seperti ini merupakan penghadang bagi para umat Islam untuk melakukan hal yang sama. pada awalnya, teori-teori filsafat ketuhanan dan manusia tidak banyak digunakan dalam tradisi Islam.[34]

Namun ketika ada tantangan dari luar yang mempermasalahkan secara umum validitas al-Qur’an tentang Tuhan dan tentang ari akhir, sebagian umat islam mengadakan upaya untuk menanggapi hal tersebut. Yang pertama mengolah secara ekstensif apologia seperti ini adalah Mu’tazilah, untuk menunjukkan bahwa tidak ada apapun di dalam al-Qur’an yang menjijikan bagi penalaran yang hati-hati. Namun setelah itu terjadi banyak perdebatan dengan kelompok non-muslim dan antar umat muslim sendiri. Banyak di antara kelompok-kelompok di kalangan umat islam yang mengupayakan tolak ukur-tolak ukur dari apa yang harus kita pandang menjijikan bagi akal. Ini berarti mendirikan sebuah kosmologi yang utuh yang dapat mereka klaim rasional dan dengan mana mereka dapat menunjukkan bahwa al-Qur’an adalah serasi dengannya.[35]

Di bawah rubric keEsaan Tuhanlah maka kaum Mu’tazilah memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang sangat kosmologi; karena mereka harus menemukan suatu pengertian tentang ciptaan Tuhan dan pemerintahan duni: apakah ada di sana, misalnya, sesuatu apapun yang Tuhan tidak dapat lakukan?—yang sebagian besar menolaknya. Istilah mereka—substansi, aksiden, eksistensi, non-eksistensi, dan lain-lain nampaknya telah membahanakan, walaupun tidak persis betul, tradisi filosofis Yunani, barangkali ia mencerminkan diskusi-diskusi teologi Kristen, dengan mana kaum Mu’tazilah dan muslim lainnya berselisih, tetapi orientasi mereka mengarah pada keutamaan wahyu.[36]

Ajaran Mu’tazilah tidak hanya airan spekulatif Islam, tetapi sejak lama ia merupakan (aliran) yang sangat efektif secara intelektual. Meskipun begitu, dengan munculnya kesalihan ahli hadits[37], ia semakin berada di luar jalur dengan aliran-aliran yang  paling populer masa itu.Keesaan metafisik dan keadilan Tuhan yang rasional dapat dipertahankan dari sudut al-Qur’an dan cukup konsisten dengan kepercayaan yang relative tidak persis dari kaum Muslimin biasa masa awal. Tetapi pada poin-poin ini seperti pada hamper semua poin utama mereka, kaum Mu’tazilah selalu bertentangan dengan gerakan hadits, yang tampaknya mentolerir antropomorfisme, menekankan kemahakuasaan Tuhan yang lebih intens daripada keadilan-Nya, dan menerima riwayat-riwayat hadits sering dengan mengorbankan al-Qur’an.menjelang abad kesembilan beberapa orang, termasuk mereka yang mengidentifikasi dirinya sebagai ahli hadits telah berupaya untuk membenarkan secara rasional, sambil melawan kaum Mu’tazilah, pandangan-pandangan yang lebih popular ini-yang beranjak dari posisi kaum hadits yang lebih umum, untuk menolak perselisihan kalam sama sekali. Dua orang tokoh yang paling terkemuka adalah Abu al-Hasan al-Asy’ari dan Abu mnsyur al-Maturidi.[38] Tokoh-tokoh seperti itu berusaha membatasi kalam dan kosmologinya secara lebih ketat untuk mempertahankan ajran-ajaran yang secara umum lebih diterimadari orang-orang yang berpikiran syari’ah.

Mu’tazilah berusaha untuk menyimpulkan sedikit mungkin dari tuntuan-tuntutan akal an-sich. Mereka telah menekankan bahwa memberikan Tuhan sebagai memiliki sifat apapun yang berbeda, seperti pengetahuan atau kekuasaan sangat riskan atau berbahaya, jika bukan antropomorfisme, maka justru lebuh buruk lagi, yaitu menyatakan entitas abadi yang lain selain Allah (Tuhan); karena pengettahuan atau kekuasaan apapun yang dirujuk kepada Tuhan pastilah pada dirinya abadi. Mereka menekankan bahwa Tuhan mengetahui dan berkuasa tidak melalui sebuah pengetahuan atau kekuasaan khusus tapi melalui esensi-Nya yang sederhana dalam tiap-tiap kasus terrsebut. …… Asy’ari nampaknya telah menyatakan bahwa Tuhan betul-betul memiliki sifatsifat, dan telah menghadapi kaum Mu’tazilah dengan mengatakan, secara rapih, bahwa mereka tidak lain daripada dzatNya sendiri. Kategori-kategori tetap dipertahankan, tetapi tidak dibiarkan daari keefektifan Tuhan yang dapat turut campur dalam sejarah.[39]

Semua generalisasi, betapapun bergunanya adalah berbahaya dengan generalisasi seperti itu takkan pernah bisa bagaimanapun, mengarah pada kebenaran-kebenaran terakhir (ultimate truth) tentang tabiat hidup dan alam semesta.[40]

Perselisihan kalam seperti itu secara militan anti filosofis. Meskipun begitu kala dari aliran  manapun telah lama menjadi kecurigaan dalam pandangan orang banyak, bahkan barangkali sebagian besar sarjana hukum fiqih, dan sarjan-sarjana syari’ah minded pada umumnya yang ebih konsisten. Hingga setelah masa kekhkallifahan Tinggi posisinya paling banter sekunder terhadap posisi syari’ah, dalam pandangan sebagian besar ulama. Jika benar ahwa generalisasi spekulatif, pada kenyataannya tidak dapat mengarah ke manapun, sebagaimana diisyaratkan oleh analisis atomistic ini, maka mengapakah kita berspekulasi bahkan begitu banyak.[41]

Kembali lagi kepada pemahaman aqidah pada masa awall, dalam definisi aqidah oleh ulama terdahulu, yaitu “menghadirkan dalil-dalil yang bersifat yaqin terhadap aqidah-aqidah keagamaan, dan menolak argumen-argumen dan pemikiran samar dari lawan”. Mengandung dua unsur metode, yaitu: pertama, menetapkan (ijab), yakni menetapkan kesahihan aqidah agama dengan dalili-dalil yang kuat (yaqiniah); kedua, menafikan (salbi), yakni menolak argument-argumen lawan.[42] Tentunya definisi ini menimbulkan kesan bahwa ada kelompok yang benar karena “berpegang kepada aqidah yang sahih”, da nada kelompok yang dianggap sesat oleh sementara golongan. Pada intinya semua pemikiran tersebut mempunyai argument masing-masing, aqidah Khawarij didasarkan kepada pemikiran tentang orang-orang yang berdosa besar. Munculnya Syi’ah disebabkan oleh perdebatan dalam masalah Imamah atau khilafah, yakni pemimpin seluruh umat Islam. Aqidah utama Murji’ah mempermasalahkan pemisahan antara perkataan (iqrar) dan perbuatan dalam definisi iman, yang disinyalir bisa menyebabkan sikap meeremehkan terhadap ajaran-ajaran agama. Paham Qadariyah diasosiasikan kepada kelompok yang menafikan qadr, sehingga dianggap menyeleweng dari aqidah pokok Islam, yaitu iman terhadap qadla’ dan qadr.[43]

Perlu digarisbawahi bahwasanya atau aliran-aliran politik, meskipun pada mulanya murni politik, namun sudah menjadi karakter bahwa setiap aliran politik dalam sejarah Islam, mempunyai kaitan dengan agama sebagai penopang aliran tersebut. Oleh karena biasanya aliran-aliran politik tersebut mempunyai asas dan pendapat tersendiri dalam hal aqidah dan iman. Contoh yang paling menonjol dalam hal ini adalah Syi’ah dan Khowarij.[44]

 

  1. Kesimpulan

Ditinjau dari penjelasan di atas, penulis menyimpulkan bahwa Ilmu Aqidah adalah merupakan hasil pemikiran umat Islam dari penafsiran-penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an. Ilmu Aqidah yang patut kita pertahankan tanpa perselisihan adalah aqidah dalam arti al-iman al-ashli, yang tidak mengalami perubahan karena perubahan waktu dan tempat. Adapun ilmu aqidah yang mengandung banyak pertentangan, bila ditinjau dari latar belakang historisnya, maka sebaiknya sikap kita adalah at-tasamuh, dalam arti tidak menyalahkan satu sama lain. Karena pada dasarnya ilmu-ilmu aqidah tersebut adalah pula didasarkan kepada al-Qur’an dan Sunnah, hanya saja pembacaan dan penafsirannya yang berbeda. Wallahu a’lam bisshawab.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Abduh, Muhammad, 1994, Risalah at-Tauhid, Beirut: Dar asy-Syuruq.

Abu Zahroh, al-Imam Muhammad, 2009, Tarikh al-madzahib al-Islamiah, Kairo: Dar al-Fikr al-Arabi.

Brill, Kroninklijke, 2001, Modern Trends in Islamic Theological Discourse in Twentieth Century Indonesia: A Critical survey, Terj. Fauzan Saleh, 2004, Teologi Pembaruan: Pergeseran Wacana Islam Sunni Abad XX. Jakarta: PT serambi Ilmu Semesta.

Al-Buthi, Said Ramadhan, DR., 1997, Kubra Al-Yaqiniyat Al-Kauniyah, Beirut: Dar al-Fikr al-Mu’ashir.

Esha, Muhammad In’am, 2008, Teologi Islam: Isu-isu Kontemporer, Malang: UIN-Malang Press.

Frank, R. M., 1994, Al-Ghazali and The Asy’arite School (USA: Duke University Press.

Al-Ghazali, ibn Muhammad, Muhammad, Abu Hamid, al-Mustashfa min Ilm al-Ushul, Beirut: Dar al-Fikr.

Hanafi, Hasan, DR., 1988, Al-Turats wa al-Tajdid, Beirut: Dar al-Tanwir.

Hilmi, Mushthafa, DR., 2005, Qawa’id al-Manhaj al-Salafi fi al-Fikr all-Islami, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah.

Al-Jawi, Muhammad Lazuardi, Studi Kritis Tentang Istilah Aqidah, dari [http://wisnusudibjo.wordpress.com/2008/07/09/studi-kritis-tentang-istilah-‘aqidah’/].

Al-Masir, Muhammad Ahmad, 1998, Al-Tamhid fi dirasat al-Aqidah al-Islamiah, Kairo: Dar al-Thiba’ah al-Muhammadiyah.

Nasir, Sahilun A., Prof. DR., 1996, Pengantar Ilmu Kalam, Cet. 3, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Nasution, Harun, Prof. DR., 1986, Akal dan Wahyu dalam Islam, Jakarta: UI-Press, Cet. 2.

Sabiq, as-Sayyid, Al-Aqa’id al-Islamiyah, Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi.

 

[1] Muhammad In’am Esha, Teologi Islam: Isu-isu Kontemporer (Malang: UIN-Malang Press, 2008), h. 42

[2] Ibid., h.62

[3] Muhammad Nafis, Dari Cengkeraman Penjara Ego Memburu Revolusi: Memahami Kemelut Tokoh Pemberontak, dalam Deden Ridwan (ed.), Melawan Hegemoni Barat: Ali Syari’ati dalam Sorotan Cendekiawan Indonesia, dikutip oleh Muhammad In’am Esha, teologi Islam…., h. 63

[4] Ismail Raji al-Faruqi, tauhid, terj. Rahmani Astuti (Bandung: Pustaka, 1982), dikutip oleh Muhammad In’am Esha, Teologi Islam, h.63

[5] Muhammad Ahmad al-Masir, Al-Tamhid fi dirasat al-Aqidah al-Islamiah (Kairo: Dar al-Thiba’ah al-Muhammadiyah, 1998), h. 11

[6] Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-ghazali, al-Mustashfa min Ilm al-Ushul (Beirut: Dar al-Fikr, Juz 1), h. 6

[7] R. M. Frank, Al-Ghazali and The Asy’arite School (USA: Duke University Press, 1994), h. 8

[8] al-Imam Muhammad, Abu Zahroh, Tarikh al-madzahib al-Islamiah (Kairo: Dar al-Fikr al-Arabi, 2009), h. 13

[9] Ibid., h. 15

[10] Ibid.,

[11] Ibid., h. 16

[12] Ibid., h. 18

[13] Ibid.,

[14] Ibid., h. 18-19

[15] Ibid., h. 19-20

[16] Ibid., h. 20

[17] Sahilun A. Nasir, Pengantar Ilmu Kalam, Cet. 3 (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996), h. 61-62

[18] Muhammad Abduh, Risalah at-Tauhid (Beirut: Dar asy-Syuruq, 1994), h. 17

[19] As-Sayyid Sabiq, Al-Aqa’id al-Islamiyah (Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi), h. 8

[20] Muhammad Ahmad al-Masir,…, h. 25

[21] Lihat Kitab ‘Manhaj al-Imam ath-Thahawi fi Daf’i at-Ta’arudl’ fi kitabihi ‘Syarhi Musykil Atsari’ dalam bab ‘’Tarjamah Abi Ja’far Ath-Thahawi’’ yang merupakan tesis Ustadz Muhammad Munir Ibn Abdul Majid, MA untuk meraih gelas Master dalam bidang Ilmu Hadis, dibawah bimbingan DR. Husain Al-Juburi. di Universitas Al-Islamiyah Internasional Islamabad – Pakistan. Ibid.,

[22] Ibid.,

[23] Ibid.,

[24] Imam Ibn Mandzur, Lisan Al-Arab, dikutip oleh Muhammad Lazuardi al-jawi, dalam Studi Kritis Tentang Istilah Aqidah, dari http://wisnusudibjo.wordpress.com/2008/07/09/studi-kritis-tentang-istilah-‘aqidah’/, diakses pada 03.15WIB/19-10-2011

[25] Said ramadhan Al-Buthi, Kubra Al-Yaqiniyat Al-Kauniyah (Dar al-Fikr al-Mu’ashir, 1997), h. 70

[26] Imam Al-Jurjani, Kitab At-Ta’rifat, dikutip oleh Muhammad Lazuardi al-jawi, Ibid.,

[27] Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-ghazali, al-Mustashfa min Ilm al-Ushul (Beirut: Dar al-Fikr, Juz 1), h. 6

[28] R. M. Frank, Al-Ghazali and The Asy’arite School (USA: Duke University Press, 1994), h. 8

[29] Muhammad Lazuardi al-jawi, Studi Kritis Tentang Istilah Aqidah, dari http://wisnusudibjo.wordpress.com/2008/07/09/studi-kritis-tentang-istilah-‘aqidah’/, diakses pada 03.15WIB/19-10-2011

[30] Muhammad Ahmad al-Masir, …, h. 25-28

[31] Muhammad Lazuardi al-jawi, ibid.

[32] Marshal G.S. Hodgson, The Venture of Islam; Conscience and History in a Worl Civilization, terj. DR. MUlyadhi Kartanegara, The Venture of Islam;  Iman dan Sejarah dalam Peradaban Dunia, Cet. 1 (Jakarta: Paramadina, 2002),  h. 201

[33] Ibid., h. 202

[34] Ibid.,

[35] Ibid., h. 266

[36] Ibid., h. 267

[37] Kelompook yang riwayat-riwayat haditsnya tentang Nabi membentuk sumber utama otoritas religius.

[38] Marshal, ibid.

[39] Ibid., h. 268

[40] Ibid., h., 273

[41] Ibid.,

[42] Hasan Hanafi, Al-Turats wa al-Tajdid (Beirut: Dar al-Tanwir, 1988), 94

[43] Mushthafa Hilmi, Qawa’id al-Manhaj al-Salafi fi al-Fikr all-Islami (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 2005), 76

[44] Abu Zahrah, Tarikh… h. 29

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *