FRANCIS BACON (1561 M – 1626 M) Metode Induksi dalam Penelitian Ilmiah)

Oleh : Anas Fais Hermawan

 

Pendahuluan

Proses pemikiran dinyatakan mulai berkembang serentak dengan dimulainya peradaban human being berkembang di bumi. Dalam tahapannya, cara-cara ataupun metode yang dikembangkan oleh manusia dalam proses berpikir senantiasa semakin mengalami kemajuan. Peradaban cara berpikir (filsafat) yang maju lebih dahulu berkembang di Yunani (Greek), hal ini bisa dibuktikan dengan catatan historis para filosuf seperti Aristoteles, Plato, Archimides dan filosuf lainnya. Keberadaan mereka setidaknya menjadi sumber referensi sejarah yang menandai kemunculan dari peradaban berpikir manusia yang pertama kalinya. Proses berpikir yang disertai perenungan (kontemplasi) pada akhirnya menjawab pertanyaan-pertanyaan akal manusia yang kemudian melahirkan ilmu pengetahuan. Dalam hal ini tercipta sebuah epistemologi.

1

Epistomologi merupakan cabang dari filsafat selain ontologi. Sebagaimana dikutip Akhyar Yusuf, Aristoteles memberikan definisi Epistomologi sebagai suatu kumpulan yang sistematis dari pengetahuan rasional dengan obyeknya sendiri yang tepat (an organized body of rational knowledge with its proper object)[1]. Dijelaskan pula bahwa epistomologi pada dasarnya merupakan satu upaya evaluatif dan kritis tentang pengetahuan manusia. Atas dasar ini maka lahirlah beberapa aliran-aliran epistomologi, diantara epistomologi yang terkenal adalah epistomologi empirisme. Tokoh-tokoh epistomologi empirisme antara lain; Francis Bacon, J. S. Mill, John Locke, Berkeley, dan David Hume, mereka inilah yang berjasa dalam mendirikan ilmu pengetahuan moderen.dengan memunculkan metode empiris-eksperimental, pada akhirnya menimbulkan perbedaan antara knowledge dengan science[2]. Menjadi sangat menarik kemudian apabila kita tahu satu persatu dari model pemikiran para ahli diatas.

Untuk kali pertama ini, penulis akan mencoba mendeskripsikan pemikiran salah satu dari tokoh epistemologi empirisme yang sangat dikenal dengan metode induksi dalam penelitian ilmiah yang digagasnya. Dia adalah Francis Bacon. Seorang Bapak Induksi Epistemologi. Francis Bacon menggunakan metode induktif sebagai akibat ketidak puasannya terhadap metode deduktif Aristoteles[3]. Dalan teori pengetahuan ilmiah modern Bacon dikenal sebagai seorang sosok yang kontroversial.  Bahkan menurut para pendiri masyarakat moderen, dia dianggap seorang nabi dalam sebuah metodologi ilmiah yang baru. Bacon adalah seorang inovator sekaligus seorang juara terkait dengan metode percobaan induktif yang digagasnya. Ia mengkritisi metode Aristoteles yang beraliran deduktif[4]. Dalam penggunaan metodenya Bacon sangat menekankan pada induksi-empiristik dan menjadikan metode ini sebagai satu-satunya metode ilmiah yang sah dalam pengembangan ilmu. Pada perkembangannya, induktivisme Francis Bacon telah memberikan sumbangan yang sangat besar dalam lahirnya revolusi-revolusi di barat seperti revolusi industri  di Inggris, revolusi sosial di Prancis dan Amerika.

 Sejarah Hidup Francis Bacon

Francis Bacon, Viscount St Alban pertama (lahir 22 Januari 1561, wafat 9 April 1626) adalah seorang filsuf, negarawan dan penulis Inggris. Ia juga dikenal sebagai pendukung Revolusi Sains[5].

Bacon adalah serorang putera Sir Nicolas Bacon, pegawai eselon tinggi masa Ratu Elizabeth. Tatkala menginjak usia dua belas tahun dia masuk belajar di Trinity College di Cambridge, di sinilah Bacon mempelajari pemikiran Plato dan Aristoteles. Bacon kemudian keluar begitu saja tanpa menggondol gelar apa pun setelah tiga tahun belajar pada sekolah tersebut. Mulai umur enam belas dia kerja sebentar di staf Kedubes Inggris di Paris. Tetapi begitu umurnya masuk delapan belas sang ayah mendadak meninggal dengan hanya mewariskannya uang sedikit. Mungkin lantaran itulah, Bacon belajar hukum dan di umur dua puluh satu dia jadi pengacara.

Karier politiknya segera dimulai sesudah itu. Umur dua puluh tiga dia terpilih jadi anggota Majelis Rendah. Karier politiknya segera mulai sesudah itu. Umur dua puluh tiga dia terpilih jadi anggota Majelis Rendah. Setelah 11 tahun bekerja, Bacon dituduh oleh parlemen menerima suap dan akhirnya dimasukan ke penjara pada tahun 1598. Selama dalam tahanan, Bacon sangat aktif melakukan kajian intelektual dan eksperimen ilmiah[6]. Bacon menghabiskan waktunya di penjara kurang lebih selama lima tahun. Hukuman ini diberikan oleh pemerintahan ratu Elizabeth I setelah mempertahankan prinsip yang bertentangan dengan pihak kerajaan. Selama di penjara ia juga dijauhkan dari kehidupan publik, namun akhirnya ia mendapatkan remisi dari pihak kerajaan setelah beberapa waktu lamanya.

Francis Bacon dianugerahi gelar ksatria (Sir) pada tahun 1603, diangkat menjadi Baron Verulam di tahun 1618, dan menjadi Viscount St. Alban di tahun 1621. Tanpa keturunan, kedua gelar kebangsawanan tersebut hilang pada saat kematiannya. Ia menerima julukan sebagai pencipta esai Inggris[7].

Bacon menulis beberapa karya besar di bidang Filsafat Ilmu. Dia mengusulkan sebuah model baru pendekatan Ilmiah yang belum ada pada masa pendahulunya. Ia menolak pandangan-pandangan Aristotelian tentang alam semesta, dan mengambil posisi untuk mendukung perkembangan ilmu pengetahuan modern yang menggunakan pendekatan ilmiah yang baru. Di dalam bukunya yang amat terkenal, Novum Organum (1620), ia menjelaskan sebuah metode yang bisa digunakan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan modern dengan amat detil.

Pada masa Bacon hidup, banyak ahli percaya, bahwa para ilmuwan kuno sudah menemukan semua bentuk pengetahuan yang ada. Yang kemudian perlu dilakukan adalah mempelajari ulang semua pemikiran para filsuf kuno. Bacon tidak setuju dengan pandangan ini. Menurut Bacon yang diperlukan bukan hanya mempelajari pemikiran-pemikiran kuno, tetapi berusaha untuk menemukan informasi-informasi baru yang berguna untuk memperbaiki kualitas kehidupan manusia. Di dalam proses perkembangan pemikirannya, Bacon terkenal dengan ungkapannya, knowledge is power[8].

 Metode Induksi Bacon

Buku tulisan Bacon yang paling terkenal adalah Novum Organum, yang, jika diterjemahkan, berarti alat yang baru. Maksud ditulisnya buku ini adalah untuk menggantikan pola berpikir lama, yakni Aristotelian, yang sebelumnya telah lama dianut, terutama dalam soal logika. Dalam paham Aristotelian, Logika adalah ilmu bernalar lurus, yang diwujudkan secara konkret di dalam ilmu tentang argumen[9]. Artinya, kegiatan bernalar berarti menarik suatu kesimpulan dengan berpijak pada dua pernyataan yang dianggap tepat, walaupun dua pernyataan tersebut memiliki isi yang berbeda. Seperti dicontohkan oleh Ladyman, pola berpikir logika akan mengambil bentuk seperti ini[10];

Semua makhluk membutuhkan oksigen

Manusia adalah makhluk

Manusia membutuhkan oksigen

Juga perhatikan contoh berikut;

Semua kucing adalah pemikir hebat

Kucrit adalah kucing.

Dengan demikian Kucrit adalah pemikir hebat.

Di dalam argumen pertama, kita bisa melihat, bahwa dua premis pertama bisa dibenarkan. Maka premis ketiga yang merupakan kesimpulan juga bisa dibenarkan. Sementara pada argumen kedua, premis pertama masih diragukan kebenarannya. Maka premis ketiga yang merupakan kesimpulan juga masih bisa diragukan kebenarannya. Hukum logika dasar sebagaimana dirumuskan oleh Aristoteles adalah sebagai berikut, jika premis ada yang salah, maka kesimpulan pasti salah. Jika kesimpulan salah maka premis masih bisa benar, walaupun harus dipastikan lebih jauh[11].

Inilah yang disebut sebagai pola berpikir deduktif, yang juga sering dibahasakan sebagai refleksi rasional tentang argumentasi. Denga metode ini, dari beberapa premis (argumen yang telah ada) saja, orang bisa menarik kesimpulan yang begitu banyak, dan sampai pada banyak bentuk pengetahuan. Menurut Ladyman, kekuatan utama dari pola berpikir deduktif adalah kemampuannya untuk mempertahankan kebenaran (truth preserving). Artinya jika premis sudah terbukti benar, maka kesimpulan, jika ditarik secara logis, juga akan mengandung kebenaran[12]. Pola berpikir deduktif tidak menghasilkan pengetahuan yang sama sekali baru, namun hanya menarik pengetahuan dari apa yang sudah ada, yang sebelumnya tampak tersembunyi.

Dari sudut pandang ilmu modern, pola deduktif nampaknya tidak terlalu berguna. Hal ini karena dianggap tidak memiliki dasar empiris, dan tidak membuka orang pada pengetahuan baru. Di dalam paradigma ilmu pengetahuan modern, aktivitas penelitian selalu terkait dengan proses pengumpulan data, eksperimen, dan mengamati secara detil apa yang terjadi di dalam dunia. Paham semacam ini lahir dari pandangan empirisme di dalam filsafat, yakni pandangan yang menyatakan, bahwa pengetahuan hanya dapat diperoleh melalui pancara indera manusia, dan bukan melalui pikiran semata. Pengetahuan sebagai kepercayaan yang dapat dipertanggungjawabkan perlu memiliki bukti-bukti yang diperoleh melalui pengumpulan data[13].

Sebagaimana diketahui, Aristoteles dan para pengikutnya telah melakukan penelitian yang amat luas terkait dengan pengumpulan data di bidang ilmu-ilmu alam, seperti zoologi, biologi, dan sebagainya. Namun ia tidak pernah melakukan eksperimen. Ia hanya menarik generalisasi dari beberapa fakta yang ia dapat di alam. Cara berpikir yang ia gunakan pun adalah logika deduktif. Francis Bacon sebagai seorang filsuf modern tidak setuju dengan model berpikir ini. Ia pun merumuskan sebuah metode (pola pikir) induktif yang memberikan tempat penting pada pengalaman inderawi dan eksperimen[14].

Paling tidak, Bacon mempermasalahkan tiga indikasi kelemahan yang ada dalam logika Aristotelian. pertama, Aristoteles dan pengikutnya mempraktekan koleksi data yang tidak kritis. Dalam hubungan ini Francis Bacon sangat menekankan nilai dari peralatan (instruments) ilmiah dalam pengumpulan data. Kedua, Aristotelian cenderung menjeneralisasikan dengan terlalu terburu-buru. Dengan memberikan sedikit observasi-observasi, mereka juga menggunakan prinsip-prinsip tersebut untuk mendeduksi scope yang lebih sedikit. Ketiga, Aristoteles dan pengikutnya memberlakukan induksi dengan penghitungan yang sederhana, yang mana hubungan-hubungan dari sifat-sifat tersebut ditemukan untuk mempertahankan beberapa individu-individu dari sebuah tipe yang diberikan, dinyatakan sebagai pegangan bagi keseluruhan individu dengan tipe tersebut. Namun, dalam praktiknya hal ini sering menghantarkan pada kesimpulan-kesimpulan yang salah, di mana hal-hal yang negatif tidak diambil sebagai catatan[15].

Lain dari pada itu, Pola pikir Induktif yang ditawarkan oleh Bacon merupakan sebuah proses generalisasi empiris, yakni kita berargumen bahwa karena sesuatu telah terbukti benar dalam sejumlah kasus yang diamati, besar kemungkinan yang diperoleh tidak bersifat pasti (kecuali dalam kasus-kasus khusus), tapi bisa menjadi sangat besar kemungkinannya dan seluruh prediksi rasional kita mengenai masa depan tergantung pada referensi ini. Pengambilan kesimpulan dengan induksi sudah pasti tidak sekedar masalah empiris karena kita menggunakannya untuk menyimpulkan apa yang belum kita amati[16].

Satu hal yang kemudian menjadi stressing point pada metode berfikir yang ditawarkan Francis Bacon adalah penekanan aspek eksperimen sebagai hal terpenting dalam memperoleh pengalaman inderawi (empiris) untuk menaklukan alam dengan rahasianya (to torture nature for her secrets). Dalam hal ini Bacon menyebutnya sebagai komposisi sejarah alamiah dan eksperimental (the composition of a natural and a experimental history). Menurutnya, eksperimen dalam hal ini dikatakan sangat penting karena jika kita dengan sederhana mengamati tentang apa-apa yang terjadi di sekitar kita, maka kita dibatasi dalam data-data yang kita kumpulkan. Tetapi berbeda ketika kita menampilkan sebuah percobaan kita mengendalikan keadaan pengamatan sejauh mungkin dan memanipulasi keadaan dari percobaan untuk melihat apa yang terjadi dalam lingkungan-lingkungan di mana hal sebaliknya tidak pernah terjadi. Eksperimen memungkinkan kita untuk menanyakan “apa yang terjadi jika …?”. Bacon menyatakan bahwa dengan mengadakan percobaan-percobaan kita mampu menaklukan alam dan rahasianya[17].

Bacon merumuskan dasar-dasar berpikir induktif modern. Menurutnya, metode induksi yang tepat adalah induksi yang bertitik pangkal pada pemeriksaan yang diteliti secara detil mengenai data-data partikular, yang pada tahap selanjutnya rasio dapat bergerak maju menuju penafsiran terhadap alam (interpretatio natura). Untuk mencari dan menemukan kebenaran dengan metode induksi, Bacon mengemukakan ada dua cara yang harus perhatikan, yaitu:

  • Rasio yang digunakan harus mengacu pada pengamatan inderawi yang partikular, kemudian mengungkapnya secara umum.
  • Rasio yang berpangkal pada pengamatan inderawi yang partikular digunakan untuk merumuskan ungkapan umum yang terdekat dan masih dalam jangkauan pengamatan itu sendiri, kemudian secara bertahap mengungkap yang lebih umum di luar pengamatan[18].

Yang perlu dicatat disini, sebagaimana ungkapan Ladyman, bahwa suatu eksperimen ilmiah juga harus memiliki standar-standar tertentu. Yang pertama baginya eksperimen harus dapat diulang, supaya orang lain bisa mengecek, apakah hasil dari eksperimen tersebut bisa dipertanggungjawabkan atau tidak[19]. Maka dari itu semua proses dan hasil eksperimen haruslah dicatat secara detil dengan instrumen-instrumen yang memungkinkan semua proses itu diukur secara kuantitatif. Tujuannya adalah supaya persepsi individu tidak mempengaruhi hasil penelitian yang nantinya akan disampaikan kepada orang lain. Inilah penelitian ilmiah yang ideal menurut Francis Bacon. Baginya peran alat-alat penelitian amatlah penting untuk melenyapkan semua bentuk kelemahan inderawi, bias, dan prasangka akal budi yang menghalangi peneliti untuk sampai pada kebenaran. Dengan kata lain eksperimen ilmiah, dan berbagai alat yang ada di dalamnya, bertujuan untuk memastikan adanya obyektivitas di dalam penelitian ilmiah. Hal ini tidak hanya berlaku untuk ilmu-ilmu alam semata, tetapi juga ilmu-ilmu sosial[20].

Alat penelitian didibutuhkan gunakan sebagai sarana dalam pengumpulan data. Data dapat diperoleh dengan dua cara, yakni dengan mengamati data pada situasi alamiahnya, atau dengan melakukan eksperimen data tersebut pada situasi tertentu, supaya mendapatkan hasil yang ingin diketahui. Dengan cara ini seorang peneliti bisa dihindarkan dari bahaya mencari kesimpulan sesuai keinginannya semata, walaupun bahaya itu tak pernah bisa dhindarkan sepenuhnya. Hal ini sejalan dengan Karl Popper yang menyatakan bahwa seorang peneliti seharusnya tidak hanya terpaku pada hasil-hasil yang mendukung penelitiannya, tetapi juga pada hasil-hasil yang berbeda dari keinginannya[21].

Beberapa hal diatas inilah yang nampaknya merupakan suatu hal yang membuat pola berpikir induktif, yang terwujud di dalam metode induksi, unik dan amat penting dalam sebuah proses penelitian ilmiah. Inti dari metode induksi adalah upaya untuk mempelajari semua informasi yang ada, dan menemukan kesamaan, perbedaan, sesuatu yang berulang, maupun berbagai pola yang ada di dalam informasi itu. Proses ini dijalani tidak dengan spekulasi semata, tetapi dengan membuat eliminasi atas yang tidak relevan, dan menggaris bawahi hal-hal yang relevan.

Untuk memperjelas perlu diberikan contoh sebagai berikut: Jika ingin menyelidiki kasus keracunan di asrama, harus ditemukan contoh yang dapat menggugurkan anggapan bahwa makanan dari dapur asrama itu penyebabnya. Dengan cara ini, akan bisa terhindar dari generalisasi yang gegabah. Menurut Bacon, induksi yang berhasil harus ada gerak bolak-balik dari data khusus ke kesimpulan umum. Dalam gerak itu, observasi dan analisis menduduki tempat yang sangat penting[22].

Kendati demikian, bukan tidak mungkin logika semacam ini tidak memiliki kelamahan-kelemahan pada prakteknya.Bacon sudah sejak awal menyadari hal ini. Seorang ilmuwan idealnya mampu bersikap skeptis, dan siap untuk mematahkan pandangan lama yang ada sebelumnya. Ia juga tidak boleh menarik kesimpulan terlalu cepat dari hal yang dilihatnya[23]. Namun di dalam realitas, banyak ilmuwan tidak bisa mencapai ideal ini. Bacon menyebutnya sebagai para ilmuwan yang terjebak di dalam idola-idola pikiran. Akibat adanya idola-idola pikiran ini, seorang ilmuwan tidak bisa menerapkan pola berpikir induktif secara tepat.

Menurut Bacon, untuk menjalankan suatu penelitian ilmiah ada beberapa jenis idola yang harus dihindari, yaitu:

  • Idola tribus (bangsa) yaitu prasangka yang dihasilkan oleh pesona atas keajekan tatanan alamiah sehingga seringkali orang tidak mampu memandang alam secara obyektif. Idola ini menawan pikiran orang banyak, sehingga menjadi prasangka yang kolektif.
  • Idola cave (cave/specus = gua), maksudnya pengalaman dan minat pribadi kita sendiri mengarahkan cara kita melihat dunia, sehingga dunia obyektif dikaburkan.
  • Idola fora (forum = pasar) adalah yang paling berbahaya. Acuannya adalah pendapat orang yang diterimanya begitu saja sehingga mengarahkan keyakinan dan penilaiannya yang tidak teruji.
  • Idola theatra (theatra = panggung). Dengan konsep ini, sistem filsafat tradisional adalah kenyataan subyektif dari para filosofnya. Sistem ini dipentaskan, lalu tamat seperti sebuah teater[24].

Bacon mengajukan sikap kritis terhadap pola berpikir manusia pada umumnya. Dia berhasil memetakan hal-hal yang membuat pikiran manusia tidak bisa sampai pada realitas “apa adanya”. Namun Bacon tidak semata-mata mengajukan kritik tanpa mengusulkan suatu solusi. Dia memberikan beberapa kerangka berpikir yang baru di dalam proses pencarian pengetahuan. Inilah yang nantinya berkembang menjadi metode induktif yang digunakan di dalam penelitian ilmiah sampai sekarang ini. Metode yang ditawarkannya dimulai dari pengamatan yang, sedapat mungkin, terbebas dari idola-idola, sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Proses yang perlu dicapai adalah pengumpulan informasi tentang suatu hal sebanyak mungkin, dan merangkainya secara bertahap untuk mencapai kesimpulan, serta membentuk pengetahuan yang baru. Di dalam proses ini, pengamatan dan eksperimen merupakan dua hal yang amat penting[25]. Di dalam pengamatan kita hanya mendapatkan data mentah yang tak banyak gunanya. Namun di dalam eksperimen, di mana terjadi rekayasa terhadap situasi realitas, supaya kita mendapatkan data yang diperlukan, kemungkinan untuk mendapatkan pengetahuan baru lebih besar. Di dalam eksperimen kita bisa mengatur situasi yang ada, sehingga “kita dapat melihat apa yang terjadi di dalam situasi-situasi tertentu yang tidak akan terjadi di dalam situasi-situasi lainnya”[26].

Dalam arti ini menurut Bacon, tugas utama dari ilmu pengetahuan adalah menemukan forma (bentuk sejati) dari benda-benda yang ada. Sebelum era Bacon, para filsuf dan ilmuwan berupaya untuk menemukan tujuan final dari benda-benda. Yang dilihat bukan cara bekerja benda itu, tetapi tujuan final dari keberadaan benda itu. Namun di tangan Bacon, pola semacam ini berubah. “Diabaikannya pencarian atas penyebab final”, demikian tulis Ladyman, “adalah salah satu penyebab utama lahirnya revolusi saintifik”[27]. Yang lebih penting bukanlah tujuan final dari benda-benda, melainkan pola kerja mekanis yang menyebabkan benda-benda itu bisa bekerja pada awalnya. Penting juga untuk dicatat, bahwa di era sekarang ini, jauh setelah era Bacon, para ilmuwan mulai sadar pentingnya memikirkan tujuan final dari benda-benda yang mereka teliti. Ini penting untuk dipikirkan, supaya penelitian ilmiah tidak bergerak tanpa arah, dan bisa merusak hidup manusia pada akhirnya[28].

Perlu ditegaskan, bahwa bagi Bacon, fokus pencarian ilmu pengetahuan adalah forma, yakni bentuk sejati, yang hadir dalam bentuk prinsip-prinsip umum yang menyebabkan bergeraknya suatu benda. Artinya yang dicari ilmu pengetahuan adalah prinsip-prinsip gerak mekanis yang ada di balik gejala alam. Prinsip-prinsip semacam itu tidak dapat diketahui dengan panca indera, namun dapat diketahui dengan akal budi, dan sungguh terjadi di dalam realitas. Kita tidak bisa melihat prinsip-prinsip mekanis yang menggerakan alam, namun kita bisa melihat gejala-gejalanya di dalam hidup sehari-hari.

 Kritik Terhadap Induktivisme

Kritik ini salah satunya diungkapkan oleh Honer dan Hunt (1968) dalam Suriasumantri (1994) sebagaimana dikutip oleh Hanny Oktaviani, terdiri atas tiga bagian[29]. Pertama, pengalaman yang merupakan dasar utama induktivisme, seringkali tidak berhubungan langsung dengan kenyataan obyektif. Pengalaman ternyata bukan semata-mata sebagai tangkapan pancaindera saja. Sebab seringkali pengalaman itu muncul yang disertai dengan penilaian. Konsep pengalaman merupakan pengertian yang tidak tegas untuk dijadikan sebagai dasar dalam membangun suatu teori pengetahuan yang sistematis.

Kedua, Teori Induktif berpendapat bahwa dalam mendapatkan fakta dan pengalaman pada alam nyata, manusia sangat bergantung pada persepsi pancaindera. Pancaindera manusia memiliki keterbatasan. Sehingga dengan keterbatasan pancaindera, persepsi suatu obyek yang ditangkap dapat saja keliru dan menyesatkan. Misalnya saja bagaimana tongkat lurus yang terendam di dalam air akan kelihatan bengkok.

Ketiga, di dalam induktivisme pada prinsipnya pengetahuan yang diperoleh bersifat tidak pasti. Bahkan menurut Popper, metode induktif tidak dapat dipergunakan untuk menyusun universal statement, karena hakekatnya yang selalu berangkat dari singular statement hasil observasi pengalaman empiris[30]. Prinsip ini sekalipun merupakan kelemahan, tapi sengaja dikembangkan dalam induktivisme empirisme untuk memberikan sifat kritis ketika membangun sebuah pengetahuan ilmiah. Semua fakta yang diperlukan untuk menjawab keragu-raguan harus diuji terlebih dahulu. namun bukan tidak mungkin bahkan sangat mungkin, pengetahuan yang telah didapat sebelumnya, sangat bertolak belakang dengan pengetahuan yang didapat saat ini. Kita ambil contoh, pengetahuan dari beberapa ayam yang tumbuh bersama dalam sebuah kandang ayam. Ketika awal mula sang pemilik kandang mendatangi ayam-ayamnya, mulai saat itu juga sang ayam mulai mengetahui bahwa setiap pemilik kandang datang, sang ayam akan mendapatkan makanan. Generalisasinya sementara adalah demikian. Namun berbeda kemudian ketika sang ayam sudah menginjak masa panen. Pemilik datang tidak lagi datang untuk memberi makanan. Tapi untuk membunuh sang ayam satu persatu. Dan ini adalah sebuah kejadian yang sama sekali diluar pengetahuan sang ayam.

Dari sini tampak bahwa pengetahuan ilmiah bukanlah pengetahuan yang telah dibuktikan saja, tetapi pengetahuan yang berpeluang benar. Dengan kata lain, tidak dapat dinafikan ada peluang bahwa kebenaran itu nantinya menjadi sebaliknya dan peluang salahnya pun sama besar dengan pengetahuan peluang benarnya.

Disini terdapat satu bukti rasional bahwa penalaran induktif bisa jadi menghasilkan kesimpulan yang berbahaya dan salah kaprah. Pengetahuan kita yang bersumber dari penalaran atau pemikiran induktif bisa jadi salah. Bukan makanan yang datang melainkan kematian seperti yang dicontohkan dalam masalah ayam tadi.

Namun meskipun dalam penarikan kesimpulannya induktif bisa saja menghasilkan kesimpulan yang salah, setidaknya kesimpulan yang diperoleh itu beralasan. Meminjam pernyataan yang sering dilontarkan DR. Djamaluddin Miri[31] bahwa suatu pernyataan (sementara) dianggap benar selama mempunyai dalil (argumen). Oleh karena itulah kita tidak dapat semerta-merta mengatakan induksi sebagai suatu kesalahan karena untuk melakukan perkiraan atau asumsi dengan induksi adalah valid. Kita tidak dapat memastikan bahwa suatu teori/hipotesa melaui induksi itu benar, namun kita dapat memastikan bahwa teori/hipotesa itu belum salah. Inilah landasan berpikir saintifik. Selama masih belum ditemukan keaslahan teori/hipotesa itu, maka teori/hipotesa itu akan selalu dianggap benar. Dengan demikian induksi memungkinkan berkembangnya konsep dasar suatu ilmu.

 Kesimpulan

Dari seluruh uraian tentang pola berpikir induktif, dengan mengacu pada Bacon sebagai filsuf yang merumuskannya secara sistematis, kita dapat menarik dua konsep kunci di dalam induksi yang ditawarkan oleh Bacon, yakni observasi dan penarikan kesimpulan secara empiris. Observasi –atau pengamatan- haruslah dilakukan tanpa prasangka apapun. Di dalam pengamatan panca indera kita menangkap segala sesuatu yang terjadi di dunia dan menjadikannya apa yang disebut sebagai suatu pengalaman inderawi. Dengan panca indera pula kita menangkap informasi yang ada dalam suatu kegiatan observasi dalam eksperimen. Hasil dari pengamatan adalah apa yang disebut sebagai penyataan-pernyataan observasional. Inilah dasar dari semua bentuk teori maupun hukum di dalam ilmu pengetahuan. Dari pernyataan-pernyataan observasional ini, ilmuwan lalu membuat sebuah teori dengan melakukan generalisasi yang masuk akal.

Dari permasalahan yang telah diajukan, yakni  mengenai kelemahan induktivisme empirisme dalam metode ilmiah, ternyata kelemahan itu dapat dikendalikan sehingga tidak menyebabkan terjadinya penarikan kesimpulan ilmiah yang salah secara signifikan. Hipotesis lain yang bisa juga dikemukakan adalah bahwa keterbatasan empirisme dan induktivisme sesungguhnya merupakan suatu peluang untuk menimbulkan keraguan terhadap kesimpulan ilmiah sehingga memungkinkan dikembangkannya lagi suatu pengkajian ulang terhadap kebenaran ilmiah tersebut

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 A.A Wattimena, Reza, Metode Induksi di dalam Penelitian Ilmiah, http:// yasirmaster.blogspot.com/2011/10/metode-induksi-di-dalam-penelitian.html>

Amalia Putri, Riski, Problema Induksi dan Ketergantungan Observasi pada Teori,http://blog.unsri.ac.id/riski02/filsafat-ilmu-/induktivisme-problema-induksi-dan-ketergantungan-obsevasi-pada-teori-/mrdetail/14742/

Brown, Stuart, British Philosophy and The Age of Enlightenment, 1996 (Routledge: London)

Ewing, Persoalan-persoalan Mendasar Filsafat, 2002 (Yogyakarta: Pustaka Pelajar)

  1. Budi Hardiman, Filsafat Modern, dari Machiavelli sampai Nietzsche, 2007 (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama)

Ladyman, James, Understanding Philosophy of Science, 2002 (New York: Routledge)

Tomassi, Paul, Logic, 1999 (London: Rouletdge)

Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, http:// id.wikipedia.org/wiki/ Francis_ Bacon.HTML>

Yusuf, Akhyar, Pengertian Epistomologi, Logika, Metodologi, Ontologi, dan Filsafat, 2002/2003 (Depok: Program Pascasarjana UI)

*) disampaikan pada kuliah Filsafat Ilmu Pascasarjana IAI Ibrahimy Sukorejo Situbondo Program Kader Ulama’ 2011

[1] Akhyar Yusuf, Pengertian Epistomologi, Logika, Metodologi, Ontologi, dan Filsafat, 2002/2003 (Depok: Program Pascasarjana UI,), Hlm. 4

[2]  Ibid. Hlm. 4.

[3] Penalaran deduktif adalah suatu prosedur yang berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat lebih khusus. Lihat Rizki Amalia di Induktivisme, Problema Induksi & Ketergantungan Observasi pada Teori, http:// blog.unsri.ac.id/riski02/filsafat-ilmu-/induktivisme-problema-induksi-dan-ketergantungan-obsevasi-pada-teori-/mrdetail/14742/

[4] John Losee, A Historical Introduction to the Philosophy of Science, (New York: Oxford University, 2001), Hlm. 54

[5] Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, http:// id.wikipedia.org/wiki/ Francis_ Bacon.HTML>

[6] Adnan Mahdi, Topik-Topik Epistemologi Tentang Induktivisme F. Bacon, Rasionalisme R. Descartes, Dan Sintesisme, Empirisisme Serta Rasionalisme Kant, http://stai-sambas.blogspot.com/2009/10/topik-topik-epistemologi-tentang.html

[7] Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, http:// id.wikipedia.org/wiki/ Francis_ Bacon.HTML>

[8] Budi Hardiman,Filsafat Modern,2004, dikutip oleh Reza A.A Wattimena dalam Metode Induksi di dalam Penelitian Ilmiah, http://yasirmaster.blogspot.com/2011/10/metode-induksi-di-dalam-penelitian.html>

[9] Paul Tomassi, Logic, Routledge, London, 1999, Hlm. 2

[10] James Ladyman, Understanding Philosophy of Science, Routledge, London, 2002

[11] Ibid. Hlm. 19

[12] Douglas Walton, Informal Logic, 2008  (Cambridge: Cambridge University Press) Hlm. 168. dikutip oleh Reza A.A Wattimena dalam Metode Induksi di dalam Penelitian Ilmiah, http:// yasirmaster.blogspot.com/2011/10/metode-induksi-di-dalam-penelitian.html>

[13] Stuart Brown, British Philosophy and The Age of Enlightenment, 1996 (Routledge: London) Hlm. 316

[14] Markku Peltonen (ed), Cambridge Companion to Bacon,Cambridge University Press, Cambridge, 2006, Hlm. 324 dikutip oleh Reza A.A Wattimena dalam Metode Induksi di dalam Penelitian Ilmiah, http:// yasirmaster.blogspot.com/2011/10/metode-induksi-di-dalam-penelitian.html>

[15] John Losee, A Historical Introduction to the Philosophy of Science, 2001 (New York: Oxford University,), Hlm. 57

[16] Ewing, Persoalan-persoalan Mendasar Filsafat, 2002 (Yogyakarta: Pustaka Pelajar), Hlm. 65.

[17] James Ladyman, …, Hlm.23

[18] Riski Amalia Putri, Problema Induksi dan Ketergantungan Observasi pada Teori,http://blog.unsri.ac.id/riski02/filsafat-ilmu-/induktivisme-problema-induksi-dan-ketergantungan-obsevasi-pada-teori-/mrdetail/14742/

[19] Reza A.A Wattimena dalam Metode Induksi di dalam Penelitian Ilmiah, http:// yasirmaster.blogspot.com/2011/10/metode-induksi-di-dalam-penelitian.html>

[20] James Ladyman, Understanding.., Hlm. 23

[21] Stefano Gattei, Karl Popper’s Philosophy of Science, Routledge, London, 2009, Hlm. 73 dikutip oleh Reza A.A Wattimena dalam Metode Induksi di dalam Penelitian Ilmiah, http:// yasirmaster.blogspot.com/2011/10/metode-induksi-di-dalam-penelitian.html>

[22] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern, dari Machiavelli sampai Nietzsche, 2007 (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama), hlm. 30

[23] Budi Hardiman, Filsafat Modern..,

[24] Riski Amalia Putri, Problema Induksi …,

[25] Stephen Gaukroger, Francis Bacon, Cambridge University Press, Cambridge, 2004. Hlm. 122. dikutip oleh Reza A.A Wattimena dalam Metode Induksi di dalam Penelitian Ilmiah, http:// yasirmaster.blogspot.com/2011/10/metode-induksi-di-dalam-penelitian.html>

[26] James Ladyman,  Understanding…., Hlm. 23.

[27] Ibid. Hlm. 28

[28] Ibid.

[29] Hanny Octavia, Induktivisme, Problem Induksi dan Ketergantungan Observasi Pada Teori, http://agathahanny.blogspot.com/2009/01/induktivisme-problem-induksi-dan.html diakses pada 31 Oktober 2011

[30] Alemmario, Falsifikasi Popper, http:// alemmario.wordpress.com/2008/04/04/falsifikasi-popper/ diakses pada 31 Oktober 2011

[31] Dr, Djamaluddin Miri adalah salah satu dosen pengampuh mata kuliah Filsafat Aqidah di Pascasarjana IAII Ibrahimy Sukorejo Situbindo Jawatimur khususnya Program Pendidikan Kader Ulama’ tahun 2011

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *