PRAGMATISME

Oleh: Khoirul Arifin

Perkembangan dan kemajuan peradaban manusia tidak bisa dilepaskan dari peran ilmu. Bahkan perubahan pola hidup manusia dari waktu ke waktu sesungguhnya berjalan seiring dengan sejarah kemajuan dan perkembangan ilmu. Tahap-tahap perkembangan itu kita menyebut dalam konteks ini sebagai periodesasi sejarah perkembangan ilmu; sejak dari zaman klasik, zaman pertengahan, zaman modern dan zaman kontemporer.[1]

Zaman klasik meliputi filsafat yunani dan romawi pada abad ke-6 SM dan berakhir pada 529 M. Zaman pertengahan meliputi pemikiran Boethius sampai Nicolaus pada abad ke-6 M dan berakhir pada abad ke-15 M. Zaman modern didahului oleh pemikiran tokoh-tokoh Renaissance, Pada filsafat Rene Descartes(1596-1650) dan berakhir pada pemikiran Friedrich Nietzsche (1844-1900), dan zaman kontemporer yang meliputi seluruh filsafat abad ke-20 hingga saat ini.

Para penulis merasa kesulitan ketika hendak menulis filsafat kontemporer, hal ini dikarenakan mereka harus mengambil jarak terhadap obyek zamannya sendiri sehingga mereka sangat berhati-hati ketika berbicara perkembangan filsafat.[2]

Makalah ini mencoba menguraikan filsafat pragmatisme Charles S Peirce tentang keyakinan, cara memperoleh keyakinan dan teori tentang arti. Namun sebelumnya akan diuraikan secara ringkas sejarah mata rantai pemikiran barat agar diperoleh gambaran komperhensif tentang posisi pragmatisme dalam kontelasi sejarah pemikiran barat.

Asal Usul Pragmatisme

Setelah melalui Abad Pertengahan (abad V-XV M) yang gelap dengan ajaran gereja yang dominan, Barat mulai menggeliat dan bangkit dengan Renaissance, yakni suatu gerakan yang berkisar antara tahun 1400-1600 M. untuk menghidupkan kembali kebudayaan klasik Yunani dan Romawi. Berbeda dengan tradisi Abad Pertengahan yang hanya mencurahkan perhatian pada masalah metafisik yang abstrak, seperti masalah Tuhan, manusia, kosmos, dan etika, Renaissance telah membuka jalan ke arah aliran Empirisme. William Ockham (1285-1249) dengan filsafat Gulielmus-nya yang mendasarkan pada pengenalan inderawi, telah mulai menggeser dominasi filsafat Thomisme, ajaran Thomas Aquinas yang menonjol di Abad Pertengahan, yang mendasarkan diri pada filsafat Aristoteles. Ide Ockham ini dianggap sebagai benih awal lahirnya Renaissance.

Semangat Renaissance ini, sesungguhnya terletak pada upaya pembebasan akal dari kekangan dan belenggu gereja dan menjadikan fakta empirik sebagai sumber pengetahuan, tidak terletak pada filsafat Yunani itu sendiri.

Dalam hal ini Barat hanya mengambil karakter utama pada filsafat dan seni Yunani, yakni keterlepasannya dari agama, atau dengan kata lain, adanya kebebasan kepada akal untuk berkreasi. Ini terbukti antara lain dari ide beberapa tokoh Renaissance, seperti Nicolaus Copernicus[3] (1473-1543) dengan pandangan heliosentriknya, yang didukung oleh Johanes Keppler[4] (1571-1630) dan Galileo Galilei[5] (1564-1643). Juga Francis Bacon (1561-1626) dengan teknik berpikir induktifnya, yang berbeda dengan teknik deduktif Aristoteles (dengan logika silogismenya) yang diajarkan pada Abad Pertengahan. Jadi, Barat tidak mengambil filsafat Yunani apa adanya, sebab justru filsafat Yunani itulah yang menjadi dasar filsafat Kristen pada Abad Pertengahan, baik periode Patristik (400-1000 M) dengan filsafat Emanasi Neoplatonisme yang dikembangkan oleh Augustinus (354-430), maupun periode Scholastik (1000 – 1400 M) dengan filsafat Thomisme yang bersandar pada Aristoteles. Semua filsafat Yunani ini membahas metafisika, tidak membahas fakta empirik sebagaimana yang dituntut oleh Renaissance. Jadi, semangat Renaissance itu tidak bersumber pada filsafat Yunaninya itu sendiri.

Renaissance juga diperkuat adanya Reformasi, sebuah upaya pemberontakan terhadap dominasi gereja Katholik yang dirintis oleh Marthin Luther di Jerman (1517). Gerakan ini bertolak dari korupsi umum dalam gereja –seperti penjualan Surat Tanda Pengampunan Dosa (Afllatbrieven)–, penindasannya yang telanjang, dan dominasinya terhadap negara-negara Eropa. Meskipun Reformasi tidak secara langsung ikut memperjuangkan apa yang disebut “pembebasan akal”, tetapi gerakan ini secara tak sadar telah memperkuat Renasissance dengan mempelopori kebebasan beragama (Protestan) dan telah memperlemah posisi Gereja dengan memecah kekuatan Gereja menjadi dua aliran; Katholik dan Protestan. Kritik-kritik terhadap Injil di Jerman sekitar abad XVII juga dianggap implikasi tak langsung dari adanya Reformasi. Meskipun demikian, Gereja Katholik dan tokoh Reformasi memiliki sikap sama terhadap upaya Renaissance, yakni menentang ide-ide yang tidak sesuai dengan Injil. Calvin, seorang tokoh Reformasi di Jenewa (Swiss), mendukung pembakaran hidup-hidup terhadap Servetus dari Spanyol (1553), yang menentang Trinitas. Gereja Katholik dan Reformasi juga sama-sama menolak ide Copernicus (1543) tentang matahari sebagai pusat tatasurya, seraya mempertahankan doktrin Ptolemeus yang menganggap bumi sebagai pusat tata surya.

Pada abad XVII, perkembangan Renaissance telah melahirkan dua aliran pemikiran yang berbeda: aliran Rasionalisme dengan tokoh-tokohnya seperti Rene Descartes[6] (1596-1650), Baruch Spinoza (1632-1677), dan Pascal (1623-1662), dan aliran Empirisme dengan tokoh-tokohnya Thomas Hobbes (1558-1679), John Locke (1632-1704). Rasionalisme memandang bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal), sedang Empirisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah empiri, atau pengalaman manusia dengan menggunakan panca inderanya.

Kemudian datanglah Masa Pencerahan (Aufklarung) pada abad XVIII yang dirintis oleh Isaac Newton (1642-1727), sebagai perkembangan lebih jauh dari Rasionalisme dan Empirisme dari abad sebelumnya. Pada abad sebelumnya, fokus pembahasannya adalah pemberian interpretasi baru terhadap dunia, manusia, dan Tuhan. Sedang pada Masa Aufklarung, pembahasannya lebih meluas mencakup segala aspek kehidupan manusia, seperti aspek pemerintahan dan kenegaraan, agama, ekonomi, hukum, pendidikan dan sebagainya.

Bertolak dari prinsip-prinsip Empirisme John Locke, George Berkeley (1685-1753) mengembangkan “immaterialisme”, sebuah pandangan yang lebih ekstrim daripada pandangan John Locke. Jika Locke berpandangan bahwa kita dapat mengenal esensi sebenarnya (hakikat) dari fenomena material dan spiritual, Berkeley menganggap bahwa substansi-substansi material itu tidak ada, Yang ada adalah ciri-ciri yang diamati. Pandangan Locke dan Berkeley dikembangkan lebih lanjut oleh David Hume (1711-1776), dengan dua ide pokoknya; yakni tentang skeptisisme (keragu-raguan) ekstrim bahwa filsuf itu mampu menemukan kebenaran tentang apa saja, dan keyakinan bahwa “pengetahuan tentang manusia” akan dapat menjelaskan hakikat pengetahuan yang dimiliki manusia.

Selain George Berkeley dan David Hume, Immanuel Kant (1724-1804) juga dianggap salah seorang tokoh Masa Pencerahan. Filsafat Kant disebut Kritisisme, yakni aliran yang mencoba mensintesiskan secara kritis Empirisme yang dikembangkan Locke yang bermuara pada Empirisme Hume, dengan Rasionalisme dari Descartes. Kant mulai menelaah batas-batas kemampuan rasio, berbeda dengan para pemikir Rasionalisme yang mempercayai kemampuan rasio bulat-bulat. Namun demikian, Kant juga mempercayai Empirisme. Walhasil dia berpandangan bahwa semua pengetahuan mulai dari pengalaman, namun tidak berarti semua dari pengalaman. Obyek luar ditangkap oleh indera, tetapi rasio mengorganisasikan bahan-bahan yang diperoleh dari pengalaman tersebut.

Pada abad XIX, filsafat Kant tersebut dikembangkan lebih lanjut di Jerman oleh J. Fichte (1762-1814), F. Schelling (1775-1854) dan Hegel (1770-1831). Namun yang mereka kembangkan tidaklah filsafat Kant seutuhnya, tetapi lebih memprioritaskan ide- ide, yakni tidak memfokuskan pada pembahasan fakta empirik. Karenanya, aliran mereka disebut dengan Idealisme. Dari ketiganya, Hegel merupakan tokoh yang menonjol, karena banyak pemikir pada abad ke-19 dan ke-20 yang merupakan murid-muridnya, baik langsung maupun tidak. Mereka terbagi dalam dua pandangan, yaitu pengikut Hegel aliran kanan yang membela agama Kristen seperti John Dewey (1859-1952), salah seorang peletak dasar Pragmatisme yang menjadi budaya Amerika (baca : Kapitalisme) saat ini, dan pengikut Hegel aliran kiri yang memusuhi agama, seperti Feuerbach, Karl Marx, dan Engels dengan ide Materialisme yang merupakan dasar ideologi Komunisme di Rusia.

Empirisme itu sendiri pada abad XIX dan XX berkembang lebih jauh menjadi beberapa aliran yang berbeda, yaitu Positivisme, Materialisme, dan Pragmatisme. Positivisme dirintis oleh August Comte (1798-1857), yang dianggap sebagai Bapak ilmu Sosiologi Barat. Positivisme sebagai perkembangan Empirisme yang ekstrim, adalah pandangan yang menganggap bahwa yang dapat diselidiki atau dipelajari hanyalah “data-data yang nyata/empirik”, atau yang mereka namakan positif. Nilai-nilai politik dan sosial menurut Positivisme dapat digeneralisasikan berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh dari penyelidikan terhadap kehidupan masyarakat itu sendiri. Nilai-nilai politik dan sosial juga dapat dijelaskan secara ilmiah, dengan mengemukakan perubahan historis atas dasar cara berpikir induktif. Jadi, nilai-nilai tersebut tumbuh dan berkembang dalam suatu proses kehidupan dari suatu masyarakat itu sendiri.

Materialisme adalah aliran yang menganggap bahwa asal atau hakikat segala sesuatu adalah materi. Di antara tokohnya ialah Feuerbach (1804-1872), Karl Marx (1818-1883) dan Fredericht Engels (1820-1895). Karl Marx menerima konsep Dialektika Hegel, tetapi tidak dalam bentuk aslinya (Dialektika Ide). Kemudian dengan mengambil Materialisme dari Feuerbach, Karl Marx lalu mengubah Dialektika Ide menjadi Dialektika Materialisme, sebuah proses kemajuan dari kontradiksi-kontradiksi tesis-antitesis-sintesis yang sudah diujudkan dalam dunia materi. Dialektika Materialisme lalu digunakan sebagai alat interpretasi terhadap sejarah manusia dan perkembangannya. Interpretasi inilah yang disebut sebagai Historis Materialisme, yang menjadi dasar ideologi Sosialisme-Komunisme (Marxisme).

Pragmatisme dianggap juga salah satu aliran yang berpangkal pada Empirisme, kendatipun ada pula pengaruh Idealisme Jerman (Hegel) pada John Dewey, seorang tokoh Pragmatisme yang dianggap pemikir paling berpengaruh pada zamannya. Selain John Dewey, tokoh Pragmatisme lainnya adalah Charles S.Peirce dan William James.

Ringkasnya titik penting yang membedakan empat periode di atas yaitu digantinya metode silogistik dan rasional pada filsafat kuno dengan metode empiris dan eksperimental pada filsafat modern. Sedangkan yang membedakan filsafat modern dengan filsafat kontemporer yaitu bergesernya dominasi topik-topik epistimologi oleh topik-topik logika linguistic.

Riwayat Hidup Charles Sanders Peirce

Charles Sanders Peirce dilahirkan pada 10 September 1839 di Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat. Dia menulis dari tahun 1857 sampai menjelang wafat, kira selama 57 tahun. Publikasinya mencapai 12.000 halaman dan manuskrip yang tidak dipublikasikan mencapai 80.000 halaman catatan tangan. Topik yang dibahas dalam karya-karya Peirce sangat luas, dari matematika dan ilmu fisika, ekonomi dan ilmu sosial, serta masalah lainnya.[7]

Benjamin Peirce, ayah Charles Sanders Peirce adalah professor matematika di Universitas Harvard dan salah seorang pendiri “U.S. Coast and Geodetic Survey”. Peran Benjamin sangat besar dalam membangun Departemen Matematika di Harvard. Dari ayahnya, Charles Sanders Peirce memperoleh pendidikan awal yang mendorong dan menstimulus kiprah intelektualnya. Benjamin mengajar dengan melalui pendekatan kasus/problem yang meminta jawaban dari sang anak. Hal ini membekas dalam pemikiran filosofis dan masalah ilmu yang dihadapi Peirce di kemudian hari.

Peirce lulus dari Harvard pada tahun 1859 dan menerima gelar Bachelor of Science dalam bidang Kimia pada tahun 1863. Dari tahun 1859 sampai 1891 dia bekerja di U. S. Coast and Geodetic Survey, terutama menyurvei dan investigasi geodesi. Dari tahun 1879 sampai 1884, dia juga mengajar Logika di Departemen Matematika Universitas Johns Hopkins. Pada masa itu Departemen Matematika dipimpin oleh matematikawan terkenal, J. J. Sylvester. Peirce meninggal pada 19 April 1914 di Milford, Pennsylvania Amerika Serikat.

Diantara karya-karnya adalah Collected Papers of Charles Sanders Peirce, 8 vols. Edited by Charles Hartshorne, Paul Weiss, and Arthur Burks (Harvard University Press, Cambridge, Massachusetts, 1931-1958); Pragmatism as a Principle and Method of Right Thinking: the 1903 Harvard Lectures on Pragmatism by Charles Sanders Peirce. Edited by Patricia Ann Turrisi (State University of New York Press, Albany, New York, 1997); Reasoning and the Logic of Things: the Cambridge Conferences Lectures of 1898. Edited by Kenneth Laine Ketner (Harvard University Press, Cambridge, Massachusetts, 1992).Writings of Charles S. Peirce: a Chronological Edition, Volume I 1857-1866, Volume II 1867-1871, Volume III 1872-1878, Volume IV 1879-1884, Volume V 1884-1886. Edited by the Peirce Edition Project (Indiana University Press, Bloomington, Indiana, 1982, 1984, 1986, 1989, 1993).[8]

Filsafat Kontemporer dan Pragmatisme

Dalam filsafat kontemporer, terdapat banyak aliran dan mazhab yang berbeda- beda, tetapi bahasa telah menjadi fokus penelitian filosofis. Wittgensteins (filsuf bahasa”terbesar” abad ke 20) mengatakan: Alle Philosopie ist sprachkritik (setiap filsafat adalah kritik atau bahasa), (tractatus,4.0031). kalau dalam filsafat pada abad ke-19 yang mencolok adalah tema-tema epistemology, maka abad ke-20 di alihkan ke metodologi bahasa dimana kita berbicara tentang knowledge dan belief.[9] karena kita dapat menemukan upaya sungguh-sungguh terhadap persoalan yang terkait dengan logika penelitian (logic inquiry) atau metodologi dan sekaligus dengan memperjelas makna atau arti bahasa (language) yang kita gunakan untuk mengonsepsi pengetahuan dan kepercayaan. jadi bukan pada pertanyaan apakah mungkin kita memperoleh pengetahuan, tetapi pada bagaimana menunjukkan cara-cara pengetahuan tersebut di peroleh, yakni syarat-syarat (condition) dan cara-cara (procedures) untuk memperoleh pengetahuan tersebut.[10]

Adanya perhatian terhadap bahasa ini meniscahayakan lahirnya kembali logika yang kemudian terkenal sebagai logika modern. Pada abad ke-19, ada sejumlah untuk memutakhirkan logika oleh filsuf-filsuf seperti George Boyle, Ernst Schroder, Gotlob Frege, Bertrand Russell dan A. N. Whitehead dan tentunya Charles S. Peirce. Logika modern di dasarkan pada hubungan logis di antara seluruh kalimat. Pusat perhatiannya bukan lagi silogisme tetapi argumen-argumen yang hipotetikal dan disjungtif. Logika yang semula dari istilah Greek logos, bisa berarti macam-macam, sesuai kompleksitas penggunanya: logika bisa bersangkut paut dengan kemampuan yang khas dimiliki manusia, yakni kemampuan untuk berbicara (power of speech), kemampuan mengambil kesimpulan (inference), kemampuan menyusun pemikiran konseptual (conceptual thought), dan lebih-lebih kemampuan melakukan penilitian rasional (rational inquiry). Pada pokoknya, pengertian logika yang baru adalah ingin mencari jawaban bagaimana disiplin logika yang telah diperbaharui dan telah di kembangkan secara teliti tersebut dapat membimbing dan mengarahkan penggunaan akal pemikiran dalam bidang ilmu pengetahuan secara umum.

Salah satu tradisi filsafat kontemporer yang mempunyai minat besar terhadap science of linguistic ini adalah pragmatisme. Pragmatisme pada dasarnya merupakan gerakan filsafat Amerika yang sangat dominan selama satu abad terakhir dan mencerminkan sifat-sifat kehidupan Amerika. Demikian dekatnya pragmatisme dengan Amerika sehingga Popkin dan Stroll menyatakan bahwa pragmatisme merupakan gerakan yang berasal dari Amerika yang memiliki pengaruh mendalam bagi kehidupan intelektual di Amerika. Pertanyaan tentang kebenaran, asal dan tujuan, hakikat serta hal-hal metafisis bagi mayoritas orang Amerika menjadi pokok pembahasan dalam filsafat Barat hanya bersifat teoretis. Pada umumnya mereka membutuhkan hasil yang konkret, sesuatu yang penting dapat dilihat kegunaannya. Oleh karena itu, pertanyaan what is dieliminer dengan what for dalam filsafat praktis.[11]

Istilah Pragmatisme berasal dari kata Yunani pragma yang berarti perbuatan

(action) atau tindakan (practice). Isme di sini sama artinya dengan isme-isme lainnya, yaitu berarti aliran atau ajaran atau paham. Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan.

Pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah “faedah” atau “manfaat”. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh Pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. Dengan kata lain, suatu teori itu benar kalau berfungsi (if it works). Dengan demikian Pragmatisme dapat dikategorikan ke dalam pembahasan mengenai teori kebenaran (theory of truth), sebagaimana yang nampak menonjol dalam pandangan William James (1842-1910),terutama dalam bukunya The Meaning of The Truth (1909).[12]

Menurut filsafat tersebut, Istilah pragmatisme ini kemudian di angkat pada tahun 1865 oleh Charles S. Peirce (1839-1914) sebagai doktrin pragmatisme.[13] Doktrin itu selanjutnya di umumkan pada tahun 1978 paham tersebut menetapkan aspek-aspek praktis sebagai parameter benar salahnya suatu pemikiran atau konsep. Doktrin ini diangkat dalam sebuah makalah yang dimunculkan pada tahun 1878 dengan tema How to Make Our Ideas Clear yang kemudian dikembangkan oleh beberapa ahli filsafat Amerika diantaranya John Dewey (1859 – 1952).[14] Chambers everyday dictionary merumuskan pragmatisme sebagai a philosophy or philosophycal method thats makes practical consequences the test of truth, yaitu suatu filsafat atau metode filsafat yang menetapkan hasil-hasil praktis sebagai standar kebenaran.

Membicarakan pragmatisme sebagai sebuah paham dalam filsafat, memang tidak dapat dilepaskan dari nama-nama seperti Charles S. Peirce, William James, dan John Dewey di atas. Meskipun ketiga tokoh tersebut dimasukkan dalam kelompok pragmatisme, namun di antara ketiganya memiliki fokus pembahasan yang berbeda. Charles S. Peirce lebih dekat di sebut filsuf ilmu[15], sedangkan William James disebut filsuf agama[16], dan John Dewey dikelompokkan pada filsuf sosial[17].

Kebenaran menurut Charles S. Peirce

Pierce membagi kebenaran menjadi dua, pertama; Kebenaran Transendental (Trancendental Truth), yaitu kebenaran yang menetap pada benda itu sendiri.kedua; kebenaran kompleks (Complex Truth), yaitu kebenaran dalam pernyataan. Kebenaran kompleks dibagi menjadi kebenaran etis atau psikologis yaitu keselarasan pernyataan dengan apa ya ng diimani pembicara, dan kebenaran logis atau literal, yaitu keselarasan pernyataan dengan realitas yang didefinisikan. Semua kebenaran pernyataan ini harus diuji dengan konsekuensi praktis melalui pengalaman.

Langkah awal yang harus dilakukan dalam memahami pandangan besar peirce tentang kebenaran adalah memahami adanya tiga sifat dasar yang ada keyakinan; pertama adanya proposi, kedua adanya penilaian, dan yang ketiga adanya kebiasaan dalam pikiran.

Untuk mencapai sebuah keyakinan akan suatu, minimal harus ada tiga sifat dasar di atas. Pada gilirannya, keyakinan akan menghasilkan kebiasaan dalam pikiran (habit of mind). Berbagai kepercayaan dapat dibedakan dengan membandingkan kebiasaan dalam pikiran yang dihasilkan. Dari situ, peirce kemudian membedakan antara keraguan dan keyakinan. Orang yang yakin pasti berbeda dengan orang ragu minimal dari dua hal: feeling and behavior. Orang yang ragu selalu merasa tidak nyaman dan akan berupaya untuk menghilangkan keraguan itu untuk menemukan keyakinan yang benar.

Gagasan Peirce tentang keyakinan dan pencarian keyakinan yang benar, ia mengemukakan dua tipologi, yakni; fixation of belief, usaha untuk meneguhkan keyakinan yang telah dimiliki,agar bisa survive, dan Clarification of idea yang mencakup metafisika, etika dan logika. Pierce mengembangkan dalam bidang logika yang digagasnya dalam teori baru The New Logic (cara berfikir baru) dan The Logic of Inquiry (logika penelitian). Bagi Pierce, logic tidak statis tapi bersifat dinamis, sehingga dengan perkembangan ilmu pengetahuan, apa yang nampak sebagai fenomena dibaca dan dicerna dengan pembacaan yang kritis dan produktif.

Selanjutnya Peirce mengajukan lima konstruksi pemikiran yaitu, pertama; belief, berupa tatanan sosial yang dipegangi dan moral, kedua; habit of mind, kebiasaan dalam pikiran yakni adat istiadat yang turun temurun dan mengkristal, ketiga; doubt, keragu-raguan akan apa yang selama ini dianggap mapan karena adanya benturan antara turath (warisan keilmuan Islam) dengan al-hadathah (modernitas). Untuk memperoleh keyakinan, menurut Pierce seorang peneliti perlu menggunakan empat, yakni; tenasitas, otoritas, apriori, dan investigasi. Keempat; Inquiry (penelitian), yang dicari adalah meaning (nilai) bukan truth (kebenaran)dan yang kelima;the logic of theory. Peirce menegaskan bahwa kebenaran teks adalah sebagian kebenaran yang tertutup dalam kebenaran absolut. Dari sini, Peirce menewarkan perlunya Commonity of Research sehingga masing-masing kebenaran relatif tersebut masih dapat diapresiasi dan dikritik.[18]

 

Peirce mengakui bahwa dalam sejarah manusia, usaha-usaha untuk mencari keyakinan yang benar itu setidaknya dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya:

  1. 1. A priori, yang berasal dari bahasa latin: a (dari) dan prior (yang mendahului). A priori digunakan, kontras dengan a posteriori, untuk mengacu pada kesimpulan-kesimpulan kepada apa yangt sudah di tentukan, bukan dari pengalaman. Oleh karena itu, a priori mengacu kepada apa yang dapat kita asalkan dari definisi dan apa yang tersirat dalam makna ide yang sudah diterima. A priori berarti tidak bergantung padav pengalaman indrawi. Barangkali ilustrasi yang tepat untuk a priori tersebut aedalah kasus penemuan obat malaria yang terjadi sedcara kebetulan. Seorang indian yang sakit minum air dikolam dan ahirnya mendapatkan kesembuhan. Hal ini terjadi berulang kali pada beberapa orang. Akhirnya, diketahui bahwa di sekitar kolam tersebut tumbuh sejenis pon yang kulitnya bisa digunakan sebagai obat malaria yang kemudian berjatuhan di kolam tersebut. Penemuan pon yang kelak di kemudian hari dikenal sebagai pon kina tersebut adalah terjadi secara kebetulan saja.
  2. 2. Trial and Error, artinya coba-coba. Metode ini bersifat untung-untungan. Salah satu contoh ialah model percobaab problem box Thorndike. Percobaan tersebut adalah seperti berikut: seekor kucing yang kelaparan dimasukkan ke dalam problem box, suatu ruangan yang hanya dapat di buka apabila kucing berhasil menarik ujung tali dengan membuka pintu. Karena rasa lapar dan melihat makanan di luar maka kucing berusaha keluar dari kotak tersebut dengan berbagai cara. Akhirnya dengan tidak sengaja si kucing berhasil menyentuh simpul tali yang membuat pintu jadi terbuka dan dia pun berhasil keluar. Percobaan tersebut berdasarkan pada hal yang belum pasti, yaitu kemampuan kucing tersebut untuk membuka pintu kotak masalah.

 

  1. 3. Melalui otoritas. Kebenaran bisa didapati melalui otoritas seseorang yang memegang kekuasaan, seperti seorang raja atau pejabat pemerintah yang setiap keputusan dan kebijaksanaan dianggap benar oleh bawahannya. Dalam filsafat jawa dikenal dengan istilah sabda pandita ratu, ucapan pendeta atau ratu selalu benar dan tidak boleh di banta lagi.
  2. 4. Melalui metode ilmiah dan investigasi. Metode ilmiah merupakan prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, tata langkah, dan cara teknis untuk memperoleh pengetahuan baru atau memperkembangkan pengetahuan yang ada.

 

Selanjutnya dalam sebuah makalah yang terbit pada 1878, yang berjudul How I Make Our Ideas Clear, Peirce menyatakan bahwa kebenaran suatu pernyataan di ukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis. Suatu pernyataan adalah benar apabila pernyataan dari konsekuensi dari pernyataan itu dipercaya mempunyai kegunaan praktis dalam kehidupan manusia. Kepercayaan atau keyakinan yang membawa pada hasil yang terbaik adalah yang menjadi justifikasi dari segala tindakan. Keyakinan yang meningkatkan suatu kesuksesan adalah kebenaran.

Pragmatisme sebagai suatu interpretasi baru terhadap teori kebenaran oleh peirce memang digagas sebagai teori arti. Dalam kaitan dengan ini: menurut teori pragmatis tentang kebenaran, suatu proposisi dapat disebut benar sepanjang proposisi itu berlaku atau memuaskan, berlaku dan memuaskannya itu diuraikan dengan berbagai ragam oleh para pengamat teori tersebut.

Sementara itu, James menominalisasikan pragmatisme sebagai teori cash value. James kemudian menyatakan: ide-ide yang benar menurut James, adalah ide-ide yang dapat kita serasikan, kita umumkan berlakunya, kita kuatkan, dan kita periksa. Sebaliknya ide yang salah adalah ide yang tidak demikian).

Untuk membedakan dengan dua pendahulunya tersebut, Dewey menamakan pragmatisme, sebagai instrumentalisme. Instrumentalisme sebenarnya sebutan lain dari filsafat pragmatisme, selain eksperimentalisme. Dewey merumuskan instrumentalisme pragmatis sebagai to conceive of both knowledge and practice as means of making good excellencies of all kind secure in experienced existence.  Demikianlah, dewey pragmatisme dengan instrumentalism, operationalism, functionalism, dan experimentalisme. Menurut aliran tersebut, ide gagasan, pikiran dan intelegent merupakan alat atau instrumen untuk mengatasi kesulitan atau persoalan yang dihadapi manusia.

Peirce memaksudkan pragmatisme untuk membuat pikiran bisa menjadi ilmiah, tetapi James memandangnya sebagai sebuah filsafat yang dapat memecahkan masalah- masalah metafisik dan agama. Lebih jauh, James menganggapnya sebagai theory of meaning dan theory of truth.

Pragmatisme yang diserukan oleh James ini yang juga disebut practicalisme– sebenarnya merupakan perkembangan dan olahan lebih jauh dari pragmatisme peirce. Hanya saja, peirce lebih menakankan pragmatisme ke dalam bahasa, yaitu untuk menerangkan arti-arti kalimat sehingga diperoleh kejelasan konsep dan perbedaannya dengan konsep lain. Dia menggunakan pendekatan matematik dan logika simbol yang pada gilirannya mengangkat namanya sebagai bapak semiotika modern, berbeda dengan James yang menggunakan pendekatan psikologi. Dengan semangat logika positivistik inilah, menurut beberapa tulisan, kemudian muncul sikap skeptis peirce terhadap kemungkinan pengetahuan metafisik. Semangat logika positivistik menganggap semua pernyataan yang tidak terkait dengan benda-benda fisik- misalnya pernyataan etika dan metafisika- sebagai meaningless, tak bermakna atau omong kosong. John Passmore, misalnya, mengatakan bahwa kaum positivis menolak metafisika transendental atasdasar bahwa pernyataan-pernyataan itu tidak bermakna sama sekali. Namun demikian, kajian metafisika ini tetap diyakini pierce dapat didiskusikan dan diselesaikan melalui filsafat.

Salah satu masukan yang disumbangkan oleh telaah dan kajian pragmatisme, juga filsafat analitik adalah analisisnya yang tajam tentang corak pemikiran metafisik yang terkait dengan world view (pandangan dunia) adalah monistic and pluralistic.

Penutup

Pragmatisme merupakan filsafat bertindak dalam menghadapi berbagai persoalan, baik yang bersifat psikologis, epistemologis, metafisis, maupun religious. Pragmatisme selalu mempertanyakan bagaimana konsekuensi praktisnya, selalu dikaitkan dengan kegunaannya dalam hidup manusia. Konsekuensi praktis yang berguna dan memuaskan manusia itulah yang membenarkan tindakan tadi.

Pragmatisme mempunyai dua sifat, yaitu kritik terhadap pendekatan ideologis dan prinsip pemecahan masalah. Sebagai kritik terhadap pendekatan ideologis, pragmatisme mempertahankan relevansi sebuah ideologi bagi pemecahan, misalnya fungsi pendidikan. Pragmatisme mengkritik segala macam teori tentang cita-cita, filsafat, rumusan- runmusan abstrak yang sama sekali tidak memiliki konsekuensi praktis. Bagi kaum

pragmatis, yang penting bukan keindahan suatu konsepsi melainkan hubungan nyata pada pendekatan masalah yang dihadapi masyarakat. Sebagai prinsip pemecahan masalah, pragmatisme mengatakan bahwa suatu gagasan atau strategi terbukti benar apabila memecahkan masalah yang ada, mengubah situasi yang penuh keraguan dan penuh keresahan sedemikian rupa sehingga keraguan dan keresahan tersebut hilang. Teori sebagai alat untuk bertindak, teori yang tepat adalah teori yang berguna yang siap pakai

Dari kedua sifat tersebut di atas, maka segi positifnya tampak pada penolakan kaum pragmatis terhadap perselisihan teoretis, pertarungan ideologis serta pembahasan nilai-nilai yang berkepanjangan, demi segera mungkin mengambil tindakan langsung.

Sedangkan dari sisi negatifnya ada tiga hal, yaitu ;pertama pragmatisme mencampur adukkan kriteria kebenaran ide dengan kegunaan praktisnya. Kebenaran suatu ide adalah satu kondisi, sedang kegunaan praktis ide itu adalah kondisi yang lain. Kebenaran sebuah ide diukur antara kesesuaian ide dengan realitas. Sedang kegunaan praktis suatu ide untuk memenuhi hajat manusia, diukur dari kebenaran ide yang diterapkan. Maka, kegunaan praktis ide tidak mengandung implikasi kebenaran ide, tetapi hanya menunjukkan fakta terpuaskannya kebutuhan manusia.

Kedua, Pragmatisme menafikan peran akal manusia. Menetapkan kebenaran sebuah ide adalah aktivitas intelektual dengan menggunakan standar-standar tertentu. Sedang penetapan kepuasan manusia dalam pemenuhan kebutuhannya adalah sebuah identifikasi instinktif. Memang identifikasi instinktif dapat menjadi ukuran kepuasan manusia dalam pemuasan hajatnya, tapi tak dapat menjadi ukuran kebenaran sebuah ide. Maka, Pragmatisme berarti telah menafikan aktivitas intelektual dan menggantinya dengan identifikasi instinktif. Atau dengan kata lain, Pragmatisme telah menundukkan keputusan akal kepada kesimpulan yang dihasilkan dari identifikasi instinktif.

Ketiga, Pragmatisme menimbulkan relativitas dan kenisbian kebenaran sesuai dengan perubahan subjek penilai ide (individu, kelompok, dan masyarakat) dan perubahan konteks waktu dan tempat. Dengan kata lain, kebenaran hakiki Pragmatisme baru dapat dibuktikan sesuai dengan pragmatisme itu sendiri, sehingga pragmatisme berarti telah menjelaskan inkonsistensi internal yang dikandungnya dan menafikan dirinya sendiri.

 

Daftar Rujukan:

Abdullah,   Amin.    Islamic    Studies    di    Perguruan  Tinggi    Pendekatan   Integrative

Interkonektif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2006. Bakhtiar, Amsal. Filsafat Ilmu. Jakarta: Rajawali, 2010.

Choir, Tholhatul dan Fanani, Ahwan (ed.). Islam dalam berbagai pembacaan kontemporer.

Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 2009.

Gunawan      (ed.)       http://grelovejogja.wordpress.com/2008/12/18/kajian-epistemologi- charles-sanders-pierce-1839-1914. dipublikasi pertama kali pada tanggal 18

Desember 2008.

Knipers, Theo A.F (ed.) General Phylosophy of Science. Oxford, 2007.

Munitz, Milton K.. Contemporery Analitic Philosophy. New York; Macmillan Publishing

Co.Inc. 1981.

Mustanshir, Rijal dan Munir, Misnan. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002. Santoso, Slamet Imam. Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Sinar Hudaya,

1977.

Suriasumantri, Jujun S. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar

Harapan, 2000.

Verhaak, C. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1995.

[1] Milton K. Munitz,Contemporery Analitic Philosophy (New York; Macmillan Publishing Co.Inc. 1981), 1.

[2] Tholhatul Choir, Ahwan Fanani (ed), Islam dalam Berbagai Pembacaan Kontemporer (Yogyakarta; Pustaka Pelajar, 2009), 4.

[3] Nicolaus Copernicus adalah seorang tokoh gereja Ortodoks, ia menemukan bahwa matahari berada di pusat jagat raya, dan bumi memiliki dua macam gerak yaitu perputara sehari-hari pada porosnya dan gerak tahunan mengelilingi matahari. Teori ini disebut dengan Heliosentris. Lihar Rijal Mustanshir dan Misnan Munir, Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Oustaka Pelajar, 2002), 70.

[4] Johanes Keppler adalah pembantu Tycho dan seorang ahli matematika. Ia juga mengembangkan astrologi untuk memelihara perkembangan astronomi.

[5] Galileo Galilei adalah salah seorang penemu lintas peluru, hukum pergerakan dan penemu tata bulan planet Jupiter. Penemuannya ini memperkokoh keyakinan Galileo bahwa tata bumi bersifat Heloisentris. Ia j uga dianngap sebagai pelopor perkembangan ilmu dan penemu dasar ilmu modern yang hanya berpegang pada soal-soal yang obyektif saja. Lihat Slamet Imam Santoso, Sejarah Perkembangan Ilmu Pengetahuan (Jakarta: Sinar Hudaya, 1977), 68.

[6] Rene Descartes, Baruch Spinoza dan Pascal, ketiganya adalah tokoh yang hidup pada tahap awal Masa Modern menyikapi cara kerja apriori dan aposteori filsafat dan pengetahuan secara umum. Descartes mengusung postulatnya yang masyhur “Cogito Ergo Sum” untuk menyanggah kaum skeptisme yang mengingkari realitas. Lihat C. Verhaak, Filsafat Ilmu Pengetahuan (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,1995), 100. Sebenarnya Descartes bukanlah rasionali murni yang berfikir bahwa semua pengetahuan dapat diperoleh dengan apriori. Tetapi ia juga bukanlah seorang empirisme karena ia tidak mengakui bahwa pengetahuan dapat diperoleh dengan pengalaman. Lihat Theo A.F Knipers (ed.) General Phylosophy of Science. (Oxford, 2007) h. 102.

[7] Milton K Munizt, Contemporary Analitic Philosophy,17.

[8] Gunawan (ed.) http://grelovejogja.wordpress.com/2008/12/18/kajian-epistemologi-charles-sanders-pierce-1839-1914. dipublikasi pertama kali pada tanggal 18 Desember 2008.

[9] Milton K. Munitz. Contemporery Analitic Philosophy,7.

[10] Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi Pendekatan Integrative Interkonektif (Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2006), 29.

[11] Lihat Tholhatul Choir, Ahwan Fanani (ed), Islam Dalam Berbagai Pembacaan Kontemporer, 14.

[12] Kebenaran menurut William James adalah sesuatu yang terjadi pada ide yang sifatnya tidak pasti. Kebenaran bukan suatu yang statis, tetapi selalu berubah sejalan dengan perkembangan pengalaman.James mengartikan keberan itu mengandung tiga aspek, pertama; kebenaran merupakan suatu postulat, kedua;kebenaran merupakan suatu pernyataan fakta dan ketiga; kebenaran merupakan kesimpulan yang telah digeneralisasi dari pernyataan fakta.Dengan demikian James sebagai penganjur empirisme dengan cara berpikir induktif. sehingga diperoleh kejelasan konsep dan pembedaannya dengan konsep lain.Pierce menggunakan pendekatan matemetik dan logika symbol (bahasa).

[13] Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2000), 56.

[14] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu (Jakarta: Rajawali, 2010), 119.

[15] Peirce lebih menekankan penerapan pragmatism ke dalam bahasa yaitu menerangkan arti-arti kalimat

[16] James menggunakan pendekatan psikologi untuk memecahkan masalah individual.

[17] Dewey mengembangkan teori problem solving, yaitu mengarahkan kegiatan intelektual untuk mengatasi masalah sosial. Dewey menggunakan pendekatan biologis dan psikologis.

[18] Milton K. Munitz, Contemporary Analytic Philosophy, 34.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *