Reorientasi Tauhid serta Pengaruhnya terhadap Rekonstruksi Sejarah

Oleh: Muhamad Sofi Mubarok, M.H.I,. S.S.I 

Membicarakan tauhid dan korelasinya terhadap filsafat sejarah merupakan sesuatu yang baru dikenal di lingkungan pemikiran intelektual. Apalagi menyingkap nilai-nilai filosofis suatu kejadian sejarah masih relatif jarang digandrungi kaum intelektual. Penelitian suatu peristiwa sejarah selalu berhenti pada penyajian realitas dan fakta-fakta sejarah, dan belum sampai pada tahap kesimpulan umum dan memetik nilai yang terkandung dalam kejadian sejarah tersebut.

Untuk sampai pada tahap ini, nalar kritis dan pemahaman yang luas mutlak diperlukan untuk menyingkap esensi sejarah. Kesimpulan pro maupun kontra terhadap sejarah itu sendiri adalah wajar, terlebih jika muncul stigma yang cukup tidak sedap terdengar di telinga sebagai akibat dari mempertanyakan keabsolutan sejarah; tak ada nilai yang benar-benar mutlak dan absolut di dunia ini, termasuk konsep keimanan dan sejarah. Maka tak heran jika Jean Paul Sartre berucap, kebenaran hakiki dapat diperoleh setelah kebenaran itu dipertanyakan.

Begitupun dengan tauhid. Manusia terpaku pada kebenaran yang ditawarkan pada buku-buku tauhid tentang rumusan kaidah-kaidah keimanan secara taken for granted. Mempertanyakan keesaan Tuhan merupakan contoh heretisme (bid’ah) dalam agama yang terlarang, namun mempertanyakan aktualisasi tauhid dalam kehidupan sehari-hari merupakan suatu keniscayaan, mengingat agama dianggap terlalu usang untuk menghadapi tantangan perkembangan zaman. Oleh karena itu, percakapan mengenai konsep etika tauhid dan sejarah menjadi pembahasan hangat di kalangan para intelektual dewasa ini.

  1. Reinterpretasi Terminologi Tauhid

Umat Islam meyakini agamanya sebagai agama paripurna yang diturunkan Tuhan untuk menciptakan kebaikan bersama (al-mashlahah al-‘ammah) dan mencegah timbulnya kerusakan (dar’u al-mafasid). Selain itu, Tuhan mengutus para rasul-Nya untuk mendakwahkan nilai-nilai profetik sekaligus memperbaiki etika sebagai kerangka pokok dalam mendakwahkan misinya. Salah satu tema pokok dan nilai universal yang terkandung dalam al-Qur’an sesuai dengan konteks perbaikan etika dan moralitas umat di masa lalu adalah purifikasi keberagamaan bangsa Arab yang semula menganut paganisme menuju keesaan Tuhan (tauhid).[2]

Tauhid dalam pengertian itu sengaja diformulasikan dalam rangka meluruskan keimanan dan keyakinan seorang hamba kepada Tuhan. Tauhid juga mengajarkan bahwa segala esensi bagi alam semesta, berupa penciptaan langit dan bumi, pemberian rizki atas makhluk di jagat raya, serta sistematika sejarah manusia, kesemuanya bersumber dari Yang Maha Satu. Tata ritual peribadatan juga hanya ditujukan kepada-Nya dan menolak setiap bentuk penghambaan terhadap wujud selain-Nya.

Setelah melalui serangkaian pengalaman beragama sebagaimana yang dicontohkan oleh Muhamad, kaidah-kaidah keimanan lama-kelamaan berkembang menjadi cabang khazanah keilmuan Islam. Substansi tauhid terjebak pada pemahaman rigid; aspek ilahiyah (teologi), nubuwwah (profetik) dan sam’iyyah. Pembicaraannya pun semakin terbatas pada unsur-unsur normatif tanpa melihat esensi tauhid sebagai spirit kesatuan (the unity of) aspek-aspek yag melingkupi kehidupan manusia, berupa aspek ekonomi, sosio-kultural, politik, sejarah, dsb.

Untuk mengeluarkan esensi tauhid dari kekakuan, Ismail Raji Al-Faruqi menawarkan suatu ide baru tentang pemahaman tauhid. Menurutnya, konsep tauhid seharusnya diaktualisasikan dalam nilai-nilai praktis dan aktifitas manusia, bukan sekedar pemikiran nilai-nilai transendental. Dalam bukunya yang fenomenal, Tauhid,  Ismail R. Faruqi berkata demikian:

“Setelah menerima Tuhan sebagai satu-satunya Yang Dipertuannya, setelah menyerahkan dirinya, hidup dan seluruh energinya untuk mengabdi kepada-Nya,[3] dan setelah mengakui kehendak Sang Penguasa sebagai kehendak yang harus diaktualisasikan dalam ruang dan waktu, dia harus terjun dalam hiruk-pikuknya dunia dan sejarah, dan menciptakan perubahan yang dikehendaki. Dia tidak boleh menjalani eksistensi yang monastik dan isolasionis kecuali jika itu dilakukannya sebagai latihan pendisiplinan dan penguasaan diri (riyâdlah). Sekalipun demikian, jika latihan tersebut tidak menunjang tujuan bagi mencapai keberhasilan yang lebih besar dalam upaya mentransformasi ruang dan waktu, ia akan dikutuk sebagai egosentrisme yang tak etis; sebab dalam hal ini sasarannya adalah perubahan diri sebagai tujuan itu sendiri, bukan sebagai suatu persiapan untuk mengubah dunia menjadi keserupaan dengan pola Ilahi.”[4]

Tauhid, oleh karena itu, perlu diaktualisasikan dalam bentuk kreatifitas. Apalagi, ayat-ayat Tuhan non-verbal (kauniyyah) terhampar luas di bumi dan tidak terbatas. Untuk itu, memikirkan alam semesta merupakan manifestasi dari tauhid yang diajarkan Tuhan untuk mencapai pengetahuan akan eksistensi-Nya;[5]

  1. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.[6]
  1. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.

Oleh karena itu, benar jika keimanan dan ketauhidan tidak akan sempurna kecuali setelah diaktualisasikan dalam bentuk perbuatan dan amaliah praktis. Dua esensi yang membawa manusia kepada kebahagiaan inilah yang kemudian menginspirasi Tuhan untuk selalu menyandingkan keduanya dalam teks sriptural[7] yang menjadi terkandung dalam misi profetik Muhamad, sebagaimana firman-Nya berikut:[8]

2). Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 3). Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

 

  1. Pengertian Sejarah

Secara linguistik, sejarah  (التاريخ) atau history dalam bahasa Inggris merujuk pada aktifitas penanggalan suatu peristiwa tertentu dan mencatatkannya berdasarkan periodisasi waktu secara sistematis.[9] Serapan kata sejarah sebenarnya diambil dari kata شجرة  yang berarti pohon sejarah. Layaknya sebuah pohon, sejarah memiliki berbagai cabang. Selain itu, term sejarah juga dapat dimaknai “sesuatu yang sering diperselisihkan orang”.[10]

Sedangkan sejarah menurut epistimologi Islam, sejarah adalah sekumpulan ensiklopedia yang sangat besar yang bermula dengan menyebutkan kisah-kisah para nabi dan peristiwa yang dialami umat pada masa lalu sesuai dengan apa yang tercatat dalam al-Qur’an dan hadits sahih, dan berfungsi menyingkap bualan cerita Israiliyat, kisah-kisah bangsa asing serta cerita-cerita anonim.[11] Untuk menjaga kualitas kebenaran sejarah ini, semua agama Samawi selalu menempatkan teks-teks keagamaan sebagai sumber asal dalam mengungkapkan peristiwa sejarah.

Dalam kajian filsafat, ditemukan dua pola fikir perjalanan sejarah yang dialami manusia sebagai pembuat peradaban. Sebagian berpendapat bahwa sejarah berjalan secara linear; ini berarti sejarah berangkat dari titik awal tertentu dan berkembang menurut garis lurus menuju suatu titik akhir. Di antara dua titik inilah manusia sebagai subjek sejarah hidup, berpikir dan mengalami relasinya dengan dunia, sesama, dan makhluk lainnya.

Selain itu, ada juga pemahaman sejarah yang bersifat siklis, yang beranggapan bahwa seluruh pengalaman hidup manusia bisa terulang dengan cara tertentu. Ada pengalaman indah dan menyenangkan, atau pengalaman kontroversial dan menyakitkan yang dapat diingat dan dialami lagi secara baru bisa lebih menyenangkan tetapi juga bisa lebih menyakitkan. Pengalaman serupa bisa terulang ketika kita memulai  mencermati atau membacanya secara baru atau juga lewat pelbagai usaha rekonsiliasi melalui banyak pengalaman lain yang bersifat lebih sintesis.[12]

Berdasarkan dua konsep perjalanan sejarah tadi, sejarah versi kebenaran al-Qur’an selalu berpijak pada pengalaman masa lalu, berupa pengalaman historis umat-umat sebelum datangnya generasi Muhamad, untuk kemudian dijadikan tolak ukur masa kini dalam menjalankan aktifitas kosmiknya sebagai wakil Tuhan di bumi sesuai dengan koridor yang telah ditetapkan. Ada suatu kerangka siklis (ad-daur) yang ada di sini; pengulangan masa lalu seakan-akan tidak memberkan ruang gerak bagi manusia berikutnya untuk memunculkan satu sejarah baru yang memberikan citra progresif bagi terbentuknya masa kini yang lebih baik.

Namun pengalaman seperti ini kembali terbantahkan dengan al-Qur’an. Di satu sisi misalnya, gerak dinamisme yang dimiliki manusia memungkinkan mereka untuk menciptakan sesuatu sesuai dengan kodrat yang dimiliki dan kehendak yang mereka inginkan, termasuk sejarah. Dalam ranah inilah sejarah bergerak dan berkembang. Meski tampaknya al-Qur’an banyak memberikan versi statis atas perjalanan sejarah umat manusia, namun interpretasi atas kejadian itu memberikan sinyalemen kepada manusia untuk berkembang dan berjalan sesuai dengan hukum Tuhan yang tidak terbatas.

  1. Tabayyun sebagai Kerangka Analisis Sejarah

Jauh sebelum adanya kriteria penyeleksian terhadap kebenaran sejarah yang dikemukakan oleh para sejawaran, al-Qur’an telah memberikan kerangka dasar bagi umat Islam untuk selektif terhadap kebenaran suatu berita dan fakta sejarah. Al-Qur’an menyebutkan, [13]

  1. Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

 

Dalam konteks ayat ini, al-Qur’an memberikan ultimatum kepada manusia untuk tidak segera menerima begitu saja suatu kabar peristiwa tanpa diteliti terlebih dahulu kebenarannya, terutama jika peristiwa ini memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan sejarah umat manusia (naba’). Untuk dapat menganalisis kebenaran sejarah, terdapat satu kunci utama yang dikemukakan oleh al-Qur’an, yaitu tabayyun (klarifikasi).

Secara bahasa, tabayyun berarti at-tatsabbut fi al-amri (mencari kepastian terjadinya suatu hal atau peristiwa). Kata ini memiliki akar yang sama dengan kata tabyin dan tibyân. Dalam Lisân al’Arab, Ibnu Mandzur mengatakan bahwa kedua kata ini sering disebutkan di dalam al-Qur’an untuk mengingatkan manusia dari ketergesa-gesaan ketika dihadapkan pada suatu kejadian, dan tidak menerima begitu saja secara spontan terhadap sesuatu tanpa klarifikasi, karena pada dasarnya keterangan dan klarifikasi suatu hal itu bersumber dari Tuhan. Sebaliknya, sikap ketergesa-gesaan untuk menerima suatu berita tanpa adanya proses klarifikasi itu berasal dari setan. [14]

Dengan munculnya ide tabayyun sebagaimana dikemukakan oleh al-Qur’an inilah yang menjadi faktor penting dalam analisis kritis sejarah. Ini mengindikasikan adanya justifikasi dari al-Qur’an sendiri yang mengakui kemungkinan hadirnya kembali sejarah umat manusia yang sama sekali berbeda. Tabayyun sebagai analisis sejarah yang kemudian dikenal sebagai metode klarifikasi sejarah, dijadikan pisau analisis untuk menyelamatkan peristiwa sejarah dari kebohongan dan pengaburan fakta sejarah. Dalam konteks ini, penekanan ditujukan kepada objek sekaligus subjek pembawa sejarah secara menyeluruh.

Merujuk pada konsep yang ditawarkan oleh al-Qur’an, Ibnu Khaldun mencatat beberapa prinsip dasar untuk menyeleksi kebenaran sejarah dan menghindarkan sejarah dari kecacatan. Di antara kriteria yang diajukan ialah:[15]

  1. Perlu adanya penyelidikan yang akurat terhadap yang diterima oleh suatu masyarakat untuk menghindari adanya kebohongan sejarah.
  2. Seorang sejarawan hendaknya meninggalkan tendensitas golongannya dan berlaku se-obyektif mungkin dalam menyeleksi sejarah yang ada. Jika fanatisme terhadap suatu aliran maupun madzhab tertentu, maka akan sangat sulit untuk dapat melakukan verifikasi sejarah agar dihasilkan sejarah yang jauh dari nilai-nilai subyektifitas.
  3. Tsiqah (kekuatan) orang-orang yang berada dalam rantai periwayatan sejarah. Untuk menganalisis para periwayat sejarawan, Ibnu Khaldun menggunakan metode jarh wa at-ta’dil [16]sebagaimana yang digunakan oleh para ahli hadits.
  4. Kebingungan dalam menentukan dan memecahkan maksud dan tujuan dari terjadinya suatu peristiwa. Sehingga sejarawan hanya menyampaikan suatu peristiwa sejarah berdasarkan asumsi yang tidak dicek kebenarannya, dan terjerumus pada pengaburan fakta sejarah.
  5. Ketidaktahuan sejarawan tentang tabiat dan watak keadaan suatu peradaban. Untuk mengatasi persoalan ini, menurut Ibnu Khaldun, perlu adanya analisis terhadap watak dari suatu peradaban yang ada di sekeliling umat manusia, sehingga sejarah yang muncul dari peradaban itu tidak keluar dari jalur kebenarannya. Pada level inilah Ibnu khaldun meletakkan pondasi utama.

Hal inilah yang kemudian diamini oleh Muhamad Iqbal dalam bukunya The Reconstruction of Religious Thought in Islam. Dalam bukunya tersebut, Iqbal mengatakan bahwa keakuratan dalam merekam fakta sejarah (yang merupakan materi inti bagi sejarah) merupakan kondisi yang sangat diperlukan untuk membentuk sejarah sebagai sebuah ilmu pengetahuan. Selain itu, keakuratan bagi fakta kebenaran ilmu pengetahuan sangat bergantung pada orang-orang atau subjek para pembawa sejarah. Dari sini, hal terpenting untuk sampai pada kritik sejarah adalah mempelajari personalitas dan karakter para pembawa berita sejarah yang merupakan faktor penting untuk menilai kesaksian sejarahnya.[17]

 

  1. Karakteristik Manusia dalam Ruang Lingkup Sejarah

Sesuai dengan tabiatnya, manusia merupakan makhluk berperadaban.[18] Peradaban yang dihasilkan oleh manusia pada dasarnya merupakan suatu keniscayaan, karena sosio-struktural manusia memang menghendaki manusia untuk hidap dalam fitrahnya sebagai manusia yang berakal dan berkembang. Lantas, dimanakah letak manusia dalam konteks sejarah?

Sebagai bagian dari alam, manusia diciptakan untuk melengkapi dan mengatur eksistensi alam; alam menjadi bagian dari kehidupan manusia. Dalam mengatur dan memelihara stabilitas alam sebagai ciptaan Tuhan yang sengaja dipersiapkan untuk manusia, Al-Qur’an juga menggambarkan manusia untuk melakukan panggilan kosmik, di mana dunia adalah alam dimana mutlak untuk direalisasikan.

Ajaran agama yang dibawa oleh Muhamad merupakan ajaran baku yang dapat ditafsirkan sesuai dengan kebutuhan umat manusia dalam beberapa generasi yang berbeda. Ajaran agama yang dinamis ini menuntut manusia untuk ikut campur dalam proses alam dalam mentransformasi kehidupan di setiap aspeknya sesuai dengan kehendak Tuhan. Meski corak peradaban berbeda tiap daerah, namun eksistensinya harus dipadukan dalam satu kesatuan; mengenal konsep satu ketuhanan, satu idealisme serta satu pemikiran manusia sebagai makhluk yang paling unggul di antara yang lain.

Konsep manusia sebagai subjek dari sejarah ini merupakan suatu argumen yang diluncurkan untuk membantah argumen kosmologi yang menyatakan bahwa dunia merupakan akhir dari sebuah hukum kausalitas.[19] Argumen ini, meski dalam pembuktiannya bisa jadi benar, namun menyisakan ruang sempit dan kaku bagi terbentuknya sejarah yang dinamis.

Ibnu Khaldun sering kali menyatakan bahwa esensi sejarah (yang sering disalahpahami oleh para pengamat sejarah) hanyalah sekumpulan berita tentang nilai-nilai sosial manusia yang membentuk peradaban dunia. Yang harus segera digali bersama dalam pengertian terbatas ini, Ibnu Khaldun mengatakan bahwa pengertian sejarah juga mencakup segala sesuatu yang muncul dari watak dan tabiat peradaban, berupa sifat-sifat buas, lunak, fanatisme kesukuan, bentuk-bentuk penaklukan atas manusia satu sama lainnya, dan apa saja yang tumbuh sejalan dengan peradaban manusia berupa sistem kerajaan, negara serta kedudukannya.[20]

Dalam kerangka inilah Ibnu Khaldun mencoba keluar dari stagnasi sejarah dan bergerak menuju satu nilai universal bagi sejarah itu sendiri. Ia tidak hanya terjebak pada pemahaman sejarah sebagaimana dipahami kaum Materialis, namun mencoba menarik premis-premis khusus untuk kemudian menuju suatu kesimpulan umum; filsafat sejarah.

Misalnya, ketika ditemukan ayat berikut:

  1. Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”[21] 

 

Menurut Ibnu Khaldun, porsi manusia sebagai wakil Tuhan di bumi mengindikasikan karakteristik manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya di dunia ini. Hewan dalam pandangan Ibnu Khaldun hanya mampu bergerak berdasarkan naluri dan insting yang dimiliki, sehingga pergerakan hewan cenderung tidak teratur dan kaku. Berbeda dengan itu,  manusia memiliki karakter dasar untuk bergerak dan berkembang sesuai dengan kemampuan akal budinya dalam satu sistematika keberaturan (al-intidzom fi al-af’al al-basyariyah). Untuk itu, manusia mampu menciptakan kerangka berfikirnya sendiri dalam melakukan sebuah tindakan dan menarik hukum kausalitas yang ada di dunia ini untuk dijadikan acuan dasar bagi terbentuknya konstruk manusia dalam menciptakan sejarahnya sendiri. [22]

Maka sudah barang tentu sejarah mesti digerakkan dalam konteks ini. Penunjukkan Tuhan atas manusia untuk mengemban misi sebagai pemelihara eksistensi dunia memberikan suatu ruang gerak sebebas-bebasnya kepada manusia untuk hidup dan berkembang menuju keteraturan yang dikehendaki Tuhan tanpa mesti dibayang-bayangi oleh kekakuan sejarah.

  1. Rekonstruksi Tekstualitas Sejarah Menuju Nilai Kontekstual

Sebagai makhluk yang memiliki keniscayaan untuk berubah dan berkembang, manusia tidak pernah terlepas dari konsep universalitas sejarah. Ibnu Khaldun dengan cerdas telah mencoba mendekonstruksi pemahaman dan pembahasan sejarah yang hanya berkutat pada peristiwa dan kejadian masa lalu menuju aktualisasi diri.  Pembahasan dalam ilmu sejarah selalu saja identik dengan perbuatan, peristiwa dan keadaan masyarakat yang ditemukan di hadapan mereka. Perhatian sejarawan klasik hanya bertumpu pada memindahkan apa yang berlangsung di dunia sekitar mereka, kawasan intelek interpretatif[23] belaka tanpa mengenal lebih dalam aspek-aspek yang membentuk narasi sejarah itu sendiri. Substansi dan esensi dari sejarah terabaikan. Para sejarawan kemudian mengubah peristiwa, perbuatan dan keadaan masyarakat yang mereka kenal menjadi sebuah okjek kemampuan konseptif. Oleh karena itu, cerita yang mereka tinggalkan kepada kita tidak dapat terpahami sepenuhnya.[24]

Untuk mengatasi materialisasi sejarah ini, para ahli filsafat sejarah mencoba melahirkan dinamika baru dalam menetapkan hukum-hukum sejarah agar nilai-nilai yang terkandung dalam sejarah masa lalu dapat dapat dihadirkan kembali pada masa kini, dan melahirkan semacam antitesis dari sejarah asli. Analisis kesejarahan ini kemudian melahirkan konsep sejarah reflektif. Sejarah reflektif menurut Hegel, adalah sejarah yang cara penyajiannya tidak dibatasi oleh waktu yang dengannya ia berhubungan, melainkan yang ruhnya melampaui masa kini.[25] Tujuan dari sejarah reflektif ini adalah untuk mendapatkan suatu gambaran umum tentang universalitas sejarah. Artinya, manusia di belahan dunia manapun memiliki satu-kesatuan sejarah yang mendunia dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Berbeda dengan konsep sejarah reflektif yang lebih menekankan penyusunan materi sejarah sebagai sesuatu yang penting, terdapat sejarah reflektif yang memiliki nuansa pragmatis. Refleksi pragmatis (didaktis), masih menurut Hegel, meskipun hakikatnya jelas abstrak, adalah nyata dan tidak dapat dibatalkan oleh masa kini, dan mempercepat sejarah kematian masa lampau dengan kehidupan masa kini. Sehingga muncul paradigma untuk memutuskan sejarah masa lalu. Meski demikian, tak ada perbedaan artifisial dari sejarah reflektif universal maupun pragmatis.[26]

Dewasa ini, ahli sejarah memandang perlu adanya suatu penjelasan dari dalam diri sejarah itu sendiri. Mereka memberikan definisi bahwa memahami arti suatu peristiwa sejarah dapat dicapai melalui filsafat. Filsafat sejarah yang sekarang dianggap sebagai bagian dari cabang ilmu sejarah berpijak pada pertimbangan pemikiran terhadap sejarah sebagai sebuah metode, dan tidak menggunakan metode lainnya. Hegel menjelaskan bahwa dalam ilmu ini, nampak seolah-olah pemikiran harus merendahkan apa yang sudah pasti, pada realitas fakta; bahwa inilah yang merupakan dasar dan pedomannya: seraya filsafat bermukim di dalam wilayah ide yang dihasilkan jiwa, tanpa mengacu pada aktualitas.[27]

Sejarah, untuk itu merupakan bahan renungan. Untuk merenungkan nilai-nilai filosofis dari sejarah, diperlukan  suatu analisis rasio. Rasio merupakan penguasa dunia; dengan demikian sejarah dunia memberikan proses rasional kepada manusia. Keyakinan dan istitusi ini merupakan sebuah hipotesis dalam bidang sejarah sebagaimana adanya. Di dalam filsafat tidak ada hipotesis. Hal itu dibuktikan dengan pengetahuan spekulatif, bahwa Rasio –dan istilah ini mungkin memadai bagi kita, tanpa harus menyelidiki hubungan yang ditopang oleh Alam Semesta dengan ada Ilahi– merupakan Substansi, maupun sebagai Kekuatan yang Tidak Terbatas; Materi yang Tidak Terbatas yang mendasari semua kehidupan alamiah dan spiritual yang aslinya juga sebagai Bentuk yang Tidak Terbatas– yang membuat Materi ini bergerak. Di satu pihak, Rasio adalah substansi Alam Semesta; yang melalui dan di dalamnya realitas memiliki ada dan sibsistensinya. Di lain pihak, ia merupakan energi yang Tidak Terbatas dari Alam Semesta; karena Rasio bukannya tanpa kekuatan yang tidak mampu menghasilkan sesuatu, yang semata-mata merupakan ide, semata-mata merupakan makna – yang berada di luar realitas, tak seorangpun yang mengetahui di mana; sesuatu yang terpisah dan abstrak, di dalam kepala orang tertentu. Ia adalah kompleks yang tidak terbatas dari segala sesuatu, Hakikat dan Kebenaran utuh.[28]

“Ide” atau “Rasio” ini merupakan Kebenaran, Keabadian, esensi yang berkuasa secara mutlak; ia mewujudkan dirinya dalam Dunia, dan di Dunia tidak ada perwujudan yang lain kecuali ide dan kemurnian serta keagungannya –merupakan tesis, seperti yang telah kita katakan, yang telah dibuktikan di dalam Filsafat, dan di sini dipandang sebagaimana yang telah ditunjukkan.[29]

Dari sini, Ismail Raji Al-Faruqi mengakhiri pembahasannya tentang prinsip sejarah dengan sebuah kesimpulan bahwa manusia mampu menciptakan sejarah karena manusia itulah subjek dari sejarah itu sendiri. Dia berkata:

“Tugasnya sebagai rasul tidak lebih adalah menerima dan menyampaikan pesan Ilahi…, Isi pesan tersebut mendiktekan kepadanya untuk ikut campur tangan dalam proses-proses alam, dalam kehidupan kaumnya dan seluruh manusia, untuk melahirkan perubahan yang diinginkan…, Sebab, seperti Hayy Ibn Yaqzan, setelah menemukan Tuhan dan kehendak Ilahi, dia mesti memotong batang-batang pohon menjadi sebuah rakit untuk digunakannya menyeberangi lautan, untuk mengakhiri pengasingan individualisnya, untuk mencari masyarakat dan dunia, dan membuat sejarah.”[30]

Karena esensi dari manusia tidak dapat dilepaskan dari rentetan sejarah dan menafsir kehendak Tuhan sebagai wakil-nya di bumi. Maka, menciptakan sejarah untuk sampai pada tahap akhir dunia merupakan esensi dari manusia sesuai dengan fitrahnya sebagai makhluk yang paling mulia di antara makhluk lainnya.

 

  1. Penutup

Sebagai kesimpulan, ada dua hal pokok yang dapat kita tarik dari pembahasan di atas. Pertama, tauhid merupakan kunci dasar keimanan yang benar sesuai dengan yang diajarkan agama. Sesuai dengan konsep dasar al-Qur’an, ketauhidan hanya akan memiliki nilai jika seseorang mampu mengimplementasikannya dalam tindakan nyata, seperti melakukan perbaikan alam semesta, dan melakukan perubahan sesuai yang dikehendaki dengan tetap berpijak pada prinsip-prinsip dasar syariah. Kedua, kunci utama dari sejarah adalah keluar dari ruang kaku sejarah yang hanya berkutat pada nilai-nilai materialnya saja tanpa memperhatikan substansi dan esensinya. Manusia tidak lagi dipandang sebagai objek sejarah, namun harus bergerak progresif menjadi subjek dari sejarah itu sendiri. Hanya melalui tahap inilah tauhid dan sejarah selalu hidup dari masa ke masa, sehingga tercapailah cita-cita Tuhan dalam menciptakan manusia sebagai wakil-Nya di bumi; merealisasikan Tuhan bagi kehidupan yang baik untuk manusia dan untuk alam sekitarnya. Wallahu a’lam.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Qur’an Al-Karim

Al-‘Auni, As-Syarif Hatim bin Arif, Nadwah ‘Ulum al-Hadits ‘Ulum wa Afaq, (Mekah: Universitas Ummul Quro, tt)

As-Syaukani, Fath al-Qadir, tersedia dalam www.altafsir.com

Hegel, G.W.F., The Philosophy of History, terjemah Cuk Ananta Wijaya, Filsafat Sejarah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet. Ke-III, 2007)

Ibnu Katsir, as-Sirah an-Nabawiyah, tahqiq Mustafa Abdul Wahid (Beirut: Libanon, 1396 H/1971 M)

Ibnu khaldun, Muqoddimah (Beirut: Darul Fikr, 2006)

Iqbal, Muhamad, The Reconstruction Of Religious Thought in Islam, dalam www.ziaraat.com

Ismail Raji Al-Faruqi, Tauhid: Its Implications for Thought and Life, terjemah Rahmani Astuti, Tauhid (Bandung: Penerbit Pustaka, cet. Ke-1, 1988 M)

Kebung, Konrad, Rasionalisasi dan Penemuan Ide-ide (Surabaya: Prestasi Pustaka, cet. Ke-1, 2008)

Mandzur, Ibnu, Lisân al-‘Arab (Beirut: Dar Shodir, cet. Ke-1, tt)

                [1] Kandidat Master di Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, serta peneliti Lembaga Survey Indonesia (LSI) tahun 2007-2011).

                [2] QS. Ali Imran/03: 64.

[3] QS. Adz-Dzariyat/51: 56.

                [4] Ismail Raji Al-Faruqi, Tauhid: Its Implications for Thought and Life, terjemah Rahmani Astuti, Tauhid (Bandung: Penerbit Pustaka, cet. Ke-1, 1988 M), hal. 35-36.

                [5] QS. Al-Baqoroh/02: 164,

[6] QS. Ali Imran/03: 190.

[7] As-Syaukani, Fath al-Qadir, vol. VIII, hal. 56, tersedia dalam www.altafsir.com

                [8] QS. Al-‘Ashr/103: 2-3.

                [9] Ibnu Mandzur, Lisân al-‘Arab (Beirut: Dar Shodir, cet. Ke-1, tt), vol. III, hal. 4.

                [10] Ibnu Mandzur, Lisân al-‘Arab, vol. IV, hal. 394.

                [11] Ibnu Katsir, as-Sirah an-Nabawiyah, tahqiq Mustafa Abdul Wahid (Beirut: Libanon, 1396 H/1971 M), vol. I, hal. 9-10.

                [12] DR. Konrad Kebung, Rasionalisasi dan Penemuan Ide-ide (Surabaya: Prestasi Pustaka, cet. Ke-1, 2008), Hal. 48.

                [13] QS. Al-Hujurat/49: 06.

[14] Penjelasan lengkap lihat Ibnu Mandzur, Lisân al-‘Arab,  vol.XIII, hal. 62.

                [15] Ibnu khaldun, Muqoddimah (Beirut: Darul Fikr, 2006), hal. 33.

[16] Ilmu jarh wa ta’dil merupakan ilmu yang digunakan untuk menyeleksi kebenaran si pembawa suatu khabar atau hadits. Fungsinya adalah untuk membedakan mana para perawi yang dapat dipertanggungjawabakna ke-‘adalah-annya dan mana yang memiliki kecacatan (‘illat) agar suatu hadits terpelihara otentisitasnya. Lihat Dr. As-Syarif Hatim bin Arif al-‘Auni, Nadwah ‘Ulum al-Hadits ‘Ulum wa Afaq, (Mekah: Universitas Ummul Quro, tt), vol. IX, hal. 19.

                [17] Muhamad Iqbal. The Reconstruction Of Religious Thought in Islam, hal. 60, dalam www.ziaraat.com

                [18] Ibnu khaldun, Muqoddimah hal. 33.

                [19] Iqbal menyebutnya batasan kosmologi “as a finite effect”.

                [20] Ibnu Khaldun, Muqoddimah, hal. 27.

                [21] QS. Al-Baqoroh/02: 30.

[22] Ibnu Khaldun, Muqoddimah, hal. 271.

                [23] G.W.F. Hegel, The Philosophy of History, terjemah Cuk Ananta Wijaya, Filsafat Sejarah (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, cet. Ke-III, 2007), hal. 1.

                [24] Hegel, ibid., hal. 2.

                [25] Hegel, ibid., hal. 3.

                [26] Hegel, ibid., hal. 5.

                [27] Hegel, ibid.,hal. 11.

                [28] Hegel, ibid., hal. 12-13.

                [29] Hegel, hal. 13.

[30] Ismail Raji Al-Faruqi, Tauhid, hal. 38-39.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *