SEJARAH KEMUNCULAN DAN PERKEMBANGAN ALIRAN RIFA’IYAH (TARAJUMAH)

Mazhab Syafi’iyyah[2], dalam perkembangannya mempengaruhi beberapa elemen kehidupan beragama di dunia. Salah satunya di Indonesia dimana ada beberapa organisasai keagamaaan yang menjadikannya sebagai salah satu mazhab resmi. Tak terkecuali organisasai Rifai’iyah[3] yang berpusat di jawa tengah.

Rifaiyah, aliran keagamaan yang akan dibahas dalam makalah ini merupakan satu diantara aliran-aliran keagamaan yang ada di Indonesia sebagaimana tarekat lain, Rifa’iyah merupakan suatu praktek agama Islam yang bercorak tasawwuf. Sejak awal kemunculannya pada pertengahan abad 19 di desa Kalisalak kecamatan Limpung kabupaten Batang yang pada waktu itu masuk dalam karesidenan Pekalongan, Rifa’iyah telah memainkan peranan penting dalam sejarah Islam Indonesia dan gerakan keagamaan menentang pemerintah kolonial Belanda. Hingga kini cukup banyak pengikut dan simpatisan  Rifa’iyah yang tersebar di sekitar Jawa  tengah dan sekitarnya.

  1. Gambaran Umum Aliran Rifa’iyah

Latar Belakang Munculnya Rifaiyah

Pergerakan sosial menurut penyelidikan dilatarbelakangai oleh penetrasi ekonomi kolonial di pedesaan jawa yang mencapai puncaknya pada abad ke-19. Penjajahan yang dilakukan bangsa eropa sejak abad ke-16 menimbulkan antipati rakyat terjajah terhadap penjajah. Memasuki abad ke-19 imperialisme barat mencapai puncaknya.

Dominasi imperialis tidak hanya dalam bidang ekonomi, sosial, polotik, tapi hampir disemua segi kehidupan masyarakat seperti agama dan budaya. Dalam bidang agama misalnya karena dihinggapi perasaan takut terhadap haji (haji Phobia) melakukan pembatasan dan pengawasan orang yang mau melakukan ibadah haji. Tindakan ini menurut Sartono Kartodirjo (1984: 211) berdasarkan pengalaman orang, guru agama, kyai yang pulang menunaikan ibadah haji diperkirakan memperoleh ide-ide pembaharuan dan sikap militansi. Di kalangan orang eropa, Mekah merupakan tempat persemaian fanatisme keagamaan, dimana kepada orang-orang yang menunaikan ibadah haji ditanamkan perasaan permusuhan terhadap penguasa kafir ditanah airnya. Hal ini menjadi bahaya potensial  bagi eksistensi Belanda di bumi Nusantara.

Respon terhadap penjajahan ini adalah terjadinya berbagai perlawanan terhadap penindasan dan ketidakadilan di berbagai daerah. Salah satunya adalah pergolakan atau gerakan sosial yang dilakukan oleh para petani di pedesaan Jawa.

Menurut Ali Munhanif (Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, 2003: 233) berbagai pemberontakan dan gerakan sosial yang terjadi di Nusantara pada pertengahan abad ke-19 dan awal abad ke-20 sebagian besar bertolak dari keprihatinan agama.

Pemberontakan itu secara umum muncul sebagai protes terhadap berbagai gejala peningkatan kekuasaan kolonial.

Menurut Sartono Kartodirdjo (1984: 15) di daerah-daerah dimana agama memainkan peranan dominan, pemimpin-pemimpin agama seperi haji, kiai, dan guru agama menjadi motor penggerak gerakan sosial. Hal ini juga yang terjadi dalam gerakan Rifa’iyah dimana dipimpin oleh Ahmad Rifa’i, seorang elite agama diluar birokrasi pemerintah kolonial. Menurut Ahmad Rifa’i birokrat pribumi termasuk penghulu ikut serta menyebabkan kebobrokan moral dan kesengsaraan orang Jawa karena mau tunduk dan mengabdi pada pemerintah kafir. Mereka seharusnya mengayomi, melindungi dan membimbing masyarakat.

Selain itu sejak dulu menurut Pijper (1984: 72) sering terjadi persaingan antara penghulu disatu pihak dengan kiai dan guru agama dipihak lain. Penyebab yang terpentingnya adalah bahwa guru agama menyalahkan penghulu yang bekerja untuk pemerintahan kafir.

Jadi secara singkatnya ada dua hal yang melatar belakangi munculnya aliran atau gerakan Rifa’iyah di Kalisalak yaitu: Pertama, kondisi sosial politik dan ekonomi Jawa pada abad ke-19 yang sangat di dominasi pemerintah kolonial

Belanda. Tidak hanya itu saja tapi dihampir segala segi kehidupan. Kedua, kondisi

sosial keagamaan orang Jawa yang dapat dikatakan masih jauh dari nilai-nilai Islam. Keadaan ini semakin diperparah dengan sikap pejabat pribumi termasuk penghulu yang menjadi budak dan bekerjasama dengan penjajah yang dianggap oleh Ahmad Rifa’i sebagai penguasa kafir ikut ”menghisap darah” penduduk Jawa.

Biografi K.H. Ahmad Rifa’i

Dalam penjelasan Syadzirin Amin (1989: 9) Ahmad Rifa’i lahir pada tahun 1786 di Tempuran-Kendal, ia putra Muhammad Marhum seorang penghulu di Kendal, ibunya bernama Siti Rochmah. Ahmad Rifa’i merupakan bungsu dari delapan bersaudara. Sejak ditinggal mati kedua orangtuanya pada usia tujuh tahun ia di asuh oleh kakaknya yang bernama Rojiyah istri KH Asy’ari seorang ulama terkenal dan pengasuh pondok pesantren di Kaliwungu. Hingga sekarang setiap tradisi Syawalan di Kaliwungu selalu diperingati Khoul (ulang tahun kematian) Kiai Asy’ari hal ini menunjukan betapa berpengaruhnya ulama yang satu ini. Dibawah bimbingan KH Asy’ari ia belajar ilmu pengetahuan Islam yang lazim diajarkan di Pesantren misalnya tafsir Al-Qur’an, Hadist, Nahwu, Sorof, Mantiq, Fiqh dan sebagainya. Setelah dianggap mampu oleh Kiai Asy’ari ia membantu kakaknya mengajar di pesantren milik kakak iparnya tersebut.

Sejak remaja Ahmad Rifa’i giat melakukan dakwah keliling di wilayah Kendal dan sekitarnya. Karena dakwah dan pengajiannya cukup menarik dengan menggunakan syair terlebih dengan sikapnya yang anti pemerintah kolonial. Sebelum pengajiannya diketahui pemerintah kolonial setempat, ia telah berhasil menggalang kekuatan dari santri ataupun simpatisannya dan ketika ia pindah ke Kalisalak ia sudah mempunyai jaringan pengikut yang tersebar di daerah Kendal dan sekitarnya seperti Wonosobo, Pemalang, Pekalongan dan Batang.

Abdul Jamil (2001: 13) mengatakan bahwa dalam berdakwah ia tak segan-segan menghujat penguasa kolonial dan birokrat pribumi yang berkolaborasi dengan pemerintah. Ia beranggapan bahwa pemerintah kolonial Belanda sebagai penguasa kafir dan sumber kerusakan yang terjadi pada masyarakat Jawa pada masa itu, ia mengobarkan semangat pada masyarakat untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah dan ia mengatakan bahwa perang melawan penguasa kafir serta antek-anteknya sebagai perang sabil (jihad fisabilillah) jika gugur akan mati syahid.

Karena sikap melawannya itulah dia di penjara. Setelah keluar dari penjara dalam usia 30 tahun ia menunaikan ibadah haji atas biaya kakaknya. Selama di Mekkah ia tinggal beberapa tahun dan menuntut ilmu disana. Hal ini sudah menjadi kebiasaan orang-orang pada masa itu disamping menunaikan ibadah haji juga menuntut ilmu pada ulama setempat. Karena di Mekah menurut Azyumardi Azra (1994: 16), menduduki posisi yang sangat penting dan menjadi daya tarik tersendiri bagi umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkaitan dengan ibadah haji, kota kelahiran dan pertumbuhan awal Islam maupun pusat ilmu agama Islam.

Menurut Azyumardi Azra (1999: 144) meskipun secara kuantitatifinstitusi-institusi keagamaan di Mekah dan Madinah tidak pernah sebanyak yang dimiliki Bagdad dan Kairo. Institusi-institusi keagamaan yang ada di Mekkah dan Madinah pada masa itu berupa halaqah ( lingkaran belajar ) yang diadakan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di Madinah, ribat (sering pula disebut Zawiyah yaitu pondokan sufi) dan kuttab yaitu semacam madrasah kecil yang biasanya diselenggarakan di rumah guru.

Selama di Mekkah ia berguru pada ulama penganut Mazhab Syafi’i dan Ahli Sunnah Waljamaah, diantara guru-gurunya adalah Syaikh Ustman, Syaikh Abdurrahman, Syaikh Isa Al-Barawi dan Syaikh Faqih Muhammad bin Abdul Azis (Panitia Seminar Nasional dan Panitia Peserta Festival Istiqlal, 1991: 4) kesemua ulama tersebut dalam geneologi intelektualnya (hubungan guru-murid) atau dalam istilah pesantren sanad kitabnya bersambung sampai Imam Syafi’i. Di Mekkah beliau bertemu dengan dua ulama terkenal Jawa yaitu Imam Nawawi dari Banten dan Kiai Kholil dari Madura, ketiganya sangat prihatin dengan kondisi keagamaan di Jawa yang masih jauh dari nilai-nilai Islam, hal ini masih diperparah lagi dengan adanya penjajah Belanda di Nusantara khususnya Jawa. Mereka bertiga menurut Syadzirin Amin (1994:29) mengadakan musyawarah dan hasilnya adalah mereka sepakat untuk mengadakan pembaharuan dan pemurnian Islam lewat pengajian, dialog dan penerjemahan kitab-kitab bahasa Arab ke bahasa Jawa. Disamping itu ketiganya berbagi tugas untuk mengarang kitab .Ahmad Rifa’i mengarang kitab yang membahas fiqh, Kiai Nawawi mengarang kitab yang membahas ushuluddin dan Kiai Kholil mengarang kitab tasawuf.

Bukti bahwa Ahmad Rifa’i penganut Mazhab Syafi’i adalah dalam setiap permulaan kitab Tarajumah karangan Ahmad Rifa’i yang menyebutkan bahwa dalam bidang fiqh menganut Mazhab Imam Syafi’I dan dalam tarekatnya menganut pandangan Ahli Sunni.

Sesudah menuntut ilmu di Timur-Tengah ia pulang ke Kendal dan membantu kakaknya mengajar di pesantren pada saat itu dia berumur 51 tahun, selang beberapa lama istrinya meninggal. Kemudian ia pindah ke Kalisalak sebuah desa di Kecamatan Limpung-Batang yang pada masa itu masuk dalam karesidenan Pekalongan. Sepulang dari Timur Tengah inilah masa produktif. Ahmad Rifa’i dalam menulis kitab tarjamah atau tarajumah, ia mulai menulis kitab ketika ia berumur 54 tahun (Syadzirin Amin, 1989: 12). Jumlah kitab karya Ahmad Rifa’i 53 buah. Diantara yang paling fenomenal adalah abyanal hawaij yang membahas tentang fiqh, tasawuf dan ushuludin.

Orang-orang yang baru pulang menunaikan ibadah haji dari Mekkah sedikit banyak terpengaruh oleh gerakan Wahhabi[4] di Jazirah Arab pada abad ke-18 dan 19. Seperti yang dikatakan Sartono Kartodirdjo (1984: 211) bahwa orang, guru agama, kiai yang pulang menunaikan ibadah haji diperkirakan memperoleh, mendapat dan terpengaruh ide-ide pembaharuan dan sikap militansi. Dengan semangat untuk lepas dari penindasan menjadi modal untuk membebaskan diri dari kaum penjajah di Jawa dalam hal ini adalah Belanda dan antek-anteknya. Hal ini juga mempengaruhi pemikiran pembaruan KH Ahmad Rifa’i. Tetapi tidak semua paham Wahhabi oleh Ahmad Rifa’i diambil. Hal ini bisa dilihat dari kecenderungannya pada Mazhab Syafi’i dalam bidang fiqh dan sumber hukum ajaran Tarjumah adalah Alqur’an, Hadist, Ijma’ dan Qiyas. Ini berbeda dengan ajaran Wahhabi yang hanya bersumber pada Alqur’an dan Hadist serta menuntut adanya ijtihad[5] dalam menggali dan menetapkan suatu hukum yang belum ditemukan dalam dua sumber utamatersebut dan menolak sikap Taqlid. Disamping itu paham Wahhabi sangat tidak setuju dengan adanya tarekat[6] atau thariqoh, hal ini berbeda dengan jama’ah Rifa’iyah yang meskipun secara eksplisit tidak berkiblat pada tarekat tertentu tapi secara implisit mereka ada kemiripan dengan tarekat Qadiriyah[7] ataupun al-Gazali. Tapi tak dapat dipungkiri semangat dalam berjihad, melakukan protes sosial (politik) sedikit banyak mempengaruhi Ahmad Rifa’i dalam melakukan gerakan protes di Jawa.

Menurut Syadzirin Amin (1996: 106) ada tujuh metode dakwah yang dikembangkan Ahmad Rifa’i adalah menterjemahkan Al-Qur’an, Hadist dan kitab-kitab berbahasa Arab karangan ulama terdahulu ke dalam bahasa Jawa dengan huruf Arab Pegon berbentuk nadzam atau syair. Dia juga mengadakan kunjungan silaturrahim dari rumah kerumah famili dan masyarakat, menyelenggarakan pengajian umum dan dakwah keliling kedaerah yang penduduknya miskin materi dan agama guna membendung budaya asing, menyelenggarakan dialog di masjid atau di mushola (Langgar), mengadakan kegiatan kesegaran jasmani bagi pemuda, mengadakan gerakan protes sosial keagamaan terhadap birokrat pribumi dan Belanda dan untuk mempererat hubungan antara guru dengan murid, murid dengan murid, diterapkan pula metode melalui pernikahan sesama murid, anak guru dengan murid.

Menurut Karel. A. Steenbrink (1984:111) Ahmad Rifa’i bisa dianggap hampir satu-satunya tokoh yang bisa memberikan uraian tentang agama Islam tanpa memakai idiom-idiom Arab dan mampu mengarang kitab dalam bahasa yang menarik karena memakai syair.

Gerakan perlawanan Ahmad Rifa’i terhadap pemerintah kolonial

Karena Ahmad Rifa’i melakukan kecaman dan protes terhadap Pemerintah dan birokrat pribumi, ini tentu sangat meresahkan pemerintah kolonial yang menganggap sikap nasionalisme Ahmad Rifa’i sebagai ancaman pemerintahannya terlebih birokrat pribumi yang khawatir kedudukan dan otoritasnya terancam. Berikut ini adalah kutipan pernyataan Ahmad Rifa’i dalam Nadzam Wikayah salah satu kitab karangannya (Adaby Darban, 2004: 39):

“Slameta dunya akherat wajib kinara

Ngalawan raja kafir sakuasane kafikira

Tur perang sabil luwih kadane ukara

Kacukupan tan kanti akeh bala kuncara”

Artinya:

“Keselamatan dunia akhirat wajib diperhitungkan

Melawan raja kafir sekemampuannya perlu difikirkan

Demikian juga perang sabil lebih dari pada ucapan

Cukup tidak menggunakan pasukan yang besar”

Hal yang sama juga dilakukan terhadap birokrat pribumi, seperti yang

terdapat pada syair dalam Nadzam Wikayah berikut ini (Adaby darban, 2004: 41)

“Sumerep badan hina seba ngelangsur

Manfaate ilmu lan amal dimaha lebur

Tinemune priyayi laku gawe gede kadosan

Ratu, Bupati, Lurah, Tumenggung, Kebayan

Maring rojo kafir pada asih anutan

Haji, abdi, dadi tulung maksiyat

Nuli dadi khotib ibadah

Maring alim adil laku bener syareate

Sebab khawatir yen ora nemu derajat

Ikulah lakune wong munafik imane suwung

Anut maksiyat wong dadi Tumenggung”

Artinya:

“Melihat tubuh hina menghadap dengan tubuh merayap

Manfaatnya ilmu dan amal hilang binasa

Pendapat dan tindakan kaum priyayi membuat dosa besar

Ratu, Bupati, Lurah, Tumenggung, Kebayan

Kepada raja kafir senang jadi pengikut

Termasuk haji abdi, menolong kemaksiatan

Kemudian menjadi kadi khotib ibadah

Kepada alim adil bertindak membenarkan syariat

Sebab khawatir bila tidak mendapat kedudukan

Itulah amalan orang munafik yang kosong imannya

Mengikuti perbuatan maksiat orang yang jadi Tumenggung’

Protes itu disampaikan kepada santrinya di Pesantren Kalisalak maupun melalui pengajian dan khutbahnya di masjid. Gerakan protes yang dilakukan Ahmad Rifa’i dengan mengatakan bahwa pemerintah kolonial Belanda sebagai penguasa kafir, penindas, patut diperangi dan sumber kerusakan di Jawa menurut Adaby Darban (Panitia Seminar Nasional, 1990:5) terbukti berhasil menimbulkan kekisruhan yang dapat menimbulkan keguncangan stabilitas pemerintahan di Jawa

dan dikhawatirkan memunculkan gerakan anti-penjajah, meskipun tidak sampai menimbulkan pemberontakan fisik.

Hal ini membuat Ahmad Rifa’i dijadikan musuh bersama oleh Belanda dan birokrat pribumi. Segala cara dan upaya dilakukan untuk meniadakan Ahmad Rifa’i dan jama’ahnya mulai dari fitnah bahwa ajarannya sesat menyesatkan seperti yang terdapat dalam Serat Cebolek karya Raden Panji Jayasubrata seorang Camat Magetan. Dalam Serat Cebolek seperti yang dikatakan oleh Kuntowijoyo (1999: 123) membahas dua tokoh ulama nonpemerintah yang dianggap mengajarkan ajaran sesat yaitu Syaikh Muhammad Mutamakin dari desa Cebolek- Tuban dan KH Ahmad Rifa’i dari Kalisalak. Syaikh Mutamakin dituduh mengajarkan mistik sesat yaitu ilmu kasunyatan dan menganjurkan orang untuk meninggalkan syari’at dan bisa mengganggu ketertiban umum. Mutamakin menjadi tersangka dan Khatib Anom dari Kudus menjadi pahlawan. Mutamakin selamat dari hukuman karena adanya suksesi kekuasaan dari Amangkurat IV pada Paku Buwono II. Keadaan berbeda dialami KH Ahmad Rifa’i yang dituduh mengajarkan ajaran sesat, satu-satunya ulama ’alim adil, dan tidak mensahkan shalat jum’at di masjid lain. Hal ini menyebankan KH Amad Rifa’i di asingkan ke Ambon.

Tindakan pengasingan yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda sebagai usaha preventive untuk mencegah timbulnya bahaya yang bisa mengganggu ketertiban dan keamanan, untuk itu ia harus dijauhkan dari jamaahnya. Meskipun jauh dari pengikutnya menurut Adaby Darban (2004, 52) ia sempat mengirimkan surat dan empat kitab yang dititipkan pada saudagar Semarang yang bernama Abdullah. Keempat kitab itu adalah Targhibul Mitholab tentang ussuluddin, Hidayatul Himmah tentang tasawuf, Kaifiyatul Miqosad tentang ibadat dan Nasihatul Haq tentang tasawuf. Surat dari KH Ahmad Rifa’i ditujukan kepada Maufuro menantunya, istri dan para santrinya yang isinya menurut Adaby Darban (2004: 52-53) antara lain: (1) agar para santrinya tetap mantap dan jazem mengamalkan kitab tarjumah dengan jalan menyalin, mendalami dan mengamalkannya agar selamat dunia akhirat. (2) kepada santri yang telah mendalami dan berlaku adil agar menjadi saksi, memberi fatwa dan mengesahkan keislaman orang yang membutuhkan. (3) agar santrinya masih ada yang berani amar ma’ruf nahi munkar. (4) ia mengkhawatirkan adanya musibah kerusakan agama di Jawa setelah ditinggalkannya. (5) Ahmad Rifa’i menganjurkan para santrinya dan pengikutnya jangan mempunyai rasa belas kasihan terhadap pemerintah kafir. (6) wasiat khusus bagi istrinya Sujinah, apabila belum kawin lagi tetap dianggap sebagai istrinya. Namun apabila sudah kawin dengan orang lain ia ridha dan iklas. Disamping itu kitab Asnal Mikosad agar diberikan kepadanya.

Jika diamati dengan seksama surat Ahmad Rifa’i, ia masih mempunyai semangat dan idealisme dalam perjuangnnya meskipun ia hidup di pengasingan jauh dari para pengikutnya. Hal ini bisa dilihat dari perintahnya agar tetap amar ma’ruf nahi munkar terhadap penguasa zalim.

Atas jasa-jasa dan kegigihan beliau sesuai amanah hasil Seminar Nasional di Yogyakarta tahun 1990 maka Ahmad Rifa’i diusulkan menjadi Pahlawan Nasional. Akhirnya usaha ini berhasil dengan penganugrahan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada KH Ahmad Rifa’i sebagai Pahlawan Nasional.

Diantara murid-murid generasi pertama menurut Syadzirin Amin (1989: 22) adalah KH. Abdul Qohar (Kendal), KH. Muhammad Tuba, K.Abu Ilham (Batang), K.Maufuro (Limpung), K.Hasan Dimejo (Wonosobo), K.Abdus Saman (Kendal), K.Abdullah/Dolak (Magelang), Abdul Ghani Wonosobo, Muhammad Toyyib Wonosobo, Ahmad Hasan Pekalongan, Nawawi Batang, dan sebagainya. Muridmuridnya inilah yang menyebarkan ajaran Tarujamah/Rifa’iyah ke berbagai

daerah di Jawa Tengah dan sekitarnya. Hingga sekarang pengikut Ahmad Rifa’i dan simpatisannya tersebar di beberapa daerah di Jawa tengah seperti Kendal, Pekalongan, Batang, Wonosobo, Pati, Magelang, Demak, Purwodadi, Pemalang. Indramayu, Cirebon dan sebagainya.

Poin Poin Ajaran Aliran Rifa’iyyah

Bidang Ushuluddin (Akidah)

Ahmad Rifa’i memakai istilah ushuluddin untuk menjelaskan bidang ilmu keislaman yang berkaitan dengan masalah pokok agama dan keimanan serta segala sesuatu yang berkaitan dengannya.

Sebagaimana yang dinyatakan dalam kitab Ri’ayatul Himmah karya Ahmad Rifa’i:

“Utawi ilmu ushuluddin petelane

Yoiku ngaweruhi bab iman tinemune

Lan barang kang taaluk ing iyo wicarane

Lan ngaweruhi ing Alloh kewajibane

Lan muhale lan jaize kinaweruhan

Lan koyo mengkono ngaweruhi kewajibane

Kake poro rosul muhale lan kawenangan

Iku nyotoho nuli ojo ketaksiran”

Artinya:

“Adapun ilmu ashuluddin penjelasannya

Yaitu mengetahui bab iman jadinya

Dan sesuatu yang berhubungan dengannya

Dan mengetahui sifat wajibnya Allah

Dan mengetahui sifat muhal dan jaisNya

Dan juga wajib mengetahui

Haknya para rasul muhal dan kebolehannya

Itu nyata kemudian jangan sampai kekurangan”

Dalam bidang ushuluddin seperti yang tercantum dalam kitabnya ia mengikuti faham Ahli Sunnah Waljamaah. Beliau memilih i’tikad ini menurut Syadzirin Amin (1989: 177) karena menurut Ahmad Rifa’i satu-satunya i’tikad yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist. Seperti yang kita ketahui semenjak wafatnya nabi Muhammad dan pada akhir masa khalifah Ali bin Abi Thalib umat Islam terpecah menjadi beberapa golongan baik yang berlatar belakang akidah, fiqh dan politik.

Menurut Ahmad Rifa’i sebagaimana yang terdapat dalam Kitab Syarihul Iman koras satu (satu koras terdiri atas 10 lembar/20 halaman) sebagai berikut:

”Iman iku pangestune ati ngestuaken ing ma barang kang den

datengaken dene rosululloh sarto jayem atine lan senadyan ora ikrar

kelawan kalimah sahadat roro pun sah imane wongiku ingdalem akirat

lan anapun angucapaken kelawan kalimah sahadat roro iku dadi sarat

sah islam ingdalem kukum sarak kang bongso dunyo”

Atinya:

”Iman itu adalah percayanya hati percaya pada sesuatu yang dibawa oleh rosulullah serta menetapkan hati dan meskipun tidak diucapkan dengan dua kalimat sahadat sudah sah imannya orang itu didalam akhirat dan adapun mengucapkan dengan dua kalimat sahadat itu jadi sarat sah Islam didalam hukum syara’ yang sebangsa dunia”

Jadi menurut Ahmad Rifa’i iman adalah keyakinan, i’tikad, kepercayaan hati terhadap sesuatu yang dibawa oleh Rasullullah (agama Islam) meskipun tidak diucapkan dengan dua kalimat syahadat. Ia berpendapat bahwa jika orang beri’tikad dalam hatinya iman maka dia iman meskipun tidak ikrar dengan lisan dihadapan Allah dia sudah beriman, sebaliknya jika Cuma diucapkan dalam lisan maka ia seperti orang munafik, Islam dihadapan manusia tapi kafir dihadapan Allah. Pandangan ini memperlihatkan bahwa unsur iman itu pembenaran dalam hati dan ditindak lanjuti dengan sikap pasrah dan ketaatan pada aturan agama.

Pandangan Ahmad Rifa’i tentang rukun iman tidak berbeda dengan pendapat yang berlaku dimasyarakat, bahwa rukun iman ada enam yaitu iman kepada Allah, Malaikat Allah, Kitab-kitab Allah, Utusan Allah, Hari Kiamat dan Takdir. Yang berbeda hanya pada jumlah kitab yang diturunkan Allah kepada nabiNya dan jumlah malaikat yang wajib diketahui. Jumlah kitab yang diturunkan Allah kepada nabiNya dalam pandangan Ahmad Rifa’i seperti yang dikutip oleh Syadzirin Amin (1989: 201) ada 104 kitab dengan perincian nabi Adam 10 kitab, nabi Syist 50 kitab atau shuhuf (shuhuf yaitu lembaran-lembaran kitab), nabi Idris 30 kitab atau shuhuf, nabi Ibrahim 10 kitab atau shuhuf, nabi Musa 1 kitab taurat, nabi Dawud 1 kitab Zabur, Nabi Isa 1 kitab Injil dan nabi Muhammad kitab Al-Qur’an. Jumlah Malaikat yang wajib diketahui seorang mukallaf ada 12, sepuluh

menjaga manusia dalam hal kebaikan dan dua mencatat amal perbuatan manusia yaitu Malaikat Hasanah dan malaikat Sayyiah (Syadzirin Amin,1989: 197-199). Hal ini berbeda dengan pendapat umum umat Islam di Indonesia yang percaya bahwa Malaikat yang wajib diketahui ada 10. Diantara 10 Malaikat itu ada enam yang tidak dicantumkan dalam kitab karya Ahmad Rifa’i yaitu Raqib, atid, Munkar, Nakir, Ridwan, dan Malik. Berikut ini adalah pandangan Ahmad Rifa’i mengenai rukun iman yang terdapat dalam Kitab Syarihul Iman:

”Utawi rukun iman iku nem perkoro yoiku angimanaken ing Allah,

angimanaken ing sekahe Malaikat Allah, angimanaken ing sekahe

kitabe Allah, lan angimanake ing sakehe utusane Allah, lan

angimaneken ing dina akhir tegese dina kiamat, lan anginamake ing

pesten becik lan pesten Allah saking Allah tatkala”

Artinya:

”Bahwa rukun iman ada enam perkara yaitu percaya kepada Allah, percaya pada Malaikat Allah, percaya pada Kitab Allah, percaya pada semua Utusan Allah, percaya pada hari kiamat dan percaya pada Takdir”

Adapun bukti bahwa Ahmad Rifa’i menganut faham sunni adalah ajarannya tentang Aqoid Seket (kaidah lima puluh) yaitu 20 sifat wajib bagi Allah, 20 sifat mustahilNya, satu sifat jaizNya dan empat sifat wajib bagi rasul, empat sifat mustahilnya dan satu sifat jaiznya.

Satu hal yang menjadi kontroversi dari ajaran Ahmad Rifa’i adalah pendapatnya tentang ”rukun Islam hanya satu” yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat. Empat rukun Islam yang lainnya dianggap sebagai rukun mukammilat (rukun penyempurna) terhadap rukun Islam yang pertama. Berbeda dengan keyakinan umat Islam pada umumnya yang berpendapat bahwa rukun Islam berjumlah lima yaitu syahadat, shalat, zakat, puasa dan haji bagi yang mampu. Berikut adalah pendapat Ahmad Rifa’i tentang rukun Islam satu seperti yang terdapat dalam Kitab Syarihul Iman koras satu:

”Kelakuan Islam iku angucapaken ing kalimah sahadat roro lan

anjumenengaken solat lan aweh zakat lan puoso romadhon lan

munggah kaji ing Baitullah lamun kuwoso ing dedalane. Utawi rukun

Islam kang dadi kasil sah islame ingdalem ndohir mung ngucapaken ing

kalimah sahadat roro ora dadi batal islame wongiku lamon tinggal

saking wajibe solat limang wektu…..”

Artinya:

”Perbuatan Islam itu mengucapkan dua kalimah syahadat, mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa dibulan ramadan, naik haji keBaitullah bagi yang kuasa jalannya. Bahwa rukun Islam yang menjadi berhasil sahnya islam didalam lahirnya hanya mengucapkan dua kalimah syahadat. Tidak jadi batal islamnya seseorang yang meninggalkan kewajiban salat lima waktu….”

Jadi menurut Ahmad Rifa’i pada dasarnya rukun Islam yang menjadikan seseorang dianggap muslim adalah mengucapkan dua kalimat syahadat dan keempat rukun Islam lainnya merupakan kewajiban yang harus dilakukan seseorang setelah masuk Islam. Kesimpulan ini diambil atas dasar pandangan bahwa orang yang meninggalkan shalat, puasa ramadhan dan kewajiban lainnya tetap dianggap sebagai orang Islam (muslim), meskipun ia adalah orang Islam yang melakukan dosa besar dan fasik (rusak). Jadi menurut Ahmad Rifa’i meninggalkan kewajiban shalat lima waktu tidak menggugurkan keislaman seseorang.

Bidang Fiqh

Berikut ini adalah pengertian fiqh menurut Ahmad Rifa’i sebagaimana yang terdapat dalam Kitab Ri’ayatul Himmah:

Utawi ilmu fiqh maleh pertelane yoiku ngaweruhi kukum kedhohiran

Ingdalem sahe ibadah dhohir tinemune lan ngaweruhi batal karom lan

kawenangane

Lan pinangan kang dianggo ingdalem badan lan ngaweruhi maleh ing

sekabehe kelakuhan

Wong nikah lan wong adol tuku lan liyane sekehe kukum kang bongso

kedhohiran”

Artinya:

”Bahwa ilmu fiqh lagi nyatanya yaitu mengetahui hukum dhahir. Dalam sahnya ibadah dhahir nyatane dan mengetahui batal haram dan kebolehannya. Dan pakaian yang dipakai dalam badan dan mengetahui lagi semua pekerjaan. Orang nikah dan orang jual beli dan selain semua hukum yang bangsa kedhahiran”

Jadi dalam pandangan Ahmad Rifa’i ilmu fiqh adalah ilmu yang membahas hukum yang dhahir (lahir) misalnya sahnya ibadah, batal, haram, sesuatu yang dibolehkan, nikah, jual beli dan sebagainya. Ahmad Rifa’i menyatakan dirinya sebagai pengikut mazhab Syafi’i sebagaimana yang terdapat pada bagian awal dari kitab-kitab karangannya. Sebagai contoh dalam Kitab Ri’ayatul Himmah ia menyatakan:

Ikilah bab nyataaken tinemune

Ing dalem ilmu fiqh ibadah wicarane

Atas mazhab Imam Syafi’i panutane

Ahli mujtahid mutlak kaderajatane”

Artinya:

”Inilah bab menyatakan jadinya

Didalam pembicaraan mengenai ilmu fiqh ibadah

Berdasarkan mazhab Syafi’i panutannya

Ahli mujtahid mutlak derajatnya”

Dengan demikian sebenarnya tidak ada perbedaan yang mendasar dengan pandangan mayoritas umat Islam Indonesia. Namun demikian tetap ada beberapa doktrin yang terdapat dalam kitab tarjumah karangan Ahmad Rifa’i. Misalnya tentang shalat jum’at, kebiasaan shalat qadha di bulan ramadhan, tradisi Tashih al-nikah (mengulang pernikahan) dan sebagainya.

Contoh pendapat dalam hal fiqih adalah sholat Jum’at. Dalam masalah shalat baik shalat jamaah maupun shalat jum’at Ahmad Rifa’i sangat menekankan pentingnya kualitas seorang imam. Menurutnya imam seorang muslim yang alim adil yaitu mempunyai pengetahuan agama yang dalam, memahami kaifiyah (ketentuan shalat), dapat dipercaya, tidak melakukan dosa besar, dan bukan orang yang fasik (rusak). Hal ini bisa dilihat dalam Kitab Takhyirah Mukhtasar karya Ahmad Rifa’i:

Alim weruh ing panggerane syareate nabi muhammad

Adil riwayate ora ngelakoni setengahe doso gede lan ora

ngekalaken setengah karom cilek”

Artinya:

”Alim mengetahui aturannya syariatnya nabi Muhammad

Adil yaitu tidak melakukan sebagian dosa besar dan tidak sering

melakukan sebagian dari dosa kecil”

Ahmad Rifa’i memandang bahwa shalat jum’at yang dilakukan di Masjid Pekalongan dan Batang pada masa itu ”tidak sah”. Dengan alasan imamnya kurang memenuhi syarat sebagai imam dalam istilah Ahmad Rifa’I bukan orang yang alim adil. Hal ini karena yang menjadi imam shalat jum’at adalah penghulu atau ulama tradisional yang bekerjasama dengan pemerintah Belanda yang merupakan pemerintah kafir. Mereka dianggap imanya sudah rusak dan tidak pantas untuk diikuti. Seperti yang dikatakan G.F.Pijper (1984: 72) bahwa penghulu termasuk dalam birokrasi pemerintah dan mendapatkan gaji dari pemerintah kolonial Belanda, yang salah satu tugasnya adalah mengurusi masjid dan kegiatan peribadatan.

Disamping mensyaratkan kualitas imam dan khatib yang alim adil, Ahmad Rifa’i juga mensyaratkan bahwa peserta shalat jum’at yang menjadikan sahnya shalat jum’at haruslah orang-orang mengetahui rukun, syarat wajib, syarat sahnya shalat jum’at. Jika ada salah satu orang yang tidak memenuhinya maka shalat jum’at menjadi batal. Dengan kata lain peserta shalat jum’at yang menjadi Ahlul Jum’ah itu harus cukup ilmu dan pengamalan agamanya (Abdullah, 2006: 112).

Menurut Imam Syafi’i bilangan (jumlah) orang yang menjadikan sahnya shalat jum’at ada yang mengatakan 40 orang (qaul jadid atau pendapat baru yaitu fatwa-fatwa Imam Syafi’i ketika tinggal di Mesir), 12 orang dan 4 orang (qaul qodim atau pendapat lama yaitu fatwa Imam Syafi’i ketika masih di Bagdad). Pendapat tentang jumlah minimal yang menjadikan shalat jum’at dengan empat orang merupakan pendapat yang lemah atau dhoif. Berikut ini adalah pendapat Ahmad Rifa’i dalam hal wilangan (bilangan/jumlah orang) shalat jum’at sebagaimana yang terdapat dalam Kitab Taisir yang merupakan kitab karyanya yang khusus membahas bab jum’at.

Tetelu kaule syafi’i jum’ah wilangane muktamad kaul jadid kalaning mesir negarane

Wilangan jum’ah wong patang puluh tinemune Islam aqil baligh lanang mardiko nyatane

Kang podo umah-umah nunggal panggonan kang sah jumenengaken jum’ah arup kapartelanan

Kaul roro kodim kolo ning bagdad kinaweruheSalah sewijine sah wong rolas jum’ahane

Kapindo ngesahakensolat jum’ah wong papat podo sah solate gegunah

Ugo netepi syarat ngarep wus winarah tentu kanti sugeh ilmu inadah”

Artinya:

”Tiga pendapat dari syafi’i bilangan jum’ah mu’tamad kaul jadid pada waktu diMesir. Bilangan jum’ah orang empat puluh adanya Islam aqil baligh pria merdeka kenyataannya. Yang sudah punya rumah tempat tinggal yang sah mendirikan jum’ah seperti yang telah diketahui. Kaul dua qodim pada waktu diBagdad salah satunya sah orang dua belas. Kedua mensahkan lagi salat jum’ah orang empat sama sah benar salatnya. Juga memenuhi syarat yang sudah ditentukan tentu dengan kaya ilmu ibadah”

Hal  ini dikarenakan pada masa itu (abad ke-19) banyak orang Islam di Jawa yang dapat dikatakan masih”abangan”, mereka tidak mengetahui syarat rukun dan sahnya shalat jum’at. Disamping itu pengetahuan agama mereka masih sangat kurang. Dengan kata lain hal ini karena sulitnya mencari orang yang benar-benar memenuhi syarat minimal untuk mendirikan salat jum’at dengan 40 orang seperti yang lazim berlaku. Untuk itu Ahmad Rifa’i memilih pendapat yang menyebutkan bahwa sudah sah mendirikan shalat jum’at dengan empat orang yang mengetahui syarat sah, rukun salat jum’at, tidak fasik dan dalam ilmu agamanya. Selain empat orang harus ada badal atau pengganti dari keempat orang itu.

Satu ciri khas lagi mengenai shalat jum’at yang dilakukakan oleh komunitas Rifa’iyah adalah sebelum khatib naik kemimbar jama’ah membaca kitab tarjamah yang membahas hal shalat jum’at misalnya Kitab Taisir yang dipimpin oleh salah seorang kiainya, adzan satu kali seperti halnya orang Muhammadiyah, materi khutbah hanya Al-Qur’an dan Hadist tanpa terjemahan (khutbah hanya memakai bahasa Arab tanpa bahasa Indonesia atau Jawa) dan ketika shalat jum’at selesai terlebih dahulu bersalam-salaman terus langsung pergi meninggalkan masjid seketika.

Mengenai tindakan orang Rifa’iyah setelah shalat jum’at langsung pergi semua (tidak lari) tidaklah bertentangan dengan Al-Qur’an. Sebagaimana yang disebutkan dalam Surat Jumu’ah ayat 10 yang artinya:

”Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyakbanyak supaya kamu beruntung”.

Contoh lain adalah Shalat Qadha di bulan ramadhan yang mereka sebut qadha mubdarah (qadha yang disegerakan) yang pelaksanaanya pada malam bulan ramadhan secara berjamaah. Jadi pada setiap bulan ramadhan mereka tidak melaksanakan shalat tarawih. Tradisi santri tarjumah atau Rifa’iyah mengamalkan shalat qadha pada setiap bulan ramadhan didasarkan pada doktrin-doktrin Ahmad Rifa’i yaitu bahwa shalat fardhu harus lebih dahulu dikerjakan dari pada shalat sunnah. Orang yang didalam ibadahnya lebih mendahulukan sunnah dan mengakhirkan wajib terhukum haram dan mengikuti kehendak nafsu setan (Abdullah, 2006: 114).

Pemikiran Ahmad Rifa’i mengenai shalat qadha pada setiap malam ramadhan tak lepas dari kondisi keagamaan orang Jawa pada masa itu yang dapat dikatakan masih abangan. Mereka mengaku beragama Islam tapi tidak taat menjalankan kewajiban Islam yang elementer misalya shalat wajib.

Dalam hal pernikahan ada prosesi pengulangan pernikahan (Tashih al-Nikah). Pernikahan yang diselenggarakan oleh penghulu ”tidak sah” dan harus diulangi lagi, dengan alasan bahwa imannya penghulu sudah rusak sebab menjadi kaki tangan penguasa kafir. Seorang saksi nikah dituntut untuk adil sedang seorang wali nikah menurut Ahmad Rifa’i sebagaimana yang dikutip oleh Abdullah (2006: 117) harus bersifat mursyid (seorang yang dalam ilmu agamanya,

tidak fasik, jujur, tidak pernah melakukan dosa besar).

Doktrin Ahmad Rifa’i yang mengatakan bahwa pernikahan yang dilakukan di hadapan penghulu tidak sah dan harus diulang, oleh sebagian pengikutnya hingga sekarang masih dilakukan. Misalnya di Pati menurut Abdullah (2006;117) tradisi nikah ulang ini disebut shihah (mensahkan Pernikahan).

Bidang Tasawuf

Sebagian besar kitab-kitab karya Ahmad Rifa’i membahas tiga bidang ilmu yaitu usuluddin, fiqh dan tasawuf hal ini bisa dilihat dari halaman depan beberapa kitabnya seperti Ri’ayatul Himmah, Jam’ul Masail dan sebagainya.

Ahmad Rifa’i adalah penganut faham sunni maka tasawuf yang ia kembangkan diselaraskan dengan syariat. Keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat, dimana syariat merupakan perwujudan iman dari aspek lahiriah dan tasawuf sebagai perwujudan iman dari aspek batiniah. Menurutnya tasawuf tanpa didasari syariat akan batal sedangkan syariat tanpa didasari tasawuf kurang sempurna. Seorang sufi sudah barang tentu menguasai ilmu fiqh. Namun seorang ahli fiqh belum tentu menguasai tasawuf. Untuk itu maka Ahmad Rifa’i membagi ilmu agama dalam tiga cabang yang harus dipelajari secara urut seperti yang tercantum dalam judul karyanya yaitu ushul (ushuluddin), fiqh dan tasawuf. Dengan urutan seperti ini maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu yang paling pertama dipelajari adalah tentang akidah atau tentang keimanan (tauhid), kemudian tentang ibadah dalam hal ini fiqh dan yang terakhir tasawuf sebagai upaya berada sedekat mungkin dengan Allah.

Menurut Mursidin Romly (1990: 3) pemikiran tasawuf Ahmad Rifa’i terbatas pada pembentukan moral dalam kehidupan manusia dengan cara menghiasi diri berakhlak mahmudah (terpuji) dan membersihkan diri dari akhlak tercela (madzmumah). Ahmad Rifa’i membagi akhlak terpuji menjadi delapan macam sifat yaitu zuhud, qon’ah, sabar, tawakkal, mujahidah, ridho,syukur dan iklas. Kedelapan hal ini harus ditempuh untuk mencapai kondisi batin yang lebih tinggi yaitu khouf, muhibbah dan ma’rifat. Hal ini bisa dilihat dalam kitab Ri’ayatul Himmah:

”Utawi pertelane setengahe sifat

kang pinujidene syara’ munfa’at

yoiku wolong perkoro iki wilangane

Zuhud, qona’ah, sabar, tawakkal atine

Mujahiddah, ridho, syukur, iklas nejane

Khouf, muhibbah, ma’rifat kawengku ma’nane”

Artinya:

”Bahwa penjelasan sebagian sifat

yang terpuji dalam syara’ manfaat

yaitu delapan perkara ini bilangannya

Zuhud[8], Qona’ah[9], sabar[10], tawakkal[11] hatinya

Mujahidah[12], ridho[13], syukur[14], iklas[15] maksudnya

Khouf, muhibbah, ma’rifat kandungan maknanya”

Kedelapan sifat terpuji ini sering disebut sebagai maqamat atau tahapan

(stages atau stations) dalam menepuh jalan tasawuf.

Adapun delapan sifat tercela yang menurut Ahmad Rifa’i harus ditinggalkan dan merupakan penyakit hati yaitu hubbud dunya (terlalu mencintai dunia), tamak, itba’ul hawa (menuruti hawa nafsu/keinginan), ujub (membanggakan diri), takabur (sombong), riya (pamer), hasud, sum’ah. Meskipun demikian Simuh (1990: 1) menyangsikan akan adanya ajaran tasawuf di dalam pemikiran Ahmad Rifa’i. Karena menurutnya dalam tasawuf selalu mengajarkan ajaran kasyaf (tersingkapnya tabir penghalang alam gaib). Namun demikian tak dapat dipungkiri bahwa tasawuf yang dikembangkan oleh Ahmad Rifa’i adalah tasawuf yang bersendikan syariat seperti yang dikembangkan oleh Al-Gazali. Menurut Ahmad Rifa’i syariat tanpa tasawuf akan tertolak dan tasawuf tanpa syariat kurang sempurna. Jika dilihat sepintas aliran Rifa’iyah lebih condong pada tarekat Qadiriyyah yang didirikan oleh Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.

Sedikit banyak ajaran Ahmad Rifa’i yang terdapat dalam kitab-kitab tarjumah karyanya terpengaruh oleh budaya Jawa pra-Islam. Hal ini bisa dilihat dalam Kitab Minwarul Himmah yang membahas tentang Talqin Mayit.

Dalam kitab ini disebutkan bahwa ketika menguburkan jenazah, salah seorang biasanya kiai atau Modin memberi tuntunan pada si mayit misalnya beberapa pertanyaan siapa Tuhanmu, imammu, agamamu dan sebagainya. Pada dasarnya ajaran ini tidak ada dalam Islam. Hal ini tak lepas dari kepercayaan orang Jawa bahwa ruh manusia bersifat aktif meskipun sudah mati sedangkan Islam memandang bahwa ruh bersifat pasif (Simuh, 2003: 41).

 Interaksi Dengan Komunitas Lainnya.

Tidak berbeda dengan hubungan komunitas Rifa’iyah secara umum dengan komunitas lainnya pada mulanya mungkin juga sampai sekarang diwarnai dengan rasa sentimen. Pengikut aliran Rifa’iyah terkesan tertutup dan eklusif. Mereka tidak mau menunaikan shalat jum’at di masjid lain di luar komunitas Rifa’iyah meskipun jaraknya lebih dekat. Hal ini bisa kita amati di desa Warulor dimana terdapat tiga masjid, orang-orang Rifa’iyah meskipun rumahnya dekat dengan masjid umum tapi mereka tetap melaksanakan shalat jum’at maupun aktivitas peribadatan lainnya di masjid Rifa’iyah. Mereka menganggap shalat jum’at yang dilaksanakan di masjid lain dianggap belum sah karena imam kurang memenuhi syarat rukun shalat jum’at.

Hal ini tidak lepas dari sejarah Rifa’iyah pada awal berdirinya, yang mana Ahmad Rifa’i menganggap shalat jum’at yang dilaksanalakan di Masjid Batang dan Pekalongan dianggap tidak sah kaarena imam atau khatibnya penghulu yang merupakan budak penguasa kafir.

Namun sikap ini seiring dengan perkembangan zaman dan semakin majunya pola pikir masyarakat mereka mulai menerima perbedaan ini senbagai rahmat dan menganggap perbedaan ini sebagai masalah furu’ atau cabang.

 Hubungan Dengan Pemerintah

Pada masa penjajahan Belanda ketika KH Ahmad Rifa’i masih hidup hubungan komunitas Rifa’iyah dengan pemerintah dapat dikatakan diliputi ketegangan dan perselisihan. Hal ini karena gerakan Rifa’iyah melancarkan serangkaian hujatan terhadap pemerintah kolonial dan birokrat pribumi yang menjadi kaki tangan penjajah. Pasca pengasingan Ahmad Rifa’i, komunitas Rifa’iyah hidup menjauh dari pemerintahan dan isolasi damai. Mereka tidak berani lagi melakukan protes terhadap pemerintah kolonial. Hal ini seperti yang digambarkan Steenbrink (1984: 113) bahwa gerakan Rifa’iyah berubah dari ”gerakan liar menjadi lunak”. Tindakan ini demi keberlangsungan jamaah Rifa’iyah.

Pada masa pergerakan nasional dan kemerdekaan ada tokoh Rifa’iyah yaitu KH Mubari yang ikut terjun dalam kegiatan politik. Menurut Adaby Darban (2004: 63-64) KH Mubari aktif dalam Sarekat Islam. Hal yang sama juga dilakukan oleh KH Mastur yang aktif dalam Partai Sarikat Islam Indonesia (PSII) wilayah pekalongan. Untuk komunitas Rifa’iyah pada periode 1960-1975 juga ikut serta masuk dalam partai politik yang berbasis Islam dalam hal ini NU, meskipun sebenarnya dalam jamaah Rifa’iyah tidak ada anjuran untuk ikut dalam partai politik tertentu mereka bebas untuk memilih partai yang disukai.

  1. Penutup

Aliran Rifa’iyah dari awal kemunculannya adalah gerakan perlawanan terhadap pemerintah kolonial yang menyebabkan aliran ini menjadi musuh bersama bagi penjajah dan pejabat-pejabat pribumi yang “mengabdi pada pemerintah. Tetapi pasca penangkapan pendirinya aliran ini seakan-akan berubah haluan menjadi lunak terhadap pemerintah kolonial meskipun masih ada doktrin-doktrin anti pemerintah tetapi tidak sampai pada gerakan fisik.

Sebagai aliran keagamaan yang menganut mazhab Syafi”i, aliran Rifa”iyah ini secara umum dalam hal ubudiyah tidak berbeda dengan aliran–aliran lain di Indonesia yang se-mazhab. Hanya saja ada beberapa cabang seperti sahnya Sholat Jum’at dengan bilangan empat orang, perbaharuan akad nikah ketika yang menikahkan bukan dari golongan meraka, dan Qadha sholat di bulan Ramadhan. Kemudian pendapat meraka tentang rukun Islam hanya satu yaitu membaca kalimat syahadat, sementara yang lain hanya dianggap sebagai sesuatu yang diwajibkan saja.

 

 

 

Daftar Pustaka

Abdullah, Shodiq. 2006. Islam Tarjumah: Komunitas, Doktrin dan Tradisi. Semarang: Rasail

Azra, Azyumardi. 1994. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Bandung: Mizan.

Darban, Ahmad Adaby 2004. Rifa’iyah: Gerakan Sosial Keagamaan DiPedesaan Jawa Tengah Tahun 1850-1982. Yogyakarta: Tarawang Press.

—————————–. 1990. Rifa’iyah dalam Perspektif Sejarah: Gerakan Protes KH Ahmad Rifa’i Dalam perspektif Sejarah (1850-1859).

G.F. Pijper. 1984. Beberapa Studi Islam di Indonesia 1900-1950. Jakarta: UI Press.

Jamil, Abdul. 2001. Perlawanan Kiai Desa: Pemikiran Dan Gerakan Islam KH Ahmad Rifa’i. Jakarta: LKIS.

Kartodirdjo, Sartono. 1984. Pemberontakan Petani Banten 1888. Jakarta: PT Gramedia.

—————————.1982. Pemikiran Dan Perkembangan Historiografi Indonesia: Suatu Alternatif. Jakarta: PT Gramedia

Kuntowijoyo. 1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Kanisius.

—————–.1999. Paradigma islam Intepretasi Untuk Aksi. Bandung: Mizan

Panitia Seminar Nasional. 1991. Buku Laporan Kiprah Rifa’iyah-Tarajumah Tahun 1411 H-1412 H. Jakarta:Panitia Seminar Nasional dan Panitia Peserta Festival Istiqlal.

Romly, Mursidin. 1990. Tasawuf dalam Pandangan KH Ahmad Rifa’i dan perbandingannya: Pemikiran Tasawuf Ahmad Rifa’i. Yogyakarta: Seminar nasional Mengungkap Pembaharuan Islam Abad XIX

Simuh. 1990. Tasawuf Dalam Pandangan KH Ahmad Rifa’i dan perbandingannya:Aspek Tasawuf Dalam Pemikiran Ahmad Rifa’i. Yogyakarta: Seminar nasional Mengungkap Pembaharuan Islam Abad XIX.

——–. 2003. Islam Dan Pergumalan Budaya Jawa. Jakarta: TERAJU

Steenbrink, Karel A. 1984. Beberapa Aspek Tentang Islam DiIndonesia Abad Ke- 19. Jakarta: Bulan Bintang

Syadzirin A, Ahmad. 1989. Mengenal Ajaran Tarajumah Syaikh H. Ahmad Rifa’i Dengan Mazhab Syafi’I Dan I’tiqad Ahli Sunnah Waljamaah. Jakarta: Jamaah Masjid Baiturrahman.

————————–. 1996. Gerakan Syaikh Ahmad Rifa’I: Dalam Menentang Kolonial Belanda. Jakarta: Jama’ah Masjid Baiturrahman jakarta Pusat.

————————–.1994. Pemikiran Kyai Haji Ahmad Rifa’I Tentang Rukun Islam Satu. Jakarta: Jamaah Masjid Baiturrahman. Yogyakarta: Seminar nasional Mengungkap Pembaharuan Islam Abad XIX.

 

[1]Makalah ini dipresentasikan pada mata kuliah Faham dan Gerakan Keagamaan di Indonesia. Pascasarjana IAI Ibrahimy.

[2]Mazhab yang mengikuti pendapat imam al-Syafi’i dalam bidang fiqh

[3]Gerakan keagamaan yang di nisbatkan pada pendirinya KH Ahmad Rifa’i

[4]Gerakan ini adalah gerakan pembaruan yang di cetuskan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab di Hijaz (Arab Saudi).

[5]ijtihad menurut bahasa yaitu memeras pikiran, mencurahkan tenaga secara maksimal atau berusaha dengan sungguh-sungguh. Kata ijtihad memang tidak digunakan kecuali untuk perbuatan yang harus dikerjakan dengan susah payah. Sedangkan menurut istilah, yang disebut dengan Ijtihad ialah “Mengerahkan segala potensi dan kemampuan semaksimal mungkin untuk menetapkan hukum-hukum syariah”. Atau dalam pengertian menurut Amin Muchtar dalam etodologi Ijtihad Dalam perspektif Imam Mazhab dia mengatakan ijtihad mencurahkan segala kemampuan dalam mencapai hukum syara’ dengan cara istinbath (menyelidiki dan mengambil kesimpulan hukum yang terkandung) pada Alquran dan sunah

[6]Tarekat dalam bahasa arab yaitu “thariqah” yang berarti jalan, keadaan, aliran, atau garis pada sesuatu.Menurut istilah tasawuf, tarekat berarti perjalanan seorang salik (pengikut tarekat) menuju Tuhan dengan cara mensucikan diri atau perjalanan yang harus ditempuh secara rohani, maknawi oleh seseorang untuk dapat mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Allah SWT. (Luis Makluf, al-Mujid fi al-Lughat wa al-A’lam, Dar al-Masyriq, Beirut, 1986, hlm. 465)

[7]Tarekat yang di nisbatkan kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jilani

[8]Zuhud, menurut Sufyan ats-Tsauri (al-Qusayri, 1996: 111) zuhud adalah membatasi keinginan untuk memperoleh dunia, bukannya memakan makanan kasar atau mengenakan jubah dari kain kasar. Hakikat zuhud adalah menolak sesuatu serta mengandalkan yang lain (al-Gazali, 2004: 267). Maka barang siapa yang meninggalkan kelebihan dunia serta menolaknya dan mengharapkan akhirat maka ia juga zuhud di dunia. Menurut al-Gazali derajat zuhud yang tertinggi ialah jika seseorang tidak menginginkan segala sesuatu selain Allah bahkan akhirat.

[9]Qona’ah, menurut Muhammad bin at-Tirmidzy (al-Qusayri, 1996: 174) qona’ah adalah kepuasan jiwa terhadap rezeki yang diberikan. Qona’ah sering diartikan sebagai sikap menerima terhadap segala sesuatu yang telah diberikan oleh Allah.

[10]Sabar, menurut Amru bin Utsman (al-Qusayri, 1996: 210) sabar adalah berlaku teguh terhadap Allah SWT dan menerima cobaan-cobaanNya dengan sikap lapangdada dan tenang. Menurut Ibnu Abbas ada tiga macam kesabaran yaitu kesabaran dalam menunaikan perintah Allah, kesabaran untuk tidak melanggar larangan-larangan Allah dan kesabaran dalam menghadapi musibah (al-Gazali, 2004: 222)

[11]Tawakkal, menurut Abu Abdullah al-Qurasyi (al-Qusayri, 1996: 182) tawakkal berarti bergantung kepada Allah SWT dalam setiap keadaan.

[12]Mujahiddah, menurut bahasa adalah bersungguh-sungguh terhadap sesuatu perbuatan yang dituju. Menurut istilah mujahiddah adalah bersungguhsungguh melaksanakan perintah Allah serta menjauhi laranganNya, baik yang berupa larangan lahir maupun batin (Romly, 1990: 8)

[13]Ridha, menurut Syaikh Abu Ali ad-Daqqaq (al-Qusayri, 1996: 223) ridha bukanlah bahwa engkau tidak mengalami cobaan, ridha hanyalah bahwa engkau tidak berkeberatan terhadap hukum dan qadha Allah SWT

[14]Syukur, menurut Mursidin Romly (1990: 9) adalah kesediaan hati untuk menghayati kenikmatan yang telah diberikan Allah, baik kenikmatan lahiriah maupun batiniah.

[15]Ikhlas, munurut Mursidin Romly (1990; 10) adalah suasana kejiwaan yang mencerminkan dorongan batin kearah beribadah kepada Allah dan membersihkan hati dari perbuatan yang tercela

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *