STRUKTURALISME (JACQUES DERRIDA)

Oleh : Robii’atul Mariyah, M.H.I,. S.Th.I

  1. PENDAHULUAN

Setiap tesis dipastikan akan ada anti-tesis sebagai lawan atau pengembangannya, begitu pula dengan sebuah pemikiran yang muncul pada masanya maka akan ada pemikiran baru baik itu yang berlawanan dengan pemikiran sebelumnya ataupun pengembangan dari pemikiran tersebut.

Post-strukturalisme adalah sebuah pikiran yang muncul akibat ketidak puasan atau ketidak setujuan pada pemikiran sebelumnya, yaitu strukturalisme.

Strukturalisme dibangun atas prinsip Saussure (Ferdinand de Saussure, 1857-1913) bahwa bahasa sebagai sebuah sistem tanda harus dilihat ke dalam tahapan tunggal sementara (single temporal plane). Aspek diakronis bahasa, yakni bagaimana bahasa berkembang dan berubah dari masa ke masa, dilihat sebagai bagian yang kurang penting. Dalam pemikiran post strukturalis, berpikir sementara menjadi hal yang utama.

Kalimat strukturalisme dalam kajian filsafat sepertinya agak sulit untuk difahami oleh orang yang baru belajar filsafat, karena memang tidak dapat didefinisikan secara sederhana.

Untuk memulai memahami strukturalisme, marilah memulai dengan memandang beberapa diantara kesulitan itu.

Pertama, dalam kalangan ilmiah istilah “struktur” dan strukturalisme banyak dipakai dan tidak selalu dalam konteks ang sama. Istilah-istilah itu dipakai dalam bidang matematika, logika, fisika, biologi, psikologi, sosiologi, ilmu bahasa, dan ilmu manusia lainnya.

Kedua, dapat dipersoalkan apakah strukturalisme prancis merupakan suatu aliran dibidang filsafat begitu saja. Misalnya, Claude Levi-Strauss, yang dikenal sebagai “bapak strukturalisme” prancis adalah seorang ahli antropologi budaya dan bukan filsuf. Rupanya tidak mudah untuk menentukan identitas seorang strukturalis.

Ketiga, dari orang-orang yang digolongkan sebagai strukturalis, hamper tidak ada yang senang dengan sebutan itu[1].

Disini, dengan “strukturalisme” dimaksudkan sekelompok pemikir yang menarik banyak perhatian sekitar tahun 60-an. Mereka tidak semua filsuf professional, tetapi –kalau begitu- tidak dapat disangkal adanya implikasi filosofis dalam karya-karya mereka.

Strukturalisme menjadi suatu mode filosofis di Prancis pada tahun 60-an. Itu tentu tidak berarti bahwa sesudah dasawarsa 60-an aliran itu hilang lenyap dengan mendadak, namun masa kejayaannya dalam dasawarsa berikut pasti sudah lewat.

Sesudah masa strukturalisme inilah lahir seorang Filsuf dari bangsa perancis sendiri yang bernama Jacques Deridda. Beliau merupakan filosof yang sangat kritis dalam memahami karya-karya pendahulunya. Bahkan beliau sampai pada taraf memahami pemikiran-pemikiran para filosof sebelumnya, menambahkan, mengkritisi atau bahkan mengemukakan gagasan-gagasan baru yang sama sekali berbeda.

Poststrukturalisme merupakan masa dimana mode strukturalisme dibantah, dikritisi dan dianggap tidak tepat pada masanya.

Berlandaskan pada pemikiran pembaharuan linguistic oleh Ferdinand de seasure, Jacques Derrida mengemukakan suatu gagasan baru dalam dunia filsafat yang kemudian oleh para filosof beliau disebut sebagai salah satu tokoh post strukturalisme.

Makalah ini ditulis selain sebagai memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Ilmu, namun juga agar  lebih mengetahui secara mendalam mengenai strukturalisme, post strukturalisme dan Jacques Derrida.

  1. BERKENALAN DENGAN STRUKTURALISME
  2. Lahirnya Strukturalisme

Wacana esensialisme dirasa tidak mencukupi lagi untuk memahami suatu keutuhan masyarakat, khususnya ketika ia dihadapkan pada pengetahuan. Strukturalisme lahir dari pergeseran wacana tentang masyarakat dan pengetahuan.Ada yang dilupakan dalam wacana sebelumnya, terutama mengenai fenomena struktural yang pada hakikatnya terdapat dalam relasi perbedaan suatu masyarakat.

Oleh karena itu sejarah ilmu bukan merupakan ungkapan pikiran, melainkan suatu konfigurasi epistemologis. Jadi, pada awalnya strukturalisme adalah sebuah gerakan intelektual yang mendasarkan diri pada usaha untuk memahami masyarakat sebagai sistem realitas yang menyeluruh yang ditekankan pada bangunan intelektualnya. [2]

Strukturalisme adalah faham atau pandangan yang menyatakan bahwa semua masyarakat dan kebudyaan memiliki suatu struktur yang sama dan tetap.[3] Strukturalisme juga adalah sebuah pembedaan secara tajam mengenai masyarakat dan ilmu kemanusiaan dari tahun 1950 hingga 1970, khususnya terjadi di Perancis.[4]

Strukturalisme berasal dari bahasa Inggris, structuralism; latin struere (membangun), structura berarti bentuk bangunan.[5] Trend metodologis yang menetapkan riset sebagai tugas menyingkapkan struktur objek-objek ini dikembangkan oleh para ahli humaniora.[6]

Struktualisme berkembang pada abad 20, muncul sebagai reaksi terhadap evolusionisme positivis dengan menggunakan metode-metode riset struktural yang dihasilkan oleh matematika, fisika dan ilmu-ilmu lain.[7]

Kelahiran strukturalisme mulai menemukan bentuknya sekitar era 50-an. F.M. de George dalam esainya “Charles Baudelaire’s ‘Les Chats’” (1972), sebagaimana yang dikutip Spivak, mengatakan bahwa kebangkitan strukturalisme berawal dari pertemuan Roman Jakobson, ahli linguistik dan salah seorang anggota Mazhab Formalisme Praha, dengan seorang antropolog Claude Lévi-Strauss di Amerika Serikat. Salah satu peristiwa yang dianggap sebagai tonggak kebangkitan strukturalisme dengan mainstream metode interpretasinya.

Secara umum strukturalisme adalah gerakan intelektual yang mengisolasikan struktur umum aktivitas manusia. Struktur adalah kesatuan beberapa unsur atau elemen yang terdapat dalam relasi yang sama pada “aktivitas” manusia. Kesatuan struktur tersebut tidak bisa dipilah secara terpisah menjadi elemen, karena struktur adalah subtansi dari hubungan antar elemen. Strukturalisme berkembang meliputi berbagai bidang, termasuk sastra, linguistik, antropologi, sejarah, sosio-ekonomi dan psikologi.

Strukturalisme Saussurean mengenalkan sebuah pengertian tentang “struktur”. Saussure menitikberatkan praktek-praktek material adalah cara ditemukannya makna “struktur” yang sebenarnya. Kemudian Saussure melanjutkan proyek strukturalisme pada penyelidikan linguistik, bahwa bahasa harus ditinjau ulang agar linguistik memiliki landasan yang mantap. Saussure menentang anggapan sebelumnya yang menyatakan bahasa bersifat rasional ketika dihadapkan pada sejarah. Para ahli linguistik sebelumnya melakukan pendekatan historis pada bahasa agar didapati nilai intrinsik dalam bahasa tersebut. Bahasa adalah proses nomenklatur (penamaan) keterkaitan antara nama dan objek yang ditentukan secara historis.

Apa yang ditekankan Saussure adalah bukan pada penataan bahasa secara historis yang menemukan nilai intrinsik dalam bahasa, melainkan pada konfigurasi bahasa yang mentolerir kekinian. Yang terjadi kemudian adalah hubungan unsur atau elemen yang tertata dengan cara tertentu melalui sistem atau struktur. Di mana individu tidak akan bermakna ketika melepaskan diri dari struktur. Saussure mencanangkan terma-terma yang berkaitan dengan struktur yang bertautan dengan masa kini. Ia menjelaskan bahwa bahasa (langue) adalah perbedaan, di mana sistem sendiri adalah produk perbedaan tersebut. Dan bahasa hanya bisa bermakna ketika dipahami melalui sistem-sistem bahasa dalam suatu konfigurasi linguistik atau totalitas perubahan sistem-sistemnya. Untuk mendapatkan totalitas tersebut harus dilakukan pendekatan bahasa dengan perspektif sinkronis. Di mana suatu fenomena tekstual hanya bisa ditemukan melalui pendekatan kekiniannya (sinkroni) ketimbang perkembangan historisnya (diakroni).

Derrida membaca gelagat struktur yang bermuatan paradigma metodologis strukturalisme Saussurean semacam ini terdapat pengoposisian, yang kemudian disebut oposisi biner, antara dua terma yang diperlawankan. Para strukturalis mengasumsikan salah satu terma dianggap lebih superior dibanding terma lainnya. Karena dalam terma super tersebut dipercaya sebagai tempat persembunyian metafisika, tempat di mana makna selalu hadir di dalamnya yang disebut Derrida dengan “metafisika kehadiran” (metaphysics of presence).

Lebih luas oposisi biner ini menjangkiti semua pengertian yang terkait, di antaranya: sinkroni/diakroni, sistem bahasa (langue)/tindak bahasa (parole), aktivitas/pasivitas, tuturan (speech)/tulisan (writing), penanda (signifier)/petanda (signified), waktu/ruang, dan sebagainya. Apa yang dilupakan para strukturalis adalah mereka lupa meletakkan “tanda silang” (sous rature) dan tidak mempersoalkan oposisi biner tersebut.

Lebih lanjut oposisi biner ini akan dipermasalahkan grammatologi dan différance. Demikian halnya ketika pemaknaan bahasa hendak dicapai, tuturan (speech) lebih diprioritaskan dari pada tulisan (writing). Sebab dalam tuturan, individu yang notabene bentukan dari sistem budaya tertentu mampu mengartikulasikan bahasa sekaligus menyuguhkan maknanya secara langsung dalam kekiniannya. Terutama melalui tuturan, peran dan fungsi objek yang terbahasakan mampu diperlihatkan oleh subjek yang merekonstruksi objek tersebut, yang secara aktual struktur berperan sebagai simulakrum objek.[8]

Berbeda dengan tulisan sebagai ekspresi derivatif yang lemah, yang senantiasa menutup diri dari artikulasi yang langsung tersebut, sehingga maknanya menjadi kabur karena berbagai interpretasi. Tulisan adalah “suplemen” berbahaya yang menjebak bahasa jauh dari keotentikan aslinya dalam tuturan dan kehadiran-diri. Untuk mengikat pikiran seseorang kepada tulisan berarti untuk menyerahnya kepada wilayah publik, yang beresiko salah dimengerti oleh semua tipu muslihat akibat campur-aduknya penafsiran. Tulisan adalah “kematian” yang menghadang pikiran, agen licik pembusukan yang kerjanya menjangkiti seluruh sumber kebenaran.

Derrida membaca oposisi serupa juga berlaku pada Lévi-Strauss, tuturan sebagai kehidupan dan vitalitas, dan tulisan sebagai kegelapan yang berkonotasi pada kekerasan dan kematian. Husserl juga membedakan dua macam tanda yang memiliki perbedaan pokok, antara tanda indikatif dan tanda ekspresi. Tanda ekspresi telah diberi makna yang merepresentasikan tujuan makna atau kekuatan intensional yang “memberi nyawa” bahasa. Sebaliknya tanda indikatif adalah tanpa ekspresi yang “tak bernyawa” dan sistem rasa yang abritrer.

Dengan palu différance Derrida meruntuhkan sistem oposisi tersebut. Oposisi yang menempatkan terma pertama pada kedudukan superior yang diasumsikan melalui strukturnya memiliki makna yang hadir yang bersembunyi di balik teks. Derrida meruntuhkan oposisi ini dengan menghancurkan “hierarki”-nya, melawan kekerasan dengan kekerasan, pembalikan terma, dan terma pemenang harus diletakkan di bawah tanda silang. Sehingga memberi ruang pada “konsep” baru yang tidak dipahami dengan cara pandang oposisi.

Dalam uraian tentang prinsip-prinsip linguistic Seasure, istilah “struktur” belum disebut dan juga dalam kursus linguistic umumistilah itu tidak dipakai. Baru sesudah Seasure istilah “struktur” mulai dipakai dalam linguistik[9].

  1. Tujuan dari strukturalisme

Tujuan Strukturalisme adalah mencari struktur terdalam dari realitas yang tampak kacau dan beraneka ragam di permukaan secara ilmiah (obyektif, ketat dan berjarak).[10]

Ciri-ciri itu dapat dilihat strukturnya:

  1. Bahwa yang tidak beraturan hanya dipermukaan, namun sesungguhnya di balik itu terdapat sebuah mekanisme generatif yang kurang lebih konstan.[11]
  2. Mekanisme itu selain bersifat konstan, juga terpola dan terpola dan terorganisasi, terdapat blok-blok unsur yang dikombinasikan dan dipakai untuk menjelaskan yang dipermukaan.[12]
  3. Para peneliti menganggap obyektif, yaitu bisa menjaga jarak terhadap yang sebenarnya dalam penelitian mereka.[13]
  4. Pendekatan dengan memakai sifat bahasa, yaitu mengidentifikasi unsur-unsur yang bersesuaian untuk menyampaikan pesan. Seperti bahasa yang selalu terdapat unsur-unsur mikro untuk menandainya, salah satunya adalah bunyi atau cara pengucapan.[14]
  5. Strukturalisme dianggap melampaui humanisme, karena cenderung mengurangi, mengabaikan bahkan menegasi peran subjek.[15]
  6. Masa strukturalisme

Tahun 1966 digambarkan oleh Francois Dosse dalam bukunya Histoire du Structuralism sebagai tahun memancarnya strukturalisme di Eropa, khususnya di Prancis. Perkembangan strukturalisme pada tahun 1967-1978 digambarkan sebagai masa penyebaran gagasan strukturalisme dan penerangan tentang konsep strukturalisme serta perannya dalam ilmu pengetahuan.[16]

  1. Ciri-ciri strukturalisme

Ciri-ciri strukturalisme adalah pemusatan pada deskripsi keadaan aktual objek melalui penyelidikan, penyingkapan tabiat, sifat-sifat yang terkait dengan suatu hal melalui pendidikan. Ciri-ciri itu bisa dilihat dari beberapa hal; hirarki, komponen atau unsur-unsur, terdapat metode, model teoritis yang jelas dan distingsi yang jelas.[17]

Para ahli strukturalisme menentang eksistensialisme dan fenomenologi yang mereka anggap terlalu individualistis dan kurang ilmiah. Salah satu yang terkenal adalah pandangan Maurice Meleau-Ponty yang menentang fenomenologi dan eksistensialisme tubuh manusia.[18] Pounty menekankan bahwa hal yang fundamental dalam identitas manusia adalah bahwa kita adalah objek-objek fisik yang masing-masing memiliki kedudukan yang berbeda-beda dan unik dalam ruang dan waktu.

  1. Tokoh-tokoh strukturalisme
    1. Ferdinand De Saussure dalam linguistik.

Sebagai penemu stuktur bahasa, Saussure berargumen dengan melawan para sejarawan yang menang dengan pendekatan filologi. Dia mengajukan pendekatan ilmiah, yang didekati dari sistem terdiri dari elemen dan peraturannya dalam pembuatannya yang bertujuan menolong komnunikasi dalam masyarakat. Dipengaruhi oleh Emile Durkheim dalam sebuah social fact, yang berdasar pada objektivitas di mana psikologi dan tatanan sosial dipertimbangkan. [19]

Saussure memandang bahasa sebagai gudang (lumbung) dari tanda tanda diskusif yand dibagikan oleh sebuah komunitas.[2] Bahasa bagi Saussure adalah modal interpretasi utama dunia, dan menuntut suatu ilmu yang disebut semiologi.[20]

  1. Levi-Strauss dalam masyarakat.[21]

Metode Strauss adalah anthropologi dan linguistik secara serempak. Unsur-unsur yang digelutinya adalah mengenai mitos, adat-istiadat, dan masyarakatnya sendiri. Dalam proses analisisnya, manusia kemudian dipandang sebagai suatu porsi dari struktur, yang tidak dikonstitusikan oleh analisis itu, melainkan dilarutkan dengan analisis. Perubahan penekanan dari manusia ke struktur merupakan ciri umum pemikiran strukturalis.

  1. S Vygostsky, Jacques Lacan dan Jean Piaget dalam psikologi.[22]

Jacques Lacan (Freudian) dalam psikologi menggambarkan pekerjaan Saussure dan Levi-Strauss untuk menekankan pendapat Sigmund Freud dengan bahasa dan argumen yang, sebagai sebuah tatanan kode, bahasa dapat mengungkapkan ketidaksadaran orang itu. Hal ini masalah, bahwa bahasa selalu bergerak dan dinamis, termasuk metafora, metonomi, kondensasi serta pergeserannya.

Jean Piaget sendiri menggambarkan Strukturalismenya sebagai sebuah struktur yang terpadu, yaitu yang unsur-unsurnya adalah anggota dari sistem di luar struktur itu sendiri. Sistem itu ditangkap melalui kognisi anggota masyarakat sebagai kesadaran kolektif.[23]

  1. Frege, Hillbert dalam metalogika metamatematika.
  2. Roland Berthes

Roland Berthes menerapkan analis strukturalis pada kritik sastra dengan menganggap berbagai macam ekspresi atau analisis bahasa sebagai bahasa yang berbeda-beda. Tugas kritik sastra adalah terjemahan, yaitu mengekspresikan sistem formal yang telah dibentangkan penulisnya dengan suatu bahasa. Hal ini terkait dengan kondisi zamannya.

  1. Michel Foucault dalam filsafat.

Strukturalisme modern atau poststrukturalisme dalam bidang filsafat adalah dengan mendekati subjektivitas dari generasi dalam berbagai wacana epistemik dari tiruan maupun pengungkapannya. Sebagaimana peran isntitusional dari pengetahuan dan kekausaan dalam produksi dan pelestarian disiplin tertentu dalam lingkungan dan ranah sosial juga berlaku pendekatan itu.

Dalam disiplin ini, Focault menyarankan, di dalam perubahan teori dan praktek dari kegilaan, kriminalitas, hukuman, seksualitas, kumpulan catatan itu dapat menormalisasi setiap individu dalam pengertian mereka.[24]

  1. Guenther Schiwy dalam kekristenan

Strukturalisme terkait kekristenan dalam atemporal sturkturalisme sebenarnya cocok dengan penekanan eternalistik kekristenan.[25]

 BERKENALAN DENGAN POST STRUKTURALISME

  1. Definisi Post Strukturalisme

Post strukturalisme adalah salah satu area dalam politik kontemporer yang paling menarik dan vital, sayangnya masih belum banyak dipahami dalam jagad politik.

Beberapa tokoh yang mendukung atau condong pemikirannya kepada Post-Strukturalisme diantaranya adalah seorang flusuf Prancis Jacques Derrida, pemikiran psikoanalisis Jacques Lacan, ahli teori kebudayaan Michael Foucault dan Jean-Francois Lyotard.

Derrida menekankan “logosentrime” (berpusat pada logos) pemikiran barat bahwa makna dipahami sebagai independensi bahasa yang dikomunikasikan dan tidak tunduk pada permainan bahasa. Derrida sepakat dengan Saussure bahwa bahasa merupakan produk yang berbeda antar penanda, tapi dia berpikir melampaui Saussure dalam menegaskan bahwa dimensi sesaat (temporal dimension) tak dapat ditinggalkan. Ciri dari Derrida melampaui pemikiran Saussure adalah pemikiran Derrida yang percaya bahwa penanda (signs) dan petanda (signified) dapat digabung dalam tahapan yang sama dalam praktek tindak tutur (act of speaking). Dan Derrida memandang bahwa Saussure tidak bisa melepaskan dirinya dari pandangan logosentris, sejak Saussure lebih mengunggulkan bahasa di atas tulisan.

Selain itu Derrida juga menyerang pandangan logosentrisme dan menilai bahwa tulisan merupakan model yang lebih baik untuk memahami bagaimana bahasa berfungsi. Dalam tulisan, penanda selalu produktif, mengenalkan aspek sesaat ke dalam penandaan yang menentukan berbagai penggabungan antara sign dan signified.

Mereka yang mengidentifikasi diri mereka sebagai golongan poststrukturalis, menurut Mackenzie biasanya menjauhkan diri mereka dari paradigma dominan dalam teori politik.

Oleh karena itu poststrukturalis adalah kritik terhadap Liberalisme, Marxisme, teori kritis, teori pilihan rasional (rational choice) dan berbagai macam teori feminis dan varian-variannya. Mereka mempertanyakan fondasi dari teori politik terutama arti dari “hal sosial” (the social) dan “hal politik” (the political).

Poststrukturalisme selalu diasosiasikan dengan sekelompok intelektual yang dahulu (1950-1960) berkumpul di Perancis, mereka mengkritik analisa strukturalis yang sempat mendominasi kehidupan intelektual Perancis pada masa itu. Tokoh-tokoh dari poststrukturalisme ini antara lain adalah para penulis seperti Cixous, Deleuze, Derrida, Foucault, Guattari, Irigaray, Kristeva, dan Lyotard. Definisi yang mendekati arti dari poststrukturalisme itu seniri adalah satu bentuk mempertanyakan konteks intelektual tertentu (reaksi terhadap strukturalisme).

Pemikiran post-strukturalis juga berkembang di Amerika pada tahun 1970-an, khususnya di kalangan kritikus yang tinggal di Yale, atau disebut para dekonstruksionis Yale. Teoritikus terkemuka Yale adalah Paul de Man yang berpendapat bahwa teks sastra telah tergabung dengan “pertentangan” Derrida.

 

  1. JACQUES DERRIDA PELOPOR POST STRUKTURALISME
  2. Biografi dan Karyanya

Jacques Derrida lahir di al-Jazair pada tanggal 15 Juli 1930, dan ia adalah seorang Filusuf Prancis keturunan Yahudi. Pada tahun 1949 Ia pindah ke Prancis dan menetap di Prancis hingga akhir hayatnya. Beliau kuliah dan belajar di Prancis hingga akhirnya dia menjadi maitre-assistant, dosen tetap di bidang Filsafat.

Selain dosen tetap di bidang filsafat, beliau juga dalam beberapa waktu sebagai dosen tamu di Yale University, Amerika Serikat. Dan pada masa mudanya Derrida pernah menjadi anggota Partai Komunis Prancis.

Pada tahun 1962, Derrida menerbitkan terjemahan karangan Husserl Asal-Usul Ilmu Ukur Introduction au probleme du signe dans la phenomenology de Husserl (suara dan fenomena. Pengantar pada masalah tanda dalam Fenomenologi Husserl) memberi komentar panjang lebar atas uraian Husserl tentang tanda dalam buku Penelitian-Penelitian Logika, Bab I, pasal 1 s/d 9. bersama suatu pendahuluan. Kemudian tahun 1967 Derrida menerbitkan tiga buku sekaligus, yaitu L’écriture et la différance (tulisan dan perbedaan), De la grammatologie (tentang gramatologi), dan La voix et le phenomène. Selain itu

Pada tahun 1972 terbit tiga buku lagi, yaitu Marges de la philosophie (pinggiran-pinggiran filsafat), la dissemination (penyebaran) dan Positions (posisi-posisi). L’archeologie du frivole (1967) (arkeologi tentang yang sembrono), Glas (1974), Eperons (1976), Eperons. Les styles de Nitzsche (1978), La verite en peinture (1978) (Kebenaran dalam Seni Lukis).La carte postale de Socrate a Freud et au-dela (1980) (Kartu pos dari Socrates kepada Freud dan di seberang-nya), De l’esprit. Heidegger et la question (1987) (tentang spirit. Heidegger dan pertanyaan), Spectress de Marx Spectre berarti : baik momok maupun spectrum), dan Politiques de l’amitie (1994) (Politik Persahabatan).

Sejak tahun 1974 Derrida ikut aktif dalam kegiatan-kegiatan himpunan dosen filsafat yang memperjuangkan tempat yang wajar untuk filsafat pada taraf sekolah menengah : Greph (Group de recherché sur l’enseignement philoshophique) (Kelompok penelitian tentang Pengajaran Filsafat). Kelompok ini didirikan akibat dari situasi lingkungan pada saat itu yang mempersoalkan filsafat pada sekolah menengah. Pada saat ini juga Derrida menulis sebuah artikel yang berjudul Qui a peur de la philoshophie? (1977) (Siapa Takut pada Filsafat?). dan sebuaha karangan-karangan baru yang dikumpulkan dalam sebuah buku Du droit a la phlosophie (1990) (Tentang Hak atas Filsafat).

Dari tulisan-tulisan yang di buat atau ditulis oleh Derrida, maka sudah bisa kita lihat bahwasanya Derrida menulis atas dasar kritikan-kritikan terhadap para filusuf-filusuf, ilmuan-ilmuan, dan sastrawan-satrawan. Akan tetapi komentarnya itu atau kritikannya itu dalam bentuk khusus, dengan cara inilah pemikiran Derrida selangkah demi selangkah berkembang. Dari hasil kritikan serta komentarnya itu Derrida menghasilkan sebuah pemikiran atau menyajikan teks-teks baru yang tidak dikatakan dalam teks-teks yang yang dia kritik. Prosedur yang dilakukan oleh Derrida ini disebut dengan deconstruction, “pembongkaran”.

  1. Pemikiran Filosofis

Membaca Derrida tentunya tidak bisa lepas dari konteks sejarah yang melatar belakanginya. Kita juga tidak bisa gegabah dalam memetakan konsep pemikiran Derrida.

Sebelum saya memaparkan konsep-konsep Derrida tentang dekontruksi, intertekstualitas, trace dan logocentrisme tentunya saya harus memberikan penjelasan tentang para pemikir yang mempengaruhi Derrida.

Dalam pergulatan pemikiran Derrida banyak dipengaruhi oleh fenomenologinya Hussrel dan Heidegger, psikoanalisisnya Freud dan genealogi moralnya Nietzstche.

Karya-karya Derrida memang susah sekali untuk diinterpretasikan. Selain dalam penulisnya menggunakan bahasa prancis klasik, Derrida menggunakan bahasa yang seringkali memang susah diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan ambigu. Tulisan seperti ini sepertinya sengaja digunakan Derrida supaya tidak terjebak pada logosentrisme. Hal ini banyak diakui oleh para reader Derrida. Barangkali saya juga salah dalam memberikan interpretasi tentang pemikiran Derrida. Tapi saya masih meyakini perkataan Derrida tentang author is dead.

Dengan demikian ulisan-tulisan Derrida masih membuka peluang yang besar untuk dikoreksi kembali. Derrida tidak pernah menganggap tulisanya sebagai karya yang fixs. Dia masih memberikan ruang yang luas dalam meninjau ulang tulisanya. Untuk menjelaskan Derrida, saya berkepentingan untuk memberikan sedikit paparan tentang strukturalisme. Dengan membahas aliran ini, kiranya untuk membahas pemikiran Derrida bisa mudah untuk difahami

Sebagaimana yang dilakukan oleh para filusuf sebelum Derrida khususnya Heiddeger dan Levinas yang mempersoalkan dan mengkritik seluruh tradisi filsafat barat, begitupula dengan Derrida yang mebicarakan dan mempersoalkan hal tersebut. Derrida juga terpengaruh dengan pemikiran Heidegger sebagaimana pengakuannya “segala sesuatu yang saya usahakan ini tidak mungkin tanpa lingkup keterbukaan yang diciptakan oleh pemikiran Heidegger”. Dan dikatakan juga bahwasanya pemikiran Derrida merupakan semacam radikalisasi dari filsafat Heiddeger, akan tetapi tidak dalam artian bahwa dia meneruskan pemikiran Heidegger begitu saja. Sebaliknya, ia mengembangkan pendiriaanya sendiri dengan mengktitik dan mempermasalahkan antara lain Heiddeger.

Salah satu pandangan Derrida yaitu tentang ilmu pengetahuan dan filsafat, bagi Derrida filsafat tidak dapat dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan. Filsafat dan ilmu pengetahuan pada dasarnya merupakan hal sama, karena kedua-duanya berakar dalam rasionalitas yang sama. Yaitu bahwa rasionalitas itu tidak lain daripada pemikiran Barat yang lahir di Yunani dan berlangsung sampai hari ini.

Pemikiran Barat yang pada waktu itu berpandangan bahwa yang ADA itu dimengerti sebagai “kehadiran”, maka menurut Derrida pemikiran tentang ada sebagai “kehadiran” itu disebut juga kedalam “metafisika”. Dan pandangan ini selanjutnya berpengaruh terhadap pandangan tentang tanda. Dalam tradisi metafisis tanda menghadirkan sesuatu yang tidak hadir. Tanda mengganti apa yang tidak hadir. Derrida juga berpendapat bahwa kehadiran tidak merupakan sesuatu instansi independen yang mendahului tuturan dan tulisan kita, tetapi sebaliknya ditampilkan dalam tuturan dan tulisan kita, dalam tanda yang kita pakai.

Pandangan ini adalah pandangan yang berbalik dari apa yang disebutnya “Logosentrisme” : pemikiran tentang ada sebagai kehadiran. Dan pandangan ini juga yang menjadi analisis terhadap pandangan tentang tanda yang dikemukakan oleh Ferdinand de Saussure, perintis besar linguistik modern, yang memperlihatkan bahwa di situ pun masih ada sisa-sisa logosentrisme.

Kemudian Derrida berusaha memikirkan tanda sebagai trace(bekas), suatu kata yang sebelumnya sudah dipakai sebagai istilah teknis dalam filsafat, pada plotinus misalnya dan di zaman kita sekarang pada Heiddeger dan terutama Levinas. Bekas tidak mempunyai substansi atau bobot sendiri, tetapi hanya menunjuk. Bekas tidak dapat dimengerti tersendiri (terisolasi dari segala sesuatu yang lain), tetapi hanya sejauh menunjuk kepada hal-hal lain. Bekas mendahului objek. Bekas itu sebelumnya bukan efek, melainkan terutama penyebab, kata Derrida. Sehingga bisa dikatakan bahwa tanda secara definitive (dan tidak untuk sementara saja) mendahului kehadiran; tanda selalu sebelum objek.

Menurut Derrida jaringan tanda atau rajautan tanda bisa di sebut dengan “teks”, Derrida menggunakan kata teks dalam arti yang jauh lebih luas daripada arti yang biasa, sebab bagi dia segala sesuatu yang ada mempunyai status teks. Segala sesuatu yang ada merupakan teks. Segala sesuatu yang ada ditandai tekstualitas. Tidak ada hors-texte, kata Derrida, tidak ada sesuatu di luar teks. Dan jika fenomenologi dulu asyik berbicara dengan intersubyektifitas, maka Derrida sekarang berbicara tentang intertekstualitas, karena suatu teks tidak pernah terisolasi tetapi selalu berkaitan dengan teks-teks lain.

Derrida menerangkan tengtang ilmu “Gramatologi” ilmu tentang Gramma, huruf-huruf, inskripsi, tulisan. Gramma adalah “tanda dari tanda” atau tanda yang menunjuk kepada tanda lain. Maka dari itu dapat dikatakan juga bahwa gramatologi adalah ilmu tentang tekstualitas.

Selain itu pemikiran Derrida yang lainnya yaitu konsepnya tentang Differance, dimana kata ini tidak akan ditemukan dalam kamus bahasa Prancis, karena kata ini dibuat sendiri oleh Derrida. Para pemikir dan penerus pemikiran Derrida cukup kesulitan dalam memahami kata Differance, sebab kata tersebut tidak “ada”. Mengatakan bahwa Differance “ada” akan berarti menguraikannya dalam suasana “kehadiran”. Karena kata ini dimaksudkan untuk melampaui sesuatu yang metafisika atau melampaui pemikiran yang ditandai ke-hadiran.

Derrida memberi berbagai penjelasan tentang kata Differance ini, setidaknya ia menguraikan kata ini dengan empat arti yaitu, Pertama-tama, Differance menunjuk kepada apa yang menunda kehadiran. Differance adalah proses penundaan (sekaligus aktif dan pasif), yang tidak didahului oleh suatu kesatuan asli. Kedua, Differance adalah gerak yang mendiferensiasikan. Dalam arti Differance adalah akar bersama bagi semua oposisi antara konsep-konsep seperti misalnya inderawi-rasional, intuisi-representasi, alam-kultur. Ketiga, Differance adalah produksi semua perbedaan yang merupakan syarat untuk timbulnya setiap makna dan setiap struktur. Perbedaan-perbedaan ini merupakan sebuah hasil Differance. Jadi, arti ketiga ini dekat dengan pemikiran Saussure. Keempat dan terakhir, Differance dapat menunjukkan juga berlangsungnya perbedaan antara ada dan adaan, suatu gerakan yang belum selesai.

Perlu ditambah juga bahwasanya kata Differance tidak boleh dibayangakan sebagai “asal-usul”, sebagai identitas terakhir yang melebihi semua perbedaan faktual. Dan dapat kita katakana juga dan bisa kita lihat bahwa filsafat Derrida ini secara radikal bersifat berhingga. Dalam pemikiran Derrida tidak ada tempat untuk sesuatu pemikiran yang tidak terhingga.

 

  1. KESIMPULAN

Dari pemaparan makalah ini dapat disimpulkan bahwa, strukturalisme merupakan mode filosofis yang bermula dari pemikiran Ferdinand de Seassure mengenai pembaharuan linguistik.

Strukturalisme dibangun atas prinsip Saussure (Ferdinand de Saussure, 1857-1913) bahwa bahasa sebagai sebuah sistem tanda harus dilihat ke dalam tahapan tunggal sementara (single temporal plane). Aspek diakronis bahasa, yakni bagaimana bahasa berkembang dan berubah dari masa ke masa, dilihat sebagai bagian yang kurang penting. . Dalam pemikiran post strukturalis, berpikir sementara menjadi hal yang utama.

Yang merupakan tokoh-tokoh strukturalisme adalah: Ferdinand De Saussure dalam linguistik, Levi-Strauss dalam masyarakat, L.S Vygostsky, Jacques Lacan dan Jean Piaget dalam psikologi, Frege, Hillbert dalam metalogika metamatematika, Roland Berthes, Michel Foucault dalam filsafat.

Post-strukturalisme adalah sebuah pikiran yang muncul akibat ketidak puasan atau ketidak setujuan pada pemikiran sebelumnya, yaitu strukturalisme.

Kemudian datanglah  Jacques derrida yang lebih dikenal dengan tokoh post strukturalisme. Salah satu pemikiran beliau adalah bahwasanya filsafat tidak dapat dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan. Beliaupun menolak pembedaan antara tanda dan symbol, dan masih banyak lagi pemikiran beliau yang telah diuraikan diatas.

 

DAFTAR PUSTAKA

Audi, Robert, 1995, The Cambridge Dictionary of Philosophy, USA: Cambridge University Press.

Bagus, Lorens, 2000, Kamus Filsafat, Jakarta: Gramedia.

Bertens, K, 1996, Filsafat Barat abad XX,Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Derrida, Jacques, 1976. Of Grammatology, terj. Gayatri Chakravorty Spivak, The John Hopkins University Press, Baltimore and London. Terj. Ridwan Muzir ARRUS Jogyakarta. 2003.

Lechte, John, 2001. 50 Filsuf Kontemporer: Dari Strukturalisme sampai Posmodernitas, terj. A. Gunawan Admiranto, Kanisius, Yogyakarta.

Magee, Bryan, 2008, The Story of Philosophy, Yogyakarta: Kanisius.

Piaget, Jean , 1995, Strukturalisme – Terjemahan oleh Hermoyo, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Suriasumantri, Jujun S., 2003.Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Sutrisno, Mudji, & Hendar Putranto,2005, Teori-teori Kebudayaan, Yogyakarta: Kanisius.

Tafsir, Ahmad, Prof. DR.  2009, Filsafat Umum Akal Hati sejak Thales sampai Capra, Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Zuharini, Dra.  dkk. , 1995, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta:: BumiAksara.

Kutipan-Kutipan diambil dari  karya ilmiah menelusuri jejak pemikiran Derrida, 29 Oktober 2011, http://jendelapemikiran.wordpress.com/2008/02/11/ /Jejak pemikiran Derrida.

[1]  K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama 1996), h. 176

[2] John Lechte, 50 Filsuf Kontemporer: Dari Strukturalisme sampai Posmodernitas, terj. A. Gunawan Admiranto(Yogyakarta: Kanisius, 2001), h. 15

[3] Lorens Bagus., Kamus Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 2000), h. 176

[4] Robert Audi., The Cambridge Dictionary of Philosophy, (USA: Cambridge University Press, 1995), h. 250

[5] Lorens Bagus.,… h. 180

[6] Ibid., h. 181

[7] Ibid.,

[8] Jacques Derrida,1976, Of Grammatology, terj. Gayatri Chakravorty Spivak, The John Hopkins University Press, Baltimore and London. Terj. Ridwan Muzir (Jogyakarta: ARRUS, 2003). h. 112

[9] Ibid, h. 185

[10] Mudji Sutrisno & Hendar Putranto., Teori-teori Kebudayaan, (Yogyakarta: Kanisius, 2005), h. 87

[11] Ibid., h.190

[12] Ibid., h.192

[13] Ibid.,

[14] Bryan Magee., The Story of Philosophy, (Yogyakarta: Kanisius, 2008), h. 92

[15] Mudji Sutrisno & Hendar Putranto., Teori-teori Kebudayaan,…, h. 90

[16] Jean Piaget., Strukturalisme – Terjemahan oleh Hermoyo, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995), h. 98

[17] Lorens Bagus., Kamus Filsafat,…., h. 180

[18] Bryan Magee., The Story of Philosophy,….., h. 101

[19] Robert Audi., The Cambridge Dictionary of Philosophy,…., h.99

[20] Lorens Bagus., Kamus Filsafat,…. , h. 120

[21] Ibid.,  h.121

[22] Ibid., h.124

[23] Jean Piaget., Strukturalisme – Terjemahan oleh Hermoyo,…, h. 103

[24] Robert Audi., The Cambridge Dictionary of Philosophy,…., h. 120

[25] Lorens Bagus., Kamus Filsafat,…., h. 109

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *