TAUHID DAN ILMU PENGETAHUAN

Oleh: Ibnu, ST.

 

  1. PENDAHULUAN

Islam –yang memiliki pondasi berupa tauhid (mengesakan Tuhan) – dan ilmu pengetahuan adalah dua hal yang seharusnya tidak boleh dipisahkan oleh umat Muhammad. Islam adalah agama yang akan membawa manusia menuju akhir yang baik dari perjalanan seorang manusia. Sedangkan ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk mengeksplore, menggali kekayaan yang tersembunyi di bumi ini.

Para pemikir islam, telah mengambil sikap untuk memadukan antara islam dan ilmu pengetahuan, yang diantara tujuannya adalah mengislamkan ilmu pengetahuan moderen dengan cara menyusun dan membangun ulang sains sastra, dan sains-sains pasti alam dengan memberikan dasar dan tujuan-tujuan yang konsisten dengan Islam. Setiap disiplin harus dituangkan kembali sehingga mewujudkan prinsip-prinsip Islam dalam metodologinya.

Gagasan untuk memadukan islam dengan ilmu pengetahuan telah tertuangkan secara sistematis dalam sebuah proyek besar yang disebut sebagai “Islamisasi Ilmu Pengetahuan”. Islamisasi ilmu pengetahuan (islamization of knowledge) merupakan sebuah ide atau gagasan yang muncul pada sekitar awal tahun 80-an. Ide atau gagasan ini pertama kali dicetuskan oleh Syed Naquib al-Attas dan dipopulerkan oleh Ismail R. al-Faruqi.

Dalam pandangan al-Faruqi berkenaan dengan langkah-langkah dalam islamisasi ilmu pengetahuan, dia mengemukakan ide islamisasi ilmunya berlandaskan pada esensi tauhid yang memiliki makna bahwa ilmu pengetahuan harus mempunyai kebenarannya.[1] Al-Faruqi menggariskan beberapa prinsip dalam pandangan Islam sebagai kerangka pemikiran metodologi dan cara hidup Islam. Prinsip-prinsip tersebut ialah:

  1. Keesaan Allah.
  2. Kesatuan alam semesta.
  3. Kesatuan kebenaran dan kesatuan pengetahuan.
  4. Kesatuan hidup.
  5. Kesatuan umat manusia.

Dalam makalah kali ini, yang ingin dibahas oleh penulis terkait hal tersebut bukan pada tataran praktis apa-apa saja yang perlu dilakukan dalam merealisasikan proyek besar tersebut, namun lebih pada mengungkapkan konsep dasar yang melandasinya, yaitu korelasi antara tauhid dengan ilmu pengetahuan, yang akan bermuara pada pernyataan “Keesaan Tuhan dan Kesatupaduan Kebenaran Ilmu Pengetahuan”[2], atau dengan kata lain, penulis menitikberatkan pemaparan dalam makalah ini pada nomer ketiga dari lima prinsip dasar ilmu pengetahuan, yaitu prinsip “Kesatuan kebenaran dan kesatuan pengetahuan”.

  1. PEMBAHASAN

B.1 Definisi

Tak diragukan lagi bahwa intisari islam adalah tauhid, sebuah komitmen yang menegaskan bahwa Allah itu Esa, pencipta mutlak lagi utama, Tuhan semesta alam. Menurut Ismail Raji al-Faruqi, tauhid ini adalah pengikat bagian-bagian islam, yang menjadikan semua bagian-bagian islam sebagai suatu badan yang integral dan organis yang kita sebut sebagai peradaban.[3] Dalam mengikat berbagai unsur, intisari peradaban –dalam kasus ini, tauhid- menciptakan mereka dengan polanya sendiri. Mencetak ulang semua bagian sehingga selaras dengan –dan saling mendukung- unsur lain. Tanpa harus mengubah watak bagian itu, intisari mengubah unsur-unsur yang membentuk peradaban itu, memberikan mereka watak baru sebagai pembentuk peradaban itu. Tingkat perubahan bervariasi, dari yang ringan sampai radikal, bergantung pada bagaimana hubungan intisarinya dengan unsur-unsur yang berbeda dan fungsi-fungsinya. Hubungan ini terlihat jelas dalam pikiran orang muslim yang mengamati fenomena peradaban. Itulah sebabnya mereka menjadikan tauhid sebagai judul dari karya mereka yang sangat penting, dan mereka menempatkan semua subjek di bawah naungannya. Mereka memandang tauhid sebagai prinsip dasar yang mencakup atau menentukan prinsip lainnya; dan mereka menemukan dalam tauhid mata air, sumber pokok yang menentukan semua fenomena peradaban islam.

Secara sederhana, tauhid adalah keyakinan dan kesaksian bahwa “tak ada Tuhan kecuali Allah”. Penafian ini, yang sangat ringkas, memberikan makna sangat kaya dan agung dalam keseluruhan Islam.[4] Kadang-kadang seluruh kebudayaan, seluruh peradaban, atau seluruh sejarah terpadatkan dalam satu kalimat. Inilah kasus dalam kalimat atau syahadat (kesaksian) Islam. Semua keanekaragaman, kekayaan dan sejarah, kebudayaan dan pengetahuan, kearifan dan peradaban Islam terpadatkan dalam kalimat pendek ”Lâ ilâha illallâh”.

Sementara ilmu, oleh Imam al-Mahalli didefinisikan sebagai “pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana hakikatnya”[5]. Beliau mencontohkan ilmu ini seperti pengetahuan seseorang yang mendefinisikan manusia sebagai “hayawân an-nâthiq” (hewan berakal). Dari pengertian tersebut, bisa kita pahami bahwa yang disebut sebagai ilmu dalam Islam ialah pengetahuan tentang sesuatu menurut hakikatnya, atau dalam istilah mantiq, ialah pengetahuan yang berasal dari “natijah” tepat dari “muqaddimah kubra” (premis mayor) dan “muqaddimah shughra” (premis minor) yang sama-sama tepat pula.[6] Adapun yang dijadikan sebagai alat untuk menganalisa ketepatan pengetahuan tersebut ialah akal yang sehat.[7] Lebih lanjut, dalam ilmu manthiq disebutkan bahwa sebuah pengetahuan dapat dikategorikan sebagai “ilmu” ialah ketika diiringi dengan sebuah keyakinan.[8]

Selanjutnya, bagaimana antara tauhid dan ilmu pengetahuan berkorelasi sehingga membentuk pondasi agama islam yang kuat, akan kami paparkan pada penjelasan-penjelasan berikutnya.

B.2 Studi Perbandingan Tauhid Islam Dengan “Iman” Kristen Dan Skeptisisme

Dalam sejarahnya, keyakinan agama kristen yang berpusat pada gereja sebagai sebuah lembaga, pernah memiliki wibawa yang sangat besar dalam menentukan kebenaran. Tradisi ini bermula sejak meredupnya peradaban Yunani yang disambung dengan beralihnya kiblat peradaban di romawi, dimana pada saat itu, Santo James dan Santo Petrus bersama-sama membangun sebuah pondasi teologi yang dalam perkembangannya menentukan pola pikir pengetahuan masyarakat, hingga kemudian muncul paham skeptisisme yang diawali oleh filosof Rene Descartes.[9]

Pandangan skeptisisme ini berkembang sangat pesat hingga menjadi sebuah pandangan dominan bagi dunia, terutama di Barat, yang dianut oleh kaum terpelajar maupun orang-orang awam yang mengaku terpelajar. Pandangan ini menjadi dominan dikarenakan terutama oleh keberhasilan sains yang dianggap sebagai kemenangan pemikiran empiris atas pemikiran keagamaan, yang diwakili oleh gereja pada saat itu.[10]

Setelah kemenangan mudah ilmu pengetahuan (sains) atas dogma gereja[11], kaum empiris menganggap bahwa gereja tidak lagi memiliki wibawa untuk menentukan kebenaran, karena pandangannya yang dogmatis, yang menyatakan proposisi-proposisi tertentu sebagai kebenaran tanpa terlebih dahulu mengujinya secara empiris dan menyeledikinya secara kritis.

Kemenangan ini tak ayal membuat kaum empiris bertindak berlebihan dengan melakukan generalisasi ganda bahwa karena semua pengetahuan keagamaan bersifat dogmatis, maka setiap dan semua kebenaran haruslah dicari dengan jalan empiris, dan ditetapkan konfirmasi kebenarannya oleh pengamatan inderawi, sebagaimana yang didapatkan oleh eksperimen terkontrol. Informasi (khobar) apapun yang tanpa melewati proses demikian, menurut mereka, kebenarannya pantas diragukan sehingga bisa dinyatakan salah.

Dalam analisa mereka, dogma adalah kesetiaan pada pandangan yang diketahui tidak dapat dikonfirmasikan dalam pengalaman, dan dengan demikian kebenarannya tidak diketahui dan tidak mungkin diketahui. Konsekuensinya, faith (iman dalam pengertian kristen) adalah suatu tindakan, suatu keputusan dengan mana seseorang berketetapan untuk menerimanya sebagai sebuah kebenaran meski hal itu merupakan sesuatu yang sama sekali tidak bisa dimengerti.

Hal semacam ini menurut al-Faruqi menyebabkan seorang muslim tidak boleh menyatakan keimanannya sebagai belief (kepercayaan) ataupun faith.[12] Jika digunakan dalam pengertian umum, istilah-istilah bahasa inggris ini sekarang mengandung implikasi ketidakbenaran, kemungkinan keraguan dan kecurigaan. Lebih lanjut menurutnya, istilah-istilah tersebut hanya memiliki kesahihan jika dikenakan pada seseorang atau kelompok tertentu. Bahkan dalam keadaan ini, istilah-istilah tersebut hanya berarti bahwa orang atau kelompok yang bersangkutan menganggap suatu proposisi tertentu sebagai kebenaran. Istilah-istilah tersebut tidak pernah berarti bahwa proposisi tersebut adalah benar.

Dengan demikian, jelas bahwa istilah ini merupakan kebalikan dari istilah iman. Iman merupakan istilah yang diambil dari kata amn atau keamanan, yang berarti bahwa proposisi-proposisi yang diajukannya sungguh-sungguh benar, dan bahwa kebenaran mereka telah dimiliki (yakni dipahami dan diterima) oleh pikiran. Dalam bahasa Islam –yakni Arab-, seseorang dapat dikatakan kadzib atau munafiq, artinya, pembohong atau penipu; tetapi iman tidak mungkin lancung dalam arti bahwa obyeknya tidak ada atau sebaliknya dari apa yang dikemukakannya. Inilah sebab kenapa dalam teologi Islam, iman diidentikkan dengan yaqin. Sebelum adanya yaqin, orang mungkin menyangkal atau mempertanyakan kebenaran. Tetapi setelah yaqin tersebut ada, maka kebenaran menjadi sama kukuh dan meyakinkannya seperti kesaksian inderawi. Iman, dengan demikian berarti “kepastian” yang secara mutlak bebas dari keraguan yang bersumber pada kemungkinan, terkaan dan ketidakpastian. Ia merupakan sesuatu yang terbangun dalam diri manusia, ketika kebenaran terbuka bagi mata hatinya dan meyakinkannya tanpa keraguan lagi akan kebenarannya dan berimplikasi pada tindakan, keputusan, ketetapan hati untuk menerima dan menaruh kepercayaan.

Berbeda dengan faith / believe kristen, iman Islam adalah kebenaran yang mudah diberikan kepada pikiran, bukan kepada perasaan manusia yang mudah mempercayai apa saja. Kebenaran-kebenaran, atau proposisi-proposisi dari iman bukanlah misteri-misteri, hal-hal yang sulit dipahami, tidak diketahui dan tidak masuk akal; melainkan bersifat kritis dan rasional. Kebenaran-kebenaran atau proposisi-proposisi tersebut telah dihadapkan pada ujian keraguan dan lulus dalam keadaan utuh dan ditetapkan sebagai kebenaran. Mereka tidak perlu dibela atau dimohon-mohonkan untuk diterima. Siapa pun yang mengakui mereka sebagai kebenaran adalah orang yang bernalar; siapa yang berkeras menyangkal atau meragukannya berarti tak sanggup menalar. Hal ini tidak berlaku bagi iman Kristen, sebagaimana definisi iman Kristen itu sendiri, tetapi lain dengan iman Islam, ia malah merupakan suatu deskripsi yang musti. Inilah sebab Allah swt melukiskan kebenaran Islam sebagai:

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا [الإسراء : 81]

Dan Katakanlah: “Yang benar Telah datang dan yang batil Telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.

B.3 Iman, Sebuah Kebenaran Rasional

Sebelum membahas tentang iman sebagai sebuah kebenaran rasional, layak kiranya jika dipaparkan terlebih dahulu tentang tauhid sebagai aspek estetis, dimana Tauhid berarti menyingkirkan Tuhan dari segenap bidang alam. Segala yang diciptakan adalah makhluk, nontransenden, tunduk kepada hukum ruang dan waktu. Tuhan tak mungkin terjerat dalam dimensi yang demikian. Dia bukan ciptaan, sama sekali bukan alam. Tak ada yang menyerupai-Nya, tak ada yang dapat mewakili-Nya. Secara definisi Dia tak tergambarkan.

Menurut al-Faruqi, yang dimaksud dengan pengalaman estetis adalah pengalaman inderawi akan intisari a priori dan meta-natural yang bertindak sebagai prinsip normatif objek yang dilihat. [13]Pengalaman ini adalah apa seharusnya objek itu, sebagaimana terjelaskan dalam definisi ilmu. Semakin dekat objek yang terlihat pada intisari itu, semakin indah objek itu. Hal ini selaras dengan teori wijdani seperti dikemukakan oleh Imam al-Ghazali yang berarti bahwa sebuah pengetahuan bisa didapatkan hakikatnya dengan merasakan sendiri pengalaman akan sesuatu tersebut.[14]

Diselaraskan dengan pemaparan sebelumnya, iman merupakan penggabungan antara pengalaman estetis sekaligus merupakan suatu kategori kognitif; artinya ia berhubungan dengan pengetahuan, dengan kebenaran proposisi-proposisinya.[15] Dan karena sifat dari kandungan proposisionalnya sama dengan sifat dari prinsip pertama logika dan pengetahuan, metafisika, etika dan estetika, maka dengan sendirinya dalam diri subyek ia bertindak sebagai cahaya yang menyinari segala sesuatu. Iman ialah suatu visi yang menempatkan semua data dan fakta dalam perspektif yang sesuai dengan –dan perlu bagi- pemahaman yang benar atas mereka.[16] Ia adalah dasar bagi suatu penafsiran yang rasional atas alam semesta.

Sebagai prinsip utama akal, iman tidak mungkin bersifat non-Rasional atau irasional, karena jika demikian yang terjadi, maka berarti ada saling kebertentangan dalam dirinya sendiri. Iman benar-benar merupakan prinsip pertama rasionalitas. Mentangnya berarti menggelincirkan diri dari penalaran yang bisa berakibat dari kemanusiaaan.

Pengertian tauhid sebagai pengakuan atas kebenaran ke-Esaan Allah berimplikasi bahwa semua keberatan, semua keraguan, dapat diacukan kepada-Nya; bahwa tidak ada pernyataan yang tidak boleh diuji; yang tidak boleh dinilai secara pasti. Tauhid adalah pengakuan bahwa kebenaran bisa diketahui, bahwa manusia mampu mencapainya.

Skeptisisme yang menyangkal kebenaran ini adalah kebalikan dari Tauhid. Ia muncul dari lemahnya keberanian untuk melakukan pencarian kebenaran hingga titik puncaknya. Sebagai prinsip epistemologis, ia merupakan saran dari rasa keputusasaan, yang disandarkan pada asumsi apriori bahwa manusia hidup dalam impian yang kekal dimana tidak ada realitas yang akan pernah bisa dibedakan dari non-realitas. Ia tidak dapat dipisahkan dari nihilisme, atau pengingkaran terhadap nilai-nilai. Sebab, kesadaran akan nilai menuntut pengakuan nahwa manusia bisa mencapai kebenaran nilai-nilai.

B.4 Keesaan Tuhan Dan Kesatupaduan Kebenaran

Mengakui Ketuhanan Tuhan dan keesaan berarti mengakui kebenaran dan kesatupaduannya. Keesaan Tuhan dan kesatupaduan kebenaran tidak dapat dipisahkan. Keduanya merupakan aspek-aspek dari satu realitas yang sama. Ini akan menjadi jelas jika kita ingat bahwa kebenaran adalah satu sifat dari pernyataan tauhid, yaitu bahwa Tuhan itu Esa. Sebab, jika kebenaran itu tidak satu, maka pernyataan “Tuhan itu Esa” akan bisa dibenarkan, dan pernyataan “sesuatu benda dan kekuatan lain adalah (juga) Tuhan”. Dengan mengatakan bahwa kebenaran itu satu, dengan sendirinya menegaskan bahwa Tuhan itu satu, dan tidak ada tuhan lain selain Tuhan, yang merupakan gabungan dari penafian dan penegasan yang di­nyatakan oleh syahadah.La ilaha illa Allah, tidak ada Tuhan selain Allah.

Sebagai prinsip metodologi, tauhid terdiri dari tiga prinsip:

  1. Pertama, penolakan terhadap segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan realitas;
  2. Kedua, penolakan kontradiksi-kontradiksi hakiki;
  3. ketiga, keterbukaan bagi bukti yang baru dan / atau yang bertentang­an.

Prinsip yang pertama meniadakan dusta dan penipuan dalam Islam, karena prinsip ini menjadikan segala sesuatu dalam agama ter­buka untuk diselidiki dan dikritik. Penyimpangan dari realitas, atau kegagalan untuk mengkaitkan diri dengannya, sudah cukup untuk membatalkan sesuatu item dalam Islam, apakah itu hukum, prinsip etika pribadi atau sosial, atau pernyataan tentang dunia. Prinsip ini melindungi kaum Muslim dari opini, yakni dari tindakan membuat pernyataan yang tak teruji dan tidak dikonfirmasikan, mengenai pengetahuan. Pernyataan yang tidak dikonfirmasi, menurut al- Qur’an, adalah zhann, atau pengetahuan yang menipu, dan dilarang oleh Tuhan. Sekecil apa pun obyeknya. Seorang Muslim dapat didefinisikan sebagai orang yang tidak menyatakan apa-apa kecuali kebenaran, yang tidak mengemukakan apa-apa kecuali kebenaran, sekalipun dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri. Menyembunyi­kan, mencampurkan kebenaran dengan kesesatan, menilai kebenaran lebih rendah dari kepentingan sendiri atau kepentingan sanak kerabat dalam Islam sangat dibenci dan juga dikutuk.

Prinsip kedua, yaitu tidak ada kontradiksi yang hakiki, me­lindunginya dari kontradiksi di satu pihak, dan dari paradoks di lain pihak. Prinsip ini merupakan esensi dari rasionalisme. Tanpa itu, n.kik ada jalan untuk lepas dari skeptisisme; sebab suatu kontradiksi yang hakiki mengandung arti bahwa kebenaran dari masing-masing unsur kontradiksi tidak akan pernah dapat diketahui.

Prinsip ketiga, Tauhid sebagai sebuah kesatuan kebenaran, yaitu keterbukaan terhadap bukti baru dan / atau yang bertentangan, melindungi kaum muslim dari literalisme, fanatisme dan konservatisme yang mengakibatkan kemandegan.

B.5 Kebenaran Wahyu Dan Akal

Menurut al-Faruqi, kebenaran wahyu dan kebenaran akal itu tidak bertentangan tetapi saling berhubungan dan keduanya saling melengkapi. Karena bagaimanapun, kepercayaan terhadap agama yang di topang oleh wahyu merupakan pemberian dari Allah dan akal juga merupakan pemberian dari Allah yang diciptakan untuk mencari kebenaran. Syarat-syarat kesatuan kebenaran menurut al-Faruqi yaitu: pertama, kesatuan kebenaran tidak boleh bertentangan dengan realitas sebab wahyu merupakan firman dari Allah yang pasti cocok dengan realitas. Kedua, kesatuan kebenaran yang dirumuskan, antara wahyu dan kebenaran tidak boleh ada pertentangan, prinsip ini bersifat mutlak. Dan ketiga, kesatuan kebenaran sifatnya tidak terbatas dan tidak ada akhir. Karena pola dari Allah tidak terhingga, oleh karena itu diperlukan sifat yang terbuka terhadap segala sesuatu yang baru.[17]

B.6 Menuju Interelasi Ilmu dalam Islam

Sebenarnya manusia tidaklah memiliki pengetahuan sama sekali, yang memiliki hanyalah Allah. Ketika Allah menggelarkan al-Qur’an dan Alam semesta di hadapan manusia, maka manusia dengan sendirinya ditutut untuk mendapatkan pengetahuan tentang-Nya. Sehingga, ketika seseorang akan melakukan pembacaan, penelitian, dan menemukan sebuah hukum atau teori, semua itu dilakukan atas dasar lillahi ta’ala. Baginya, segala kegiatan keilmuan yang dilakukan atas nama Allah yang telah menciptkan manusia dan telah mengajar manusia segala sesuatu (QS. Al-Alaq : 1, 2, dan 5).

Bagi illmuan Muslim, semestinya tidak mendasarkan kegiatan ilmiahnya semata-mata bersifat kognitif dan skill an sich, melainkan kesemuanya dilakukan atas dasar niat dan motivasi intrinsiknya yang keluar dari hati nurani (conscience) yang paling dalam untuk memenuhi aturan-aturan Allah. Sehingga atara science dan con-science merupakan satu kesatuan dan totalitas yang bermuara pada jiwa rabbaniyyat. (QS. Ali Imran : 79). Ketika mengembangkan dan menggali konsep teoritis dan praksis, semestinya tidak hanya berhenti pada the fact tetapi juga the fact behind the fact, pada saat mengemukakan makna ruhani atau metafisika pada setiap pernyataan fisika.

Prinsip Tauhidiiyah ini, tidak memisahkan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai moral religius. Antara ilmu dan etika, kesemuanya adalah satu kesatuan mutlak. Ilmu dan aktivitas keilmuan merupkan manifestasi dari pengabdian manusia kepada Tuhan. Tidak ada batas antara ilmu dan amal, tidak ada hijab antara ilmu dengan iman.

Implikasinya, seorang berilmu pengetahuan memiliki komitmen terhadap Tuhannya, sekaligus menerima sepenuh hati hukum moral yang diberikan-Nya. Sehingga ia tumbuh sebagai insan yang mencintai perdamaian, dapat hidup selaras, stabil dan berbudi, yakin sepenuhnya akan kemurahan Tuhan yang tidak terbatas, keadilan-Nya yang tidak ada tandingannya, dan hidup dalam harmoni dengan alam.

Dengan demikian, selain makhluq rasional, manusia adalah makhluq spritual, yang mengapresiasikan “titah” Tuhan sebagai khalifah fil ardl, yang memiliki kekuasaan tidak terbatas untuk mengontrol dan mengatur alam semesta berdasarkan otoritas Tuhan, yang mampu menghadirkan Tuhan dalam kesadarannya disetiap saat, dalam ketakjuban pada keindahan, kedahsyatan dan keharmonisan alam semesta, yang mendasarkan setiap aktivitasnya pada sinaran “nama-nama” Tuhan. Pemahaman interelasi antara Tuhan, manusia, dan alam semesta, menjadi sebuah kesadaran mutlak bagi pendidikan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

Prinsip ini mirip dengan sebutan Chalen E. Westate sebagai “Spritual Welness”, yang diartikan sebagai suatu perwujudan pribadi yang tercermin dalam keterbukaan terhadap dimensi kehidupan lainnya. Selanjutnya ia mengemukakan bahwa ada empat dimensi “Spritual Welness” ini, (1), Meaning of Life, yaitu berkemampuan untuk mewujudkan dirinya secara bermakna dalam setiap dimensi hidup secara terpadu dan utuh. (2), Intrinsik Value, yaitu memiliki nilai-nilai intrinsik sebagai perpaduan berprilaku. (3) Trancendence, yakni berkemampuan untuk mentransendensikan atau melakukan hubungan dengan dimensi yang lebih luas dan luhur. Dan (4), Community of Shared Values and Support, adalah berkemampuan dalam melakukan hubungan kemasyarakatan dengan dukungan nilai-nilai bersama.

  1. KESIMPULAN
  1. Kesatuan kebenaran dan kesatuan pengetahuan -yang merupakan prinsip ketiga dari lima prinsip proyek Islamisasi Ilmu pengetahuan- adalah pijakan dasar dari konsep Keesaan Tuhan dan Kesatupaduan Kebenaran Ilmu Pengetahuan”
  2. Iman dalam Islam merupakan sebuah keyakinan yang membuat kebenaran iman sama kukuhnya dengan kesaksian inderawi, bahkan lebih. Ini sangat berbeda dengan “iman” kristen, dan beda pula dengan filsafat skeptisisme
  3. Iman merupakan penggabungan antara pengalaman estetis sekaligus sebuah kategori kognitif yang berarti berhubungan dengan pengetahuan.
  4. Keesaan Tuhan dan Kebersatupaduan Kebenaran ialah penegasan akan keesaan Tuhan dan tunggalnya kebenaran yang berimplikasi pada pernyataan bahwa Tuhan itu satu, dan tidak ada Tuhan selain-Nya.
  5. Antara kebenaran wahyu dan kebenaran akal tidak ada saling bertentangan, bahkan saling melengkapi.
  6. Antara ilmu dan etika, kesemuanya adalah satu kesatuan mutlak. Ilmu dan aktivitas keilmuan merupkan manifestasi dari pengabdian manusia kepada Tuhan. Tidak ada batas antara ilmu dan amal, tidak ada hijab antara ilmu dengan iman.

 

Daftar Pustaka

Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan terjemahannya.

___________ & Al-Faruqi, Lois Lamya, Atlas Budaya Islam; Menjelajah Peradaban khazanah Gemilang, Terj. Ilyas Hasan (Bandung : Mizan, 1998, cet, ke-1)

Al-Buraikan, Ibrahim Muhammad bin Abdullah, Pengantar Studi Aqidah Islam, terj. Muhammad Anis Matta (Jakarta : Rabbani Press & Al-Manar, 1998, cet. Ke-1)

Al-Faruqi, Ismail Raji, Tauhid, Terj. Rahmani Astuti (Bandung : Pustaka, 1988, cet. ke-1)

Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad, Ihya Ulum al-Dîn (Beirut : Dar al-kutub al-‘Ilmiyyah, 2004)

Hasim, Rosnani, Gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer: “Sejarah, Perkembangan, dan Arah Tujuan” (Islamia, THN II NO.6, Juli-September, 2005)

Al-Mahalli,Jalaluddin, Syarh al-Waraqât (Surabaya : Al-Hidayah, tt)

Nur al-Ibrahimy, Muhammad, ‘Ilmu al-Manthiq (Surabaya : Maktabah Sa’d bin Nashir Nabhan, tt)

Russel, Bertrand, Sejarah Filsafat Barat, terj. Sigit Jatmiko, dkk (Yogyakarta : pustaka Pelajar, cet. Ke-2)

WM, Abdul Hadi, “Semangat Profetik dalam Sastra Sufi dan Jejaknya dalam Sastra Modern” dalam Horison, no 6, tahun XXII, Juni 1998

 

 

[1] Rosnani Hasim, Gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer: “Sejarah, Perkembangan, dan Arah Tujuan” (Islamia, THN II NO.6, Juli-September, 2005) hal. 36

[2] Ismail Raji al-Faruqi, Tauhid, Terj. Rahmani Astuti (Bandung : Pustaka, 1988, cet. ke-1), hal. 44

[3] Ismail Raji al-Faruqi & Lois Lamya al-Faruqi, Atlas Budaya Islam; Menjelajah Peradaban khazanah Gemilang, Terj. Ilyas Hasan (Bandung : Mizan, 1998, cet, ke-1), hal. 109

[4] Ibid

[5] Jalaluddin al-Mahalli, Syarh al-Waraqât (Surabaya : Al-Hidayah, tt), hal. 5

[6] Muhammad Nur al-Ibrahimy, ‘Ilmu al-Manthiq (Surabaya : Maktabah Sa’d bin Nashir Nabhan, tt), hal. 73

[7] Ibrahim Muhammad bin Abdullah al-Buraikan, Pengantar Studi Aqidah Islam, terj. Muhammad Anis Matta (Jakarta : Rabbani Press & Al-Manar, 1998, cet. Ke-1), hal. 53

[8] Nur al-Ibrahimy, ‘Ilmu al-Manthiq, hal. 7

[9] Bertrand russel, Sejarah Filsafat Barat, terj. Sigit Jatmiko, dkk (Yogyakarta : pustaka Pelajar, cet. Ke-2), hal. 436

[10] Al-Faruqi, Tauhid, hal. 40

[11] Diantara kemenangan sains terhadap dogma gereja ialah terbuktinya kebenaran pandangan bahwa bumi bukanlah pusat alam semesta, suatu hal yang diyakini kebenarannya oleh dogma gereja. Lihat : Russell, “Sejarah Filsafat Barat”, hal. 632

[12] Al-Faruqi, Tauhid, hal. 41

[13] Al-Faruqi, Atlas Budaya, hal. 122

[14] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ihya Ulum al-Dîn (Beirut : Dar al-kutub al-‘Ilmiyyah, 2004), Juz I, hal. 95

[15] Al-Faruqi, Tauhid, hal. 43

[16] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Al-munqidz min al-Dhalal (Damaskus : University Press, 1956), hal. 62-63

[17] Ibid; p. 40-41

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *