TAUHID DAN PRINSIP ILMU PENGETAHUAN

Dalam percakapan sehari-hari istilah ‘ilmu’ dan ‘ilmiah’ mempunyai penghargaan yang tinggi karena dianggap objektif, pasti, benar, tidak diragukan, dapat dipertanggung jawabkan. Pemahaman kembali terhadap hakikat ilmu pengetahuan sangat penting mengingat kehidupan umat manusia dewasa ini sedang berada dalam suatu ironi di mana kemiskinan. Kelaparan dan kebodohan belum juga segera teratasi. Jarak antara yang kaya dan yang miskin semakin tajam. Keadilan dan kejujuran semakin menjadi langka, serta kebenaran semakin mudah direkayasa di tengah-tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Fakta-fakta kemanusiaan ini tidak sejalan dengan cita-cita ilmu pengetahuan, karena semula ilmu pengetahuan dan teknologi itu dikembangkan justru demi upaya pembebasan dan memudahkan manusia dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah hidup mereka.

Berkaitan dengan pembahasan mengenai hakikat ilmu dalam Islam ini dapat dilihat dari tiga nilai ilmu pengetahuan itu sendiri, yaitu dari nilai ontologi, epistemologi, dan aksiologinya.

Nilai ontologi Tauhid sebagai pusat kesadaran ilmiah, yaitu tauhid sebagai prinsip yang paling utama dalam ajaran Islam memiliki implikasi yang sangat luas bagi keseluruhan pola dan tata cara hidup masyarakat muslim. Dia bukan saja menjadi kerangka keimanan bagi umat Islam terhadap Allah, tetapi juga merupakan kerangka pemikiran dalam menemukan hakikat kebenaran mengenai segala yang ada di alam semesta ini pada seginya yang abstrak, potensial, maupun yang konkret. Dengan demikian, tauhid sebagai kerangka pemikiran merupakan suatu dimensi filosofis tersendiri yang sangat relevan dalam usaha memahami hakikat ilmu pengetahuan.

Dalam buku al-Tawhīd Its Implications for Thought and Life, al-Faruqi menyatakan bahwa esensi peradaban Islam adalah Islam dan esensi Islam adalah tauhid—suatu afirmasi atau pengakuan bahwa Allah adalah Yang Maha Esa, Pencipta yang Mutlak, Transenden, dan Penguasa alam semesta.[1] Di dalam buku ini dijelaskan bahwa prinsip-prinsip tauhid salah satunya adalah tauhid sebagai prinsip pengetahuan.

Dalam hal ini ada empat poin utama yang ditekankan oleh al-Faruqi, yakni: Tauhid meniadakan keraguan skeptisisme dan “iman” kristen; iman sebagai suatu gneseologis; kesatupaduan Tuhan dan kebenaran; serta toleransi.

Perkataan tauhid sudah tidak asing lagi bagi pemeluk Islam. kata-kata itu merupakan kata benda kerja aktif, yang berasal dari asal kata ‘wahid’ yang artinya satu atau esa. Maka makna harfiah tauhid adalah menyatukan atau mengesakan. Bahkan dalam makna generiknya juga digunakan untuk arti mempersatukan hal-hal yang terserak-serak atau terpecah-pecah, seperti misalnya penggunaan dalam bahasa Arab ‘tauhid al-kalimah’, yang kurang lebih artinya mempersatukan paham, dan dalam ungkapan ‘tauhid al-quwwah’ yang berarti mempersatukan kekuatan.[2]

Sebagai istilah teknis dalam ilmu kalamyang diciptakan oleh para mutakallimin, kata-kata tauhid dimaksudkan sebagai paham ‘me-Maha-Esa-kan Tuhan’atausecara lebih sederhana, paham ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’, atau monoteisme. Meskipun bentuk harfiah makna kata-kata tauhid itu sendiri tidak terdapat dalam kitab social-Qur’an, namun istilah ciptaan kaum mutakallimin itu memang secara tepat mengungkapkan isi pokok ajaran kitab suci itu, yaitu ajaran tentang ‘meng-Esakan Tuhan’. Bahkan kata-kata tauhid juga secara tepat menggambarkan inti ajaran semua Nabidan Rasul Thuahn, yang mereka itu telah diutus untuk setiap kelompok manusia di bumi sampai tampilnya Nabi Muhammad s.a.w., yaitu ajaran Ketuhanan Yang Maha Esa.[3]

Menurut Nurcholish Madjid, percaya kepada Allah tidaklah dengan sendirinya berarti tauhid.[4] Hal itu bisa disimpulkan dari sejarah bangsa Arab jahiliyah. Orang Arab sebelum Islam pun suda mengenal akan adanya Allah. Mereka juga percaya bahwa Allah-lah yang menciptakan alam raya, dan yang menurunkan hujan. Meski begitu, mereka tidak bisa dinamakan kaum beriman, dan karenanya juga tidak disebut sebagai kau bertauhid. Sebaliknya mereka disebut sebagai kaum yang mempersekutukan atau memperserikatkan Tuhan. Padahal mereka mengetahui dan sadar betul bahwa sekutu atau pemeran serta dalam keilahian Tuhan itu juga ciptaan Tuhan belaka, bukan Tuhhan itu sendiri, melainkan makhluk seperti manusia. Karena pengertian orang-orang Arab pra-Islam itu tentang Allah masih penuh dengan mitologi.[5]

  1. TAUHID MENIADAKAN KERAGUAN SKEPTISISME DAN “IMAN” KRISTEN
  2. Skeptisisme

Skeptisisme berasal dari bahasa Yunani “skeptesthai” yang berarti menguji, menyelidiki, mempertimbangkan. Ia merupakan pandangan filosofis yang mengatakan bahwa mustahil bagi manusia untuk mengetahui segala sesuatu secara absolut.[6] Kaum skeptis selalu meragukan setiap klaim pengetahuan, karena memiliki sikap tidak puas dan masih mencari kebenaran.[7] Sikap tersebut didorong oleh menyebarnya rasa ketidaksepakatan yang tiada akhir terhadap sebuah isu fundamental.[8] Jadi skeptisisme sangat erat kaitannya dengan sikap keragu-raguan terhadap segala sesuatu.

Teori skeptisisme yang kedua adalah tesis bahwa tidak ada sesuatu yang pasti. Tesis ini dikembangkan oleh kaum skeptis akademik.[9] Menurut mereka, informasi terbaik yang bisa diambil hanyalah sebuah kemungkinan, dan harus dihukumi berdasarkan kemungkinan juga.[10] Doktrin skeptisisme seperti ini juga diperkuat oleh David Hume (1711-1776 M). Ia melihat bahwa, asumsi yang pasti, seperti hubungan antara sebab dan akibat, hukum-hukum alam, eksistensi Tuhan dan jiwa, semuanya berada jauh dari kepastian. Hal itu disebabkan karena pengetahuan manusia tentang hal-hal di atas, yang kelihatannya mengandung unsur kepastian, ternyata berdasarkan pada pengamatan dan kebiasaan belaka, yang pada hakekatnya berlawanan dengan logika.[11] Keterbatasan pengamatan dan kebiasaan manusia itulah yang menjadi penghalang untuk mencapai sebuah kepastian.

Ajaran skeptisisme yang ketiga adalah, keharusan untuk menjadikan manusia sebagai ukuran segala sesuatu (man is the measure of all things).[12] Dengan menjadikan manusia sebagai pusat ukuran dalam menjustifikasi segala sesuatu, maka tidak ada lagi pengetahuan yang disepakati secara bersama. Semuanya hanya pandangan seseorang/individu saja. Bahkan menurut Gorgias (485-380 SM), “….nothing exists; and if something did exist, it could not be known; and if it could be known, it could not be communicated.” Karena yang menilai segala sesuatu adalah manusia, maka sebenarnya pengetahuan itu tidak ada. Jikapun ada maka ia tidak bisa dipaksakan kepada orang lain.[13]

Teori skeptisisme yang keempat adalah keharusan untuk selalu menghindarkan diri dari kegiatan penilaian terhadap sesuatu yang terjadi. Ajaran ini bisa dilacak dari sekolah Pyrrho (360-272 SM). Ia dan muridnya Timon (315-225 SM) dianggap sebagai bapak skeptisisme Yunani. Menurutnya, memberikan penilaian terhadap sesuatu hanya akan menyebabkan kesedihan dan gangguan mental. Kaum Pyrrhonis menganggap bahwa filosuf dogmatis dan akademis dua-duanya tidak benar. Kelompok yang pertama mengatakan bahwa sesuatu (pengetahuan) itu bisa diketahui, sedangkan kelompok yang lain berpendapat bahwa tidak ada sesuatu yang bisa diketahui. Sebagai alternatif, Pyrrhonis mengajukan sebuah sikap lain yaitu menafikan penilaian terhadap keduanya, terkait dengan pertanyaan apakah sesuatu (pengetahuan) itu bisa diketahui atau tidak. Sikap skeptis seperti ini kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Sextus Empiricus untuk menjatuhkan argumen-argumen yang disusun oleh kaum skeptis akademis semisal Arcesilas, Carneades, dan Aenesidemus. Sikap seperti itu, menurut Sextus, ditujukan untuk membimbing manusia pada keadaan ataraxia; sebuah keadaan dimana manusia mencapai ketenangan yang hakiki. Pada tahap ini, para Pyrrhonis hidup tanpa sebuah dogma.[14]

Ajaran skeptisisme yang kelima adalah, untuk membangun sebuah pengetahuan, diperlukan sikap ragu yang kuat terhadap segala sesuatu. Teori ini dikemukakan oleh filosuf Prancis Rene Descartes (1596-1650 M). Ia berpendapat bahwa jika manusia selalu meragukan (kebenaran) sesuatu, maka di saat bersamaan, ia akan menemukan sesuatu yang tidak diragukan. Sikap seperti ini juga digunakan untuk meragukan kebenaran semua keyakinan, yang dengannya akan ditemukan sebuah kebenaran yang pasti. Metode inilah yang terkenal dengan sebutan cogito ergo sum (saya berfikir, maka saya ada).[15]

Ajaran skeptisisme yang keenam adalah “pengetahuan obyektif itu tidak pernah ada.” Pandangan ini dikembangkan oleh filosuf Jerman, Friedrich Nietzsche (1844-1900 M)[16] yang diamini tokoh-tokoh postmodernisme lainnya semisal Martin Heideger, Michel Foucault, Jacques Derrida, Jean-Francois Lyotard, dan Richard Rorty. Mereka melihat bahwa ilmu pengetahuan, sebagai aktivitas manusia, harus dijustifikasi berdasarkan pada peranannya untuk kehidupan dan bukan pada standar “benar” atau “salah”, karena menurut mereka, standar untuk menilai sebuah ilmu pengetahuan itu tidak ada.[17] Pandangan seperti ini juga diikuti oleh seorang filosuf Prancis Jean-Paul Sartre (1905-1980 M), dan filosuf Amerika George Santayana (1863-1952 M). Menurutnya, semua keyakinan –sebagai manifestasi dari pengetahuan obyektif– bersifat irrasional.[18] Dari sini terlihat bahwa obyektivitas sebuah pengetahuan itu telah mati.

Skeptisisme yang memiliki sejarah panjang sejak zaman klasik hingga postmodern, memiliki teori-teori yang beragam. Pertama, ajaran untuk meragukan kebenaran dari setiap pengetahuan. Karena pengetahuan itu berada dalam ruang sejarah di dunia yang selalu berubah, sehingga tidak ada kebenaran tetap di dalamnya.[19] Kedua, tesis bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu yang pasti, semuanya hanya kemungkinan saja.[20] Bahkan menurut Hume (1711-1776 M), asumsi yang pasti seperti hubungan antara sebab dan akibat, hukum-hukum alam, eksistensi Tuhan, semuanya jauh dari kepastian.[21] Ketiga, keharusan untuk menjadikan manusia sebagai ukuran segala sesuatu (man is the measure of all things).[22] Implikasinya, tidak ada lagi pengetahuan yang disepakati bersama, karena semuanya hanya pandangan manusia, yang jumlahnya sebanyak jumlah manusia itu sendiri. Keempat, keharusan untuk selalu menghindarkan diri dari kegiatan penilaian terhadap sesuatu. Sikap seperti ini menurut Sextus ditujukan untuk mencapai keadaan ataraxia, yaitu sebuah ketenangan yang hakiki yang hanya bisa didapat jika manusia hidup tanpa dogma.[23] Kelima, diperlukan sikap ragu yang kuat untuk membangun sebuah pengetahuan. Hanya dengan keraguan itulah, manusia akan menemukan sesuatu yang tidak diragukan.[24] Dan yang Keenam, pengetahuan obyektif itu tidak pernah ada.[25] Bagi pengusung teori ini, ilmu pengetahuan harus dihukumi berdasarkan pada tingkat peranannya untuk kehidupan, bukan pada standar benar atau salah, karena menurut mereka standar seperti itu tidak ada.[26] Keenam teori inilah yang akan dicari jejaknya dalam konsep World Theology dan Global Theology seperti akan dijelaskan berikut ini.

Jika diteliti dengan seksama, konsep World Theology Smith dan Global Theology Hick telah dipengaruhi oleh skeptisisme. Hal ini bisa dilacak dari pendapat keduanya. Smith mengatakan bahwa terminologi agama saat ini sangat problematis, kontroversial, ambigu, dan mengundang polemik yang berkepanjangan.[27] Sementara itu Hick berpendapat bahwa tidak ada terminologi agama yang dapat diterima secara universal.[28] Karena dalam konsep agama, menurut mereka, terdapat proses gradual untuk menegaskan agama sebagai sebuah entitas. Dan proses tersebut sangat dipengaruhi oleh budaya yang mengisi ruang sejarah. Karena agama berada dalam ruang sejarah yang selalu berubah dan tidak permanen, maka kebenaran tetap tentangnya (baca: agama) tidak mungkin ditemukan. Tesis seperti ini terlihat kongruen dengan teori skeptisisme; bahwa di dunia yang selalu berubah ini, tidak terdapat sebuah kebenaran yang pasti. Inilah sikap skeptis yang pernah diperkenalkan Heraclites dan muridnya Cratylus pada 26 abad yang lalu.[29]

Jejak skeptisisme berikutnya bisa dilihat dari usaha Smith dalam menjawab problem terminologis agama. Smith membatasi makna agama sebagai himpunan tradisi kultural dan iman yang sangat privat. Kedua makna agama ini menurutnya menjadi lebih jelas karena dapat diobservasi dan dikaji secara historis empiris oleh manusia.[30] Di sini terlihat bahwa Smith seakan ingin menjadikan manusia sebagai satu-satunya ukuran dalam melihat makna agama, sehingga ia berusaha membawa agama pada sesuatu yang bisa diukur oleh manusia. Sikap seperti ini dipengaruhi oleh doktrin skeptisisme; “manusia adalah ukuran segala sesuatu” (man is the measure of all things).[31] Teori skeptisisme ini juga bisa ditemukan pengaruhnya pada tesis the transformation from self-centredness to Reality-centredness yang dikemukakan Hick untuk menuju terbentuknya Global Theology.[32] Di sini terlihat bahwa Hick juga menjadikan manusia sebagai satu-satunya pihak yang memberikan respon terhadap eksistensi ketuhanan dalam bentuk tradisi-tradisi. Hal ini meniscayakan berbagai bentuk penafsiran yang beragam atas ralitas ketuhanan. Dan pada gilirannya, jalan keselamatan sebagai salah satu manifestasi dari penafsiran itu, tidak bersifat monolitik.[33] Hal ini menjadi maklum karena memang manusialah –dengan beragam kemampuan yang dimiliki– yang melakukan penafsiran atas realitas ketuhanan tadi. Di sinilah terlihat jelas pengaruh pemikiran skeptis Protagoras (man is the measure of all things) dalam tesis Hick.

Pengaruh skeptisisme juga bisa ditangkap pada konsekwensi teologis dari tesis keharusan mengkaji ulang terminologi agama dari Smith. Dengan mereduksi makna agama hanya sebagai kumpulan tradisi dan iman yang privat, menjadikan semua agama adalah sama.[34] Agama-agama yang memiliki ciri khas sendiri-sendiri dengan dogma-dogmanya yang jelas berdasarkan wahyu, yang kenyataannya sering bertentangan antara satu agama dengan lainnya, dianggap sama. Dogma-dogma agama tersebut sebenarnya, menurut Smith, hanya asumsi para pemeluknya saja. Dan asumsi tersebut, meskipun menyangkut hal-hal yang sudah jelas, dianggap jauh dari kepastian. Hal ini mengindikasikan bahwa Smith terpengaruh oleh doktrin skeptisisme yang mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada sesuatu yang pasti. Bahkan asumsi yang pasti seperti hubungan sebab dan akibat, hukum-hukum alam, eksistensi tuhan dan jiwa, yang bisa ditemukan dalam doktrin-doktrin agama, semuanya bersifat relatif.[35] Sehingga manusia bebas untuk mereformasi asumsi-asumsi tersebut, termasuk mereformasi makna agama yang sebenarnya tidak hanya tradisi kultural, tapi mencakup seluruh keyakinan, ideologi, way of life, falsafah hidup, worldviews, dan weltanschauung.[36]

Keterpengaruhan Hick oleh skeptisisme juga bisa ditelusuri dari gagasannya tentang revolusi Copernican dalam teologi agama-agama.[37] Seperti telah dijelaskan di muka, revolusi tersebut mengharuskan umat beragama untuk tidak lagi meyakini bahwa hanya agamanyalah yang benar. Karena sebenarnya seluruh agama menyembah Tuhan yang sama yaitu “The Real”. Dialah yang menjadi pusat dari agama-agama di dunia ini. Dan Hick sendiri yang seorang Kristen, ingin mengajak saudaranya seiman yang masih meyakini “absolutisme Kristen”, untuk merevolusi keyakinannya. Namun ia juga mengharapkan revolusi teologis seperti ini juga diterapkan kepada seluruh agama.[38] Dari sini terlihat Hick telah dipengaruhi doktrin skeptisisme bahwa pengetahuan obyektif itu tidak pernah ada.[39] Implikasinya, semua keyakinan tentang kebenaran eksklusif yang ternyata dimiliki hampir semua agama –sebagai manifestasi dari pengetahuan obyektif– bersifat irrasional.[40] Dan oleh karenanya klaim kebenaran (truth claim) yang dimiliki agama-agama harus ditinggalkan.

Dari diskusi di atas bisa disimpulkan bahwa, sebagai pandangan filosofis, skeptisisme telah memiliki akar sejarah yang panjang yang terbentang dari zaman klasik hingga post-modernisme. Sehingga tidak mengherankan jika Smith ataupun Hick, disadari atau tidak, telah terpengaruh olehnya dalam menggulirkan tesis-tesisnya.

Salah satu persoalan yang perlu kita singgung dalam kaitan dengan pengetahuan, dan juga keyakinan, adalah persoalan mengenai: Apakah pengetahuan itu mungkin dicapai? Apakah kita benar-benar tahu? Bagaimana kita bisa merasa yakin (to be sure) bahwa kita tahu? Bukankab ~pa yang kita anggap kita tahu hanya tipuan belaka? Singkatnya, bagaimana kita tahu bahwa kita tahu?[41]

Secara tradisional, pertanyaan-pertanyaan ini telah dikemukakan oleh orang-orang yang bersikap skeptis terhadap adanya pengetahuan. Inilab yang dikenal sebagai skeptisisme. Sikap dasar skeptisisme adalah bahwa kita tidak pemah tabu ten tang apa pun. Bagi mereka yang menganut skeptisisme, mustahil manusia mencapai pengetaruan tentang sesuatu, atau paling kurang bahwa man usia tidak pernah merasa pasti dan yakin apakah ia bisa mencapai pengetabuan tertentu. Dengan kata lain, skeptisisme meragukan kemungkinan babwa manusia bisa mengetabui sesuatu karena tidak ada bukti yang cukup untuk mempertahankan bahwa manusia benar-benar tabu tentang sesuatu.

Kaum Sofis meragukan kemungkinan pengetahuan akan alam karena menurut mereka man usia adalab ukuran dari segala-galanya. Maka, yang disebut penelitian akan alam tidak mungkin karena kalaupun ada pengetahuan akan alam, pengetahuan ini harus bersum-ber pada manusia. Gorgias, misalnya, mengatakan bahwa (a) tidak ada yang benar-benar ada; (b) kalaupun ada sesuatu yang ada di dunia ini, kita tidak bisa meogetahui; (c) kalaupun kita bisa mengetahuinya kita tidak bisa mengkomunikasikan apa yang kita ketahui itu kepada orang lain. Dengan kata lain, bagi kaum Sofis, apa yang dianggap sebagai pengetahuan sesungguhnya hanyalah konstruksi sosial manusia. Tidak ada realitas yang bisa diketahui secara nyata sebagaimana adanya. Yang ada banyalah konstruksi manusia tentang realitas itu.[42]

Skeptisisme terutama muncul karena anggapan bahwa pengetabuan menyangkut kepastian. Apa yang diklaim sebagai pengetabuan adalah kalau apa yang diklaim itu pasti benar. Tidak ada hal yang dapat diketahui kecuali kalau hal itu pasti benar. Kalau kita tahu sesuatu, hal itu pasti benar dan tidak bisa salah. Persoalannya, bagaimana kita bisa tabu babwa hal itu pasti benar? Dengan bukti! Tetapi, bagaimana kita bisa tabu babwa bukti itu benar dan bukan banya tipuao belaka? Menurut paham skeptisisme, kita sulit memberikan bukti atas proposisi apa pun yang diklaim sebagai pengetahuan. Para skeptis mempertaoyakan apakah kita bisa memperoleh informasi yang dapat diandalkan tentang segala sesuatu. Ternyata kita tidak pernah tahu secara pasti tentang kebenaran dari apa yang kita kJaim sebagai sesuatu yang kita ketabui. Jadi, kita sesunggubnya tidak tabu. Maka, tidak ada yang tabu pasti tentang dunia di sekitamya. Singkatnya tidak ada pengetahuan.[43]

Inti persoalannya adalah bagaimana kita tahu secara pasti tentang sesuatu. Dalam sejarah filsafat, persoalan ini dijawab secara berbeda oleh dua aliran pemilciran, yaitu rasionalisme dan empirisisme. Rasionalisme lebih dikenal sebagai filsafat Keontinental karena tokoh-tokohnya terutama berasal dari Eropa Daratan, seperti Rene Descartes, W.G. Leibniz, dan Barukh Spinoza. Kaum rasionalis beranggapan bahwa kita dapat sampai pada pengetahuan yang pasti hanya dengan mengandalkan akal budi. Sebaliknya, empirisisme lebih dikenal sebagai filsafat Inggris karena tokoh-tokohnya berasal dari Inggris, seperti John Locke, David Hume, dan Berkeley. Bagi kaum empirisis ini, kita bisa sampai pada pengetahuan yang pasti dengan mengandalkan pancaindra kita yang memberi kita informasi tentang objek tertentu.[44]

Sebelum Rene Descartes, kebenaran selalu berdasarkan dan bersumber dari kekuasaan di luar manusia, seperti; kekuasaan gereja, kitab suci, tradisi atau Negara. Dia menekankan bahwa manusia itu sendiri yang menjadi kekuasaan yang membawa , dan memikul kenyataan. Manusia yang berfikir merupakan pusat dunianya. Subyek yang berfikir menjadi titik pangkal dari filsafatnya. Hal ini dia sampaikan dalam ungkapannya yang terkenal yaitu “kalau saya ragu-ragu akan segala sesuatu, saya masih mempunyai kepastian tentang kesangsian saya. Maka, saya sedang berfikir. Dan kalau saya berfikir maka saya ada.”[45]

Di kalangan ilmuwan Barat, keraguan menjadi salah satu ciri epistemologinya. Mereka berangkat dari keraguan ketika menghadapi suatu persoalan pengetahuan yang belum terpecahkan secara meyakinkan. Tradisi epistemology ini akhirnya mempengaruhi ilmuwan lainnya. Akhirnya, sikap skeptis merupakan karakteristik seorang ilmuwan, artinya dia tidak pernah menerima kebenaran suatu pernyataan sebelum penjelasan mengenai isi pernyataan tersebut dapat dia terima, dan konsekuensi kebenaran pernyataan tersebut dapat disaksikan secara empiris.[46]

Skeptisisme yang berkembang dengan pesat di dunia barat bisa dikatakan berawal dari keberhasilan sains yang dipandang sebagai kemenangan lebih lanjut  dari pemikiran empiris atas pemikiran keagamaan. Yakni pandangan-pandangan yang diajarkan oleh gereja.[47]

Dunia Barat, dan mereka yang mengikuti pandangan skeptisisme ini telah terjebak pada suatu generalisasi bahwa semua pengetahuan yang berasal dari agama adalah dogmatis sebagaimana terdapat di dalam ajaran Gereja. Semua proposisi harus diuji melalui proses empiris untuk dapat dikatan sebagai sebuah kebenaran. Hal inilah yang dikatakan oleh al-Faruqi sebagai kesimpulan gegabah, terutama tentang anggapan kaum skeptisisme bahwa kebenaran tidak mungkin diketahui.

 

  1. Iman Kristen

Dalam Kristen, merupakan masalah mendasar adalah pertentangan antara akal (reason) dengan “iman” itu sendiri. Sebagaimana yang digambarkan oleh al-Faruqi bahwasanya menurut kaum empiris, Gereja telah kehilangan wewenangnya untuk mangajarkan kebenaran sejak lama, karena ajaran-ajaran gereja dianggap dogmatis, yang banyak bertentangan dengan nalar (reason). Terlebih lagi, karakteristik Gereja yang menyatakan proporsi-proporsi tertentu sebagai kebenaran tanpa mengujinya secara empiris dan menyelidikinya secara kritis.[48]

Dari pertentangan antara Gereja dengan skeptisisme di atas, timbullah suatu konsekwensi yang harus dihadapi oleh terutama umat Kristen, bahwa “iman” adalah suatu tindakan atau keputusan dimana seseorang berketetapan sebagai orang yang menerima sebagai kebenaran apa yang merupakan akandal, atau hal yang sulit dimengerti.[49] Hal itulah yang dibedakan oleh al-Faruqi, yakni antara iman di dalam umat Kristen dengan iman di antara umat Islam.

“Iman” Kristen, oleh al-Faruqi disandingkan dengan “faith” dan “beliefe”, yang mana keduanya adalah masih terdapat unsur-unsur keraguan. Sedangkan “iman” dalam Islam adalah kebenaran yang diberikan kepada pikiran, bukan kepada perasaan manusia yang mudah mempercayai apa saja.

Menurut al-Faruqi, iman harus mengandung rasa aman di dalam diri seseorang, karena iman berasal daari kata amn  yang berarti keamanan. Jadi proposisi-proposisi yang diajukan adalah sungguh-sungguh benar.

 

  1. TAUHID SEBAGAI SUATU GNOSEOLOGI

Epistemology dari bahasa Yunani episteme = pengetahuan dan logos = perkataan, pikiran, ilmu. Kata episteme dalam bahasa Yunani berasal dari kata kerja “epistamai”, artinya mendudukkan, menempatkan, atau meletakkan. Maka, harfiah episteme berarti pengetahuan sebagai upaya intelektual untuk “menempatkan sesuatu dalam kedudukan setepatnya”. Selain kata episteme, untuk kata “pengetauan” dalam bahasa Yunani juga dipakai kata “gnosis”, maka istilah epistemology dalam sejarah juga pernah disebut gnoseologi. Sebagai kajian filosofis yang membuat telaah kritis dan analitis tentang dasar-dasar teoretis pengetahuan. Epistemologi kadang juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge).[50]

Terdapat tiga persoalan dalam bidang ini:

  1. Apakah sumber-sumber pengetahuan itu? Dari mana pengetahuan yang benar itu dating, dan bagaimana kita dapat mengetahui? Ini semua adalah problema asa (origin).
  2. Apakah watak dari pengetahuan? Adakah dunia yang riil di luar akal, dan kalau ada, dapatkah kita mengetahuinya? Ini semua adalah problema: penampilan (appearance) terhadap realitas.
  3. Apakah pengetauan kita itu benar (valid)? Bagaimana kita membedakan antara kebenaran dan kekeliruan? Ini adalah problema mencoba kebenaran (verification).[51]

 

Seperti dipaparkan oleh al-Ghazali, iman adalah suatu visi yang menempatkan semua data dan fakta dalam perspektif yang sesuai dengan, dan perlu bagi, pemahaman yang benar atas mereka.[52] Dalam hal ini al-Faruqi menegaskan bahwa iman di sini menjadi suatu landasan utama bagi akal. Hal ini tidak mungkin bersifat non-rasional, dan barang siapa bertentangan dengannya maka telah bertentangan dengan kebenaran itu sendiri.

Semua itu menurut al-Faruqi, adalah mengimplikasikan bahwa semua keberatan dan keraguan, dapat dihadapkan dengan iman. Dengan kata lain, tauhid adalah pengakuan bahwa kebenaran bisa diketahui, dan manusia mampu mencapainya.

 

  1. KESATUPADUAN TUHAN DAN KEBENARAN

Untuk menghindari kerancuan Barat Al-Faruqi mengemukakan prinsip metodologi tauhid sebagai satu kesatuan kebenaran, maka dalam hal ini tauhid terdiri dari tiga prinsip: pertama, penolakan terhadap segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan realitas, dengan maksud meniadakan dusta dan penipuan dalam Islam karena prinsip ini menjadikan segala sesuatu dalam agama terbuka untuk  diselidiki dan dikritik. Penyimpangan dari realitas atau kegagalan untuk mengkaitkan diri dengannya, sudah cukup untuk membatalkan sesuatu item dalam Islam, apakah itu hukum, prinsip etika pribadi atau sosial, atau pernyataan tentang dunia. Prinsip ini melindungi kaum muslimin dari opini yaitu tindakan membuat pernyataan yang tak teruji dan tidak dikonfirmasikan mengenai pengetahuan.

Prinsip kedua yaitu tidak ada kontraksi yang hakiki melindunginya dari kontadiksi di satu pihak, dan paradoks di lain pihak. Prinsip ini merupakan esensi dari rasionalisme. Tanpa ini ia tidak ada jalan untuk lepas dari skepetisme; sebab suatu kontradiksi yang hakiki menandung arti bahwa kebenaran dari masing-masing unsur kontradiksi tidak akan pemah dapat diketahui.

Prinsip ketiga tauhid dalam metodologi adalah tauhid sebagai kesatuan kebenaran yaitu keterbukaan terhadap bukti baru dan/atau yang bertentangan, melindungi kaum muslimim dari literalisme, fanatisme, dan konservatisme yang mengakibatkan kemandegan. Prinsip ini mendorong kaum muslimin kepada sikap rendah hari intelektual. Ia memaksa untuk mencantumkan dalam penegasan atau penyangkalannya ungkapan wallahu’ alam karena ilia yakin bahwa kebenaran lebih besar dari yang dapat dikuasainya sepenuhnya di saat manapun.

Sebagai penegasan dari kesatupaduan sumber-sumber kebenaran. Tuhan pencipta alam dari mana manusia memperoleh pengetahuannya. Objek pengetahuan adalah pola-pola alam yang merupakan hasil karya Tuhan.[53]

Hal inilah yang banyak dilupakan Barat sehingga timbul ide untuk mengislamisasikan ilmu pengetahuan. Dan juga melihat kondisi umat Islam yang mengadopsi semua ide Barat bahkan kadang-kadang tanpa filter yang akhirnya menempatkan ilmu pengetahuan yang dibangun oleh kesadaran ilahiyah yang kental mengalami proses sukurelisasi yang berobsesi memisahkan kegiatan sekuler dengan kegiatan agama akhirnya mengantarkan ilmuwan pada terlepasnya semangat dari nilai-nilai keagaaman.

 

  1. KESIMPULAN

Permasalahan mendasar yang ditekankan oleh al-Faruqi adalah iman dan tauhid yang benar-benar bersih dari segala keraguan, baik itu berupa skeptisisme, maupun keraguan seperti halnya terdapat dalam iman (faith) Kristen. Adapun iman di dalam Islam adalah iman yang bersumber dari satu kesatuan Tuhan dan kebenaran. Kebenaran di sini merupakan sebuah gnoseologi yang siap dihadapkan dengan segala pertanyaan keraguan.

Khoirul Arifin, S.Th.I

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

al-Faruqi, Ismail Raji, Tauhid; Its Implications for Thought and Life, terj. Rahmani Astuti (Bandung : Pustaka, 1988, cet. ke-1).

Al-Faruqi. Islamization of knowledge: the general principles and the workplan dalam Knowledge for what? (Islamabad-Fakistan: National Hijra Council, 1986).

Cantwell Smith, Wilfred, The Meaning and End of Religion (London: SPCK, [1962] 1978)

John Hick, An Interpretation of Religion, (Gifford Lecture, 1986-87)

Keraf , A. Sonny, dan Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan; Sebuah Tinjauan Filosofis (Yogyakarta: Kanisius, 2001).

  1. Borchert, Donald, Editor in chief, Encyclopedia of Philosophy, Second Edition, Volume 9, (MacMillan Reference USA, 2006)

Madjid, Nurcholish, Islam Doktrin dan Peradaban (Jakarta: Paramadina. 2000)

Praja, Juhaya S. Prof. DR., Aliran-aliran Filsafat dan Etika (Jakarta: Prenada Media, 2008).

Qomar, Mujamil, Prof. DR. M.Ag, Epistemologi Pendidikan Islam; dari Metode Rasional hingga Metode Kritik (Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama).

Sudarminta, J. Epistemologi Dasar; Pengantar Filsafat Pengetahuan (Yogyakarta: Kanisius, 2002).

[1] Ismail Raji al-Faruqi, Tauhid; Its Implications for Thought and Life, terj. Rahmani Astuti (Bandung : Pustaka, 1988, cet. ke-1), h. 17

[2] Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban (Jakarta: Paramadina. 2000), h. 72

[3] Ibid., h. 73

[4] Ibid., h. 78

[5] Ibid., h.75

[6] [http://www.philosophyonline.co.uk/tok/scepticism8.htm], 31-01-2012

[7] Donald M. Borchert, Editor in chief, Encyclopedia of Philosophy, Second Edition, Volume 9, (MacMillan Reference USA, 2006), h. 47.

[8] http://www.iep.utm.edu/skepanci/, 31-01-2012

[9] Skeptisisme Akademik dibentuk di akademi Plato pada abad III SM, sebagai pengembangan dari tesis Socrates, “All i know is that i know nothing.” Formulasi teoretis dari akademi ini bisa dihubungkan dengan Arcesilas (315-241 SM) dan Carneades (213-129 SM), yang dengan gigih menyusun argumen-argumen yang ditujukan sebagai perlawanan terhadap klaim pengetahuan para filosuf stoik, untuk menunjukkan kepada mereka bahwa tidak ada sesuatu yang bisa diketahui.

[10] Tesis ini berangkat dari asumsi bahwa proposisi yang menyatakan suatu pengetahuan di dunia ini, mengandung klaim yang melebihi batas bukti empiris yang tampak. Jika kita memiliki beberapa pengetahuan, bagi kaum skeptis, ini berarti kita mengetahui beberapa proposisi yang menegaskan klaim non-empiris atau trans-empiris. Jika proposisi itu bisa salah, maka ia tidak pantas dianggap sebagai suatu pengetahuan, tapi hanya sebuah pendapat saja. Hasilnya, akademi skeptis melihat bahwa tidak ada sesuatu yang pasti.

[11] http://www.philosophyonline.co.uk/tok/scepticism8.htm, 31-01-2012

[12] Tesis ini dikemukakan oleh Protagoras (490-421 SM), Donald M. Borchert, Editor in chief, Encyclopedia of Philosophy, Second Edition, Volume 9, (MacMillan Reference USA, 2006), h. 47

[13] Ibid.

[14] Ibid., h. 49

[15] http://www.philosophyonline.co.uk/tok/scepticism8.htm, 31-01-2012

[16] Ibid.

[17] Donald M. Borchert, ibid., h. 59

[18] http://www.philosophyonline.co.uk/tok/scepticism8.htm, 31-01-2012

[19] Donald M. Borchert, ibid., h. 48

[20] Tesis ini berangkat dari asumsi bahwa proposisi yang menyatakan suatu pengetahuan di dunia ini, mengandung klaim yang melebihi batas bukti empiris yang tampak. Jika kita memiliki beberapa pengetahuan, bagi kaum skeptis, ini berarti kita mengetahui beberapa proposisi yang menegaskan klaim non-empiris atau trans-empiris. Jika proposisi itu bisa salah, maka ia tidak pantas dianggap sebagai suatu pengetahuan, tapi hanya sebuah pendapat saja. Hasilnya, akademi skeptis melihat bahwa tidak ada sesuatu yang pasti. Lihat Ibid.

[21] http://www.philosophyonline.co.uk/tok/scepticism8.htm, , 31-01-2012

[22] Tesis ini dikemukakan oleh Protagoras (490-421 SM). Lihat Donald M. Borchert, Ibid., Donald M. Borchert., ibid.

[23] Ibid, h. 49

[24] http://www.philosophyonline.co.uk/tok/scepticism8.htm, 31-01-2012

[25] Ibid.

[26] Donald M. Borchert, ibid., h. 59.

[27] Wilfred Cantwell Smith, The Meaning and End of Religion (London: SPCK, [1962] 1978), h. 11.

[28] John Hick, An Interpretation of Religion, (Gifford Lecture, 1986-87), h. 3

[29] Donald M. Borchert, Editor in chief, Encyclopedia of Philosophy, Second Edition, Volume 9, (MacMillan Reference USA, 2006), h. 47.

[30] Wilfred Cantwell Smith, ibid., h. 8

 

[31] Ibid.

[32] John Hick, ibid., 29

[33] Ibid.

[34] Wilfred Cantwell Smith, ibid., h. 187

[35] http://www.philosophyonline.co.uk/tok/scepticism8.htm, , 31-01-2012

[36] Penjelasan tentang makna agama yang sebenarnya, lihat Dr. Anis Malik Thoha, Wacana Kebenaran Agama dalam Perspektif Islam, dalam Tsaqafah: Jurnal Ilmu Pengetahuan & Kebudayaan Islam Vol. 3 No. 2, Jumadal Ula 1428, Institut Studi Islam Darussalam Gontor, hlm. 248.

[37] John Hick, ibid., h. 51

[38] Lihat: ———-, Problems of Religious Pluralism, hlm. 50-1; dan ———-, ‘Trinity, Incarnation and Religious Pluralism,’ h. 199.

[39] Ibid.

[40] http://www.philosophyonline.co.uk/tok/scepticism8.htm, , 31-01-2012

[41] A. Sonny Keraf, dan Mikhael Dua, Ilmu Pengetahuan; Sebuah Tinjauan Filosofis (Yogyakarta: Kanisius, 2001), h. 40

[42] Ibid., h. 41

[43] Ibid.,

[44] Ibid., h. 43

[45] Mujamil Qomar, Epistemologi Pendidikan Islam; dari Metode Rasional hingga Metode Kritik (Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama), h. 59

[46] Ibid., h. 60

[47] Ismail Raji al-Faruqi, Tauhid; Its Implications for Thought and Life, terj. Rahmani Astuti (Bandung : Pustaka, 1988, cet. ke-1), h. 40

[48] Ibid.,

[49] Ibid., 41

[50] J. Sudarminta, Epistemologi Dasar; Pengantar Filsafat Pengetahuan (Yogyakarta: Kanisius, 2002), h. 18

[51] Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filsafat dan Etika (Jakarta: Prenada Media, 2008), h. 88

[52] Al-Faruqi, Tauhid… h. 43

[53] Al-Faruqi. Islamization of knowledge: the general principles and the workplan dalam Knowledge for what? (Islamabad-Fakistan: National Hijra Council, 1986), hlm.45.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *