TOKOH EMPIRISME, JOHN LOCKE

Oleh: Ahmad Mahili

PENDAHULUAN

Masalah terjadinya pengetahuan adalah masalah yang amat penting dalam epistemologi, sebab jawaban terhadap terjadinya pengetahuan maka seseorang akan berwarna pandangan atau paham filsafatnya. Jawaban yang paling sederhana tentang terjadinya pengetahuan ini apakah berfilsafat apriori atau aposteriori. Pengetahuan apriori adalah pengetahuan yang terjadi tanpa adanya atau melalui pengalaman, baik pengalaman indera maupun pengalaman batin. Adapun pengetahuan aposteriori adalah pengetahuan yang terjadi karena adanya pengalaman. Dengan demikian, pengetahuan ini bertumpu pada kenyataan objektif[1].

Menurut Josep Hospers dalam bukunya An Introduction to Philosophical Analysis mengemukakan ada enam alat untuk memperoleh pengetahuan, yaitu:

  1. Pengalaman Indera (sense experience).
  2. Nalar (reason).
  3. Otoritas (authority).
  4. Intuisi (intuition).
  5. Wahyu (revelation).
  6. Keyakinan (faith) [2].

Dalam pembahasan ini, akan dikemukakan suatu aliran filsafat yang disebut dengan Empirisme, yaitu suatu doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan akal.

EMPIRISME

Kata ini berasal dari kata Yunani empeirikos yang berasal dari kata empeiria, artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Dan bila dikembalikan kepada kata Yunaninya, pengalaman yang dimaksud ialah pengalaman indrawi. Manusia tahu es dingin karena ia menyentuhnya, gula manis karena ia mencicipinya[3].

Seorang empirisis biasanya berpendapat bahwa kita dapat memperoleh pengetahuan melalui pengalaman. Sifat yang menonjol dari jawaban ini dapat dilihat bila kita memperhatikan pertanyaan seperti, “Bagaimana orang mengetahui es membeku?”, jawaban kita tentu berbunyi, “karena saya melihatnya demikian”, atau “karena seorang ilmuan melihatnya demikian”. Dengan begitu, dapat dibedakan dua macam unsur: pertama, unsur yang mengetahui dan kedua, unsur yang diketahui. Orang yang mengetahui merupakan subyek yang memperoleh pengetahuan dan dikenal dengan perkataan yang menunjukkan seseorang atau suatu kemampuan.

Unsur ketiga yang dapat kita bedakan dalam jawaban terhadap pertanyaan “Bagaimana orang mengetahui kalau es itu membeku?” ialah keadaan kita bersangkutan dengan melihat atau mendengar atau suatu pengalaman inderawi yang lain. “Bagaimana kita mengetahui api itu panas?”, dengan menyentuh barang sesuatu atau memperoleh pengalaman yang kita sebut panas. “Bagaimana kita mengetahui apakah panas itu?”, jawabannya: kita mengetahuinya dengan alat-alat inderawi peraba.

Selanjutnya, pertanyaan: “Bagaimanakah anda mengetahui atau memperoleh pengetahuan?” dijawab dengan menunjukkan pengalaman-pengalaman inderawi yang sesuai. “Pengetahuan diperoleh dengan perantaraan indera”, kata penganut empirisme[4].

John Locke (1632-1704), bapak aliran ini pada zaman modern mengemukakan teori tabula rasa yang secara bahasa berarti meja lilin. Maksudnya ialah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengetahuannya mengisi  jiwa yang kosong itu, lantas ia  memiliki pengetahuan. Mula-mula tangkapan indera yang masuk itu sederhana, lama kelamaan ruwet, lalu tersusunlah pengetahuan berarti. Berarti, bagaimana pun kompleks (ruwet)-nya pengetahuan manusia, ia selalu dapat dicari ujungnya pada pengalaman indera. Sesuatu yang tidak dapat diamati dengan indera bukanlah pengetahuan yang benar. Jadi, pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang benar. Karena itulah metode penelitian yang menjadi tumpuan aliran ini adalah metode eksperimen[5].

Menurutnya, ketika kita melihat suatu obyek, kita menangkap beberapa kualitas dari obyek tersebut. Ia kemudian menggolongkan kualitas tersebut kedalam dua kategori. Yang pertama adalah kualitas primer, yakni kualitas yang dimiliki obyek itu sendiri, termasuk ukurannya, beratnya, dan massanya. Bagi Locke, kualitas primer ini akan tetap siapapun yang mengukurnya. Yang kedua adalah kualitas sekunder, yakni kualitas dari suatu obyek yang sangat tergantung pada cara peneliti melihat objek tersebut sehingga dapat terus berubah sesuai dengan kondisi. Misalnya, bau, warna dan suara, sangat tergantung dari pekanya indera kita. Jika kualitas penerangan berubah, kemungkinan besar warna juga akan berubah. Dengan demikian ilmu pengetahuan lebih memfokoskan analisisnya pada kualitas primer, karena kualitas primer lebih terukur dan lebih obyektif daripada kualitas sekunder[6].

Ada dua ciri pokok empirisme, yaitu mengenai teori tentang makna dan teori tentang pengetahuan.

Teori makna pada aliran empirisme biasanya dinyatakan sebagai teori tentang asal pengetahuan, yaitu asal-usul idea atau konsep. Pada abad pertengahan teori ini diringkas dalam rumus Nihil est in intellectu quod non prius fuerit in sensu (tidak ada sesuatu di dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman). Sebenarnya pernyataan ini merupakan tesis Locke yang terdapat dalam bukunya, An Essay Concerning Human Understanding, yang dikeluarkannya tatkala ia menentang ajaran idea bawaan (innate idea) pada orang-orang rasionalis. Jiwa (mind) itu, tatkala orang dilahirkan, keadaannya kosong, laksana kertas putih atau tabula rasa, yang belum ada tulisan di atasnya, dan setiap idea yang diperolehnya mestilah datang melalui pengalaman; yang dimaksud dengan pengalaman di sini ialah pengalaman inderawi. Atau pengetahuan itu datang dari observasi yang kita lakukan terhadap jiwa (mind) kita sendiri dengan alat yang oleh Locke disebut inner sense (pengindera dalam) [7].

Pada abad ke-20 kaum empiris cenderung menggunakan teori makna mereka pada penentuan apakah suatu konsep diterapkan dengan benar atau tidak, bukan pada asal-usul pengetahuan. Salah satu contoh penggunaan empirisme secara pragmatis ini ialah pada Charles Sanders Peirce dalam kalimat “Tentukanlah apa pengaruh konsep itu pada praktek yang dapat dipahami kemudian konsep tentang pengaruh itu, itulah konsep tentang objek tersebut”.

Filsafat empirisme tentang teori makna amat berdekatan dengan aliran positivisme logis (logical positivism) dan filsafat Ludwig Wittgenstein. Akan tetapi, teori makna dan empirisme selalu harus dipahami lewat penafsiran pengalaman. Oleh karena itu, bagi orang empiris jiwa dapat dipahami sebagai gelombang pengalaman kesadaran, materi sebagai pola (pattern) jumlah yang dapat diindera, dan hubungan kausalitas sebagai urutan peristiwa yang sama.

Teori kedua, yaitu teori pengetahuan, dapat diringkaskan sebagai berikut. Menurut orang rasionalis ada beberapa kebenaran umum, seperti “setiap kejadian tentu mempunyai sebab”, dasar-dasar matematika, dan beberapa prinsip dasar etika, dan kebenaran-kebenaran itu benar dengan sendirinya yang dikenal dengan istilah kebenaran a priori yang diperoleh lewat intuisi rasional. Empirisme menolak pendapat itu. Tidak ada kemampuan intuisi rasional itu. Semua kebenaran yang disebut tadi adalah kebenaran yang diperoleh lewat observasi jadi ia kebenaran a posteriori[8].

 

 

 

JOHN LOCKE (1632-1704) DAN PEMIKIRAN-PEMIKIRANNYA

Locke dilahirkan di Wrington di kota Somerset. Orang tuanya adalah penganut Puritan. Ayahnya adalah seorang tuan tanah kecil dan pengacara yang berperang di parlemen pada waktu perang sipil. Locke belajar di Oxford di mana ia memperoleh gelar BA dan M.A. Ia kemudian belajar ilmu kedokteran dan pada tahun 1667 menjadi sekretaris dan dokter pribadi Earl Shaftesbury pertama, yang memimpin partai Whig. Selama menduduki jabatan sebagai Lord Chancellor, Locke menduduki beberapa jabatan publik penting yang memberinya pengalaman dan penglihatan langsung pada realitas dan jalannya politik. Gangguan kesehatannya membuatnya pindah ke Prancis selama empat tahun, dan waktu luangnya memberinya kesempatan untuk mengembangkan pandangan-pandangan filsafatnya sendiri[9].

 

  1. Teori pengetahuan John Locke

Filsafat Locke dapat dikatakan antimetafisika. Ia menerima keraguan sementara yang diajarkan oleh Descartes, tetapi ia menolak intuisi yang digunakan oleh Descartes. Ia juga menolak metode deduktif Descartes dan menggantinya dengan generalisasi berdasarkan pengalaman; jadi, induksi. Bahkan Locke menolak juga akal (reason). Ia hanya menerima pemikiran matematis yang pasti dan cara  penarikan dengan metode induksi.

Buku Locke, An Essay Cocerning Human Understanding (1689), ditulis berdasarkan suatu premis, yaitu semua pengetahuan datang dari pengalaman. Ini berarti tidak ada yang dapat dijadikan idea atau konsep tentang sesuatu yang berada di belakang pengalaman, tidak ada idea yang diturunkan seperti yang diajarkan oleh Plato. Dengan kata lain, Locke menolak adanya innate idea; termasuk apa yang diajarkan oleh Descartes, Clear and distinc idea. Adequate idea dari Spinoza, truth of reason dari Leibniz, semuanya ditolaknya. Yang innate (bawaan) itu tidak ada. Inilah argumennya:

  1. Dari jalan masuknya pengetahuan kita mengetahui bahwa innate itu tidak ada. Memang agak umum orang beranggapan bahwa innate itu ada. Ia itu seperti distempelkan pada jiwa manusia, dan jiwa membawanya ke dunia ini. Sebenarnya kenyataan telah cukup menjelaskan kepada kita bagaimana pengetahuan itu datang, yakni melalui daya-daya yang alamiah tanpa bantuan kesan-kesan bawaan, dan kita sampai pada keyakinan tanpa suatu pengertian asli.
  2. Persetujuan umum adalah argumen yang kuat. Tidak ada sesuatu yang dapat disetujui oleh umum tentang adanya innate idea itu sebagai suatu daya inhern. Argumen ini ditarik dari persetujuan umum. Bagaimana kita akan mengatakan innate idea itu ada padahal umum tidak mengakui adanya.
  3. Persetujuan umum membuktikan tidak adanya innate idea.
  4. Apa innate idea itu sebenarnya tidaklah mungkin diakui dan sekaligus juga tidak diakui adanya. Bukti-bukti yang mengatakan ada innate idea justru saya jadikan alasan untuk mengatakan ia tidak ada.
  5. Tidak juga dicetakkan (distempelkan) pada jiwa sebab pada anak idiot, idea yang innate itu tidak ada. Padahal anak normal dan anak idiot sama-sama berfikir.

Argumen ini secara lurus menolak adanya innate idea, sekalipun ada, itu tidak dapat dibuktikan adanya. Lebih jauh ia berkata:

 

Marilah kita andaikan jiwa itu laksana kertas kosong, tidak berisi apa-apa, juga tidak ada idea di dalamnya. Bagaimana ia berisi sesuatu? Untuk menjawab pertanyaan ini saya hanya mengatakan: dari pengalaman; di dalamnya seluruh pengetahuan didapat dan dari sana seluruh pengetahuan berasal.

 

Hanya premis inilah yang dipertahankan dan digunakan oleh Locke. Dengan ini pula ia menyerang innate idea dengan cara induksi. Akan tetapi, di sini Locke lupa bahwa untuk menarik idea dari pengalaman-pengalaman itu diperlukan prinsip. Prinsip itu, sialnya, bukan diambil dari pengalaman. Leibniz, orang yang menjadi arah serangan Locke,  mengatakan prinsip itu ada dalam pikiran, dan bukan dari pengalaman. Dengan mengikuti cara Locke itu, kata Liebniz, ia tidak berhasil meniadakan innate idea. Prinsip itu tadi adalah innate idea.

Locke tidak melanjutkan debatnya dengan Leibniz karena ia harus menghadapi banyak persoalan yang menjadi kepeduliannya. Ia tetap pada posisinya. Akan tetapi, debat itu berlangsung dengan bentuk-bentuk lain. Kebangkitan Antropologi pada abad ke-19 kelihatannya mendukung pendapat Locke yang mengatakan innate idea tidak ada. Akan tetapi, pada abad ke-19 itu masih banyak juga filosof yang membela innate idea. Kant mengajukan argumen yang kuat tentang innate idea itu. Pada permulaan abad ke-20 pendapat semakin mendukung Locke, tetapi sayap lain, sayap Leibniz, anehnya mendapat dukungan justru dari kaum antropolog. Gerakan yang besar dalam pengetahuan sosial, yang biasanya disebut strukturalisme (tokoh utamanya adalah Claude Levi Strauss di Prancis), mengajukan argumen bahwa dalam kebanyakan masyarakat ada struktur dasar (basic structur) yang universal dan innate. Di Amerika konsep innate idea muncul sekali lagi dalam karya Chomsky. Menurut Chomsky, beberapa kemampuan bahasa tertentu dibawa sejak lahir. Kemampuan ini menjadikan orang-orang tidak hanya mempunyai persamaan dalam berpikir (ini diserang oleh Locke), tetapi juga dalam kemampuan mempelajari berbagai bahasa. Debat Locke-Leibniz masih sering muncul ke permukaan.

Pandangan tabula rasa  dari John Locke merupakan konsep epistemologi yang terkenal. Dan inilah teori pengetahuan empirisme. Tabula rasa (blank tablet, kertas catatan kosong) yang digambarkan sebagai keadaan jiwa adalah pandangan epistemologi yang terkenal menurut Locke. Selain ini, hanya tinggal satu pandangan lagi, yaitu hubungan antar idea seperti dalam matematika, logika, dan konsep-konsep kebenaran trivial seperti “kuda adalah hewan”, dan semua idea itu datang dari pengalaman. Sekarang epistemologi dan filsafat pada umumnya menjadi semacam psikologi, dan memang kedua bidang ini sulit dibedakan. Di dalam teori ini John Locke menggunakan tiga istilah: sensasi (sensation), yang oleh orang empirisis modern sering disebut data inderawi (sense-data); idea-idea (ideas) bukan idea dalam ajaran Plato, melainkan berupa persepsi atau pemikiran atau pengertian yang tiba-tiba tentang suatu objek; dan sifat (quality) seperti merah, bulat, berat. Inilah argumennya:

  1. Mengenai idea sederhana (simple ideas) tentang sensasi, sebagaimana telah diputuskan, apa saja yang ada di dalam alam ini, yang mempengaruhi penginderaan kita, akan menyebabkan adanya persepsi dalam jiwa dan menghasilkan pengertian sederhana (simple idea).
  2. Jadi, idea tentang panas dan dingin, berat dan ringan, hitam dan putih, bergerak dan diam sama jelasnya di dalam jiwa sekalipun tidak begitu jelas sebagaimana proses itu terjadi sejak masuknya objek idea-idea yang jelas tanpa memperhitungkan caranya berproses. Memang di sini ada dua hal yang harus dibedakan, yaitu objek yang dipahami dan kita mengetahui objek (putih, hitam, dan sebagainya).
  3. Untuk mengenali idea-idea kita itu lebih baik mengenal sifatnya, sebaiknya kita pisahkan dengan jelas istilahnya; pertama idea sebagai pengertian (tentang objek) yang ada dalam jiwa kita, dan kedua idea sebagai perubahan-perubahan matter dalam bodies yang menyebabkan persepsi pada kita. Yang terakhir ini, menurut pikiran saya, bukan gambaran (image) objek itu yang inheren dalam jiwa saya.
  4. Apa pun yang dipahami oleh jiwa dalam dirinya sendiri, atau berupa persepsi tiba-tiba tentang objek, saya sebut idea, dan daya yang menghasilkan idea dalam jiwa saya sebut quality dalam subjek. Oleh karena itu, bole es memiliki power untuk menghasilkan dalam jiwa kita idea tentang putih, bulat, dingin. Daya pada objek itu (di sini bola es) saya sebut qualities. Dan karena qualities itu merupakan sensasi atau persepsi dalam pemahaman kita, maka ia saya sebut idea.

Perhatikanlah, dasar teori Locke itu adalah common sense (anggapan umum) tentang perbedaan antara objek fisik di dunia nyata serta inderawi dan objek fisik itu di dalam jiwa kita. Jadi, kita dapat mengatakan bahwa sifat objek (qualities) itu terdapat di dalam objek itu di dunia nyata, seperti ukuran, bentuk, dan lain-lain, tetapi qualities itu tidak bebas dari pengaruh organ pengindera kita. Locke menyebut sifat (qualities) yang asli yang dimiliki objek itu primary qualities (sifat pertama), dan sifat objek sebagaimana ditangkap oleh indera disebutnya secondary qualities (sifat kedua). Selanjutnya ia menjelaskan tentang primary qualities itu sebagai berikut:

 

Sifat yang ada di dalam body ialah pertama-tama ia tidak dapat dipisahkan dari body tersebut; ia terjaga. Sebagai contoh, ambillah segenggam gandum, bagilah dua bagian, setiap bagian masih memiliki sifat padat, keluasan, bentuk, dan mobilitas. Kemudian cobalah bagi lagi, dan sifat yang dimiliki masih sama. Demikianlah bagi lagi sampai bagian-bagian itu tidak dapat lagi diindera, tetapi sebenarnya sifat-sifat tadi  masih ada pada bagian-bagian yang tidak dapat diindera itu. Karena pembagian itu tidak dapat menghilangkan sifat-sifat tersebut, pembagian itu hanya mampu membagi massa gandum, bukan sifatnya, menjadi beberapa jemput kecil sampai tidak kelihatan. Sifat yang tidak dapat dihilangkan oleh pembagian ini saya sebut sifat asli (primary qualities).

 

Tentang secondary qualities ia menjelaskan sebagai berikut:

 

Sifat yang ada pada bodies adalah sifat kedua, yaitu sifat yang tidak ada pada body tersebut, tetapi merupakan kekuatan yang menghasilkan berbagai sensasi pada kita yang berasal dari primary qualities itu, seperti bentuk, gerak, warna, suara, dan rasa yang ada pada bagian yang tidak dapat diindera. Sifat-sifat itu semata-mata kekuatan (power), contoh untuk ini yang mudah misalnya sifat panas pada api menghasilkan sifat membakar, atau sifat-sifat lain yang tidak ada pada primary quality api.

 

Pertanyaannya sekarang, apakah objek fisik itu yang menyebabkan kita dapat mengindera objek dan dari sana kita mempunyai idea tentangnya? Jawaban Locke: ya, dengan impulse. Berdasarkan model ini Locke mengembangkan apa yang disebutnya teori kausalitas tentang persepsi. Tentang ini ia menyatakan sebagai berikut:

 

Bila objek luar tidak bersatu dengan jiwa kita dan mereka menghasilkan idea-idea dalam jiwa kita, dan karena itu kita dapat dapat memahami sifat asli  (original qualitiy) atau primary quality objek itu melalui alat indera kita, itu menjadi bukti adanya gerakan yang meneruskan sensasi itu, yaitu saraf kita atau animal spirit, ke otak, selanjutnya kita memahami primary qualities itu. Tentang gerak, misalnya, objek masuk lewat alat indera pelihat, dikirim ke otak, lalu terbentuk ide tentang gerak benda.

Dengan cara yang sama dengan primary qualities itu kita pun dapat memahami sifat kedua, yaitu oleh operasi prtikel yang tidak dapat diindera. Caranya sama dengan terbentuknya idea tentang sifat pertama. Bedanya hanyalah sifat pertama dapat diindera sedangkan sifat kedua ini halus, tidak dapat diindera. Berbagai gerak, bentuk, jumlah yang ada pada partikel itu mempengaruhi organ-organ indera kita. Ini membentuk ide tentang gerak, bentu, jumlah, dan lain-lain di dalam jiwa kita. Jadi, sifat-sifat itu bukan pada objek itu, melainkan daya (power) yang menghasilkan berbagai sensasi pada kita yang bergantung pada primary qualities tadi.

 

Kesimpulannya:

 

Ide-ide tentang primary qualities objek ada pada objek itu, pola mereka ada pada objek itu sendiri, tetapi idea yang dihasilkan dalam jiwa kita oleh secondary qualities tidak berada pada objek itu. Yang kita ambil dari objek itu adalah power untuk menghasilkan sensasi itu dalam diri kita: apa yang kita pahami sebagai manis, biru, panas dalam idea kita tidak lain adalah besaran, bentuk, dan gerak pada bagian dari objek (part) yang tidak dapat kita indera; part itu ada di dalam objek itu.

 

Inilah dasar teori itu. Akan tetapi, teori ini belum dapat menyelesaikan masalah penting metafisika: Bagaimana tentang substansi? Di sini Locke sering berbicara tentang intuisi. Mula-mula ia mengatakan seperti ini:

 

Pengetahuan kita itu kita peroleh lewat intuisi. Eksistensi Tuhan, akallah yang memberitahukannya kepada kita.

 

Akan tetapi, ia mengatakan juga, sebagai seorang empirisis, bahwa pengetahuan kita hanyalah yang datang lewat penginderaan. Sekalipun tanpak kebimbangan Locke antara reason (intuisi) dan sensasi, pada akhirnya ia menyatakan bahwa kita mengetahui sesuatu dengan cara memahaminya sesuai dengan yang dikirim oleh pengindera kita.

Kesimpulan Locke ialah substance is we know not what, tentang substansi kita tidak tahu apa-apa. Ia menyatakan bahwa apa yang dianggapnya substansi ialah pengertian tentang objek sebagai idea tentang objek itu yang dibentuk oleh jiwa berdasarkan masukan dari indera. Akan tetapi, Locke tidak berani menegaskan behwa idea itu adalah substansi objek, substansi kita tidak tahu[10].

 

  1. Tentang Nama-nama Substansi

Pandangan Locke mengenai substansi berusaha menolak doktrin skolastik tantang esensi. Substansi ialah sesuatu yang mendasari atau mengandung kualitas-kualitas serta sifat-sifat kebetulan yang dipunyai suatu benda. Seperti kertas, kertas tersebut mempunyai kualitas-kualitas yang tertentu, namun kertas itu tidak kelihatan sebagai kualitas-kualitas itu. Jika bentuk kertas itu diubah, maka kertas tadi tetap merupakan kertas. Karena itu yang dinamakan kertas, bukan bentuknya, atau warnanya, atau sesuatu kualitas yang lain yang dapat ditangkap oleh indera. Yang dinamakan kertas ialah substansinya, yaitu kertas.

Kualitas suatu objek, adanya tergantung pada substansi, yakni sesuatu yang mendasarinya. John Locke menunjukkan bahwa kita tidak akan dapat langsung mengetahui suatu substansi secara langsung, tetapi secara tidak langsung. Karena itu, ia menamakan substansi terdalam itu sebagai ‘sesuatu yang saya tidak tahu apa[11].

Konsep substansi, menurut John Locke, sebagai buah pikiran, tetapi menjadi kabur bila diterapkan pada barang kongkret. Sebetulnya hanya sebuah “nama” yang menandai adanya beberapa sifat yang selalu tampil bersama-sama. Kita tak dapat membayangkan sifat-sifat tadi (sinere substance). Tetapi substansi itu sendiri tak dapat kita kenal[12].

 

  1. Ajaran Etika John Locke

Etika merupakan cabang aksiologi yang pada pokoknya membicarakan masalah predikat-predikat nilai ‘betul’ dan ‘salah’ dalam arti ‘susila’ dan ‘tidak susila’. Etika membicarakan sifat-sifat yang menyebabkan orang dapat disebut baik[13]. Ketika banyak filosuf tradisional dan filosuf Jerman dan Prancis yang beranggapan bahwa tingkah laku manusia ditentukan oleh asas-asas moral atau etika yang bersifat a priori dan universal, John Locke hadir dengan pendapat yang bertentangan dengan mereka. Locke menentang gagasan itu dengan menegaskan bahwa yang menenukan tindakan-tindakan kita bukanlah asas-asas universal, melainkan sesuatu yang berasal dari pengalaman inderawi yakni rasa nikmat dan rasa sakit. Sesuatu yang menyenangkan kita sebut ‘baik’, sedangkan sesuatu yang menyakitkan kita sebut ‘jahat’. Sebaliknya, sesuatu yang secara moral baik tentu akan menghasilkan kenikmatan dan kebahagiaan, sedangkan yang secara moral jahat akan menghasilkan penderitaan[14].

Oleh karena itu ajaran etika yang dijelaskan Locke adalah mengenai bagaimana manusia berprilaku dan bagaimana meraka seharusnya berprilaku. Locke menegaskan bahwa setiap orang pasti selalu digerakkan semata-mata oleh keinginan untuk memperoleh kesenangan atau kebahagiaan[15]. Dan mengenai perbuatan baik dan buruk, tampaknya, Locke mempercayai ajaran tentang pahala dan hukuman akhirat. Tuhan telah menetapkan aturan-aturan moral tertentu; mereka yang mengikutinya akan masuk surga dan yang melanggarnya akan masuk neraka. Dalam menjalani kehidupan ini, Locke menetapkan lima nilai yang patut diraih:

  1. Kesehatan, yang memungkinkan kita untuk menikmati segala sesuatu dengan panca indera kita.
  2. Nama baik atau kehormatan, atau kenikmatan dari pengakuan sosial.
    3. Pengetahuan, yang juga memungkinkan kita untuk mengubah-ubah objek kenikmatan.
    4. Berbuat baik, yaitu tindakan yang menguntungkan dan memberi kenikmatan.
    5. Dan yang terakhir harapan akan kebahagiaan abadi[16].

 

  1. Ajaran Politik John Locke

Jika Hobbes menganggap manusia itu sebagai manusia yang sering mengalami perang antar sesamanya, dalam The Second Treatise of Government Locke membayangkan keadaan asal manusia sebagai sebuah firdaus. Dalam keadaan yang damai itu, manusia hidup bermasyarakat dengan diatur oleh hukum-hukum kodrat dan masing-masing individu memiliki hak-hak yang tidak boleh dirampas, dan dalam keadaan yang demikian terdapat kesamaan dan kebebasan. Negara, menurut Locke dibutuhkan untuk mempertahankan keadaan asal yang bebas dan independen itu dalam masyarakat lewat kontrak sosial yang diadakan oleh setiap individu. Inilah gagasan Locke mengenai asal-usul berdirinya sebuah Negara. Locke menetapkan bahwa pemerintahan merupakan hasil sebuah kesepakatan, dalam hal ini kontrak sosial dan murni merupakan urusan duniawi, serta bukan sesuatu yang ditetapkan otoritas suci[17]. Pemerintahan yang terbentuk dibatasi oleh hukum-hukum dasar tertentu. Hukum-hukum itu melarang pemerintah merampas hak individu atau hak milik. Karena tujuan pertama dan utama dari orang-orang yang bersatu dalam sebuah Negara, dan menempatkan diri mereka di bawah pemerintahan adalah penjagaan harta milik mereka. Locke menyatakan bahwa kekuasaan tertinggi tidak dapat mengambil alih hak milik seseorang tanpa persetujuan si pemilik. Fungsi pokok pemerintah adalah menjaga hak milik pribadi[18]. Agar pemerintah dapat menjalankan fungsinya dengan baik dan tentu saja untuk tidak menjadi otoriter, tirani, maupun totaliter, Locke menerapkan konsep atau doktrin Trias Politika. Trias Politika merupakan suatu prinsip normatif bahwa kekuasaan-kekuasaan atau functions tidak diserahkan kepada orang yang sama untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan oleh pihak yang berkuasa. Dan dengan demikian diharapkan hak-hak asasi warga Negara lebih terjamin. Doktrin ini pertama kali dikemukakan oleh John Locke serta filosuf lain yakni Montesquieu. Locke mengemukakan konsep ini dalam bukunya yang berjudul Two Treatises on Civil Government yang ditulis sebagai kritik atas kekuasaan absolut raja-raja Stuart serta untuk membenarkan Revolusi Gemilang tahun 1688. Menurut Locke kekuasaan Negara dibagi dalam tiga kekuasaan, yaitu: kekuasaan legislatif, kekuasaan eksekutif, dan kekuasaan federatif[19]. Yang masing-masing terpisah satu sama lain sekaligus menjadi cheks and balances. Kekuasaan legislatif ialah kekuasaan membuat peraturan dan undang-undang; kekuasaan eksekutif adalah kekuasaan untuk menjalankan undang-undang, dan kekuasaan federatif ialah kekuasaan yang meliputi segala tindakan untuk menjaga keamanan Negara dalam hubungan dengan Negara lain seperti membuat aliansi dan sebagainya yang dewasa ini disebut hubungan luar negeri. Doktrin bahwa fungsi legislatif, eksekutif, dan yudikatif pemerintah harus tetap dipisahkan mengemuka di Inggris dalam serangkaian penolakan terhadap Stuarts, dan jelas dirumuskan oleh Locke, setidaknya dalam kerangka legislatif dan eksekutif. Legislatif dan eksekutif harus dipisahkan untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan. Ketika ia berbicara mengenai legislatif yang dia maksudkan adalah parlemen dan yang dia maksud dengan eksekutif adalah raja. Locke tidak memisahkan pengadilan sebagai lembaga kekuasaan yang berdiri sendiri, karena baginya kekuasaan eksekutif selain menjalankan undang-undang, ia termasuk juga di dalamnya kekuasaan untuk mengadili.  Locke memandang mengadili itu sebagai uitvoering, yaitu termasuk sebagai pelaksana undang-undang. Pada zamannya, hakim dapat diberhentikan oleh sang raja. Oleh karena itu banyak hakim yang cenderung memenjarakan musuh-musuh raja dan membebaskan kroni-kroninya. Setelah terjadi Revolusi, para hakim tidak dapat diberhentikan begitu saja oleh sang raja kecuali ada persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat. Apa pun kemungkinannya, bila prinsip pengawasan dan pertimbangan (cheks and balances) diberlakukan maka pengadilan menjadi cabang mandiri ketiga dari pemerintahan setelah legislative dan eksekutif. Contoh yang paling mencolok adalah Mahkamah Agung Amerika Serikat, Negara yang secara penuh menerapkan prinsip Locke tentang pembagian kekuasaan dimana presiden dan kongres sepenuhnya saling bergantung, sedangkan Mahkamah Agung tidak bergantung pada keduanya.

 

PENUTUP

Empirisme merupakan suatu aliran filsafat yang menyatakan bahwa pengalaman adalah sumber pengetahuan.

John Locke, salah satu tokoh aliran ini memperkenalkan teori yang ia sebut dengan tabula rasa, yaitu, kertas putih. Ia mengatakan bahwa ketika lahir jiwa manusia kosong dari pengetahuan-pengetahuan, bagaikan kertas putih yang belum diisi dengan tulisan-tulisan. Dengan banyaknya pengalaman-pengalaman manusia dari hasil penginderaannya, semakin banyak lah pengetahuannya.

Mengenai substansi, Locke terhenti pada anggapan bahwa tentang itu kita tidak tahu apa-apa.

Pendapat Locke tentang etika sangat berbeda dengan pandangan umum yang ada, menurutnya baik dan buruk itu tergantung dengan indera perasaan, apa yang dirasakan nikmat itu adalah baik, sedangkan yang dirasakan sakit itu lah jahat.

Negara berkewajiban mempertahankan keadaan asal manusia yang damai dan bebas dari konflik dan peperangan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Budiardjo, Miriam, Prof. Dasar-dasar Ilmu Politik (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008)

Hamami, Abbas M, Epistemologi Bagian I Teori Pengetahuan (Yogyakarta: Fakultas Filsafat UGM, 1982)

Hardiman, F. Budi, Filsafat Modern Dari Machiavelli sampai Nietzsche (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka, 2007)

Kattsof, Louiss O. Elements of Phylosophy, Pengantar Filsafat, alih bahasa: Soejono Soemargono (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004)

Peursen, C.A. Van, Filosofische Orientatie, alih bahasa: Dick Hartoko, Orientasi di Alam Filsafat (Jakarta: Gramedia, 1989)

Praja, Juhaya S. Prof. DR.  Aliran-aliran Filsafat dan Etika (Jakarta: Prenada Media, 2003)

Russell, Betrand, Sejarah Filsafat Barat, alih bahasa: Sigit Jatmiko, dkk, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002)

Schmadt, Henry J. Filsafat Politik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005)

Tafsir, Ahmad, Prof. DR.  Filsafat Umum, Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra (Bandung: Rosda, 2008)

Wattimena, Reza A.A, Filsafat dan Sains; Sebuah Pengantar (Jakarta: Grasindo)

 

[1] Abbas Hamami  M, Epistemologi Bagian I Teori Pengetahuan (Yogyakarta: Fakultas Filsafat UGM, 1982), hlm.11

[2] ibid., hlm.16

[3] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra (Bandung: Rosda, 2008), hlm.24

[4] Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filsafat dan Etika (Jakarta: Prenada Media, 2003),hlm.25

[5] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, hlm.24

[6] Reza A.A Wattimena, Filsafat dan Sains; Sebuah Pengantar (Jakarta: Grasindo), hlm.160

[7] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, hlm.174

[8] Ibid., hlm.174-175

[9] Henry J. Schmadt, Filsafat Politik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm.335

[10] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, hlm.175-180

[11] Louiss O. Kattsof, Elements of Phylosophy, Pengantar Filsafat, alih bahasa: Soejono Soemargono (Yogyakarta: Tiara Wacana, 2004), hlm. 52.

[12] C.A. Van Peursen, Filosofische Orientatie, alih bahasa: Dick Hartoko, Orientasi di Alam Filsafat, (Jakarta: Gramedia, 1989), hlm.74

[13] Louiss O. Kattsof, Elements of Phylosophy, hlm. 341

[14] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern Dari Machiavelli sampai Nietzsche (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka, 2007), hlm. 80

[15] Betrand Russell, Sejarah Filsafat Barat, Penerjemah Sigit Jatmiko, dkk, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm.803-804

[16] F. Budi Hardiman, Filsafat Modern, hlm.80

[17] Betrand Russell, Sejarah Filsafat Barat, hlm. 824.

[18] Budi Hardiman, Filsafat Modern, hlm. 81

[19] Miriam Budiardjo, Dasar-dasar Ilmu Politik (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2008), hlm.282

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *