ALIRAN FILSAFAT KRITISISME IMMANUEL KANT (1724-1804 M)

Oleh: Enda Arova Rohmatuka, S.Pd.I

 Dalam sejarahnya, filsafat memperdebatkan dominasi akal dan hati (iman) dalam menentukan jalan hidup manusia. Kadang akal menang mutlak, kadang iman menang mutlak, bila kedua hal ini yang terjadi maka berbahaya bagi hidup manusia. Yang aman adalah jika akal dan iman mendominasi hidup manusia secara seimbang.[1]

Dalam hal ini Socrates pada masanya, berhasil menghentikan pemikiran sofisme serta mendudukkan akal dan iman pada posisinya. Kemudian Descartes berhasil menghentikan dominasi iman (gereja) dan kembali menghargai akal. Sementara Kant berhasil menghentikan sofisme modern dan kembali mendudukkan iman dan akal di posisinya masing-masing.[2]

Kant pun dikenal sebagai tokoh kritisisme, pemikiran ini diajukan oleh Kant untuk menjembatani pertentangan antara aliran rasionalisme dengan empirisisme. Telah banyak karya-karya para sarjana filsafat maupun diskursus yang telah membahas teori kritisisme yang ditawarkan oleh Kant ini. Namun makalah ini tetap mencoba untuk ikut serta mengurai makna dan menarik posisi teori Kant ini ke dalam realitas yang ada pada saat ini.

Pembahasan dalam makalah ini dimulai dengan biografi Immanuel Kant, agar dapat diketahui pengaruh lingkungan keluarga, pendidikan, dan pekerjaan, yang mungkin turut mencetak dan mewarnai pemikiran Kant. Kemudian membahas latar belakang pemikiran Kant, tentang awal mula pemikiran Kant hingga menghasilkan teori kritisisme. Dan dilanjutkan dengan pembahasan tentang teori kritisisme, serta karya-karya yang menggambarkan pemikiran-pemikiran Kant.

  1. Biografi Immanuel Kant

Immanuel Kant lahir di Kӧnigsberg, Prussia Timur, Jerman pada 22 April 1724, dari pasangan Johann Georg Kant, seorang ahli pembuat baju besi, dan Anna Regina Kant. Ayahnya dikenal sebagai ahli perdagangan, namun di tahun 1730-1740, perdangangan di Königsberg mengalami kemerosotan. Hal ini ikut mempengaruhi bisnis ayahnya dan membuat keluarga mereka hidup dalam kesulitan. Ibunya meninggal saat Kant berumur 13 tahun, sedangkan ayah Kant meninggal saat dia berumur 22 tahun.[3]

Kant memperoleh pengaruh kegamaan yang cukup kuat dari ibunya, yang menganut aliran pietisme, yakni aliran yang menghendaki sebuah ketaatan yang mendalam dari pemeluknya, serta mendasarkan keyakinannya pada pengalaman religius dan studi kitab suci. Karena itulah Kant memiliki keimanan dan kepercayaan yang cukup kuat akan Tuhannya.[4]

Pada masa kecilnya Kant memperoleh pendidikan dasar di Saint George’s Hospital School, kemudian melanjutkan di Collegium Friedericianum, sebuah sekolah yang berpegang pada ajaran pietisme[5] di Kӧnigsberg pada tahun 1732-1740. Namun di sekolah ini hasrat Kant terhadap filsafat dan ilmu pengetahuan alam belum terpuaskan. Kant lalu melanjutkan ke University of Königsberg dan mulai belajar tentang teologi, matematika, fisika dan filsafat. Pada saat mempelajari filsafat inilah Kant mendapatkan pengaruh yang cukup besar dari seorang profesor bidang logika dan metafisika Martin Knutzen, seorang penganut aliran filsafat Wolf.[6]

Kant baru dapat menyelesaikan studinya di universitas pada tahun 1755, karena untuk menyambung hidupnya dan demi kelancaran studinya Kant harus bekerja menjadi guru privat. Setelah lulus Kant menjadi dosen luar biasa di almamaternya.[7]

Pada tahun 1756 Kant mencoba mencalonkan diri menggantikan posisi Martin Knutzen yang telah meninggal dunia, namun ditolak karena Knutzen dianggap sebagai seorang profesor logika dan metafisika yang luar biasa dan tak dapat tergantikan, sehingga kursinya dibiarkan kosong.[8]

Pada tahun 1764 dan 1769 Kant sempat ditawari untuk memegang mata kuliah puisi di University of Kӧnigsberg dan University of Jena, namun kedua tawaran itu ditolaknya. Hingga pada tahun 1770 Kant diangkat menjadi profesor bidang logika dan metafisika, sampai pada saat Kant menghembuskan napas terakhirnya pada tanggal 12 Februari 1804, pada usia 79 tahun.[9]

Kant adalah seorang filosof yang sederhana dan biasa saja, tidak seperti Sokrates yang mengakhiri hidupnya dengan minum racun untuk mempertahankan pendiriannya, tidak pula seperti Nietzsche yang latar belakang kehidupannya membutuhkan analisis secara psikologis, atau seperti Leibniz yang menghabiskan hidupnya dalam pengembaraan. Selama hidupnya Kant jarang bepergian ke luar kota dan lebih banyak tinggal di Prusia Timur, di kota tempat Kant dilahirkan.[10]

Selama hidupnya ini, Kant mengalami tiga periode, yakni:

  1. Periode rasionalistis, yakni dimulai ketika Kant mempelajari filsafat. Pengaruh dari fisika Newton dan filsafat Wolff tampak pada pemikiran Kant. Hal ini berlangsung sampai tahun 1755.
  2. Pada tahun 1756 karya David Hume mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, dan mulai saat inilah Kant terpengaruh skeptisisme Hume.
  3. Periode kritis yang dimulai sekitar tahun 1770, pada saat inilah Kant mendapat pencerahan tentang nilai-nilai hukum ilmiah dan mengungkapkan teori-teori kritiknya.[11]
  1. Latar Belakang Pemikiran Immanuel Kant

Pemikiran Immanuel Kant dipengaruhi oleh pemikiran tokoh-tokoh berikut ini: Wolff, Tetens, Hutcheson, Empiricus, Montaigne, Hume, Descartes, Malebranche, Spinoza, Leibniz, Locke, Berkeley, Rousseau, Newton, dan Emanuel Swedenborg. [12]

Para filosof sebelum Kant umumnya memprioritaskan cara kerja nalar atau akal budi, bahkan menganggap manusia mampu berpikir untuk menjawab dan menguak segala hal mendasar dan esensial dari segala penampakan realitas. Akal budi dalam hal ini merupakan suatu potensi dalam jiwa manusia yang mampu untuk mengerti sedikit secara teoritis realita kosmis yang mengelilinginya dan akal budi itu sendiri juga termasuk di dalamnya, dan untuk merubah serta mempengaruhinya[13].

Para pemikir metafisis seperti Plato dan Aristoteles juga menyebutkan bahwa dunia atau realitas adalah yang dapat dipahami (intelligible), dan setiap aliran metafisika mengklaim bahwa nalar atau akal budi memiliki kapasitas memadai untuk memahami dunia. Seolah-olah akal budi ini memiliki kualitas “ampuh” untuk menyibak semua realitas mendasar dari segala yang ada. Sementara Kant tidak menyepakati hal tersebut, bagi Kant metafisika dipahami sebagai suatu ilmu tentang batas-batas rasionalitas manusia.[14]

Para filosof sebelum Kant juga hendak menyibak das ding an sich realitas dalam dirinya atau neumenom dengan rasionalitas manusia. Sedangkan menurut Kant, hakikat realitas itu sebenarnya tidak pernah sungguh-sungguh diketahui (misalnya: Tuhan itu apa?, dan dunia itu apa?). Yang dapat diketahui hanyalah gejala atau fenomenanya (relitas sebagaimana penampakkannya), serta sejauh manusia melihatnya (das ding fur mich). Di sini Kant tidak melegitimasi kemampuan akal budi manusia memahami esensi sebuah realitas tetapi memahami bahwa akal budi manusia terbatas dalam memperoleh pengetahuan dibalik segala penampakan.[15]

Di samping itu Kant juga cenderung melawan teori realisme. Bagi kaum realisme, pengetahuan merupakan hasil penampakan dari kerangka struktur paten yang telah ada sebelumnya. Sedangkan Kant menyebutkan pengetahuan itu tidak lain adalah produk dan konstruksi akal pikiran manusia, bukan hasil penampakan.[16]

Filsafat sebelum Kant memiliki proses berpikir yang mana subjek harus mengarahkan diri pada objek (dunia, benda-benda). Kehadiran Kant membawa sebuah evolusi besar dalam cara berpikir metafisis, karena menurutnya, bukan subjek yang mengarahkan diri pada objek, tetapi sebaliknya. Yang mendasar dari pemikiran Kant ini adalah ia tidak memulai dari objek-objek tetapi dari subjek. Objek-objek itu yang harus “menyesuaikan” diri dengan subjek. Dengan demikian menurut filsafat Kant, realitas itu ada dalam akal budi manusia. Inilah yang disebut sebagai revolusi Kopernikan, artinya sebuah perubahan cara berpikir seperti Copernicus yang mengubah pandangan dari geosentris menuju heliosentris.[17]

Selain itu Kant juga menolak pendapat kaum tradisionalis yang menyatakan bisa memandang isi dunia ini secara utuh (knowing the world as a whole), Tuhan (God), kebebasan (freedom) atau keabadian jiwa (immortality). Bagi Kant hal-hal tersebut tidak bisa diketahui dan masuk dalam wilayah transenden serta bersifat noumenal.[18]

Filsafat Kant ini disebut sebagai filsafat transendental (transcendental philosophy), yakni filsafat yang pembahasannya bukan untuk mengetahui objek pengalaman melainkan bagaimana subjek (manusia) bisa mengalami dan mengetahui sesuatu. Filsafat transendental itu tidak memusatkan diri dengan urusan mengetahui dan mengumpulkan realitas kongkrit seperti misalnya pengetahuan tentang anatomi tubuh binatang, geografis, dll, melainkan berurusan dengan mengetahui hukum-hukum yang mengatur pengalaman dan pemikiran manusia tentang anatomi tubuh binatang, dll. Hukum-hukum itu oleh Kant disebut hukum apriori (hukum yang dikonstruksi akal budi manusia) dan bukan hukum yang berdasarkan pengetahuan inderawi (aposteriori).[19]

Kant bahkan pernah menyatakan “Ich musste das wissen aufheben, aum zum glauben platz zu bekomen”, artinya: “Saya terpaksa berhenti sejenak dari ilmu pengetahuan, supaya Saya sediakan tempat buat iman.” Bagi Kant, Logika tak dapat membawa keyakinan tentang adanya Tuhan. Perasaan yang dapat membuktikan dengan sejelas-jelasnya bahwa Tuhan itu mesti ada. Kalau akal memberi kebebasan bagi manusia untuk percaya atau tidak percaya pada adanya Tuhan, maka hati sanubari (perasaan) memberi perintah untuk percaya bahwa Tuhan itu ada. [20]

  1. Pemikiran Kritis Immanuel Kant

Kant dikenal sebagai tokoh kritisisme, filsafat kritis ini diajukan untuk menjembatani pertentangan antara teori rasionalisme dan empirisisme. Karena menurut Kant, rasionalisme maupun empirisisme memiliki kelemahan dan belum mampu membimbing pencarian manusia untuk memperoleh pengetahuan yang pasti, berlaku umum dan terbukti dengan jelas.[21]

Pendirian aliran rasionalisme dan empirisme sangat bertolak belakang, aliran rasionalisme berpendirian bahwa rasio atau akal budi merupakan sumber pengenalan atau pengetahuan, sedangkan aliran empirisme berpendirian sebaliknya bahwa pengalaman yang menjadi sumber tersebut. Di sinilah Kant berusaha untuk mendamaikan pertentangan aliran rasionalisme dengan empirisme.[22] Dalam filsafat kritisnya Kant berpendapat bahwa peranan akal budi dapat tampak dalam pengetahuan apriori, baik yang analitis maupun yang sintetis. Di samping itu peranan pengalaman empiris pun tampak jelas dalam pengetahuan aposteriori.[23] Sehingga keduanya perlu disatukan dan tidak dapat mengunggulkan salah satu darinya dengan meninggalkan yang lain.

Kritik Kant terhadap teori rasionalisme adalah pada pengetahuan yang dihasilkan dari pemikiran kaum rasionalisme ini merupakan sebuah putusan yang bersifat analitik-apriori, yakni suatu bentuk putusan yang predikatnya sudah termasuk ke dalam subjek dengan sendirinya. Putusan ini memang mengandung suatu kepastian dan berlaku umum. Sedangkan terhadap teori empirisisme Kant menyatakan bahwa putusan yang diambil oleh kaum empirisisme itu bersifat sintetik-aposteriori, yakni suatu bentuk putusan yang predikatnya belum termasuk ke dalam subyek dan sifatnya tidak tetap.[24]

Berangkat dari kelemahan kedua teori tersebut, Kant memadukan keduanya menjadi sebuah putusan yang bersifat sintetik-apriori, yakni suatu bentuk putusan yang bersifat umum, universal dan pasti. Dan untuk memperolehnya Kant menunjuk tiga tahapan yang harus dilewati.[25] Dalam tiga tahapan inilah dapat dipahami alasan Kant dalam menyatukan rasionya Descartes dan pengalamannya Hume, karena tahapan ini berurutan dan tidak dapat ditinggalkan salah satunya. Dan tiga tahapan yang dimaksudkan oleh Kant untuk dapat memperoleh pengetahuan yang bersifat sintetik-apriori, adalah: [26]

  1. Tahap inderawi, di sinilah peran subjek akan tampak lebih menonjol, namun dilakukan dengan tetap menggunakan bentuk rasio murni, yakni ruang dan waktu yang dapat diterapkan pada pengalaman. Hasil dari penginderaan yang dikaitkan dengan bentuk ruang dan aktu ini merupakan fenomena konkrit, namun pengetahuan yang didapat masih dapat berubah, tergantung pada subjek yang mengamati serta situasi yang melingkupinya.
  2. Tahap akal budi, setelah memperoleh hasil penginderaan, yakni pengetahuan yang bersifat objektif-universal ini masih harus diproses menggunakan akal.
  3. Tahap rasional, dalam tahap ini pengetahuan yang telah melewati akal budi dikaitkan lagi dengan tiga macam ide, yakni Allah (ide teologis), jiwa (ide psikologis) dan dunia (ide kosmologis), agar dapat menjadi sebuah putusan sintetik-apriori. Namun yang perlu digarisbawahi di sini adalah, ketiga macam ide itu sendiri tidak mungkin dapat dicapai oleh akal pikiran manusia. Ketiga ide ini hanyalah merupakan sarana atau petunjuk untuk memperoleh suatu pengetahuan yang utuh.

Kemudian Kant menyadari bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh manusia itu penuh dengan keterbatasan, keterbatasan tersebut mengilhami Kant dalam melihat realitas. Realitas menurut Kant, memiliki dua sisi yang tak terpisahkan seperti dua sisi mata uang, yakni sisi empiris dan sisi transenden. Jika sesuatu itu transenden (bisa juga disebut dengan noumena atau das ding an sich) maka sesuatu itu pasti benar, namun hal tersebut berada di luar jangkauan pengetahuan manusia. Akan tetapi sisi transenden ini masih memiliki celah-celah yang terbuka untuk dipelajari melalui refleksi empiris, dengan cara melihat hal yang tampak dan bisa diketahui. Pandangan Kant mengenai realitas ini merupakan implikasi dari teori kritik akal murninya yang terdapat dalam bukunya The Critique of Pure Reason. [27]

Selain itu Kant juga memiliki teori kritik akal praktis, yang berkaitan dengan moral. Dalam bukunya The Critique of Practical Reason, Kant menunjukkan tentang kebebasan manusia dan hukum moral yang membentuk garis batas yang diperlukan secara mutlak demi tindakan moral. Dalam bagian ini Kant menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang kebebasan manusia serta perbedaan baik dan buruk.[28]

Selanjutnya Kant menghubungkan kedua karyanya di atas dalam karya ketiganya The Critique of Judgement. Dalam teori kritik penimbangan ini Kant mencoba menjawab pertanyaan tentang standar obyektif bagi keindahan serta pedoman yang digunakan untuk menilai sesuatu itu benar atau salah.  Umumnya orang menilai keindahan sebagai pendapat pribadi atau selera masing-masing orang, namun dalam buku ketiganya ini Kant memberikan pemaparan mengenai penimbangan kehendak. Dan penimbangan kehendak ini harus berdasar pada pengalaman indrawi (sebagaimana teori kritik yang pertama) dan juga harus bebas (sebagaimana teori kritik yang kedua yang menggunakan moral dalam pertimbangannya). Kant juga menggarisbawahi bahwa keindahan yang dirasakan dalam hal ini harus tanpa kepentingan.[29]

Ciri-ciri aliran kritisisme yang dipelopori oleh Kant ini adalah: [30]

  1. Mengangap bahwa objek pengenalan itu berpusat pada subjek dan bukan pada objek.
  2. Menegaskan keterbatasan kemampuan rasio manusia utuk mengetahui realitas atau hakikat sesuatu, rasio hanya mampu menjangkau gejala atau fenomenanya saja.
  3. Menjelaskan bahwa pengenalan manusia atas sesuatu itu diperole atas perpaduan antara peran unsur apriori yang berasal dari rasio yang berupa ruang dan waktu, serta peran unsur aposteriori yang berasal dari pengalaman yang berupa materi.

Sedangkan filosof sesudah Kant yang terpengaruh pemikiran ini antara lain: Fichte, Schelling, Hegel, Schopenhauer, Nietzsche, Peirce, Husserl, Heidegger, Wittgenstein, Sartre, Cassirer, Habermas, Rawls, Chomsky, Nozick, Karl Popper, Kierkegaard, Jung, Searle, Michel Foucault, Hannah Arendt, Karl Marx, Giovanni Gentile, Karl Kaspers, Hayek, Bergson, Ørsted, A. J. Ayer, Emerson, dan Weininger.[31]

 Karya-karya Immanuel Kant

Selama hidupnya Kant menulis banyak buku, di samping menulis buku  untuk bahan materi kuliah yang disampaikan ataupun hasil-hasil pemikirannya yang mendobrak kebiasaan yang ada pada masanya. Karya-karya Kant tersebut di antaranya adalah:

  1. 1755Allgemeine Naturgeschichte und Theorie des Himmels
  2. 1755Meditationum Quaerandam De Igne Saccincta Delinetatio
  3. 1755Neue Erhellung der ersten Grundsätze metaphysischer Erkenntnisse
  4. 1756Physische Monadologie
  5. 1756Neue Anmerkungen zur Erläuterung der Theorie der Winde
  6. 1762Die falsche Spitzfindigkeit der vier syllogistischen Figuren
  7. 1763Versuch, den Begriff der negativen Größen in der Weltweisheit einzuführen
  8. 1763: Untersuchung über die Deutlichkeit der Grundsätze der natürlichen Theologie und Moral
  9. 1763: Der einzige mögliche Beweisgrund zu einer Demonstration für das Dasein Gottes
  10. 1764Beobachtungen über das Gefühl des Schönen und Erhabenen
  11. 1764: Über die Krankheit des Kopfes
  12. 1766Träume eines Geistersehers erläutert durch Träume der Metaphysik. (Über Emanuel Swedenborg)
  13. 1770Über die Form und die Prinzipien der sinnlichen und intelligiblen Welt. (De mundi sensibilis atque intelligibillis forma et principiis.)
  14. 1775Über die verschiedenen Rassen der Menschen
  15. 1781: 1. Auflage der Kritik der reinen Vernunft
  16. 1783Prolegomena zu einer jeden künftigen Metaphysik, die als Wissenschaft wird auftreten können
  17. 1784Idee zu einer allgemeinen Geschichte in weltbürgerlicher Absicht
  18. 1784: Beantwortung der Frage: Was ist Aufklärung
  19. 1785Grundlegung der Metaphysik der Sitten
  20. 1786Metaphysische Anfangsgründe der Naturwissenschaft
  21. 1786: Mutmaßlicher Anfang der Menschengeschichte
  22. 1787Kritik der reinen Vernunft 2., stark erweiterte Auflage
  23. 1788Kritik der praktischen Vernunft
  24. 1790Kritik der Urteilskraft
  25. 1793Die Religion innerhalb der Grenzen der bloßen Vernunft
  26. 1793: Über den Gemeinspruch: Das mag in der Theorie richtig sein, taugt aber nicht für die Praxis
  27. 1794Das Ende aller Dinge
  28. 1795Zum ewigen Frieden
  29. 1797Die Metaphysik der Sitten
  30. 1798Der Streit der Fakultäten
  31. 1798: Anthropologie in pragmatischer Hinsicht abgefasst[32]

 

Di antara sekian banyak karyanya, Schopenhauer menyatakan tiga buku Kant (The Critique) merupakan karya master piece seorang Immanuel Kant, dan seseorang akan tetap disebut kanak-kanak bila belum membaca buku-buku Kant yang ini.[33]

  1. Auflage derKritik der reinen Vernunft (The Critique of Pure Reason atau Pembahasan Kritis atas Akal Murni)

Yang dimaksud kritik dalam judul buku Kant ini adalah pembahasan kritis terhadap akal murni, bukan mengkritik akal murni. Dan akal murni yang disebutkan di sini digunakan Kant untuk menyebut akal yang ada di dalam kepala manusia dan bekerja secara logis, serta memiliki keterbatasan. Sedangkan panca indra menjadi lawannya, yakni sebagai akal tak murni.[34] Akal murni ini dapat menghasilkan pengetahuan tanpa melalui indra, sehingga dapat dikatakan bebas dari penginderaan, karena akal murni bisa mendapatkan pengetahuan dari watak dan struktur jiwa yang inheren dalam diri manusia.[35]

Dalam buku ini tema utama yang menjadi misi Immanuel Kant adalah untuk menyelamatkan sains serta iman (agama) dari gangguan akal. Karena itulah dalam buku pertama ini terdapat argument yang panjang yang dikemukakan oleh Kant, untuk membuktikan bahwa sains dapat diterima ketika telah memenuhi syarat. Kant hendak membela sains yang pada masa itu diragukan. Kesimpulan Kant atas pembelaan sainsnya dalam buku setebal 800 halaman ini adalah bahwa “teori sains dapat dipegang bila teori itu mempunyai dasar apriori”. [36]

Mengenai pengetahuan manusia Kant mengawalinya dengan memberikan tiga pertanyaan, yakni: [37]

  1. Apa yang bisa kuketahui?
  2. Apa yang harus kulakukan?
  3. Apa yang bisa kuharapkan?

Ketiga pertanyaan tersebut oleh Kant dijawab sebagai berikut:

  1. Yang bisa diketahui manusia hanyalah sesuatu yang dipersepsi oleh panca indra, selain itu hanyalah ide dan ilusi belaka.
  2. Semua yang harus dilakukan manusia harus bisa diangkat menjadi sebuah peraturan umum, atau yang dikenal sebagai istilah imperatif kategoris. Contohnya orang sebaiknya jangan mencuri.
  3. Yang bisa diharapkan manusia ditentukan oleh akal budinya, inilah yang memutuskan pengharapan manusia.

Bagian terpenting dari buku Kant tentang akal murni ini adalah tentang transcendental aesthethic yang termasuk pada filsafat transendental. Transcendental aesthethic ini membicarakan ruang dan waktu, serta transcendental logic yang meliputi transcendental analytic (tahlily) dan transcendental dialectic (jadaly). Transcendental logic dialectic (jadaly) inilah yang dapat digunakan untuk membuktikan keterbatasan kemampuan akal atau rasio manusia.[38] 

  1. Kritik der praktischen Vernunft (The Critique of Practical Reason atau Pembahasan tentang Akal Praktis)

Dalam hidupnya manusia memerlukan sebuah kebenaran untuk diyakini. Sedangkan kebenaran itu sendiri tidak dapat seluruhnya diperoleh, baik dengan indra maupun dengan akal, karena indra dan akal itu terbatas kemampuannya. Menurut Kant, dasar apriori itu ada pada sains, akan tetapi indra (yang digunakan untuk menghasilkan sains) itu terbatas. Di sinilah The Critique of Practical Reason berbicara, Kant bertanya ”Bila akal dan indra tidak dapat diandalkan dalam mempelajari agama, apa selanjutnya?” Jawabannya adalah akal atau indra dapat terus berkembang dan dikembangkan, namun setelah semua itu, digunakan moral yang merupakan ukuran kebenaran. Moral di sini adalah suara hati atau perasaan, yang dapat menentukan sesuatu itu benar atau salah. Moral ini termasuk imperatif kategori, perintah tanpa syarat yang ada dalam kesadaran kita.[39]

  1. Kritik der Urteilskraft (The Critique of Judgement atau Pembahasn Kritis atas Daya Pertimbangan)

Buku ini menjelaskan tentang persesuaian antara keperluan bidang duniawi (alam) dengan tingkah laku manusia. Dengan menggunakan konsep finalitas (tujuan). Kant menjelaskan ulang secara lengkap tentang buku pertama dan kedua. Tujuan di sini dapat bersifat subjektif dan objektif. Kalau tujuannya bersifat subjektif, manusia mengarahkan objek pada diri manusia itu sendiri. Sedangkan dengan tujuan yang bersifat objektif dimaksudkan agar dapat mencapai keselarasan satu sama lain dari benda-benda.[40]

Tujuan dari teori yang diajukan oleh Kant ini adalah untuk menunjukkan bahwa manusia mampu memahami realitas alam (natural) dan moral dengan menggunakan akal budinya.[41]

SIMPULAN

  1. Immanuel Kant adalah seorang filosof Jerman yang lahir di Kӧnigsberg, Prussia Timur pada 22 April 1724, memperoleh pendidikannya di Saint George’s Hospital School, Collegium Friedericianum, dan University of Königsberg. Kant menyelesaikan studinya pada tahun 1755, kemudian menjadi dosen luar biasa di almamaternya. Pada tahun 1770 Kant diangkat menjadi profesor bidang logika dan metafisika, sampai pada saat Kant menghembuskan napas terakhirnya pada tanggal 12 Februari 1804.
  2. Filsafat Immanuel Kant disebut juga sebagai filsafat transendental (transcendental philosophy), yakni filsafat yang pembahasannya bukan untuk mengetahui objek pengalaman melainkan bagaimana subjek (manusia) bisa mengalami dan mengetahui sesuatu. Filsafat transendental bertujuan untuk mengetahui hukum-hukum yang mengatur pengalaman dan pemikiran
  3. Ciri-ciri aliran kritisisme ini adalah: a). Mengangap bahwa objek pengenalan itu berpusat pada subjek dan bukan pada objek, b). Menegaskan keterbatasan kemampuan rasio manusia untuk mengetahui realitas atau hakikat sesuatu, rasio hanya mampu menjangkau gejala atau fenomena, c). Menjelaskan bahwa pengenalan manusia atas sesuatu itu diperoleh atas perpaduan antara peran unsur apriori yang berasal dari rasio yang berupa ruang dan waktu, serta peran unsur aposteriori yang berasal dari pengalaman yang berupa materi.
  4. Karya Immanuel Kant yang paling menonjol dan menggambarkan ide kritisnya adalah: Auflage derKritik der reinen Vernunft (The Critique of Pure Reason), Kritik der praktischen Vernunft (The Critique of Practical Reason) dan Kritik der Urteilskraft (The Critique of Judgement).

 

 

DAFTAR RUJUKAN

Anonymous, 19 April 2008, Filsafat Metafisika Immanuel Kant dalam http://perpustakaan-online.blogspot.com/2008/04/filsafat-metafisika-immanuel-kant.html, diakses tanggal 13 Oktober 2011.

Anshari, Endang Saifuddin. Ilmu, Filsafat dan Agama. Surabaya: Bina Ilmu, 1987.

Aprillins, Biografi Immanuel Kant Sang Filsuf Jerman, dalam http://aprillins.com/2010/1435/biografi-immanuel-kant-sang-filsuf-jerman/, diakses tanggal 13 Oktober 2011.

Bakker, Anton. Metode-metode Filsafat. Jakarta: Ghalia Indonesia, 1986.

Budiman, Arip. 13 Juni 2011, Peta Pemikiran Immanuel Kant, dalam http://filsafat.kompasiana.com/2011/06/13/peta-pemikiran-immanuel-kant/, diakses tanggal 13 Oktober 2011.

Haryo Prabancono, 14 November 2009, Pemikiran Immanuel Kant, dalam http://macheda.blog.uns.ac.id/2009/11/14/pemikiran-immanuel-kant/, diakses tanggal 13 Oktober 2011.

http://id.wikipedia.org/wiki/Immanuel_Kant, diakses tanggal 13 Oktober 2011.

Maksum, Ali. Pengantar Filsafat; dari Masa Klasik hingga Postmodernisme. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010.

Praja, Juhaya S. Aliran-aliran Filsafat dan Etika. Jakarta: Prenada Media, 2005.

Surajiyo. Ilmu Filsasat Suatu Pengantar. Jakarta: Bumi Aksara, 2005.

Tafsir, Ahmad. Filsafat Umum; Akal dan Hati sejak Thales sampai James. Bandung: Rosda Karya, 1992.

 

[1] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum; Akal dan Hati sejak Thales sampai James (Bandung: Rosda Karya, 1992), h. 150.

[2] Ibid., h. 151.

[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Immanuel_Kant diakses tanggal 13 Oktober 2011.

[4] Aprillins, Biografi Immanuel Kant Sang Filsuf Jerman, dalam http://aprillins.com/2010/1435/biografi-immanuel-kant-sang-filsuf-jerman/  dan http://id.wikipedia.org/wiki/Immanuel_Kant, diakses tanggal 13 Oktober 2011.

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[7] Ibid.

[8] Ibid.

[9] Ibid.

[10] Ibid.

[11] Anton Bakker, Metode-metode Filsafat (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1986), h.87.

[12] http://id.wikipedia.org/wiki/Immanuel_Kant, diakses tanggal 13 Oktober 2011.

[13] Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama (Surabaya: Bina Ilmu, 1987), h. 150.

[14] —, 19 April 2008, Filsafat Metafisika Immanuel Kant dalam http://perpustakaan-online.blogspot.com/2008/04/filsafat-metafisika-immanuel-kant.html, diakses tanggal 13 Oktober 2011.

[15] Ibid.

[16] Ali Maksum, Pengantar Filsafat; dari Masa Klasik hingga Postmodernisme (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), h. 146.

[17] Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filsafat dan Etika (Jakarta: Prenada Media, 2005), h. 117. Dan —, 19 April 2008, Filsafat Metafisika Immanuel Kant dalam http://perpustakaan-online.blogspot.com/2008/04/filsafat-metafisika-immanuel-kant.html, diakses tanggal 13 Oktober 2011.

[18] Ali Maksum, Pengantar Filsafat…, h. 146.

[19] —, 19 April 2008, Filsafat Metafisika Immanuel Kant dalam http://perpustakaan-online.blogspot.com/2008/04/filsafat-metafisika-immanuel-kant.html, diakses tanggal 13 Oktober 2011.

[20] Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, h. 151.

[21] Ali Maksum, Pengantar Filsafat…, h. 142.

[22] Arip Budiman, 13 Juni 2011, Peta Pemikiran Immanuel Kant, dalam http://filsafat.kompasiana.com/2011/06/13/peta-pemikiran-immanuel-kant/, diakses tanggal 13 Oktober 2011.

[23] Surajiyo, Ilmu Filsasat Suatu Pengantar (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), h. 67.

[24] Ali Maksum, Pengantar Filsafat…, h. 143.

[25] Ibid.

[26] Arip Budiman, Peta Pemikiran Immanuel Kant.

[27] Ali Maksum, Pengantar Filsafat…, h. 147.

[28] Ibid.

[29] Ibid., h. 148.

[30] Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filsafat …, h. 114.

[31] http://id.wikipedia.org/wiki/Immanuel_Kant, diakses tanggal 13 Oktober 2011.

[32] http://id.wikipedia.org/wiki/Immanuel_Kant, diakses tanggal 13 Oktober 2011.

[33] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum …, h. 151.

[34] Ibid.

[35] Ibid., h. 153.

[36] Ibid.

[37] Ali Maksum, Pengantar Filsafat…, h. 142.

[38] Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filsafat …, h. 120.

[39] Arip Budiman, Peta Pemikiran Immanuel Kant.

[40] Ibid.

[41] Haryo Prabancono, 14 November 2009, Pemikiran Immanuel Kant, dalam http://macheda.blog.uns.ac.id/2009/11/14/pemikiran-immanuel-kant/, diakses tanggal 13 Oktober 2011.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *